civil society
TEMUAN DATA DAN PEMBAHASAN
B. Konflik Internal Partai Golkar Pusat dan efeknya ke daerah
Benih-benih perpecahan pada Partai Golkar telah ada semenjak perubahannya menjadi Partai Golkar di Munas ke VI, dimana dualisme militer dan sipil dalam memperebutkan kekuasaan, yang pada akhirnya di menangkan oleh pihak sipil dengan Akbar Tandjung sebagai ketua umum. Kemudian dualism ini terus berlanjut hingga puncaknya saat Munas ke XI Partai Golkar tahun 2015. Terjadi dua Munas dalam waktu bersamaan demi menjadi orang nomor satu di Partai Golkar tersebut. Adanya dualism kepemimpinan ini seperti yang disampaikan oleh Zulkenedi Said107
Ya itu tadi, pertama karena memang pemilihan-pemilihan pemimpin ini tidak demokratis Tahun 2004 sejak Bapak Jusuf Kala terpilih sangat dominan sekali faktor uang, jadi tidak faktor figure, saya ikut waktu itu. Pak akbar dilakahkan oleh tujuh orang, satu orang melawan tujuh orang yang bersatu, itu ada Pak Wiranto, ada Pak Prabowo, …. tujuh orang bersatu bagainama Akbar kalah, dan Yusuf Kalla saat itu wakil presiden
107 Wawancara bersama Zulkenedi Said Demisioner Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2014) pada tanggal 10 February 2016 di Villa Bukit Berlindo, Gunung Panggilun, Pukul 11.15
dan Akbar Tanjung ketua umum membuat adanya koalisi penyeimbang, berlanjut sampai ke Munas di Pekanbaru, pertarungan dua figure Surya Paloh dan ABR sangat syarat dengan…dan besok Munas ini juga akan bertarung seperti itu,
Bedasarkan pernyataan informan diatas, dapat diketahui bahwa setelah kepemimpinan Akbar Tandjung, terjadi perebutan kekuasaan untuk menjadi ketua umum Partai Golkar. Tradisi ini terus berlangsung, perebutan kekuasaan ketua partai memang wajar terjadi karena Partai Golkar merupakan partai menyatakn diri sebagai partai yang demokratis, sehingga bedasarkan paradigma baru kepemimpinan partai bersifat kolegial. Hal ini juga didasari oleh tiadanya tokoh yang dikultuskan dalam Partai Golkar, sehingga tidak ada tokoh sentral. Seperti yang diungkapkan oleh Sitti Izzati Aziz108
Kalau di Golkar sekarang tidak ada yang dikultuskan, jadi semuanya boleh mengeluarkan gagasan. Kalau ketua lebih menghimpun bagaimana masukan-masukan itu di satukan, karena setiap kita memiliki pemikiran- pemikiran yang berbeda, bagaiman menghimpun pemikiran itu peran ketua. Kalau mengkultus seperti PKB dengan Gustur tidak ada lagi. Kalau dulu Soeharto karena kewenangannya, Akbar Tandjung lebih dijadikan contoh-contoh negawaran.
