• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum Pemenuhan Hak atas Pendidikan

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 54-69)

BAB III ANALISIS SITUASI PEMENUHAN HAK ATAS

B. Kondisi Umum Pemenuhan Hak atas Pendidikan

tempuh untuk mendapatkan pelayanan publik.

Dari segi stabilitas pemerintahan, Bupati Aceh Utara kerap melakukan mutasi pejabat terutama pada level kepala dinas dan/atau badan. Ini berdampak pada ketidakstabilan roda pemerintahan. Sedangkan dari segi keamanan secara umum meski telah terjadi perdamaian, baik di Kota Lhokseumawe maupun di Kabupaten Aceh Utara masih terjadi beberapa insiden yang menodai perdamaian seperti kontak senjata, peledakan bom, perampokan bersenjata, penculikan, serta pengutipan “pajak liar”.

Persoalan yang juga krusial adalah terlambatnya pembahasan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kab/Kota (APBK). Tarik menarik politik anggaran antara eksekutif dan legislatif dalam pembahasan dan pengesahan APBK Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara berdampak pada terhambatnya pelaksanaan berbagai program pembangunan yang telah direncanakan.

B. Kondisi Umum Pemenuhan Hak Atas Pendidikan

dan Perumahan (1) Hak Atas Pendidikan

(a) Infrastruktur Pendidikan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe

Kondisi pendidikan di Kabupaten Aceh Utara relatif memadai untuk semua jenjang pendidikan, namun tetap saja masih terdapat beberapa persoalan krusial antara lain

persoalan fasilitas sarana prasarana termasuk gedung, buku dan lain-lian serta persoalan pendistribusian guru yang kurang merata. Idealnya rasio perbandingan antara guru dan murid untuk Sekolah Dasar (SD) adalah 1:20, sedangkan rasio perbandingan antara guru dan murid untuk Sekolah

81 Menengah Pertama (SMP) adalah 1:30.

Secara kuantitatif, Perkembangan Pendidikan Dasar dan Menengah di Kabupaten Aceh Utara dapat dibaca dalam table di bawah ini:

Tabel Jumlah TK, SLB, SD, SMP, SMA Negeri dan Swasta

Sumber Aceh Utara Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Dari data di atas, dapat dikongklusikan secara kuantitatif bahwa perkembangan sekolah dasar khususnya Sekolah Dasar justru mengalami penurunan jumlah yaitu tahun 2004 sejumlah 357 sekolah, tahun 2005 sejumlah 344 sekolah dan tahun 2006 dan 2007 sejumlah 346 sekolah. Penurunan jumlah sekolah tersebut disebabkan oleh terjadinya konflik sosial bersenjata yang berakibat banyaknya bangunan sekolah yang rusak.

Sekolah 2004 2005 2006 2007 TK 68 71 92 95 SLB 1 1 1 1 SD 357 344 346 346 MI 39 39 39 39 SMP 64 64 69 72 MTs 28 53 37 41 SMA 27 51 32 36 MA 13 16 17 19 SMK 3 4 5 8

Tabel Rata-rata Jumlah Siswa Pada Setiap Sekolah Dasar

Sumber: Aceh Utara dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Tabel Rata-rata Jumlah Guru Pada Setiap Sekolah Dasar

Sumber: Aceh Utara dalam Angka 2004-2007 (diolah)pada tahun 2007

Berdasarkan tabel di atas, terjadi pengurangan jumlah guru SD dari 4.434 (2004) menjadi 4.153 (2007), hal ini karena berkurangnya jumlah murid sehingga muncul kebijakan untuk mengurangi tenaga guru kontrak/tidak tetap.

