METODE PENELITIAN
4.2 Konflik Batin Tokoh Utama
Konflik batin tersebut berupa konflik internal yang dialami oleh tokoh utama. Sejak menerima arahan daripembimbingnya, yaituProf.Najmuddin Asghar. Ayyas disarankan melakukan penelitian mengenai perkembangan Islam modern pada salah satu negara yaitu Rusia. Saat ini, di negara tersebut perkembangan Islam sedang mengalami kemajuan yang pesat. Rusia adalah negara yang terkenal bebas karena sebagian dari penduduknya menganut paham atheis (tidak mengakui adanya Tuhan). Ayyas adalah pemuda yang taat beragama tentu akan berpikir tentang keselamatan dirinya dan juga imannya.
Pada saat tiba di Rusia, suhu dinginsedangmelanda Rusia. Salju-salju terus turun, pemandangan kota Moskwa rata dengan salju. Ayyas yang tidak terbiasa dengan suhu dingin merasa tidak nyaman dengan keadaan cuaca yang dialaminya. Segala perlengkapanmusim
dingin telah disediakannya, tetapi belum cukup untuk menahan suhu dingin di Rusia.
Ayyas meminta Devid mencari tumpangan agar segera sampai ke tempat tujuan mereka. Saat itu, Devid memilih menumpangitaksi carteran daripada naik bus, metro,dan marshrutka karena dengantaksi carteran, mereka tidak perlu mengangkatbarang-barangbawaannya sebabada supirtaksi yang bersedia membantunya.
Devidmelakukan negosiasi mengenai ongkos dari bandara Sheremetyevoke tempat tujuan mereka, yaitu Panvilovsky Pereulok dengan supir taksi yang akan mereka tumpangi.Devid berpura-pura tidak mengerti bahasa Rusia, tujuannya ingin mengetahui apakah supir taksi tersebut jujur atau tidak. Melihat penampilannya, orang seperti supir taksi tersebut tidak mungkin berbohong. Akan tetapi, setelah melakukan negosiasi ternyata supir taksi itu ingin mengelabui Devid dan Ayyas. Ayyas bisa saja tertipu oleh supir tersebut karena Ayyas belum paham mengenai keadaandi Rusia.
Ayyas dan Devid telah sampai di apartemen yang menjadi tempat tinggal Ayyas selama di Rusia. Kemudian mereka mengangkat barang bawaannya menuju kamar yang berada di lantai tiga. Devid telah menyediakan tempat tersebut sebelum Ayyas berangkat ke Rusia.
Pada saat merekaberjalan menaikitangga, tiba-tiba ada seorang gadis Rusia memakaipalto(mantel tebal saat musim dingin) merah mudaturunmelewati tangga tersebut, gadis itupun tersenyum sambil menyapa Devid. Gadis tersebut sudah berkenalan dengan Devid terlebih dahulu ketika saat menyewakan apartemen tersebut. Gadis itu bernama Yelena, lalu Yelenapun mengulurkan tangannya kepada Ayyas untuk sekedar berjabat tangan dan berkenalan.
Dalam hal ini, naluri ego mendominasi naluri id. Ayyas pun menolak berjabat tangan dengan Yelena. Seperti pada kutipan berikut:
“Hai Devid, ini temanmu yang akan tinggal di atas ya?”
“Hai Yelena. Iya, ini temanku. Kenalkan namanya Ayyas. Lengkapnya Muhammad Ayyas.”
“Sorry, tanganku kaku kedinginaan. E, e, senang kenalan dengan Anda.”
“O ya wajar itu, kau pasti baru pertama kali ke sini. Dabro pozhalovath v Moskve (selamat datang di Moskwa)!”
