BAB IV KONFLIK PEMINDAHAN IBU KOTA
C. Konflik Internal Anggota DPRD Kabupaten Morowali
masyarakat Morowali untuk menghindari terjadinya konflik horizontal yang terindikasi adanya potensi ke arah itu. Oleh karena itu, kompromi politik antara Bupati Andi Muhammad dan Ketua DPRD Morowali, H.Zainal Abidin Ishak dalam menyikapi fenomena sosial politik yang terindikasi terjadinya terpecah belah dua masyarakat Morowali, yaitu kubu Kolonodale dan kubu Bungku. Dampak perpecahannya ini merupakan salah satu akibat dari adanya konflik kepentingan politik para elite politik lokal dan intervensi kekuatan elite pusat. Kepentingan politik elite politik lebih mengarah kepada perebutan kekuasaan Bupati dan proses pemilihan legislatif serta pemilihan Kepala Daerah.
C. Konflik Internal Anggota DPRD Kabupaten Morowali
penundaan. Pasalnya, di tingkat internal dewan belum dibicarakan, baik pembahasan raperda dan rencana peninjauan hasil pelaksana-an proyek-proyek tahun 2005 lalu ke seluruh wilayah kecamatpelaksana-an.
Meski Ketua DPRD Morowali, Zainal Abidin Ishak sudah melayangkan surat ketigakalinya untuk menggelar rapat koordinasi di lembaga tersebut, tapi surat tersebut ternyata belum direspons 12 anggota dewan yang selama ini berkantor di Kolonodale karena mereka enggan ke Bungku. Anggota dewan dari daerah pemilihan wilayah Kolonodale sekitarnya “takut” ke Bungku untuk mengikuti sidang dan rapat sebagai respons Surat Ketua DPRD untuk membahas agenda dewan tanpa ada jaminan bagi konstituennya di Kolonodale”.288 Salah seorang anggota dewan dari kubu Kolonodale, Yanes K Mesepy, mengatakan bahwa:
“Memang sudah tiga kali Pak Ketua DPRD Morowali menyurat untuk rapat koordinasi di Bungku dan selalu batal. Kalau kami yang berjumlah 12 orang ke Bungku otomatis kita melegitimasi Bungku. Nah, kalau kamu kembali dari Bungku pasti kita dikecam dan dituduh pengkhianat dan tuduhan lainnya. Bila kami ke sana konstituen kami tidak terima. Sebab solusi penyelesaian Kabupaten Morowali melalui jalan pemekaran, masyarakat di Kolonodale selama ini dibelakangi. Sehingga kita terpaksa tidak ke Bungku”.289 Senada Yanes K Mesepey, Hyms Larope anggota dewan Morowali dari daerah pemilihan Mori Atas dari kubu Kolonodale, pihaknya sangat memahami soal undang-undang No 51 Tahun 1999. Tapi pihaknya juga mempertanyakan ke lembaga tersebut, apakah jaminan pemekaran ini dibicarakan bersamaan difungsi-kannya Bungku sebagai ibu kota Kabupaten Morowali? “Selama aspirasi masyarakat Kolonodale dan sekitarnya yang meminta
288 Wawancara dengan Ramadan, tanggal 29 November 2009. Lihat juga Radar Sulteng, 24 Januari 2006.
pemekaran terus dibelakangi sangat sulit kami lakukan. Jadi kita tidak mungkin ke sana. Dan solusi terbaik perlu kompromi, yakni membicarakan, diselesaikan sampai ketingkat Pemerintah Pusat yang difasilitasi DPRD Kabupaten Morowali”.290
Situasi perpecahan internal DPRD semakin menyingkap indikasinya, yaitu berkaitan dengan surat Ketua DPRD Morowali, H. Zainal Abidin Ishak yang meminta seluruh anggota DPRD dimanapun berada untuk mengikuti rapat. Ditanggapi serius oleh anggota DPRD dari kubu Kolonodale terutama, Mesepy dan Hymans Larope bahwa Ketua DPRD H. Zainal Abidin Isha tidak pernah mengkoordinasikan melalui tingkat pimpinan.
Keduanya menyarankan agar pembahasan rancangan APBD Tahun Anggaran 2006 tidak molor, sebaiknya rapat tersebut dilaksanakan di daerah netral.291 Tabel 02 dan 03 menunjukkan dua pembelahan kubu anggota DPRD Morowali.