Jumlah Murid dan Guru Serta Rasio Guru-Murid dan Rasio Sekolah-Murid Sekolah Dasar

Sumber: Aceh Utara Dalam Angka (Diolah)

Tabel Jumlah Murid Sekolah baik Umum/Agama/Negeri/Swasta

Menurut Jenjang Pendidikan

Sumber Bappeda Aceh Utara

Sedangkan di Kota Lhokseumawe, jumlah sarana pendidikan umum yang tersedia sampai dengan tahun 2007, terdiri dari Taman Kanak – kanak 25 unit (swasta 24 unit), Sekolah Dasar 59 unit, SLTP 15 unit serta SMU/SMK 13 unit, Akademi/Perguruan Tinggi 10 unit. Sedangkan sarana pendidikan agama yang ada 8 unit Madrasah Ibtidaiyah (5 negeri dan 3 swasta), 6 unit Madrasah Aliyah (1 negeri dan 5 swasta), 26 unit Pondok Pasantren dan 189 unit Balai

82

Pengajian. Sedangkan Jumlah Sekolah Negeri/Swasta menurut jenjang pendidikan tahun 2004-2007 sebagaimana tabel berikut:

Tabel Jumlah Sekolah Negeri/Swasta Menurut Jenjang Pendidikan

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Tahun Jumlah SD Jumlah

Siswa

Rata-rata Siswa Per Sekolah

2004 361 78.010 216

2005 344 74.680 217

2006 346 69.922 202

2007 346 70.210 203

Tahun Jumlah SD Jumlah

Guru

Rata-rata Guru Per Sekolah

2004 361 3.462 10

2005 344 4.061 12

2006 346 4.434 13

2007 346 4.153 12

Tahun Jumlah Murid (orang) Jumlah Guru (orang) Rasio Murid- Guru (orang) Rasio Sekolah-Murid (orang) 2004 78.010 3.462 1:22 1:216 2005 74.680 4.061 1:18 1:217 2006 69.922 4.434 1:16 1:202 2007 70.210 4.153 1:16 1:202 Jml Murid 2004 2005 2006 2007 TK 3.449 3.449 117.88 117.424 SLB - 53 73 - SDN 79.686 78.010 71.921 70.210 MI 11.353 11.587 10.036 10.160 SMP 26.235 26.235 24.670 23.754 MTs 5.948 7.382 6.925 7.317 SMA 14.273 14.273 15.564 16.963 SMK 364 740 966 1.364 MA 3.332 3.580 3.772 4.336

Tahun SD SMP SMA/SMK PT/Akademi

2004 59 14 13 10

2005 59 14 13 10

2006 60 16 9 10

Tabel Jumlah Sekolah Agama Negeri/Swasta

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Tabel Tabel Jumlah Taman Kanak-Kanak (TK)

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Di samping itu, tidak terdapat satu pun sekolah bagi penyandang cacat di Kota Lhokseumawe. Ketidakpedulian pemerintah Lhokseumawe terhadap orang-orang yang tidak beruntung akibat cacat bawaan adalah salah satu bentuk diskriminasi yang merupakan salah satu pelanggaran terhadap hak atas pendidikan.

(b) Tingkat Partisipasi Pendidikan

Berikut ini adalah Data Sekolah, Jumlah Siswa SMP/MTs, Jumlah Penduduk Usia 13-15 Tahun, Jumlah Anak Usia 13-15 Yang Putus Sekolah Serta Angka Partisipasi kasar (APK) Per Kab/Kota Dalam Wilayah Provinsi NAD tahun 2005 dan 2006. Berikut ini adalah Kabupaten/Kota Di

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Yang Masih Di Bawah Rata-Rata Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Murni (APM) Nasional Tahun 2005 (85,22%).