“Iya. Kau benar. Terima kasih.” (BC:30)
Ayyas dan Devid kembali berjalan menaiki tangga. Kemudian Ayyas terkejut dengan pernyataan Devid yang di luar dugaannya. Dalam tahap ini. Naluri yang mendominasi batin Ayyas adalah ego
karenaDevidmengatakan bahwa Ayyas akan tinggalbersama gadis yang bernama Yelena tersebut. Seperti pada kutipan berikut:
“Cantik ya Yas? Ada darah Finland dalam dirinya. Kau beruntung. Kau akan tinggal satu apartemen dengannya. Gunakan kesempatan sebaik-baiknya.”
”Apa Dev!? Kau jangan main-main denganku! Aku masih waras Dev! Aku tidak mungkin bisa hidup bebas seperti kamu!”
“Tenang, Sobat. Jangan marah dulu. Kita bawa dulu barangmu ke atas. Nanti aku jelaskan semuanya. Aku samasekali tidak bermaksud menjerumuskan kamu. Aku berusaha mencarikan tempat yang saat ini terbaik untukmu. Dengarkan dulu semua penjelasanku, baru kau boleh marah kalau kau memang ingin marah. Okey?”
“Baik!”
“Yang rileks sedikitlah Bos. Aku ini temanmu, percayalah padaku!”
(BC:30-31)
Ayyas mengucap “Audzubillahi min fitnatin nisaa” (aku berlindung kepada Allah SWTdari fitnah perempuan) dan mohon dijaga oleh Allah SWTdari hal-halyang tidak diinginkan.Akhirnya mereka sampai di ruangan apartemen yang dituju. Apartemen tersebut memiliki sebuah ruangan, di dalam ruangan itu ada ruang tamu, dapur, dan lemari untuk alat perlengkapan memasak.
Devid membuka pintu ruangan tersebut dan melihat tempat gantungan palto, lalu menggantungkan paltonya. Ayyas mengikuti Devid menggantungkan paltonya dan Ayyas memperhatikan sekitar
ruangan tersebut. Ayyas merasa kagum dengan keindahan ruangan itu, lalu Ayyas melihat susunan rak tempat sepatu yang dilihatnya bukanlah sepatu para lelaki, melainkan sepatu para kaum hawa yang tersusun rapi dengan berbagai macam model. Devid menarik tanganAyyas danmengajaknya masuk kedalam kamar yang disewakan Devid untuknya.
Mereka pun masuk kedalam kamar, lalu Devid langsung memulai pembicaraan. Devid meminta maaf kepada Ayyas karena menempatkannya tinggal bersama dua gadisRusia, gadis tersebut memiliki wajah sangatcantik. Devid menjelaskan mengapa tidak memberitahu Ayyas dari awal bahwa Ayyas akan tinggal bersama dua gadis Rusia tersebut. Tujuan Devid sebenarnya baik karena Devid telah mengetahui situasi di ibu kota Rusia yaitu Moskwa. Devid mengatakan, jika Ayyas tinggal bersama dengan dua gadis tersebut, menurutnya Ayyas akan lebih aman. Meskipun merekabebas, tetapi mereka masih akan berpikir untuk tidak membawa pasangannya kedalam kamar mereka. Dalam hal ini. Naluri superegomendominasi naluri ego. Batin Ayyas merasa tidak nyaman dengan tempat tinggalnya. Seperti pada kutipan berikut:
“Mungkin dengan tinggal bersama perempuan kau merasa aku
aman. Ya, mungkin tubuh dan hartaku aman. Tapi bagaimana dengan imanku Dev? Justru imanku sangat terancam. Jika tinggal dengan bule laki-laki aku malah akan merasa aman!”
“He he he, kamu merasa tinggal bersama bule laki-laki aman? Bodoh! Di antara bule itu ada yang gay. Apalagi yang ekstrim. Bayangkan kalau kau ternyata tinggal bersama empat bule gay. Kau mau jadi apa, heh? Nanti kau kira aku yang menjerumuskan kamu!”
