• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN

4.2. Temuan Penelitian

4.2.2. Hasil Wawancara

4.2.2.1 Konflik Antara Suami Istri

Suami dan istri merupakan individu-individu yang disatukan dalam suatu hubungan yang disebut dengan pernikahan dan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia. Masing-masing individu yang telah menjadi suami istri pada awalnya memasuki kehidupan yang baru setelah menikah dimana mereka mulai memiliki pandangan dan kebiasaan yang berbeda dari pada saat mereka sebelum menikah.

Semakin lamanya usia pernikahan maka semakin berpotensi pula konflik akan terjadi.

Hal ini disebabkan oleh intensitas interaksi diantara mereka yang menuntut mereka harus menjalankan tugas dan kewajiban mereka sebagai suami dan istri. Selain intensitas mereka dalam berinteraksi pemicu terdorongnya konflik diantara suami istri juga dikarenakan menyangkut dengan perasaan, kepercayaan, dan juga kesenangan yang terkadang tidak seperti yang pada awalnya diharapkan oleh masing-masing individu.

Tabel 4.1

4.2.2.1.1. Konflik Yang Di Alami Oleh PH Dan RH

PH dan juga RH telah menikah sejak tahun 2005 dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak dua laki-laki dan satu perempuan. Anak tertua mereka saat ini tidak lama lagi akan menginjakkan kaki di bangku SMA. Laki-laki berumur 45 tahun ini sehari-hari bekerja sebagai agen mobil bekas, sedangkan RH yang sudah berumur 40 tahun ini berprofesi sebagai PNS disalahsatu sekolah yang ada di Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Kehidupan rumah tangga PH penuh dengan lika-liku yang berujung pada konflik. Konflik ini dimulai dengan konflik-konflik kecil yang bisa diselesaikan sendiri namun pada akhirnya berubah pada konflik besar yang akhirnya harus melibatkan pihak ketiga dalam membantu menyelesaikannya pada

awal tahun 2017. Konflik antara mereka dirasakan sering terjadi selama kurun waktu satu tahun belakangan, yaitu tepatnya pada tahun 2016. PH dan RH mengalami konflik yang berakhir dengan pengaduan kepada lembaga adat di gampong oleh istrinya. Pemicu pengaduan yang dilakukan RH kepada lembaga adat adalah karena RH tidak mau pulang kerumah lagi sehingga RH merasa butuh kejelasan dalam hubungan rumah tangga mereka. Langkah RH dalam menyelesaikan konflik antara dia dan suaminya dilakukan melalui lembaga adat tidak melalui keluarga karena RH tidak ingin melibatkan orangtuanya dalam permasalahan ini disebabkan dia tidak ingin menjadi beban fikiran orangtuanya. Berikut hasil kutipan wawancara dengan Ramaizan RB Kepala Dusun Sejahtera mengenai permasalahan yang dihadapi oleh PH dan RH:

‘’Pada saat itu RH datang kepada saya untuk mengadukan permasalahannya dengan suaminya. Dia mengatakan kalau suaminya sudah tidak pulang kerumah hampir satu bulan. Pada saat itu saya sedang sibuk mempersiapkan acara pemilihan guru mengaji yang diadakan oleh pemerintah kabupaten dan saya sebagai panitianya, jadi saya tidak sempat untuk menyelesaikan permasalahannya. Setelah saya menerima aduan dari RH lalu saya meminta kepada teungku untuk menyelidiki dan menyelesaikan permasalahan ini. Jadi selanjutnya permasalahan ini ditangani oleh teungku sampai di hari persidangan dan disitu baru saya hadir bersama Geuchik, Teungku, dan juga Tuha Peut’’.

Pada awalnya peneliti menjumpai Kepala Dusun Sejahtera dan mengkonfirmasi laporan yang datang kepadanya mengenai konflik keluarga yang pernah terjadi di Dusun yang dia pimpin. Disitu Ramaizan selaku kepala dusun bercerita bahwasannya dia pernah mendapat laporan mengenai konflik yang dialami oleh PH dan RH.