Sumber: Dinas Pendidikan NAD

Sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah di Kota Lhokseumawe adalah sebagai berikut:

Sumber Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe Tahun Madrasah Ibtidaiyah (MI) Madrasah Tsanawiyah (MTs) Madrasah Aliyah (MA) PT/Akademi 2004 8 8 6 2 2005 8 8 6 2 2006 8 11 6 2 2007 8 11 6 2

Tahun Negeri Swasta Jumlah

2004 0 30 30

2005 0 30 30

2006 0 30 30

2007 0 43 43

No Kabupaten KotaPenduduk13-15 Thn

Siswa SMP / Sederajat Angka

Partisipasi PendudukBelum Tertampung 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nagan Raya Gayo Lues Bener Meriah Aceh Timur Aceh Tenggara Aceh Tengah Aceh Selatan Aceh Jaya

Aceh Barat Daya

Aceh Barat 7.999 4.334 8.949 27.371 12.790 15.219 21.116 6.969 9.260 11.906 Seluruhnya 13-15 tahun 6.705 2.968 6.645 19.006 10.948 12.685 11.270 4.718 7.116 9.276 5.192 2.376 5.078 16.231 8.391 9.885 6.914 3.477 5.211 5.426 83.82 68.48 74.25 69.44 85.60 83.35 53.37 67.70 76.85 77.91 64.91 54.82 56.74 59.30 65.61 64.95 32.74 49.89 56.27 45.57 1.294 13.66 2.304 8.365 1.842 2.534 9.846 2.251 2.144 2.630 APK APM 1 2 3 4 5 PAUD TK SD/MI SMP/MTs SLTA -1,529 21,529 9,867 7,356 -1,535 22,836 10,033 7,461 -1,643 22,505 10,528 8,759 -2,213 22,857 11,088 9,532 -2,579 22,110 11,162 9,975 -2,795 22,228 11,342 10,050 -2,791 22,299 11,478 10,090 NO JENJANG PENDIDIKAN JUMLAH SISWA SELURUHNYA 01/02 02/03 03/04 04/05 05/06 06/07 07/08

Sumber Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe

(c) Angka Putus Sekolah

Pada tahun 2005, dari tiga tingkatan sekolah umum maupun agama yang terdapat di NAD yaitu SD/MI, SMP/MTsN, dan SMU/MAN, paling banyak anak yang tidak sekolah terjadi pada anak usia antara 16-18 tahun. Totalpopulasi anak usia antara 16-18 tahun itu berjumlah 270.803 orang,sementara yang tidak sekolah mencapai 98.682

83 orang, dan yang sudahsekolah sebanyak 172.121 orang.

Anak usia antara 13-15 tahun berjumlah populasinya 275.000 orang. Dari sekian banyak anak tersebut, terdapat 34.554 orang yang tidak sekolah dan sebanyak 240.440 orang yang telah memasuki sekolah.

Anak usia sekolah antara 7-12 tahun total populasinya adalah 542.044 orang. Dari angka tersebut terdapat 28.515 orang yang belum sekolah dan sebanyak 513.529 orang yang

84 telah sekolah.

Angka putus sekolah siswa SD/MI di Kota Lhokseumawe sebanyak 16 orang siswa pada tahun 2005, 31 orang siswa pada tahun 2006, sedangkan pada tahun 2007

85 sebanyak 14 orang siswa.

Tabel Banyaknya Siswa SD dan MI Yang Putus Sekolah

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Tabel Banyaknya Siswa SMA, MA dan SMK Negeri/Swasta yang Putus Sekolah

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Dari tabel di atas tampak untuk angka putus sekolah bagi siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah meningkat pada tahun 2005 dari 16 orang menjadi 31 orang dan menurun menjadi 14 pada tahun 2007. Demikian pula dengan siswa SMK yang putus sekolah, tampak terjadi kenaikan pada tahun 2006 menjadi 28 orang siswa, dan kembali turun pada tahun 2007 menjadi 13 orang. Mayoritas siswa SMK yang mengalami putus sekolah.