“Agaknya aku datang ke tempat yang salah.” (BC:36-37)
Devid pun melanjutkanpenjelasannya. Jika Ayyas tinggal bersama laki-laki, mungkin tubuh dan harta Ayyas akan aman, tetapilaki-laki di Moskwabanyak yang suka sesama jenis. Jikapun tidak, laki-laki tersebut tidak akansegan-segan membawapasangannya masuk kedalam kamar merekadan melakukan hal-hal yang tidak wajar. Hal tersebut justru lebih menjadi ancaman bagi iman Ayyas daripadatinggalbersama dengan gadis Rusia, yaitu Yelena dan Linor.
Ayyas merasa dirinya datang ketempat yang salah. Devid pun berusaha meluluhkanhati Ayyas. Devid mengatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang strategis, jika ingin pergi sangat mudah dan tidakjauh dari pusat transportasi umum. Devid kembali menjelaskan tentang apartemen tersebut. Apartemen itu memiliki tiga kamar yang berbeda, setiap kamar memiliki kamar mandi masing-masing. Ruangan yang digunakan bersama hanyalah dapur dan ruang tamusaja,selebihnya tidak. Urusan pribadi Ayyas pun akan lebih terjaga dan aman.
Devid meminta ijin kepada Ayyas untuk kembali ke apartemennya, ada keperluan lain yang harus segera diselesaikannya.
Ayyas pun mengijinkannya dan mengucapkan terima kasih kepada Devid karena telah membantunya.
Ayyas melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu melakukan salat lalu berdoa dan membaca Alquran. Di dalam kamarnya, Ayyas termenung dan berpikir bahwa dirinya sedang dilanda sebuah bencana besar, yaitu tinggal bersama dengan dua orang gadis Rusia yang bukan mahramnya. Ayyas merasa hari-hari yang dilalui akan terasa sulit.
Malam pun tiba, lalu pintu kamar Ayyas diketuk. Jantungnya berdebar-debar. Ayyas memohon ampun kepada Allah SWT agar dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ayyas membuka pintu kamarnya, lalu terkejut melihat yang berdiri didepan pintu kamarnyaadalah gadis yang berjumpa dengannyasaat berjalan ditangga kini berdiri di hadapannya. Jantung Ayyas semakin berdebar-debar, pikirannya tidak tenangkarena langsungbertatapan muka melihat wajahcantikgadistersebut danAyyas punmenundukkan wajahnya. Yelena mengajaknya makan malam bersama di ruang tamu sebagai penyambutan selamat datang di Moskwa.Ayyas pun memenuhi ajakan Yelena dengan rasa terpaksa. Tiba-tiba bel berbunyi, ternyata yang datang adalah gadis Rusia yang Ayyas lihat saat hendak menaiki mobil sambil membawa biola. Gadis tersebut bernama Linor dan tinggal satu ruangan apartemen bersama Ayyas dan Yelena.
Saat Linor masuk, Yelena mengenalkan Ayyas dengan Linor. Terjadilah percakapan sehingga membuat Ayyas marah. Linor menyinggung agama yang Ayyas yakini dan mengatakannya sebagai agama primitif. Seperti pada kutipan berikut:
“Ya kenalkan saya Linor. Lengkapnya Linor E.J. Lazarenko.” “Saya Muhammad Ayyas. Mahasiswa dari Indonesia.”
“Pasti Muslim.” “Benar.”
“Ternyata benar, banyak sekali penganut agama primitif itu.” “Apa maksud anda? Siapa yang Anda maksud penganut agama primitif? Orang-orang muslim?” (BC:54)
Dari kutipan diatas. Naluri ego menolak pernyataan Linor karena menyinggung masalah agama yang Ayyas yakini dalam hidupnya. Pada tahap ini, ego mendominasi id dan superego.
Pada saat itu, Yelena tahu apa yang sedang terjadi. Yelena tahu persis watak Linor selama ini. Yelena sudah menduga bahwa Ayyas akan membela agamanya sampai mati apabila ada yang tidak suka dengan agama yang Ayyas yakini. Demi menghindari percakapan yang lebih sengit, Yelena menyuruh Linor segera masuk ke kamarnya dan beristirahat. Dalam tahap ini naluri superegomendominasi ego. Seperti pada kutipan berikut:
“Kelihatannya dia sangat letih, dan suasana hatinya sedang tidak baik. Maafkan kalau Linor tadi menyinggung perasaanmu.”