Partai Golkar memang memiliki banyak tokoh-tokoh besar yang telah berpengalaman dalam politik semenjak orde baru, namun begitu kepemimpinan tetap dipilih secara demokratis, dalam artian partai tidak dimiliki ditangan satu orang. Dalam pelaksanaannya pemiliahan yang demokratis tetap belum terwujud bagaimana seharusnya, keterbukaan masih belum tercipta ditambah dengan faktor uang menjadi
108 Wawancara bersama Sitti Izzati Aziz Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar DPD I Sumbar pada tanggal 16 February 2016 di Kantor Komisi I DPRD Provinsi Sumbar pukul 13.15
penentu ketua umum, tren ini dimulai sudah mulai berkembang pesat semenjak pemilihan ketua umum tahun 2004. Kuatnya faktornya uang ini tidak dapat dipungkiri, karena partai memang butuh dana untuk hidup. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Samsurahim109
Ciri partai modern adalah terbuka..kalau tidak terbuka semakin lama partai akan menjadi semakin kerdil. Contohnya pemilihan Ketua Umum rebut- ribur… jangan pikir mereka pilih sukarena karena kemampuan si calon. suara itu untuk DPD tingkat II saja Rp 250 juta sedangkan DPD tingkat I bisa mencapai Rp 500 juta, coba bayangan berapa besar money politiknya? Pak ARB mungkin ratusan miliyar dulu untuk jadi ketua umum, selesai Munas itu ketua-ketua partai Kabupaten/Kota dan Provinsi, saya yakin banyak yang pulang membawa uang. Saya sudah mengalami hal demikian, ketika konvensi Partai Golkar untuk menentukan calon presiden dari partai. Ada yang membawa uang 10 juta sampai 100 juta tergantung tingkatnya. Sedangkan bagi ARB yang sudah kaya tentu jabatan sebagai status sosial saja…
Jabatan ketua umum partai merupakan salah satu jabatan politis yang sangat menentukan, oleh karena itu beberapa orang rela menghabiskan banyak dana untuk mendapatkannya. Perebutan jabatan ketua umum dalam Partai Golkar kemudian menguat lagi ketika Munas VIII di Pekan Baru. Duel antara ARB dan Surya Paloh yang kemudian dimenangkan oleh ARB dengan akhir konflik keluarnya Surya Paloh dari partai dan mendirikan partai baru. Kemudian munas selanjutnya, konflik dualism pada Munas ke XI semakin memuncak antara Abu Rizal Bakrie dan Agung laksono. Kedua belah pihak masing-masing membuat munas di tempat yang berbeda, Munas
109 Wawancara bersama Samsyu Rahim, Mantan Kader Partai Golkar (Ketua DPD Nasdem Sumbar), pada tanggal 12 Maret 2016, di Komplek Aur Duri pukul 09.12 WIB
Bali versi ARB dan Munas yang diselenggarakan di Jakarta yang kemudia dikenal dengan nama Munas Ancol versi Agung Laksono.
Kemunculan kedua kubu ini berefek pada munculnya faksi Partai Golkar. Faksi menurut Zariski identik dengan kombinasi dalam partai, kelompok, atau kelompok yang anggotanya saling berbagi rasa, identitas umum dan tujuan umum dan diselenggarakan untuk bertindak secara kolektif untuk mencapai tujuan meraka. Sedangkan dalam bahasa latin faksi disebut factio yang berarti perpecahan dalam kelompok. Akhir dari sebuah faksi adalah perpecahan atau penguatan integrasi, faksi akan menjadi perpecahan jika kelompok yang berbeda pandangan tidak bisa disatukan. Sedangkan untuk penguatan/integrasi jika faksi yang adal dalam partai dapat diatasi dan disatukan kemudian menajdi penguat dari partai.
Jika melihat kebelakang, Partai Golkar telah memiliki banyak pecahan akibat dari faksi-faksi dalam partai. Perpecahan ini terjadi karena perbedaan pandangan yang kemudian tidak bisa disatukan. Sehingga untuk Partai Golkar nampak lah seperti apa yang kita ketahui saat ini, muculnya partai-partai baru keturunan Golkar. Kebebasan berkumpul yang dijamin UU membuat pendirian partai baru menjadi lebih mudah. Kemunculan partai baru akibat dari faksi-faksi dalam Partai Golkar seperti yang diungkapkan oleh Basril Djabar110
Sebenarnya lawan politik Partai Golkar saat ini adalah bagian dari partai itu sendiri, Golkar yang dulu solid sekarang terbelah-belah, ada Hanura dengan Wiranto, Gerindra dengan Prabowo dan terakhir Nasdem yang merupakan ormas Golkar juga telah mendirikan partai sendiri dengan
110 Wawancara bersama Basrij Djabar Anggota Dewan Pertimbangan PArtai Golkar DPD Sumbar, pada tanggal 17 Maret 2016 di Kantor Haria Umum Singgalang
Surya Paloh sebagai ketua. Ini kan mereka yang dulu pernah jadi kader Golkar juga, namun karena berebda padangan tidak jalan, sehaluan lagi maka dirikan partai baru, kan mendirikan partai ngk susah yang penting punya ongkosnya, tu sekarang yang punya TV RCTI juga mendirikan Partai Perindo, yang penting uangnya..