Namun diakibatkan oleh keadaannya yang sedang sangat sibuk maka dia meminta

bantuan kepada Teungku untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pada tahap selanjutnya permasalahan ini ditangani oleh Teungku yang juga termasuk kedalam bagian lembaga adat gampong. Oleh teungku kemudian diselidikilah permasalahannya sambil manasehati dan kemudian mencari jalan keluar. Berikut ini ungkapan dari Teungku:

‘’Lorong menghubungi saya dan cerita mengenai permasalahan yang dihadapi oleh PH dan juga RH, kemudian dia meminta bantuan sama saya untuk bantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh PH dan RH. Selanjutnya saya memanggil PH untuk saya tanyakan permasalahannya kepada dia secara langsung kenapa dia tidak mau pulang kerumah selama ini.Cara saya untuk membujuk PH agar mau berbaikan kembali dengan istrinya pada awalnya yaitu dengan menanyakan apakah dia sayang sama anaknya. Kami yakin orangtua akan luluh apabila sudah menyangkut anak dan cara ini bukan cuma saya saja yang menggunakannya, namun juga digunakan oleh aparatur gampong yang lain yang membantu menyelesaikan konflik antara suami istri.

Setelah saya menanyakan hal itu baru saya mulai membujuk untuk dia pulang kerumah. Kemudian setelah saya mendengar jawaban dari dia pada hari-hari berikutnya baru saya panggil RH untuk mendengar pula pendapat dari RH’’.

Setelah kepala lorong menghubungi teungku kemudian permasalahan ini diserahkan kepada teungku. Untuk membujuk agar PH mau kembali rujuk dengan istrinya maka teungku sebagai mediator menggunakan alasan anak. Menurut teungku dan juga aparatur gampong yang menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik antara suami istri orangtua akan menurunkan egonya apabila sudah menyangkut dengan anaknya. Hal senada juga diungkapkan oleh PH:

‘’pertama sekali abang ditanya ‘’kamu masih sayang sama anak-anak?’’ lalu abang jawab ‘’sayang, anak kita masak tidak kita sayang’’ ditanya lagi ‘’kalau sayang apa mau balikan lagi?’’ abang jawab ‘’mau, coba tanya sama keluarga aku dulu, apa dia mau lagi sama aku?’’.

Pada beberapa hari berikutnya teungku baru kemudian memanggil pula RH yang merupakan pihak pertama yang melapor kepada lembaga adat. Untuk menjaga netralitas maka sudah sepatutnya lembaga adat mendengarkan pendapat dari dua belah pihak sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan. Berikut ini ungkapan dari RH terkait dengan pangaduannya kepada lembaga adat:

‘’kakak melapor kepada lembaga adat karena pada saat itu abang sudah lama tidak pulang kerumah kira-kira satu bulan lebih. Pada saat kakak telfon tidak diperdulikan dan abang tetap juga tidak mau pulang kerumah. Selama itu abang tinggal dirumah orangtuanya. Jadi kakak berinisiatif untuk melapor kepada lembaga adat karena berharap lembaga adat dapat menyelesaikan permasalahan kakak. Pada saat itu awalnya kakak melapor kepada kepala lorong kemudian baru di urus sama teungku. Ketika kakak dipanggil oleh Teungku, beliau mengatakan bahwa beliau sudah berbicara dengan suami kakak. Katanya suami kakak mau balikan dan menyuruh beliau untuk menanyakan apakah kakak juga mau. Lalu kakak jawab seperti ini ‘’ saya mau, tetapi apabila dia sering pulang kerumah orangtuanya lagi saya tetap tidak bisa terima dan memberikan uang tanpa sepengetahuan saya sama orangtuanya saya tidak mau’’. Kemudian Teungku menasehati kakak dengan mengatakan bahwasannya kakak kan sudah menikah dengan abang sudah lama malahan, jadi setiap orang sudah menikah maka orangtua abang juga akan menjadi orangtua kakak dan orangtua kakak juga akan menjadi orangtua abang. Lalu kakak ceritakanlah bahwasannya abang sering pulang kerumah orangtuanya sampai lama-lama dirumah orangtuanya dan kadang-kadang juga pulang larut malam.Ketika memberi uang kepada orangtuanya juga sangat sering padahal dirumah masih banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Kemudian teungku mengatakan lagi kan abang cuma kerumah orangtuanya, bukan kerumah wanita lain dan juga mengatakan bahwasannya dengan menyenangkan hati orangtua maka rejeki kita akan terus mengalir dan Insya Allah, Allah akan membuka pintu rejeki untuk kita’’.