“Semoga temanmu itu bisa istirahat dan suasana hatinya kembali membaik.” (BC:55).
Pada hari ketiga berada di Moskwa, Ayyas pun merasa dirinya sudah dalam keadaan normal seperti biasanya. Ayyas bergegas pergi untuk menemui Prof. Abramov Tomskii di Moskovskyj Gosudarstvennyj Universiteit (MGU). Prof. Tomskii adalah guru besar pakar sejarah Asia Barat dan juga sangat disegani para sejarawan Rusia. Prof. Tomskii adalah orang yang harus Ayyas temui di Moskwa, sebagaimana diarahkan oleh pembimbingnya.
Prof. Najmuddin ingin Ayyas langsung bertemu dengan Prof. Tomskii agar hasil penelitian Ayyas lebih baik karena telah berjumpa langsung dengan pakar sejarahnya. Saat itu, Prof. Tomskii mengatakan kepada Ayyas, sebenarnya Ayyas tidak perlu bersusah payah datang ke Moskwa. Mengenai data penelitian Ayyas dapat mengakses situs MGU melalui internet.
Pada tahap ini, naluri id, berkeinginan untuk mencari data penelitian melalui internet, tetapi naluri ego mendominasi naluri id. Kenyataannya Ayyas harus melakukan penelitian langsung ke Moskwa demi mendapatkan data yang valid mengenai sejarah Islam modern. Seperti pada kutipan percakapan berikut:
“Sebenarnya kamu tidak perlu bersusah payah mengadakan penelitian kemari. Itu cukup studi perpustakaan saja. Kau juga bisa banyak mengakses data lewat internet. Dan jika ada yang kurang kau bisa mengakses data yang ada di perpustakaan MGU
ini dari India. Kenapa harus bersusah-susah, jika dengan yang mudah dan praktis kau bisa mendapatkan data yang akurat dan bisa dipertanggung-jawabkan.”
“Jujur saya inginnya seperti itu Profesor Tomskii. Tapi Profesor Najmuddin tidak mau. Dia mensyaratkan saya harus pernah riset langsung ke Rusia. Harus melihat langsung Rusia. Datanya harus dari referensi pertama, tidak kedua apalagi ketiga. Referensi kedua hanya pendukung saja.” (BC:77-78)
Mendengar pengakuan Ayyas, Prof. Tomskii memakluminya karena pembimbingnya adalah sahabat Prof. Tomskii saat menjadi mahasiswa dan paham betul sifatnya. Pada saat itu, Prof. Tomskii menyatakan bahwa dirinya tidak dapat membimbing Ayyas secara langsung,dirinya harusberangkat ke Istanbul Turkiuntukurusan kenegaraanyang dirinya harus ikut serta dalam acara tersebut. Dalam tahap ini naluri superegomendominasi ego. Seperti pada kutipan berikut:
“Ayyas, aku paham semua yang diinginkan pembimbingmu. Jujur, sebenarnya aku ingin membimbingmu menemukan data-data terbaik dan melakukan penelitian sejarah terbaik. Aku sudah menyiapkan waktu untuk itu sebenarnya. Tapi sayang, tadi aku baru mendapatkan tugas dari rektor untuk terbang ke Istanbul. Aku diminta membantu kedutaan Rusia di Turki selama beberapa bulan, belum bisa ditentukan waktunya. Ada masalah kenegaraan yang harus melibatkan pakar sejarah Asia Barat.” “Jadi saya harus bagaimana Profesor?”
“Tenang. Kau tetap jalankan rencanamu. Aku telah siapkan
asistenku untuk membantumu. Dia nanti akan membantumu dua puluh empat jam kalau perlu. Dan selama aku pergi, kau bisa menggunakan ruangan ini untuk bekerja. Asal kau jaga kerapiannya. Bagaimana?”
