BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Permasalahan Masyarakat Petani
1. Kondisi Internal
a. Kepemilikan Lahan Yang Kurang Memadai
Masalah pertama yang dihadapi masyarakat petani terkait dengan pertanian yang ada di Kelurahan Tegalgede adalah masalah kepemilikan lahan yang kurang memadai. Hal ini mungkin juga menjadi kendala para petani di indonesia pada umumnya. Menurut Hermas (2008:1), Laju penyusutan lahan pertanian di Indonesia kian cepat. Penyebabnya adalah fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian sebagai dampak sistem bagi waris dan alih fungsi lahan. Ini tercermin dari peningkatan jumlah rumah tangga petani kecil alias petani gurem, dengan kepemilikan lahan rata-rata hanya seluas 0,3 hektar.
Luas kepemilikan lahan yang sempit di Kelurahan Tegalgede menyebabkan produktivitas masyarakat petani menjadi kurang sehingga hasil dari produksi pertanian tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Hal ini dikarenakan lahan pertanian yang biasa dijadikan untuk lahan persawahan/ kebun berubah fungsi dijadikan sebagai lahan perumahan atau tempat tinggal. Hal tersebut dipicu karena faktor pertambahan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat di Kelurahan ini.
Oleh sebab itu kegiatan usaha tani yang dilakukan masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede menjadi kurang maksimal. Rata-rata para petani hanya mempunyai lahan seluas 0,1 sampai dengan 0,3 hektar, lahan seluas itupun di Kelurahan Tegalgede bisa digolongkan luas, karena sekarang ini kondisi lahan semakin menyempit dan harga beli tanah yang dijadikan lahan persawahan sudah lumayan tinggi sehingga masyarakat petani tidak mampu untuk membeli lahan baru.
Seperti yang dikemukakan oleh Bu Endang, beliau mengatakan bahwa:
“Masalah utama di Keluarahan Tegalgede ini adalah
kepemilikan lahan yang kurang luas mas, masyarakat petani di sini rata-rata hanya mempunyai lahan 0,1-0,3 hektar sehingga produksinya kurang. Lahan 0,3 itupun pemiliknya masyarakat petani yang sudah agak lumayan secara ekonomi”
(Hasil wawancara tanggal 20 Februari 2012)
Pernyataan Bu Endang tersebut diperkuat oleh pernyataan Pak Tarmo, beliau mengatakan bahwa :
“wonten mriki niku masyarakat petanipun gadah lahan namung sekedik mawon, mboten enten petanipun gadah saben nopo kebon ingkang luweh saking setunggal hektar. Tiang mriki niku paling kathah gadah saben 0,3 hektar benten kaleh riyen sakdurunge saben-saben damel griyo nopo bangunan liyanipun lan regi lemah inggil sakniki dadose damel tumbas lahan meleh mboten
saget”. (disini ini masyarakat petani memmpunyai lahan cuma
sedikit saja, tidak ada petani yang mempunyai sawah atau kebun yang lebih dari satu hektar. Orang sini paling banyak mempunyai sawah 0,3 hektar beda sama dulu sebelum sawah-sawah dibuat rumah atau bangunan lainnya dan harga sawah yang tinggi sekarang jadi buat beli lahan lagi tidak bisa).
(Hasil wawancara tanggal 22 Februari 2012)
Dari pernyataan para informan di atas dan dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi masyarakat petani adalah masalah keterbatasan lahan persawahan. Terbatasnya lahan atau sempitnya lahan pertanian adalah sebagai akibat dari alih fungsi lahan, dari lahan persawahan menjadi lahan perumahan, selain itu juga karena pembagian lahan kepada ahli waris sehingga lahan menjadi sempit dan terkotak-kotak. Tidak bisa dipungkiri bahwa tanah/ lahan merupakan sarana penting dan wajib yang harus dimiliki para petani dalam melakukan kegiatan usaha taninya. Oleh karena itu keterbatasan lahan mengakibatkan kegiatan usaha tani otomatis juga menjadi terbatas dan hasil produksi petani juga menurun.
b. Adanya Hama/ Penyakit
Keberadaan hama/ penyakit di lahan pertanian merupakan musuh besar bagi petani dalam menjalankan usaha taninya. Seringkali hama
penyakit juga menyerang tanaman para petani di Kelurahan Tegalgede, seperti tanaman padi, palawija dan sayur-sayuran.