Data menunjukkan, secara kuantitas, kubu Bungku meme-nangkan keputusan politik jika setiap pengambilan keputusan bersifat voting. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan jumlah anggota DPRD Kabupaten Morowali dari pihak kubu Kolonodale berjumlah 12 orang sementara, kubu Bungku berjumlah 13 orang.
Sedangkan secara kualitatif, keputusan DPRD yang bersifat keputusan unsur pimpinan juga diuntungkan pihak Bungku, karena Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD (H. Zainal Abidin Ishak dan Abudin Halilu) merupakan pihak Bungku.
Keputusan politik yang diambil oleh DPRD Kabupaten Morowali adalah Surat Keputusan Ketua DPRD Morowali perihal pemindahan ibu kota Morowali dari Kolonodale ke Bungku.292 Kemudian pengambilan keputusan DPRD Morowali
290 Wawancara dengan Hyms Larope,bulan Desember 2009, di Bungku.
291 Ibid..
292 Lihat Dokumen, Rekomendasi Nomor:03/DPRD/2003 Tentang pem-fungsian ibu kota definitif Kabupaten Morowali di Bungku. Ditandatangani oleh Ketua DPRD Kabupaten Morowali, DR.(Hc).H.Zainal Abidin Ishak,
No Anggota DPRD (Elite
Politik) Kepentingan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Heymans Larope,SE H.Moh.Idris Abd.Kadir Rafiudin Tengko
Mitanis Tulaka, BA Waris Kandori Yasin Machmud Munding Palega Ten Marunduh, S.Sos Regional W Botilangi Hj. Andi Aena Natsir Yanes K Mesepy Sofyan M.Suma,SH
1. Mempertahankan ibu kota Kolonodale tetap menjadi ibu kota Kab.
Morowali.
2. Pemekaran Morowali (Pembentukan Kab.
Utara)
3. Terpilih kembali anggota DPRD Morowali Pemilu 2009 - 2014
Tabel 02:
Deskripsi Anggota DPRD Kubu Kolonodale (Elite Politik Lokal) dan Kepentingannya
Sumber: Data di olah dari berbagai sumber, 2009.
tentang rapat Paripurna dalam menentukan keputusan politik tentang “pemekaran” Morowali dan Bungku menjadi ibu kota Kabupaten Morowali yang definitif kerap kali dihindari oleh pihak anggota DPRD dari pihak kubu Kolonodale. Sehingga, seringkali acara sidang atau rapat-rapat di DPRD Morowali tidak pernah qorum sebagai persyaratan pelaksanaan rapat atau sidang-sidang. Akibatnya dari konflik internal anggota DPRD Morowali adalah APBD Tahun Anggaran 2005 tidak dibahas dan diputuskan oleh Menteri Dalam Negeri. Demikian pula, pembahasan APBD
No Anggota DPRD
(Elite Politik) Keterangan 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12 13.
H.Zainal Abidin Ishak H.Abudin Halilu,SH Baramuli Ridwan,S.Sos H. Basir Salam,SH H.Kahar Muzakkar Abudin Sondeng,BBA Kalvin Sulle
Sudirman AR, S.Pd Aslam
Moh.Idhar Rone H.Moh.Attas Asapa Ir.Sukbhan Laonu Hj. Sadariah
1. Memindahkan ibu kota ke Bungku sebagai ibu kota Morowali yang definitif berdasarkan UU No 51 Tahun 1999.
2. Terpilih kembali menjadi anggota DPRD Morowali Periode 2009-2014.
Tabel 03
Deskripsi Anggota DPRD Kubu Bungku (Elite Politik Lokal) dan Kepentingannya
Sumber: Data di olah dari berbagai sumber, 2009.
Tahun Anggaran 2006 nyaris deadlock, sehingga memancing Gubernur HB. Palidju mengeluarkan “political warning”. Berlarut-larutnya konflik internal anggota DPRD Morowali amat meme-ngaruhi tingkat eskalasi pembangunan Kabupaten Morowali, bahkan beberapa masalah-masalah korupsi yang ditemukan.293
Konflik internal anggota DPRD Morowali berimplikasi pada terjadinya konflik elite politik lokal. Perang antara anggota DPRD
293 Lihat Radar Sulteng, “Pejabat Korupter di Morowali Perlu di Audit”, tanggal 10 Februari 2003.
Kabupaten Morowali, Drs. Jhony Badu dan Wakil Ketua DPRD Partai Golkar Morowali, Ahmad H Ali. “Perang” itu diawali ketika Ahmad H Ali menyoroti DPRD Morowali bahwa DPRD Morowali bukan lagi sebagai lembaga rakyat tapi sudah menjadi alat kekuasaan pemerintah. Setelah menyatakan itu, anggota DPRD Morowali bahwa tidak benar DPRD sebagai alat kekuasa-an Bupati Andi Muhammad.