Ayyas merasa tidak nyaman karena ditinggal oleh Prof. Tomskii, meskipun telah digantikan oleh asistennya. Dalam tahap ini, naluri superego kembali mendominasi ego, demi menjaga hubungan baik dengan Prof. Tomskii, Ayyas pun menerima tawaran Prof. Tomskii. Seperti pada kutipan berikut:
“Dibimbing siapa pun saya tidak masalah. Yang penting
semuanya berjalan dengan baik dan saya bisa segera menyelesaikan tesis saya dengan hasil terbaik.” (BC:83)
Hari itu, pertemuan ditutup dengan makan siang bersama disalah satu kantin MGU. Prof. Tomskii, Dr. Anastasia Palazzo, dan Ayyas. Setelah selasai makan, Dr. Anastasia berpesan kepada Ayyas agar besok pukul 10.00 waktu Rusia pertemuan pertama dimulai di ruangan Prof. Tomskii. Ayyas pun menyetujuinya dan Ayyas bergegas kembali menuju apartemennya.
Setibanya di apartemen. Ayyas terkejut melihat Yelena yang duduk sambil menonton televisi dengan pakaian seadanya di ruang tamu. Yelena pun hanya menutupi bagian penting dari tubuhnya, batin Ayyas pun merasa terganggu. Dalam tahap ini, naluri egomendominasi
id dan superergo. Saat itu Ayyastidak menghiraukanYelena,
tetapisempat terjadi percakapan singkat.Ayyastidak berani bertatap muka denganYelena danhanya menunduk sambilberjalanmenjawab pertanyaan Yelena lalu langsungmasuk kekamarnya. Seperti pada kutipan berikut:
“Hey, baru pulang, sukses urusannya?”
“Ya sukses. Spakoinoi Nochi, (selamat malam) Yelena!”
“Hei tunggu, duduklah sini sebentar. Hangatkan tubuhmu dengan Vodka ini. Temani aku berbincang-bincang sebentar.”
“Maaf Yelena, aku sangat letih, aku harus istirahat.” “Duduklah, lima belas menit saja.”
“Maaf Yelena, aku tidak bisa. Sebaiknya kau istirahat saja.” (BC:90-91)
Naluri id berkeinginan dirinya bersedia untuk menemani Yelena berbincang malam itu, tetapi melihat Yelena yang berpakaian seadanya, Ayyas khawatir tidak dapat mengontrol hawa nafsunya.
Keesokan harinya. Ayyas kembali berangkat ke MGU menemui Dr. Anastasia, sesuai dengan janji mereka yang akan membahas mengenai penelitiannya. Ketika sampai di MGU, Ayyas melihat Dr. Anastasia duduk di dalam ruangan Prof. Tomskii sambil membaca buku. Ayyas mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Dr. Anastasia bertanya dan ingin mengetahui tentang bagian penelitiannya. Ayyas masuk dan duduk. Naluri id berkeinginanbahwa dirinya ingin sekali menatapwajah Dr. Anastasiayang memilikiwajahsangat cantik dan lebih cantik dari gadis yang satu apartemen bersama Ayyas.
Kegugupan Ayyas terlihat setelah Dr.Anastasia mengajak Ayyas berbicara. Naluri superegomendominasi naluri id dan Ayyas pun
memfokuskan pikirannya kepada pembicaraanmengenai penelitiannya. Seperti pada kutipan berikut:
“Dabroye Utra (selamat pagi), Doktor!”
“Hei, Dabroye Utra (selamat pagi). Kau sudah datang Ayyas.” “Kau datang setengah jam dari janji kita. Kau kelihatannya
bersemangat.”
“Ya, tidak mau terlambat. Ternyata masih lebih lambat dari Doktor.”
“Kau tidak lebih lambat dari saya, hanya mungkin saya lebih cepat darimu. Saya selalu ingin lebih dulu dari orang lain. Jadi, apa langsung saja kita mulai?”