Menurut hasil temuan di lapangan dapat diketahui bahwa hama yang sering menjadi musuh besar para petani adalah serangan hama wereng yang menyerang tanaman padi para petani. Apabila tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat maka bisa mengakibatkan gagal panen. Selain hama wereng, hama penyakit yang akhir-akhir ini juga menyerang tanaman padi adalah potong leher, beluk, dan sundep, akan tetapi penyakit ini rata-rata masih bisa ditanggulangi oleh para petani karena kemungkinan untuk gagal panen itu kecil, hanya saja hasil produksi akan berkurang sampai dengan 50% dari biasanya.
Hal tersebut diatas seperti yang dikemukakan oleh Pak Hasyim selaku PPL Kelurahan Tegalgede, beliau mengatakan bahwa:
“Hama yang biasa mengganggu tanaman padi di Kelurahan
Tegalgede adalah hama wereng, hama ini bisa mengakibatkan gagal panen sedangkan penyakit yang biasa ada seperti potong leher, beluk, dan sundep”
(Hasil wawancara tanggal 21 Februari 2012)
Pernyataan dari Pak Hasyim diatas diperkuat oleh pernyataan dari Pak Narso, beliau mengatakan bahwa :
“menawi hama ingkang kulo alami meniko nggih hama wereng ingkang paling parah mas amargi tanduran kulo gagal panen, untungipun kulo nandur pari namung sekedik. Terus penyakit niku dateng mriki ingkang biasa nggih potong leher, sundep lan beluk tapi niku mboten parah namung asil panen kulo susut 50%
kaleh biasanipun”(serangan hama penyakit yang sering saya
alami yaitu hama wereng, sehingga menyebabkan tanaman saya gagal panen, untungnya saya saya menanam padi cuma sedikit. Selain hama wereng yang biasa menyerang adalah potong leher,
sundep dan beluk tapi itu tidak parah cuma hasil panen saya berkurang 50% dari biasanya).
(Hasil wawancara tanggal 23 Februari 2012)
Hama/ penyakit yang menyerang tanaman para petani di Kelurahan Tegalgede disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain pertama adalah kondisi cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu, sehingga berpengaruh juga bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman tersebut rentan terserang hama dan penyakit. Faktor kedua adalah sistem pola tanam masyarakat petani yang tidak bervariasi. Selama ini hanya tanaman padi terus yang ditanam di lahan persawahan mereka, sehingga menimbulkan hama atau penyakit enggan berpindah dari lahan yang terus ditanami padi tersebut. Misalpun petani menanam tanaman seperti palawija, sayur-sayuran atau buah-buahan ditanam di lahan yang berbeda, di pinggir-pinggir lahan persawahan, atau juga dikebun dekat dengan rumah mereka.
Pernyataan tersebut sesuai dengan keterangan dari Pak Hasyim selaku PPL Kelurahan Tegalgede, beliau mengatakan bahwa:
“ada beberapa hal yang menyebabkan hama atau penyakit
menyerang persawahan masyarakat petani, pertama adalah cuaca yang tidak menentu dan yang kedua sistem pola tanam masyarakat petani yang monoton hanya padi terus di lahan yang
sama selama setahun”
(Hasil wawancara tanggal 21 Februari 2012)
“ingkang mengaruhi wontene hama utawi penyakit nggih leres faktor cuaca sing ganti-ganti mboten saget dibedek mas, kadangkolo udan dhalu sampe enjing mboten enten lerene trus ingkang kalihipun nggih leres masyarakat dateng mriki nanem pari kemawon ing lahan persawahan amargi menurut rencang-
rencang tani niku resikone alit nek rugi” (yang mempengaruhi
adanya hama atau penyakit memang betul faktor cuaca yang berubah-ubah tidak bisa ditebak mas, kadang hujan malam sampai pagi tidak ada berhentinya. Selain itu masyarakat disini bertanam padi terus-menerus di lahan yang sama karena menurut para petani resikonya itu kecil kalo merugi)
(Hasil wawancara tanggal 22 Februari 2012)