Setelah memanggil RH dan mendengarkan pendapatnya baru kemudian teungku memanggil PH untuk yang terakhir kalinya sebelum menyerahkan permasalahan ini kepada keuchik untuk didudukkan bersama dan mengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan. Berikut ini ungkapan dari teungku:

‘’saya kembali memanggil PH untuk menyampaikan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh RH. Karena RH masih tetap menginginkan agar suaminya ini tidak terlalu sering berkunjung dan memberikan uang kepada orangtuanya maka PH pun kembali marah. PH tetap juga pada pendiriannya dan bahkan PH sudah siap untuk berpisah pada saat itu dan lebih memilih orangtuanya.

Maka dari itu dikarenakan saya tidak menemukan titik temu dalam persoalan ini baru kemudian saya serahkan persoalan ini kepada keuchik untuk dipertemukan dan mencari solusi bersama. Namun apabila persoalan ini dapat selesai di saya maka permasalahan ini tidak sampai pada keuchik’’.

Dikarenakan antara PH dan juga RH tidak ada yang mau mengalah, maka permasalahan ini kemudian diserahkan kepada keuchik. Permasalahan yang sudah diserahkan kepada keuchik maka itu merupakan upaya terakhir yang dilakukan oleh mediator pertama yang disini dilakukan oleh Teungku. Pada saat penyelesaian yang diserahkan pada keuchik maka disitu akan dihadirkan Teungku, Tuha Peut, Kepala Lorong, pihak pertama dan kedua serta wali dari kedua belah pihak. Hal senada juga diungkapkan oleh Keuchik:

‘’pada saat kasus ini sudah sampai pada Keuchik maka disitu dihadirkan teungku, lorong, tuha peut, keuchik, PH dan RH, serta wali mereka berdua.

Sebelum kami mengambil keputusan maka terlebih dahulu kami bertanya dulu pada masing-masing pihak mengenai permasalahan ini. Pada awalnya kami bertanya pada pihak pertama yaitu pihak yang melapor dan kemudian kami bertanya kepada pihak yang kedua yaitu yang terlapor. Masing-masing pihak kami beri kesempatan untuk berbicara. Setelah masing-masing dari mereka berbicara baru kemudian kami tanyakan seperti ini ‘’kalian sayang sama anak kalian? Kalau sayang coba kalian fikirkan anak kalian, kalian begini dampaknya nanti sama anak kalian melihat ibunya disini ayahnya disana tidak pulang-pulang, bagaimana perasaan anak kalian itu?’’ begitulah kira-kira yang kami katakan. Lalu kemudian baru kami biarkan mereka berdua berbicara sesama mereka dan kami hanya mendengarkannya saja disitu’’.

Pada saat permasalah ini telah sampai pada keuchik maka disitu pihak lembaga adat kembali membujuk PH dan RH agar kembali rujuk. Ketika itu dihadirkan juga wali dari kedua belah pihak yang bertujuan untuk menjadi saksi mengenai apa yang

diputuskan oleh mereka berdua kelak, apakan ingin rujuk atau bercerai. Lembaga adat pada waktu itu memberikan masing-masing pihak kesempatan untuk berbicara dan kemudian mereka dinasehati kembali dengan kata-kata bujukan agar mereka mau rujuk dan terakhir lembaga adat membiarkan mereka berbicara berdua yang disaksikan oleh lembaga adat dan juga walinya. Hal senada juga diungkapkan oleh PH mengenai pemanggilan kedua yang dilakukan oleh teungku dan pemanggilan ketiga yang dilakukan oleh Keuchik, berikut cerita dari PH:

‘’Karena jawaban kakak tetap seperti itu abang jadi marah lagi. Lalu abang sampaikan sama teungku ‘’saya kebih baik sayang sama orangtua daripada sayang sama istri. Sama orangtua dia saya sayang, sama orangtua saya pun dia harus sayang. Kenapa dulupada saat baru-baru menikah dia bilang orangtua saya orangtua dia, orangtua dia adalah orangtua saya. Kemudian mengapa sekarang berubah? saya tidak mauseperti itu’’. Kemudian dipanggil lagi untuk ketiga kalinya didudukanlah bersama denga kakak. Disitu abang tanya sama kakak ‘’kamu sayang sama keluarga aku tidak?’’ dia bilang ‘’sayang’’ lalu abang jawab ‘’akupun kalau begitu seribukali lebih sayang sama kamu dan keluargamu’’. Karena sudah sama-sama sudah mau balikan kemudian salaman. Lalu dinikahkan lagi karena ketika ditanya sama teungku imum berapa kali sudah abang ucapkan talak abang jawab dua. Sebenarnya abang tidak mengatakan talak secara langsung, namun yang abang katakana seperti ini ‘’kalau kamu tidak sayang lagi sama orangtua saya, yasudahlah saya tinggalkan kamu’’. Besoknyadipanggil keluarga dekat kami dan juga perangkat adat lalu dinikahkan lagi. Kira-kira adalah sekitar 20 orang yang hadir pada saat itu. Tapi walaupun 20 orang yang hadir, satu kampung juga yang tau.

PH bercerita bahwa proses dalam penyelesaian konflik yang dialaminya membutuhkan waktu yang sangat lama yaitu sekitar satu bulan sampai konflik ini dapat diselesaikan dan pada akhirnya mereka berdamai. Lamanya proses ini bertujuan agar konflik ini tidak lagi terulang. Hal yang sama juga dikatakan oleh Erli Zulfiandri yang merupakan tuha peut di Alue Selaseh. Dia berkata bahwa memperlambat proses

penyelesaian konflik juga termasuk strategi yang digunakan oleh lembaga adat dalam menyelesaikan konflik yang dialami oleh warganya.Menurut PH dan juga RH lembaga adat ini sangat berpengaruh dalam memperbaiki hubungan diantara mereka.

Berkat lembaga adat ini mereka yang tadi sudah jatuh kedalam talak dua dapat disatukan lagi dengan menikahkan kembali mereka berdua. Apabila konflik ini tidak segera diselesaikan, kemungkinan sampai saat ini pun mereka masih berkonflik.

Setelah konfliknya diselesaikan, hubungan mereka kembali seperti pada saat mereka baru-baru menikah dulu. Hubungan mereka dengan orangtua merekapun kembali membaik. PH sudah memberi tahu terlebih dahulu istrinya apabila ingin memberikan uang kepada orangtuannya dan juga RH tidak marah-marah lagi pada saat suaminya memberikan uang kepada orangtuannya. Mereka sudah sama-sama mengerti satu sama lain dan juga sudah menurunkan ego mereka masing-masing.

4.2.2.1.2. Konflik Yang Dialami Oleh YL Dan DS

YL dan DS menikah kurang lebih sudah sepuluh tahun. Keseharian YL dan DS berprofesi sebagai PNS di puskesmas yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya. YL lahir pada tahun 1983, sedangkan DS lebih muda satu tahun dari YL. Kendati sudah lama menikah namun pasangan ini belum juga dikaruniai keturunan. Konflik yang terjadi antara DS dan YL sudah dua kali terjadi yang melibatkan anggota keluarga dalam menyelesaikannya. Konflik yang pertama sekali terjadi pada saat mereka tinggal dirumah pemberian orangtua YL. Pada saat itu DS marah kepada YL karena karena sebagai seorang istri dia tidak melayani DS dengan baik. DS ingin YL melayani dia seperti ibunya melayani ayahnya seperti contohnya pada saat makan

istrinya menemaninya makan, meletakkan air cuci tangan di meja makan, meletakkan nasi di meja makan, dan juga menemainya pada saat menonton yang tidak dilakukan oleh YL pada saat itu. Konflik yang pertama terjadi ini dapat diselesaikan oleh keluarga DS tanpa melibatkan keluarga YL. Namun pada akhir tahun 2017 konflik kembali terjadi yang sudah melibatkan dua keluarga dan juga lembaga adat dalam penyelesaiannya. Berikut kutipan wawancara dengan DS mengenai konflik yang terakhir terjadi antara dia dan juga istrinya:

‘’Abang waktu itu kesal sekali sama kakak karena ketika abang meminta uang untuk bayar hutang, mengisi minyak mobil dan kebutuhan abang ke Meulaboh untuk kuliah tidak mau dikasih sama kakak. Alasan kakak waktu itu tidak ada uang, padahal pada saat itu kakak ada cincin emas tapi tidak mau dijual sebentar pada saat abang perlu. Begini, sekarang gaji abang itu tinggal 500 lagi, jadi kalau kita hitung-hitung uang segitu habis untuk rokok dan juga ngopi di warung waktu abang duduk-duduk sama kawan. Abang ambil kredit dulu juga untuk dia, untuk bangun rumah kami ini’’.

Namun YL memberikan alasan yang berbeda mengapa dia tidak mau menjual cincin yang dia miliki. Berikut kutipan wawancaranya:

‘’begini jadi ya kan, suami kakak pada saat itu kan sedang dalam keadaan emosi. Suami kk itu minta uang sama kakak, tapi saat itu kakak sedang tidak ada uang yang ada cincin emas kakak. Terus suami kakak suruh kakak jual cincin tapi kakak menolak lah ni ya, makanya marah. Padahal sudah sering suami kakak seperti itu, dulu ada juga kalung pernikahan kakak disuruh jual, setelah kakak jual gak mau dia ganti. Karena gak mau kakak kasih jadi abang gak mau pulang-pulang kerumah hampir sebulan lah waktu itu, waktu kakak telfon diangkat disuruh kakak pulang kerumah orangtua kakak sambil marah-marah terus dimatiin, kakak telfon-telfon lagi udah gak mau lagi diangkat-angkat’’.

DS sebelumnya sudah mengambil kredit di Bank yang membuat gajinya dipotong dan mengakibatkan dia mengalami kesulitan ekonomi. Namun ketika konflik yang terakhir terjadi diantara mereka YL yang sebelumnya bekerja sebagai

honorer di Puskesmas, telah diangkat menjadi PNS. Harapan DS terhadap YL untuk membantu ekonomi rumahtangga merekapun besar. Tapi dikarenakan yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya membuat DS marah kepada YL sehingga dia menyuruh YL pulang kerumah orangtuanya. Sedangkan alasan YL tidak mau menjual satu-satunya emas yang miliki dikarenakan DS pernah menyuruh menjual kalung emas yang dimiliki oleh YL namun tidak diganti kembali ketika dia punya uang.

Dikarenakan YL sudah disuruh pulang kerumah orangtuanya dan DS juga tidak mau lagi pulang kerumah maka YL pulang kerumah orangtuanya dan pada akhirnya konflik ini menjadi rumit sehingga harus diselesaikan antara dua keluarga yaitu keluarga DS dan juga keluarga YL dan pada akhirnya melibatkan lembaga adat untuk memberi solusinya. Seperti ungkapan dari Geuchik Alue Selaseh berikut ini:

‘’DS sama ayahnya ada datang kerumah untuk meminta pendapat mengenai masalah mereka. Jadi begini, si DS ini dalam keadaan marah menyuruh istrinya pulang kerumah orangtuanya. Jadi si istri ini pulanglah kerumah orangtuanya. Lalu kemudian ketika kemarahannya ini reda si DS ingin istrinya ini balik lagi sama dia. Si istri memang masih mau tapi keluarganya menahan dengan alasan bahwa ucapan DS sudah jatuh talak. Berdasarkan teungku yang ditanyai oleh pihak si istri mengatakan bahwa mereka sudah tidak bisa lagi rujuk begitu saja, harus di nikahkan lagi karena menurut mereka si DS ini sudah dua kali mengucapkan talak sama si istri. Pertama waktu DS marah dirumah, yang kedua lewat telepon. Tapi dari pihak keluarga DS mengatakan mereka masih bisa kembali setelah ditanyakan kepada teungku kawan ayahnya. Jadi untuk mencari jalan tengah mengenai masalah ini DS sama ayahnya meminta solusi sama saya. jadi inikan masalah hukum agama maka saya arahkan mereka menghadap teungku imum yang ada di Alue Selaseh ini tapi sebelum saya arahkan menghadap teungku imum, saya nasehati juga dia untuk lebih berhati-hati dalam berbahasa dengan istri. Kalau sudah terlanjur, menangis air mata darahpun tak ada gunanya lagi’’.