“Saya ikut Doktor.”
“Baik, silahkan duduk. Saya ingin menjelaskan beberapa hal penting kepadamu.”
“Maaf, bisa ditutup pintunya.” (BC:101)
Pada saat itu, tanpa menjawab perintah Dr. Anastasia Ayyas langsung menutup pintunyadan segera duduk. Naluri id mengatakan bahwa batinnya merasa lebih nyaman jika pintu ruangan tersebut tetap terbuka. Akan tetapi, naluri ego mendominasi naluri id, sehingga Ayyas tidak dapatmenolak permintaan Dr. Anastasia.
Waktu pun terus berlalu. Jam menunjukkan saatnya Ayyas untuk melakukan salat Ashar. Begitu juga dengan Dr. Anastasia harus segera kembali ke apartemennya, ada tugas paper yang harus segera
diselesaikannya. Ayyas segera melakukan tugasnya dan mencari tempat untuk salat.
Dalam perjalanan pulang, Ayyas melihat seorang wanita tuasedang meminta pertolongan kepada orang yang barlalu-lalang disekitarnya, tetapi tidakadayang memperdulikannya. Tibalah giliran Ayyas melewatinya tepat di depan wanita tua tersebut, wanita tua itu pun menghentikannya, lalu meminta pertolongannya.
Pada saat itu, naluri egomenolak permintaan wanita tua tersebut dan tidak menghiraukannya, tetapi wanita tua itu langsung memegangi tangan Ayyas dan menunjukkearah jalan sempit yang gelap. Naluri
superegomendominasi ego, dan terpaksa memenuhipermintaannya.
Ayyas terkejut melihat seorang gadis terkapar tidak berdaya di jalan yang gelap dan sempit tersebut. Naluri ego mengatakan bahwa gadis tersebut harus segera dibawa ke rumah sakit, jika tidak gadis tersebut akan matikedinginanakibat tertimbun salju yang terus turun.Ayyas merasa khawatir dan cemas, lalu membopong gadis itu kearah keramaian dan mencari tumpangan. Saat itu juga ada taksi yang melintaskearah mereka dan Ayyas langsung memberhentikannya. Seperti pada kutipan berikut:
“Ke mana?”
“Ke Medical Centre terdekat.” “Tiga puluh ribu rubel!” “Apa?!”
“Tunggu! tiga puluh ribu rubel tak masalah.” (BC:173)
Pada saat di rumah sakit, Ayyas meminta wanita tua itu untuk menunggu keterangan dari dokter mengenai keadaan Yelena. Ayyas kembali ke apartemennya memberitahu Linor bahwa Yelena sedang sekarat. Ayyas tidak tahu kepada siapa lagi Ayyas harus minta tolong untuk mengurus Yelena. Dalam tahap ini, naluri superego mendominasi naluri ego. Seperti pada kutipan berikut:
“Kenapa dikunci dari dalam? Takut ketahuan seperti kemarin malam?”
“Ah tidak. Tidak ada orang lain selain aku.” “Kalau boleh aku mau minta tolong.” “Apa itu?”
“Yelena kritis di rumah sakit.” “Kritis? Separah apa dia?”
“Sekarat! Kelihatannya ada yang berniat menghabisinya. Aku minta kau menemani aku kesana. Kalau kau tahu kerabat atau teman dekatnya tolong dihubungi sekarang.” (BC:178)
Keesokan harinya, Ayyas bersiap-siap untuk berangkat ke MGU menemui Dr. Anastasia. Ayyas jugabersiap-siap menjadipembicara dalam acara seminar yang diadakan di FakultasKedoketeran MGU, Ayyas diundang oleh Dr. Anastasia sebagaipembicara pengganti karena salah satu dari pembicara pada acara seminartersebut berhalangan hadir. Seminar tersebut bertema tentang “Tuhan Bagi Manusia di Era Modern”. Ayyas
juga memberitahu Yelena dan Linor agar menghadiri seminar tersebut dan menyaksikan Ayyas yang ikut sebagai pembicara. Ayyas bertujuan agar Yelena dapat kembali mempercayai akan adanya Tuhan dan Tuhan bukanlah khayalan belaka seperti yang selama ini Yelena yakini.
