Perikanan tangkap adalah kegiatan memproduksi ikan dengan menangkap (capture) dari perairan di daratan (inland capture atau inland fisheries), seperti sungai, muara sungai, danau, waduk dan rawa; serta perairan laut (marine capture atau marine fisheries), seperti perairan pantai dan laut lepas. Inland fisheries disebut juga perikanan perairan umum. Ikan yang ditangkap berasal dari stok suatu perairan. Ketersediaan stok ini sangat dipengaruhi oleh proses reproduksi dan pertumbuhan alamiah serta aktivitas penangkapan dan pencemaran lingkungan. Cakupan perikanan tangkap yang akan digambarkan dalam kajian ini lebih difokuskan pada perikanan tangkap dari laut (marine capture atau marine fisheries).
Kabupaten Halmahera Utara yang secara geografis berada pada posisi kordinat 10,57'-20,0' Lintang Utara dan 128,17'-128,18' Bujur Timur, memiliki luas perairan mencapai 19.536,02 km2 atau 76 % dari luas wilayah keseluruhan serta mengandung berbagai sumber daya perikanan yang bernilai ekonomis penting.
Berdasarkan hasil penelitian Direktorat Jendral Perikanan dan Balai Penelitian Perikanan Laut (1983), Perairan Halmahera Utara memiliki Potensi perikanan Laut (standing stock) sebesar 148.473,8 ton/ tahun (Dinas Perikanan dan Kelautan, 2005). Berdasarkan data standing stock perikanan Halmahera Utara sebesar 148.473,8 Ton/tahun, maka potensi lestari Maksimum Sustainable Yeild (MSY) yang dapat dimanfaatkan setiap tahun diperkirakan sebesar 86.660,6 ton/tahun dengan perincian sebagai berikut :
Perikanan Pelagis : 48.946,4 ton/tahun Perikanan Demersal : 32.664,2 ton/tahun
Potensi standing stock perikanan Halmahera Utara tersebut sangat terkait dengan potensi perikanan di kawasan perairan Maluku Utara. Hasil Indentifikasi KKLD (2008), menunjukkan bahwa potensi sumberdaya ikan (standing stock) yang terdapat di perairan Maluku Utara diperkirakan mencapai 694.382,48 Ton
dengan jumlah potensi lestari yang dapat dimanfaatkan (Maximum Sustainable Yield, MSY) sebesar 347.191,24 ton/tahun yang terdiri dari ikan pelagis besar sebesar 211.590,00 ton/tahun dan ikan demersal 135.005,24 ton/tahun. Sampai dengan tahun 2002, tingkat pemanfaatan baru mencapai 92,052,21 ton/tahun atan 26,5 1 % dan potensi yang dapat dimanfaatan (Dinas Perikanan dan Kelautan 2008). Artinya, tingkat pemanfaatannya masih rendah (under exploitation) dan potensi sumberdaya di kawasan perairan Maluku Utara cukup prospektif untuk dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Perikanan laut di Halmahera Utara merupakan daerah sebaran jenis ikan Pelagis dan Demersel yang mempunyai nilai ekonomis penting. Di beberapa Wilayah Kecamatan merupakan daerah penangkapan jenis ikan komersial, cakalang, tuna, kerapu, kakap merah, baronang, seperti : Kecamatan Galela, Loloda Utara, Morotai Utara, Morotai Selatan, Morotai Selatan Barat, Tobelo dan Tobelo Selatan.
Secara keseluruhan jenis ikan ekonomis penting yang terdapat dalam sumber daya alam laut di Kabupaten Halmahera Utara yaitu : Cakalang (Katsuwonus pelamis), tatihu/madidihang (Thunnus albacores), mata besar (Thunnus abesus), albacore (Thunnus alalunga), layang (Decapterus spp), kembung (Rastreliger sp), lemuru (Clupea spp), puri (Stolephorus spp), komo (Auxis spp), bubara (Caranx spp), julung (Hanirhampus sp), ikan terbang (Cypsilerus sp) peperek (Leiognathus sp), beleso (Sameda sp), biji nangka (Upeneus spp), gerot-gerot (Prada tyas spp), ikan merah (Lutjanus spp), kerapu (Ephynephelus sp), suwangi (Priocathus sp), kakap (Lotes spp), cucut (Hemigalerus sp), pari (Trygen sp), bawal hitam (Pormia niger), bawal putih (Panpus argentus), alu-alu (Siganus sp), jenis – jenis bukan ikan (won fish), krustasea, moluska, echinodermata dan rumput laut, serta terumbu karang. Sedangkan sumber daya alam pantai yaitu : ketam kenari (Birgus latro), penyu, burung laut, hutan mangrove. Disamping itu jenis udang (Penaied sp), kepiting (Brachyura sp), cumi-cumi (Chaphalopoda sp), kerang mutiara (Pinctada maxima), tapis-tapis (Pintada margarititera), lola (Thodws nilotice), teripang (Holothuridae sp).