Pada saat itu orangtua DS datang kerumah orangtua YL untuk mendamaikan DS dan YL, namun disebabkan oleh ucapan DS yang menyuruh YL pulang kerumah

orangtuannya dan menurut faham orangtua YL bahwa itu sudah masuk kedalam hukum talak maka mereka tidak memberikan izin anaknnya pulang kembali kerumah dia dan suaminya. Kemudian selanjutnya untuk memperteguh pendapat mereka, orangtua YL menanyakan perihal hukum ini kepada teungku yang dia kenal dan teungku tersebut mengatakan benar sudah jatuh talak. Namun dari pihak keluarga DS juga menanyakan kepada teungku yang merupakan teman ayahnya dan ternyata teungku itu mengatakan belum jatuh talak. Maka dengan itu keluarga sepakat mengadukan permasalahan itu kepada keuchik yang termasuk tokoh adat untuk menemukan titik tengah dari masalah ini. Selanjutnya keuchik mengarahkan DS dan keluarganya menuju kerumah teungku yang ada di gampongnya karena lebih mengerti tentang agama dibandingkan dia. Dari situlah kemudian DS dan YL beserta keluarga mereka pergi kerumah teungku yang ada di tempat DS dan YL bermukim.

Ketika peneliti mewawancarai teungku imum, teungku imum mengatakan bahwa:

‘’Disaat suami mengatakan kepada istrinya agar pulang kerumah orang tuannya.

Hal demikian itu belum jatuh talak karena dilakukan untuk menjernikan fikiran dalam keadaan marah. Ibarat kata keadaan yang sedang marah bisa kembali tenang dengan ada jarak diantara mereka untuk saling berfikir’’.

Pada saat itu Teungku Imum juga menjelaskan cara dia dalam menyelesaikan konflik keluarga yang dialami oleh masyarakatnya:

‘’Menurut yang dikatakan dalam ayatnya ‘’damaikan kamu diantara orang yang sedang bermasalah’’. Jadi yang pertama sekali untuk mendamaikan mereka adalah untuk mempertemukan kesilapan. Apabila kita mengatakan ‘’ini kamu memang sudah salah’’ pihak yang lainnya kita katakan tidak salah, itu tidak boleh.Setiap perdamaian kita menganggap kesalahan kedua belah pihak.Dengan kesalahan dua belah pihak maksudnya yang ini salah yang sana pun salah. Sungguh kesalahan itu tidak disangka-sangka dan tidak disengaja.

Kita diantara dua kesilapan, yang ini mungkin salah berbicara atau salah

dengar. Jadi kembalilah kepada yang hak, bukan cuma saya yang silap, kamu juga sudah silap.Ketika mendamaikan keduanya jangan kita salahkan apabila kita salahkan keadaan akan kembali memanas jadi kita anggap salah pemahaman.Jangan tertekan sebelah pihak, apabila tertekan sebelah pihak berarti bukan perdamaian. Seperti dikatakan dalam ayat ‘’sebaik-baik mengambil kesimpulan itu adalah pertengahan’’. Dalam menyelesaikan

dengar. Jadi kembalilah kepada yang hak, bukan cuma saya yang silap, kamu juga sudah silap.Ketika mendamaikan keduanya jangan kita salahkan apabila kita salahkan keadaan akan kembali memanas jadi kita anggap salah pemahaman.Jangan tertekan sebelah pihak, apabila tertekan sebelah pihak berarti bukan perdamaian. Seperti dikatakan dalam ayat ‘’sebaik-baik mengambil kesimpulan itu adalah pertengahan’’. Dalam menyelesaikan