• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Kondisi Lingkungan Perairan

Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan lingkungan perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme air yang nilainya dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal adalah perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan daur hidupnya (Boyd 1982). Adapun nilai parameter fisika-kimia perairan yang

didapatkan dari hasil pengukuran di stasiun pengamatan selengkapnya disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil pengukuran parameter fisika-kimia perairan

No Parameter Unit Bolok Pulau

Kambing Hansisi Tj.

Uikalui Uiasa Otan

Pasir Panjang 1 Suhu oC 26.27 27.50 27 28 28.17 27.67 29 2 Salinitas 0/00 32.30 32.20 32.70 32.50 32.50 32.50 33 3 Kec. Arus m/detik 0.20 0.16 0.14 0.50 0.37 0.67 0.50

4 Kecerahan % 90 85 100 90 100 100 100

5 pH - 7.50 7.00 7.50 7.90 8.20 7.90 7.50 6 Plankton ind/l 2126 4916 600 875 1750 1233 3091

4.2.1 Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan penting yang mempengaruhi organisme dalam melakukan aktivitas metabolisme, perkembangbiakan serta proses-proses fisiologi organisme, karena suhu dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi perairan. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian sebaran suhu berkisar antara 26.67-29oC (Tabel 4).

Hasil pengukuran suhu pada semua stasiun menunjukkan bahwa suhu di lokasi penelitian masih tergolong normal untuk kehidupan biota laut (Meneg LH 2004). Kisaran suhu tersebut masih termasuk dalam kriteria dimana terumbu karang dapat tumbuh dan berkembang. Menurut Sukarno et al. (1983) suhu yang paling baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25-30oC. Biota karang sebagai habitat ikan dapat mentolerir suhu tahunan maksimum sebesar 36-40oC dan suhu minimum 18oC (Nybakken 1998 ; Thamrin 2006). Menurut Boyd & Kopler (1979) suhu optimum untuk pertumbuhan ikan di daerah tropis berkisar antara 25-30oC.

Huet (1971) menyatakan fluktuasi harian suhu perairan sangat mempengaruhi kehidupan organisme di dalamnya, fluktuasi suhu air yang terlalu besar dapat mematikan organisme perairan. Bishop (1973) menyatakan suhu air dapat merangsang dan mempengaruhi pertumbuhan organisme perairan serta mempengaruhi oksigen terlarut untuk respirasi.

4.2.2 Salinitas

Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua korbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromide dan iodide digantikan oleh klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Effendi 2003).

Hasil pengukuran salinitas di setiap stasiun pengamatan menunjukan nilai yang homogen di semua stasiun pengamatan yaitu berkisar antara 32.20-33o/oo

(Tabel 4), dengan nilai salinitas terendah terdapat di Pulau Kambing (32.20 o/oo) dan yang tertinggi terdapat di Stasiun 8 yaitu Pasir Panjang (33o/oo). Menurut Effendi (2003) bahwa nilai salinitas perairan laut berkisar antara 30-34o/oo, sedangkan salinitas perairan dimana karang dapat hidup adalah pada kisaran 27-40o/oo dengan kisaran optimum untuk pertumbuhan karang adalah 34-36o/oo

(Nybakken 1998 ; Thamrin 2006). Berdasarkan hasil pengukuran di lokasi penelitian terlihat bahwa salinitas perairan di lokasi penelitian masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan bagi ikan maupun biota karang.

4.2.3 Kecepatan Arus

Kecepatan arus pada masing-masing stasiun berkisar antara 0.14-0.67 m/detik (Tabel 4), kecepatan arus terendah terjadi di stasiun 4 yaitu Hansisi (0.14 m/detik), sedangkan kecepatan arus yang tertinggi terjadi di stasiun 7 yaitu di Otan. Kecepatan arus di Otan tertinggi dibandingkan stasiun yang lain sangat dimungkinkan karena lokasi Otan berbatasan langsung dengan laut lepas. Sedangkan arah arus pada umumnya menuju arah barat hal ini berkaitan erat dengan musim tenggara (pada bulan Mei) dan musim timur (bulan Juni) yang berlangsung pada saat pengukuran.

Adanya arus ini diperlukan untuk tersedianya aliran air yang membawa nutrient dan oksigen untuk kelangsungan hidup bagi ikan dan tumbuh optimal biota karang serta menghindarkan karang dari pengaruh sedimentasi. Akan tetapi arus juga dapat memberikan efek negatif bagi terumbu karang. Arus yang terlalu kuat dapat mematahkan karang dan mengaduk dasar perairan sehingga perairan menjadi keruh dan mengganggu proses fotosintesis alga zooxanthellae (Nugeus 2002). Bagi biota karang, penyuplai nutrient terbesar berasal dari zooxanthellae, namun arus diperlukan karang dalam memperoleh makanan dalam bentuk

zooplankton dan oksigen serta dalam membersihkan permukaan karang dari sedimen (Thamrin 2006). Bagi biota ikan, pergerakan air merupakan salah satu faktor fisika yang berperan dalam proses rekruitmen yakni pada tahap penyebaran larva pelagik di perairan laut (Cowen 1991).

4.2.4 Kecerahan

Kecerahan berhubungan erat dengan kekeruhan karena kecerahan air sangat tergantung pada warna dan kekeruhan. Peningkatan padatan tersuspensi akan meningkatkan kekeruhan parairan dan sebaliknya akan mengurangi kecerahan perairan. Parameter tersebut merupakan indikasi tingkat produktivitas perairan sehubungan dengan proses respirasi biota perairan dan kualitas perairan.

Kecerahan menggambarkan kemampuan cahaya menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Hasil pengukuran kecerahan di lokasi penelitian berkisar antara 85-100% (Tabel 4). Hal ini menunjukan penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan berlangsung baik tanpa hambatan dari bahan organik maupun anorganik yang tersupensi di dalam perairan. Sebagaimana dinyatakan oleh Wardoyo (1980) bahwa kemampuan daya tembus cahaya matahari ke perairan sangat ditentukan oleh kandungan bahan organik dan bahan anorganik tersuspensi di dalam air, kelimpahan plankton, jasad renik dan densitas air. Cahaya matahari sangat diperlukan terutama oleh alga simbion karang zooxanthellae untuk melakukan fotosintesis, selanjutnya hasil dari fotosintesis dimanfaatkan oleh karang untuk melakukan proses respirasi dan klasifikasi (Hubbard 1997). Kedalaman penetrasi sinar matahari mempengaruhi kedalaman pertumbuhan karang hermatipik sehingga diduga hal ini juga mempengaruhi penyebarannya (Sukarno 1977).

Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kecerahan di lokasi pengukuran berada dalam kisaran yang layak bagi pertumbuhan biota karang sesuai dengan baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (Kepmen LH No. 51/2004 tentang Baku Mutu Air Laut) yakni masing-masing sebesar >5m, sehingga dapat disimpulkan bahwa cukup tersedia cahaya matahari untuk proses fotosintesis bagi kelangsungan hidup hewan karang.

Derajat keasaman (pH) perairan hasil pengukuran di semua stasiun lokasi penelitian berkisar antara 7.0-8.2 (Tabel 4), nilai pH terendah terdapat di Pulau Kambing (7.0), sedangkan tertinggi di Uiasa yaitu sebesar 8.2. Kisaran pH pada lokasi penelitian masih dalam batas yang optimum untuk mendukung kehidupan biota laut, kisaran pH air laut bagi biota laut adalah 7-8.5 (Meneg LH 2004). Derajat keasaman adalah salah satu faktor yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan biota laut. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8.5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Effendi 2003).

Dokumen terkait