Putus Sekolah Tahun SD MI Jumlah 2004 - - - 2005 16 0 16 2006 7 24 31 2007 8 6 14

Tahun SMA MA SMK Jumlah

2004 8 1 0 9 2005 0 0 23 23 2006 0 0 28 28 2007 0 0 23 23

Jenjang

TK SD/MI SMP/MTs 03-->04 04-->05 05-->06 06-->07 02-->03 SLTA 0.004 0.061 0.017 0.014 0.070 (0.014) 0.049 0.174 0.347 0.016 0.053 0.088 0.165 (0.033) 0.007 0.046 0.082 0.009 0.028 0.012

Sementara di Kabupaten Aceh Utara Angka melek huruf mencapai angka 96.04% (di tahun 2007). Di Kabupaten Aceh Utara juga diketemukan anak jalanan dalam jumlah yang sangat besar yaitu sebesar 5.175 orang (tahun 2004);

86 6.459 orang (tahun 2006); dan 213 orang (tahun 2007).

Adapun angka putus sekolah di Kabupaten Aceh Utara untuk setiap jenjang pendidikan adalah sebagai berikut:

Tabel Jumlah Siswa SD dan MI yang Putus Sekolah

Sumber: Aceh Utara dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Tabel Jumlah Siswa SMP dan MTs yang Putus Sekolah

Tabel. Jumlah Siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang Putus Sekolah

Sumber: Aceh Utara dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Melihat fakta tingginya angka putus sekolah di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, maka pemerintah dituntut untuk mengambil langkah-langkah yang efektif melalui kebijakan untuk mengurangi angka putus sekolah secara progresif sampai dipastikan tidak ada lagi siswa yang putus sekolah, baik putus sekolah karena faktor ketiadaan biaya maupun akibat menikah pada usia sekolah.

(d) Sketsa Kasus

Sebagaimana yang terjadi di daerah lain di Indonesia, Kota Lhokseumawe dan di Kabupaten Aceh Utara juga menghadapi persoalan akses dan kualitas pendidikan. Di antara kasus yang menarik perhatian masyarakat adalah maraknya indikasi penyalahgunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sedikitnya terdapat 20 (dua puluh) Sekolah Dasar (SD) dan 7 (tujuh) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Lhokseumawe yang terindikasi melakukan penyimpangan dana BOS. Indikasi penyimpangan dana BOS oleh beberapa oknum kepala sekolah SD dan SMP tersebut sudah dilaporkan secara resmi oleh LSM Masyarakat Transparasi Aceh (MaTa) ke Kejaksaan Negeri Lhokseumawe

87 tanggal 17 Juli 2008, namun belum ada tindaklanjut.

Sedangkan di Aceh Utara kasus yang muncul adalah tidak terpenuhinya tunjangan guru. APBD Aceh Utara tahun 2005 dan 2007 telah menganggarkan tunjangan khusus untuk guru, namun dana tunjangan tersebut tidak pernah dibayarkan

Tahun SD MI Jumlah 2004 287 101 388 2005 510 99 609 2006 162 8 170 2007 346 38 384 Tahun SMP MTs Jumlah 2004 157 17 174 2005 157 22 179 2006 251 29 280 2007 196 10 206

Tahun SMA MA SMK Jumlah

2004 79 0 0 79

2005 112 0 0 112

2006 53 0 17 70

dengan alasan telah dialihkan untuk fasilitas pendidikan di wilayah yang terkena tsunami. Setelah dilakukan monitoring dan advokasi, tidak ada fasilitas pendidikan yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di wilayah tsunami. Fasilitas pendidikan wilayah korban tsunami telah dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh – Nias, NGO lokal maupun Internasional, sehingga kuat dugaan telah terjadi penyalahgunaan anggaran. Kasus ini juga telah diadvokasi dan dilaporkan kepada Kejaksaan Negeri Lhoksukon, namun kasus tersebut juga belum diproses sesuai

88 mekanisme hukum yang berlaku.