Dari keterangan dari PPL maupun petani tersebut di atas dan dari hasil pengamatan yang peneliti peroleh di lapangan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa faktor penyebab terjadinya serangan hama penyakit adalah faktor cuaca yang tidak menentu di daerah Kelurahan Tegalgede. Faktor kedua adalah sistem pola tanam yang tidak bervariasi di lahan persawahan milik para petani. Biasanya mereka hanya menanam padi di lahan persawahan yang sama setiap musimnya, dan tidak menggunakan sistem pola tanam bergilir, misalnya dengan diganti tanaman jagung, padi, palawija, padi lagi, dan seterusnya. Sehingga dengan sistem pola tanam yang bergilir semacam itu diharapkan hama penyakit seperti wereng dapat berpindah atau pergi dari lahan tersebut. Sedangkan selama ini yang terjadi adalah, apabila petani menanam palawija, sayur-sayuran, maupun buah- buahan ditanam di lahan yang berbeda, atau juga di pinggir-pinggir areal persawahan, dan di kebun sekitar rumah mereka. Oleh karena itu peran PPL saat ini sangat dibutuhkan dalam mengenalkan, mensosialisasikan, dan mengajarkan kepada petani tentang penggunaan sistem pola tanam yang
monoton menjadi sistem pola tanam yang bergilir, hal itulah yang saat ini juga sedang dilakukan oleh Pak Hasyim selaku PPL di Kelurahan Tegalgede.
c. Modal
Permasalahan yang ketiga, yang juga dihadapi oleh masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede dalam menjalankan kegiatan usaha taninya adalah masalah permodalan. Masalah keterbatasan modal usaha tani merupakan masalah yang mendasar bagi masyarakat petani. Sebagian besar masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede memperoleh modal usahatani dari kekayaan keluarga atau meminjam.
Modal yang berasal dari kekayaan keluarga biasanya didapatkan dari tabungan keluarga petani itu sendiri ketika kegiatan dari usaha tani mereka mendapatkan keuntungan. Akan tetapi ternyata kebutuhan masyarakat petani juga sangat besar disamping untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dalam usahataninya, seperti misalnya untuk membeli benih, pupuk, obat pembasmi hama, membeli alat dan mesin pertanian, atau sering juga mengganti alat-alat pertanian yang rusak, membayar upah pekerja, dll. Para petani juga mempunyai kebutuhan sehari-hari yang tidak sedikit pula untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, seperti misalnya untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya, kebutuhan untuk mendapatkan jaminan kesehatan, kebutuhan untuk biaya transportasi, belum lagi kalau tetangga sekitar punya hajatan maka diperlukan dana tambahan yang dipakai untuk keperluan menyumbang.
Hal inilah yang menjadi permasalahan permodalan masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede. Hasil produksi pertanian mereka seringkali habis untuk biaya kebutuhan keluarga mereka, sedangkan setelah panen mereka masih akan mulai mengelola lahan pertanian dan memulai musim tanam kembali sehingga harus mengeluarkan modal yang dipergunakan untuk biaya produksi seperti membeli benih, membajak sawah dan tenaga kerja. Keadaan seperti inilah yang mengakibatkan masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede mengalami kesulitan khususnya untuk biaya produksi lagi pasca panen.
Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Bu Endang, beliau mengatakan bahwa :
“masalah masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede yang utama selain kepemilikan lahan yaitu adalah masalah permodalan mas. Kita tahu sendiri mereka menggantungkan hidupnya hanya pada kegiatan bertani. Kalau hasilnya bagus mungkin masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede tidak begitu kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya produksi kembali, tapi kalau hasilnya kurang maksimal yah masyarakat kesulitan untuk biaya produksi kembali”
(Hasil wawancara tanggal 20 Februari 2012)
Pernyataan dari Bu Endang tersebut dibenarkan oleh pernyataan dari Bu Rini selaku wanita tani dan seorang ibu rumah tangga, yang mengatakan bahwa :
“inggih leres mas yen modal niku dados masalah masyarakat tani dateng mriki amargi kebutuhan tiang niku kan kathah sanget mboten namung damel garap saben mawon. Asil saking sadean gabah sakmeniko damel anak sekolah kalian maem keluargo kulo ditambah meleh kebutuhan liyanipun inggih kathah. Kadang kulo niku bingung mas damel garap saben meleh amarginipun duit
menjadi masalah masyarakat petani disini karena kebutuhan orang itu sangat banyak tidak cuma buat menggarap sawah saja. Hasil dari penjualan padi itu buat anak sekolah dan makan keluarga saya ditambah lagi kebutuhan lainnya yang masih banyak. Kadang saya itu bingung mas buat menggarap sawah lagi karena uang dari penjualan padi itu sudah habis).