Awalnyanaluri ego, mengatakan untuk tidak menjadi pembicara pada seminar tersebut kepada Dr. Anastasia.Ayyas merasa tidak layak dalam hal itu. Akan tetapi, Dr. Anastasia memaksanya. Naluri superego mendominasi naluriegodan Ayyas pun menerima tawaran Dr. Anastasia. Seperti pada kutipan berikut:
“Kau saja yang jadi pembicara. Kau bisa. Bahasa Inggrismu bagus, bahasa Rusiamu juga lumayan. Dan kau sarjana dari Madinah. Yah, kau saja ya?”
“Jangan saya Doktor, yang lain saja kan masih banyak.”
“Ini waktunya mendesak. Sudah, aku putuskan kau saja yang jadi
pembicara menggantikan intelektual dari Kazan University itu. Kau ingat, empat hari lagi seminarnya di Fakultas Kedokteran. Aku juga jadi pembicara di seminar itu. Jadi nanti kau ke sini dulu, kita berangkat ke sana bersama. Kau bisa nulis makalah?” “Doktor ini sangat mepet waktunya.”
“Baik tidak apa. Kalau kau bisa membuat makalah akan lebih baik. Temanya, ‘Tuhan Bagi Manusia di Era Modern’.”
“Baiklah.” (BC:230-231)
Hari itu seminar berjalan dengan lancar. Banyak pertanyaan diajukan kepada Ayyas. Ayyas menjawab satu per satu dengan baik dan tenang. Ketika seminar selesai, Ayyas berdiri hendak
meninggalkan ruangan seminar tersebut. Ayyas tidak menyadari tiba-tiba Dr. Anastasia memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi kanan Ayyas dengan sangat cepat. Ayyas pun tidak dapat mengelak karena kejadiannya begitu cepat. Saat itu,banyak para wartawanmengabadikan peristiwatersebut. Naluri ego Ayyas ingin marah sejadi-jadinya dan ingin menampar Dr. Anastasiakarena Ayyas merasa tidak pantas Dr. Anastasia melakukan hal tersebut kepada dirinya sebab Dr. Anastasia bukanlah mahram Ayyas dan dia tidak suci bagi Ayyas.
Dalam tahap ini, naluri superego mendominasi naluri ego. Seperti pada kutipan berikut:
“Ia harus menghajar nafsunya, dan melibasnya, tanpa ampun. Ia tidak boleh memberi harapan sedikit pun kepada nafsunya untuk mengindera segala hal yang berkaitan dengan Anastasia.”
(BC:339)
Waktu terus berlalu, hari pun semakin gelap. Ayyas kembali melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu salat dan membaca Alquran. Pada saat itu, Ayyas sedang melakukan sujud di rakaat terakhir dalam salatnya, Ayyas merasakan ada yang memasuki kamarnya. Ayyas menyabarkan diri untuk menyelesaikan salatnya.Selepasmengucapkan salam,Ayyasmenoleh kebelakang dan
terkejut sambil mengucapkan “Astagfirullahaladzim!”. Ternyata Linor telah duduk di kursi kamar Ayyas, lalu tersenyum kepadanya dengan nada menggoda dan mengenakanpakaian seadanya. Lelaki normal manapun,jika melihat gadis seperti Linor akan langsung ingin menyentuhnya. Dalam tahap ini, naluri superego mendominasi naluri
iddan naluri ego. Seperti pada kutipan berikut:
“Kau masuk kamarku tanpa ijin!”
“Aku sudah ijin, hanya kau tidak mendengarnya. Dan aku percaya kau mengijinkan!”
“Bagaimana kau masuk, padahal pintu itu terkunci!?”