Kasus lain yang sering muncul adalah maraknya penyalahgunaan narkotika dan pornografi di kalangan pelajar terutama siswa SMA. Menurut Wakil Bupati Aceh Utara Syarifuddin, S.E., diperkirakan tingkat peredaran narkoba

89 untuk kalangan pelajar bisa mencapai 20-25 % pelajar. Pihak sekolah sudah sering melakukan berbagai upaya preventif seperti penyuluhan hingga melakukan razia di sekolah untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkotika dan pornografi. Persoalan narkotika merupakan persoalan pelik dan kompleks, mengingat Aceh merupakan salah satu daerah penghasil ganja. Sedangkan pornografi seiring dengan perkembangan teknologi informasi sangat mudah diakses oleh setiap orang baik lewat internet, media telopon genggam, VCD, majalah dan lain sebagainya. Sudah saatnya pemerintah daerah, orang tua/wali murid, guru, serta masyarakat peduli

dan saling bekerja sama untuk menyelamatkan siswa dari segala sesuatu hal yang merusak moral dan mental anak

90 didik.

Kasus lainnya yang juga butuh perhatian adalah tingginya angka ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) di Provinsi NAD yang telah mencapai 43,2 persen siswa pada tingkatan SMP dan SMA. Penyebab siswa Aceh gagal lulus UN adalah karena dinaikkannya kriteria kelulusan dari tahun lalu 4,01 menjadi 4,26. Pada tahun 2005, dari sekitar 7.500 siswa SMA di Aceh Utara, lebih dari 70% tidak lulus ujian nasional. Tahun 2006 menurun menjadi sekitar 40 persen. Meskipun tingkat ketidaklulusan di Aceh Utara menurun dari tahun 2005 sampai tahun 2006, namun persentasenya masih

91 cukup besar.

Pada tahun 2007, sedikitnya 2.398 siswa dari 6.161 SMA/MA yang tersebar di 22 Kecamatan di Aceh Utara dinyatakan tidak lulus mengikuti ujian nasional. Jumlah itu mencapai 38,92%. Sedangkan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari 202 perserta ujian nasional hanya 80 orang siswa yang dinyatakan lulus dari empat Sekolah Menengah Kejuruan di kabupaten Aceh Utara. Dari catatan panitia ujian nasional Aceh Utara hanya 3.763 orang siswa SMA/MA yang dinyatakan lulus ujian nasional tahun 2007. Sedangkan untuk SMK hanya 122 orang siswa yang lulus. Adapun pada tahun 2008, terdapat 1.451 siswa gagal lulus Ujian Nasional, dari jumlah siswa SMA/MA dan SMK

(2) Hak Atas Perumahan

(a) Review Atas Kebijakan Tata Ruang

Secara normatif, wewenang pemerintah daerah untuk membuat perda tata ruang dijamin di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh Pasal 171 menyebutkan:

(1) Pe m e r i n t a h a n A c e h d a n p e m e r i n t a h a n k a b u p a t e n / k o t a b e r we n a n g m e n e t a p k a n peruntukan lahan dan pemanfaatan ruang untuk kepentingan pembangunan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai peruntukan lahan dan pemanfaatan ruang Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Qanun Aceh. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peruntukan lahan dan pemanfaatan r uang kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan qanun kabupaten/kota.

Ketentuan di atas ditambah dengan beberapa ketentuan lain yaitu Pasal 213 yang berbunyi:

(1) Setiap warga negara Indonesia yang berada di Aceh memiliki hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pe m e r i n t a h A c e h d a n / a t a u p e m e r i n t a h kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengur us per untukan, pemanfaatan dan hubungan hukum berkenaan dengan hak atas tanah dengan mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak yang telah ada termasuk hak-hak adat sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang berlaku secara nasional.

(3) Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kewenangan Pemerintah Aceh

dan/atau pemerintah kabupaten/kota untuk memberikan hak guna bangunan dan hak guna usaha sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang berlaku.

(4) Pe m e r i n t a h A c e h d a n / a t a u p e m e r i n t a h kabupaten/kota wajib melakukan pelindungan hukum terhadap tanah-tanah wakaf, harta agama, dan keperluan suci lainnya.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan qanun yang memperhatikan peraturan perundang-undangan.