(Hasil wawancara tanggal 24 Februari 2012)
Upaya untuk mengatasi hal tersebut diatas, masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede biasanya mengambil jalan pintas untuk segera mendapatkan modal cepat dengan cara meminjam kepada perorangan/ non bank, seperti misalnya meminjam kepada kerabat terdekat mereka atau juga mengambil pinjaman dari renternir. Hal inilah yang memperparah keadaan masyarakat petani di Kelurahan Tegalgede yang mengakibatkan pertanian mereka tidak mengalami kemajuan.
Setelah adanya penyuluh pertanian dari PPL dan pihak-pihak lain yang juga terlibat dalam penyuluhan, para petani baru menyadari bahwa mereka melakukan hal yang keliru dengan meminjam modal kepada renternir. Hal itu disebabkan oleh keterbatasan informasi petani sendiri yang tidak tahu sama sekali bagaimana cara pengajuan kredit ke bank atau lembaga lainnya. Para petani kurang mengerti bagaimana aturan/syarat untuk proses pengajuan pinjaman, yang ada dipikiran mereka hanya bagaimana mendapatkan uang dengan proses cepat dan mudah. Dampak pinjaman kepada renternir begitu berat dirasakan oleh masyarakat petani karena disamping mereka dibebani bunga yang tinggi juga harus mengembalikan pokok pinjaman yang kadang kala bunganya saja lebih tinggi melampaui pokok pinjaman mereka.
Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Pak Hasyim yang mengatakan bahwa:
“2 atau 3 tahun yang lalu saya bertugas pertama sebagai
penyuluh pertanian di Kelurahan Tegalgede, saya mendapati masyarakat petani yang kesulitan dalam permodalan sampai- sampai mereka harus meminjam ke perorangan/renternir yang justru menyengsarakan mereka sendiri. Mereka kurang begitu mengenal perbankan dan lembaga kredit lainnya yang mereka
pikirkan adalah hanya mendapat modal yang cepat dan mudah”
(Hasil wawancara tanggal 21 Februari 2012)
Pernyataan dari Pak Hasyim diatas dibenarkan oleh Pak Tarmo yang mengatakan bahwa :
“riyen niku masyarakat dateng mriki pancen pados modal damel garap sawah meleh niku biasane inggih nyambute dateng tiang utawi renternir mas, amargi tiang dusun nek mboten wonten kenalan tiang bank bade nyambut modal niku sajare angel syarat-syarate kathah ngoten dados pikir-pikir meleh mlebet
bank”. (dulu itu masyarakat disini memang benar mencari modal
buat menggarap sawahnya lagi biasanya pinjam ke orang atau renternir mas, karena orang desa kalo tidak punya teman orang bank mau pinjam modal itu katanya sulit syarat-sayaratnya banyak jadi mikir-mikir untuk ke bank).
(Hasil wawancara tanggal 22 Februari 2012)
Dari pernyataan-pernyataan para informan di atas dan dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, mengenai permasalahan permodalan yang dihadapi para petani di Kelurahan Tegalgede. Dapat diketahui bahwa peran PPL dan lembaga terkait dengan penyuluhan kepada masyarakat petani sangatlah dibutuhkan untuk membantu para petani memperoleh informasi
berkaitan dengan cara memperoleh pinjaman modal di bank dengan bunga ringan. Sehingga kebiasaan para petani yang meminjam kepada renternir dapat diminimalisir dengan adanya informasi tersebut. Selain itu, peran serta dari PPL terkait dengan permasalahan modal yang dihadapi para petani binaannya, sedikit banyak juga membantu petani tersebut dalam pengadaan saprodi (sarana produksi) berupa benih, pupuk, maupun obat-obantan untuk menyelenggarakan usaha taninya.