Perkembangan produksi perikanan laut di Kabupaten Halmahera Utara yang dirinci menurut jenis alat tangkap yang digunakan nelayan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3 Perkembangan produksi penangkapan ikan di Kabupaten Halmahera Utara Tahun 2004-2005
VOLUME (TON)
NO JENIS ALAT TANGKAP
2004 2005
1 Pukat pantai 6,5 7,0
2 Pukat cincin 1.502,8 1.511,5
3 Jaring insang tetap 629,1 635,5
4 Jaring insang hanyut 414,3 446,4
5 Jaring insang lingkar 253,3 264,0
6 Jaring klitik - - 7 Trammel net 160,5 184,5 8 Bagan 590,0 611,3 9 Rawai hanyut 589,5 614,8 10 Rawai tetap 485,4 494,5 11 Huhate 457,7 462,8 12 Pancing tonda 419,8 429,1 13 Sero - - 14 Bubu 23,5 25,5
15 Alat penangkap kerang - -
16 Alat penangkap rumput laut 42,6 46,4
17 Muroami 12,0 14,5
18 Lain-lain 427,0 431,1
Jumlah 6.104 6.178,9
Pada Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa produksi penangkapan ikan pada tahun 2005 dapat mencapai sebesar 6.178,9 ton. sedangkan produksi yang dicapai pada tahun 2004 adalah sebesar 6.014 ton sehingga terjadi sebesar 1.23%. Pencapaian peningkatan produksi tersebut sebagai akibat pengembangan usaha
intensifikasi, diversifikasi, dan rehabilitasi melalui peningkatan sarana dan prasarana produksi, perluasan daerah penangkapan, peningkatan jumlah dan kualitas produktifitas nelayan/petani ikan secara operasional maupun institusional. Kenaikan produksi juga disebabkan karena adanya program pengembangan motornisasi dan modernisasi sarana penagkapan yang diarahkan pada perairan pantai yang potensial dengan system Rumponisasi.
Berdasarkan jenis armada penangkapan ikan yang digunakan nelayan di Kabupaten Halmahera Utara dapat dibedakan menjadi 3 yaitu; Kapal Motor, Motor Tempel dan Perahu Tanpa Motor. Perkembangan ketiga jenis aramada penangkapan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4 Perkembangan armada penangkapan ikan di Kabupaten Halmahera Utara tahun 2004 – 2005
Jenis Armada (unit) 2004 2005
Kapal Motor Motor Tempel Perahu Tanpa Motor
36 1.276 2.006 14 783 2.062 Total 3.318 2.859
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Halmahera Utara (2005)
Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar armada penangkapan di Kabupaten Halmahera Utara didominasi oleh jenis armada penangkapan ikan perahu tanpa motor. Pada tahun 2005, jumlah armada penangkapan kapal motor dan motor tempel mengalami penurunan jika dibangingkan dengan tahun 2004 sedangkan jumlah perahu tanpa motor mengalami kenaikan. Jika dilihat dari total armada yang ada, tahun 2005 juga mengalami penurunan sekitar 14%.
Unit penangkapan ikan adalah suatu satuan yang terdiri dari perahu, alat tangkap dan nelayan. Perkembangan unit penangkapan yang dirinci menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5 Jumlah unit penangkapan dan jumlah nelayan serta nelayan setiap kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara Tahun 2004 – 2005
Jumlah nelayan
No Kecamatan
Jumlah Unit Penangkapan
(unit) jiwa Kelompok
Jenis Alat Tangkap Yang Dominan*) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Malifut Kao Tobelo Selatan Tobelo Galela Loloda Utara Morotai Selatan Morotai Selatan Barat Morotai Utara 108 127 418 1.840 490 199 343 159 222 225 1.350 3.720 2.500 1.450 921 2.150 1.721 1.913 7 10 37 42 37 5 26 8 17 1,2,3 1,2,3,5 1,2,4,5,6,8 1,2,4,5,7,8,10,11 1,2,3,4,5,7,9 1,2,3,4,5,6,7,11 1,2,3,4,5,6,7,11 1,2,3,4,5,6,7,8,10,11 1,2,3,4,5,6,7,8,10,11 Tahun 2004 3.657 9.342 134 Tahun 2005 3.906 15.950 189 *)Keterangan:
1.Jaring insang hanyut (Surface gill nets) 2.Pancing ulur (Hand line)
3.Jaring insang dasar (Bottom gill nets) 4.Pukat cincin (Purse seine)
5.Rawai (Long line) 6.Giop (Small purse seine) 7.Bubu (Portable traps) 8.Bagan (Lift nets) 9.Sero (Traps) 10.Muroami
11.Huhate (Pole and line)
Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa secara total unit penangkapan di kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 6.81% jika dibadingkan dengan tahun 2004. Berdasarkan sebaran menurut kecamatan, jumlah unit penangkapan terbanyak di kecamatan Tobelo yaitu 1.840 atau 47.11% dari total keseluruhan dengan jenis alat tangkap dominant yang digunakan nelayan adalah jaring insang hanyut (Surface gill nets), pancing ulur (Hand line), pukat cincin (Purse seine), rawai (Long line), bubu (Portable traps), bagan (Lift nets), muroami, dan huhate (Pole and line).
Kondisi lingkungan perairan laut di Halmahera Utara secara umum masih sangat baik. Kawasan terumbu karang yang tersebar dari pulau Tabalenge sampai pada ujung PP Sula, panjang garis pantai ± 18000 Km2 dan terdapat 397 buah
pulau kecil serta beraneka jenis ikan dan 179.570,05 Ha mangrove merupakan potensi penanggulangan illegal fishing yang dapat dikelola. Beberapa gugus pulau yang sangat potensial untuk dijadikan pusat penanggulangan illegal fishing antara lain : gugus pulau Dodo Kec. Morotai Selatan, PP. Kumo di Tobelo. PP Guraici di Kayoa, Pantai Sulamahada di Ternate, Pantai Luari di Galela Khusus untuk Marine Tourisme belum berkembang disebabkan karena faktor perkembangan dan promosi yang kurang mendukung.