Meski Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh telah mengatur serangkaian kewenangan pengaturan tata ruang dan pertanahan, namun hingga kini Pemerintahan Aceh bersama DPRA belum membuat qanun yang mengatur tata ruang sebagai salah satu dasar untuk menjalankan kebijakan pembangunan khususnya perumahan. P r o g r a m L e g i s l a s i A c e h ( P r o l e g a ) t e r b a r u menempatkan Qanun tentang Perencanaan Pembangunan dan Tata Ruang Aceh dengan materi Peruntukan Lahan dan Pemanfaatan ruang Wilayah Aceh masuk dalam urutan ke-21 untuk dibahas. Prakteknya hingga akhir tahun 2008, rancangan qanun tentang Perencanaan Pembangunan dan Tata Ruang Aceh belum juga dibahas untuk disahkan. Akibat keterlambatan pembahasan dan pengesahan Rancangan Qanun Tata Ruang Aceh, maka Qanun Tata Ruang dan Tata Wilayah Kabupaten/kota juga belum bisa dirancang. Disamping Rancangan Qanun Tata Ruang Aceh, Pemerintah

Aceh juga akan menyusun Rancangan Qanun pertanahan sebagai salah satu bagian dari kewenangan pemerintahan Aceh.

Penyelesaian Persoalan Pertanahan pasca terjadinya musibah Tsunami dilakukan dengan mengukur ulang persil-persil tanah di daerah-daerah yang terkena tsunami. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) guna penerbitan kembali sertifikat hak milik. Muncul persoalan yaitu BPN Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam belum dapat menerbitkan sertifikat untuk seluruh persil tanah dikarenakan beberapa alasan antara lain banyak pemilik tanah maupun ahli waris yang tidak berada di tempat, banyak tanah yang masih terlibat sengketa batas, sebagian tanah tidak lagi memiliki ahli waris dan yang cukup rumit adalah status tanah yang hilang atau musnah.

Secara rinci Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi NAD dan Kepuluan Nias Provinsi Sumatera Utara, khususnya dalam BAB Pertanahan telah mengatur persoalan tanah pasca tsunami. Pasal 3 ayat (1) menyatakan bahwa tanah yang terkena bencana alam gempa bumi dan tsunami terdiri atas tanah yang masih ada dan tanah musnah. Tanah musnah adalah tanah yang sudah berubah dari bentuk asalnya karena peristiwa alam dan tidak dapat diidentifikasi lagi sehingga tidak dapat difungsikan,

digunakan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya, hal ini sebagaimana dalam Pasal 1 Ayat (2).

Lebih lanjut Pasal 5 ayat (1) menyebutkan bahwa pemilik tanah yang tanahnya musnah baik yang sudah maupun yang belum terdaftar berhak memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian melalui pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah ditetapkan dari pemerintah daerah atau Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Proses penggantiannya dilakukan melalui beberapa prosedur yaitu penggantian tanah musnah dilakukan dengan memperhatikan (a) ketersediaan tanah; (b) bukti pemilikan atau penguasaan hak atas tanah; (c) dokumen pertanahan yang ada pada kantor pertanahan setempat; (d) Rencana Umum Tata Ruang.

Sementara itu, tanah kebun atau tambak yang juga musnah hingga kini belum ada kejelasan ganti ruginya karena belum ada peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2007. Pemerintah sejauh ini hanya menggantikan tanah musnah (tanah permukiman) dengan tanah dan rumah di tempat yang baru.

Selama kurun waktu dua tahun terakhir, Kantor Wilayah BPN NAD telah mengukur tanah warga sebanyak 210.591 persil. Kantor Wilayah BPN NAD juga telah melakukan sertifikasi tanah. Untuk tahun 2005 – 2007, Kantor Wilayah BPN NAD menargetkan menerbitkan sertifikat sebanyak 210.591 namun baru 121.633 persil tanah. Untuk

selanjutnya sertifikat akan diselesaikan oleh BPN kabupaten/kota masing-masing dan tidak diurus lagi oleh

93 provinsi.