Jhony Badu menyarankan agar Achmad Ali tidak memberikan komentar yang menyesatkan, tapi harus menyampaikan informasi yang menyejukan. Menurutnya, yang bersangkutan lebih banyak berada di luar Morowali, sementara tidak pernah melihat kondisi langsung di lapangan (Morowali, red). Kemudian, Achmad Ali menanggapi sorotan Jhoni Badu, bahwa justru Johni Badu yang menyesatkan masyarakat Morowali. Pertanyaan saya kepada Jhoni Badu, “apa dasar DPRD Morowali mensahkan anggaran pem-bangunan kantor Bupati dan kantor DPRD Morowali di Kolonodale dengan nilai anggaran puluhan miliar?”.294 Menurut Achmad Ali, pengesahan dewan itu tak lain disebabkan karena mengikuti kemauan Bupati Andi Muhammad, bahkan ia mendapatkan informasi itu dari anggota dewan yang tidak setuju dengan keputusan itu, tidak akan menerima honor sebesar Rp 25 juta.
Menyinggung soal isu pemekaran wilayah di Morowali, Ahmad Ali mengatakan itu bukan menjadi kebutuhan masyarakat di sana (baca: Morowali), sebab kalau mau jujur, masyarakat mana yang memimnta wilayahnya dimekarkan. Bahkan katanya, Deklarasi Masyarakat Bungku tanggal 20 Oktober 2003 lalu, tidak boleh diterjemahkan oleh dewan sebagai suatu permintaan pemekaran.
Menurutnya, “Deklrasai itu adalah pemfungsian ibu kota Kabu-paten Morowali berdasarkan Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999. Jadi sangatlah keliru kalau kemudian pihak dewan
mengang-gap bahwa dekralasi itu untuk meminta pemekaran”.295 Dia juga menilai, pernyataan Jhoni Badu bahwa proses kelahiran Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 itu adalah cacat, justru sangat sesat sekaligus memperlihatkan ketidakmampuannya selaku anggota DPRD Morowali, karena mereka sendiri yang membiar-kan pejabat Bupati Morowali, Tato Masituju sampai tiga tahun tanpa berbuat apa-apa, dan justru setiap tahun mereka mensahkan anggaran yang diajukan pejabat Bupati tersebut.”Menghadapi pejabat Bupati saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menghadapi Bupati definitif ”.
Surat Keputusan yang dikeluarkan Ketua DPRD Morowali, H.Zainal Abidin Ishak, tanggal 6 Juni 2005 kepada Mendagri, M.Maruf menuai protes anggota dewan lainnya dari kubu Kolonodale. Pasalnya surat yang intinya melaporkan bahwa Pemerintah Kabupaten Morowali menawarkan tiga opsi dalam sosialisasi UU No 51 Tahun 1999 tersebut hanya berdasarkan keinginan pribadi H.Zainal Abidin Ishak, bukan sebagai represen-tase dari lembaga dewan, sebab surat itu tidak pernah dibicarakan di lembaga ini (baca: DPRD Morowali).
H. Idris Abdul Kadir, Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) di DPRD Morowali, menyatakan bahwa akibat surat yang dikeluarkan ketua DPRD tersebut, Mendagri, M.Maruf menge-luarkan surat kepada Bupati Morowali Andi Muhammad AB tanggal 30 Juni 2005 untuk memfungsikan Bungku sebagai ibu kota Kabupaten Morowali paling lambat tanggal 30 Agustus 2005. Hal senada juga disampaikan anggota DPRD Morowali dari kubu Kolonodale, Ahmad Yani Arisandi, mengingatkan bahwa surat Ketua DPRD tersebut adalah surat pribadi dan bukan mengatasnamakan lembaga DPRD Morowali, karena selama ini Ketua dewan tidak berkoordinasi dengan seluruh anggotanya.
295 Ibid.