Pernyataan serupa juga diperkuat oleh Samsu Rahim111
Dengan konflik yang terjadi makanya Golkar hari ini sudah punya cucu, bukan sekedar seorang anak. Dulu generasi Golkar yang petama PKPI, setelah itu muncul adiknya Partai Gerindra dan berturut-turut, Partai Hanura, Partai Nasdem. Dan sekarang Nasdem pun sudak baranak lagi yang namanya PSI . Kemudian Hanura juga melahirkan…dulu kan Hari Tanoe di Hanura pindah ke Nasdem dan sekarang telah berdiri partai baru Perindo..
Perpecahan yang terjadi dalam Partai Golkar dan berdirinya partai baru, dalam teori faksi dalam partai politik di negara demokrasi dapat memiliki efek positif dan negative. Efek positif adalah semakin banyak partai politik dan semakin beragam, sedangkan negatifnya……dan bagi Partai Golkar tentu perpecahan ini memliki efek langsung. Sekarang Partai Golkar bersaing dengan mantan-mantan anggotanya, akibatnya massa mantan kader juga ikut terbawa, sehingga berefek pada berkurangnya masa Partai Golkar secara keseluruhan. Hingga saat ini Golkar telah terpecah menjadi empat partai yakni PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem. Dan uniknya lagi pecahan dari Partai Golkar juga memiliki pecahan selanjutnya, dimana Hanura telah melahirkan Perindo dan Nasdem telah melahirkan PSI.
Dengan semakin banyaknya keturunan Golkar, maka Partai Golkar saat ini perlu melakukan konsolidasi dan penguatan dari dalam agar tidak terjadi lagi
111 Wawancara bersama Samsyu Rahim, Mantan Kader Partai Golkar (Ketua DPD Nasdem Sumbar), pada tanggal 12 Maret 2016, di Komplek Aur Duri pukul 09.12 WIB
perpecahan atau lahir generasi Golkar selanjutnya. Perlunya bertindak cepat untuk konflik dalam tubuh Partai Golkar perlu dilakukan partai mengingat pemilu 2019 tidak lama lagi dan partai harus mempersiapkan diri, jika tidak Golkar hanya jadi sejarah, Seperti yang disampikan oleh Shadig Pasadique112
Prahara yang terjadi dalam Partai Golkar saat ini, banyak orang yang tidak bisa meramalkan sampai pada persaingan yang serius. Sementara kalau saya melihat dengan terjadinya perpecahan seperti ini dalam Golkar tentu akan merugikan Golkar secara khusus dan bangsa secara umum. Sebab Partai Golkar adalah partai yang pernah berbuat dan menjadi bagian dari bangsa dan asset bangsa. Jadi kita saat ini sangat perihatin dengan kondisi Golkar.
Bedasarkan hasil wawancara dengan informan, Golkar harus menggembalikan kesolid-an partai. Golkar harus mampu menjaga persatuan partai agar tidak ada lagi generasi Golkar selanjutnya. Oleh karena itu kepemimpinan Golkar kedepannya harus lah pemimpin yang dapat mengakomodir semua kepentingan. Seperti yang disampikan oleh Zulkenedi Said113
Dan Golkar memang tidak bisa mendominasi, kalupun pada pemilu tahun 2004 menang, kondisi hari ini Golkar sangat menghawatirkan. Jadi tergantung esok munas, kalau Golkar berhasil memilih pemimpin yang tidak otoriter dan mampu menyatukan semua faksi Golkar tingkat pusat sampai bawah kalaupun tidak nanti menang atau tidak mendominasi setidaknya bertahan. Tapi kalau nanti terpilih lagi ketua yang otoriter yang tidak mampu mempersatukan faksi-faksi yang ada dari tingkat pusat sampai bawah ya sudah Golkar hanya tinggal waktu.