Berkaitan dengan tanah-tanah yang tidak ada lagi pemiliknya sedangkan ahli warisnya beragama Islam maka tanahnya menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal berdasarkan penetapan Pengadilan. Permohonan penetapan tanah menjadi harta agama diajukan oleh keluarga, masyarakat, atau pengurus Baitul Mal.

Penguasaan tanah oleh Baitul Mal dibatasi oleh ketentuan bahwa jika dalam waktu maksimal 25 tahun terdapat seseorang yang menyatakan bahwa tanah yang telah dikauasai oleh Baitul Mal adalah miliknya, dan telah mendapatkan penetapan sebagai pemilik dari pengadilan, maka Baitul Mal wajib mengembalikan tanah tersebut kepada pemiliknya. Apabila telah dilakukan perubahan fisik penggunaan dan/atau pemanfaatannya, atau telah dialihkan kepada pihak lain, maka kepada bekas pemilik atau ahli warisanya wajib diberikan ganti kerugian oleh Baitul Mal. (b) Angka Alih Fungsi Lahan Dari Pertanian dan Sawah

Untuk Perumahan

Hingga saat ini belum tersedia data angka alih fungsi lahan dari lahan pertanian untuk perumahan baik di Kota Lhokseumawe maupun di Kabupaten Aceh Utara. Namun secara sederhana, perbandingan tanah sawah dan

pekarangan/bangunan dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel Lahan Sawah dan Pekarangan di Kabupaten Aceh

Utara

Sumber : Aceh Utara dalam Angka 2004-2007 (diolah)

Berdasarkan tabel Penggunaan tanah di atas, terjadi kenaikan alih fungsi tanah sawah ke tanah pekarangan/bangunan sebesar 0.1% di tahun 2005, dan 0.3% di tahun 2006 dari total luas tanah seluas 329,686 ha, yang didiami oleh 110.098 rumah tangga pada tahun 2007. Di sisi lain terjadi pula penambahan lahan sawah sebesar 0.8% pada tahun 2007, sekaligus terjadi penurunan penggunaan lahan perumahan sebesar 0,14%. pada tahun 2006 karena hilangnya sejumlah pemukiman di sepanjang pesisir ke lahan lain akibat bencana tsunami. Sedangkan pada tahun 2007 terjadi kenaikan penggunaan lahan pekarangan/bangunan sebesar 1,12%. Penggunaan Lahan 2004 2005 2006 2007 Sawah 39.777 ha (12,07%) 39.776 ha (12,06%) 39.773 ha (12.06%) 40.024 ha (12,14%) Pekarangan/ Bagunan 35.258 ha (10,16%) 35.258 ha (10,69%) 34.753 ha (10,5%) 40.518 ha (12.29%) Luas Total Lahan 329.686 (100%)

Tabel Lahan Sawah dan Pekarangan di Kota Lhokseumawe

Sumber : Lhokseumawe dalam angka 2005-2007

Sedangkan di Kota Lhokseumawe, alih fungsi lahan sawah ke lahan pemukiman naik sebesar 6.30% pada tahun 2006. Kota Lhokseumawe merupakan daerah yang cukup padat dan didiami oleh 158.169 orang penduduk pada tahun 2007 dengan total luas pemukiman 10.630 ha.

(c) Korelasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk Dengan Penyediaan Lahan Untuk Perumahan

Untuk menggambarkan tingkat pertumbuhan penduduk dengan penyediaan lahan untuk perumahan, berikut data masing-masing daerah:

Tabel Jumlah Penduduk Lhokseumawe

Sumber: Lhokseumawe dalam Angka 2005-2007

Tabel Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Utara

Sumber: Aceh Utara dalam Angka 2007

Persoalan perumahan di Aceh Utara dan Lhokseumawe serta propinsi NAD pada umumnya sangat kompleks, mengingat Aceh pernah mengalami konflik bersenjata selama puluhan tahun yang menyebabkan ribuan orang harus mengungsi dan meninggalkan tempat tinggal. Menurut data pada tahun 2004, sedikitnya terdapat 1.714 rumah di Kabupaten Aceh Utara yang terbakar akibat konflik bersenjata

94

antara Tentara Nasional Indonesia dan GAM. Rusaknya rumah dan infrastruktur publik akibat konflik diperparah oleh tragedi bencana gempa bumi dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan sebagian daerah Provinsi NAD ter masuk sebagian wilayah Kota Lhokseumawe dan sebagian besar pesisir wilayah Kabupaten

95 Aceh Utara dan menelan korban sebanyak. 2.502 jiwa.

Bencana gempa dan gelombang tsunami menyebabkan kerusakan yang sangat besar sehingga pemerintah pusat membentuk sebuah badan khusus setingkat menteri yang bertugas menangani Aceh yakni Badan Rehabilitasi dan

Penggunaan Lahan 2004 2005 2006 2007 Sawah - 5.250 ha (28.99%) 3.943 ha (21.77 %) 3.943 ha (21.77%) Pemukiman - 9.490 ha (52.41%) 10.630 ha (58.71%) 10.630 ha (58.71%) Luas Total Lahan 18.106 ha (100%)

Tahun Penduduk Rumah Tangga Kepadatan Rata-rata penduduk per rumah tangga Pertumbuhan Penduduk (%) 2007 158,169 33,995 874 5 0.80 2006 156,556 33,627 865 5 0.87 2005 154,643 33,101 854 5 0.75 2004 152,091 33,031 840 5 -

Tahun Penduduk Rumah Tangga Kepadatan Rata-rata penduduk per rumah tangga Pertumbuhan Penduduk (%) 2007 515.974 111.871 157 5 1.75 2006 502.288 110.098 152 5 1.54 2005 493.599 108.220 150 5 1.07 2004 493.251 107.009 150 5 1.25

Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias pada 16 April 2005 melalui Perpu No. 2 Tahun 2005 serta Perpres No. 34 Tahun 2005 Tentang Struktur Organisasi dan Mekanisme BRR NAD-Nias. Berikut data pembangunan rumah di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias maupun oleh kalangan Non Goverment Organisation (NGO):

Tabel Pembangunan rumah oleh BRR NAD-Nias di Kabupaten Aceh Utara

Sumber BBR NAD-Nias Perwakilan II Lhokseumawe

Pembangunan perumahan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah namun juga dilakukan oleh aktifis lembaga swadaya masyarakat atau Non Goverment Organisation (NGO), baik dalam negeri maupun organisasi internasional. Secara kuantitatif, data pembangunan perumahan oleh kalangan NGO dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel pembangunan perumahan oleh NGO di Kabupaten Aceh Utara

Sumber BBR NAD-Nias Perwakilan II Lhokseumawe

Pembangunan perumahan juga dilakukan di Kota Lhokseumawe, baik yang dilakukan oleh pemerintah melalui BRR maupun oleh kalangan Non Goverment Organisation (NGO). Data kuantitas pembangunan perumahan dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Pembangunan rumah oleh BRR NAD-Nias di Lhokseumawe

Kab.Aceh Utara DIPA 2005 T.A . 2007 T.A. 2008

Dibangun 732 unit 154 unit 196 unit

Selesai 732 unit 154 unit 0

Dihuni 238 unit 154 unit 0

Tidak Dihuni 13 unit 0 196 unit

Sedang kerja 0 0 0

Terbengkalai 0 0 0

Kab.Aceh Utara NGO Rekompak

Dibangun 4810 unit 350 unit

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 54-69)

Dokumen terkait