Pernyataan serupa juga disampikan oleh Afrizal114
112 Wawancara bersama Shadig Pasadique, Kader partai Golkar pada tanggal 03 Maret 2016 di Jalan Palupuah pukul 16.30 WIB
113 Wawancara bersama Zulkenedi Said Demisioner Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2014) pada tanggal 10 February 2016 di Villa Bukit Berlindo, Gunung Panggilun, Pukul 11.15
114 Wawancara bersama Afrizal Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2015 revitalisasi), pada tanggal 01 Maret 2016 di Kantor Komisi III DPRD Sumbar pukul 10.15 WIB
Harapan para kader kepada figure ketua umum itu adalah figure yang mampu menjadi perekat, pemersatu internal Partai Golkar baik dari pusat sampai ke daerah, sehingga kita siap untuk menghadapi pileg tahun 2019 dan pilpres sekaligus pilkada…. kita harus berfikir bagaimana ketua umum itu figure ketua umum yang layak dijual menjadi presiden , makanya kita upayakan cari ketua umum yang tidak ada masalah dg bangsa ini.
Pernyataa juga disampikan oleh shadig115
Ya itu,, yang jadi ketua umum itu yang bisa dijadikan panutan yang bisa dihargai, dihormati dan dicintai oleh para kader Partai Golkar, namun belakangan yang muncul kan belum seperti yang diharapkan. Jadi ketua partai buka hanya sebatas jabatan untuk kepentingan sendiri.
Bedasarkan pernyataan informan diatas, Golkar saat ini membutuhkan pemimpin yang mampu merekatkan semua kepentingan dalam partai, sebagai sosok pemersatu partai baik dari pusat sampai daerah, kemudian pemimpin yang dipilih dengan demokratis dan tidak otoriter serta pemimpin yang bisa jadi panutan bagi kader partai. Pentingnya sosok ketua umum yang mampu merekat dan mempersatukan kepentingan dalam partai politik seperti yang disampaikan oleh Samsyu rahim
Tidak hanya golkar…semua partai butuh tokoh sentral, kini kan ujian bagi Golkar ketika regenerasi itu muncul apakah kuat, dulu kan identik dengan Soeharto, identik dengan Akbar Tanjung, identik dengan ARB kini cari regenerasi…. Proses regenrasi partai itulah yang namanya pendidikan politik, komunikasi politik, rekrutmen kader..kalau itu jalan tentu akan tercipta generasi penerus partai yang kuat..
Pernyataan ini dibenarkan oleh Yul Akhiari Sastra116
kita ketika mau survive dalam sebuah perjuangan yang cukup dahsyat maka kita perlu kekuatan, kesolidan dari dalam maka kita perlu sesorang
115 Wawancara bersama Shadig Pasadique, Kader partai Golkar pada tanggal 03 Maret 2016 di Jalan Palupuah pukul 16.30 WIB
116 Wawancara bersama Yul Akhiari Sastra, Mantan Kader Partai Golkar di Jalan. A, Yani Padang pukul 16.15 WIB
nahkoda yang kuat untuk mampu survive dalam keadaan yang mahadasyat tadi ibarat sebah kapal….sehingga besok Golkar harus mancari figure yang bisa manajdi pemersatu tidak hanya di Golkar-mohon maaf di Golkar ARB saja terdapat beberapa faksi- tidak hanya mampu mempersatukan faksi yang ada di Golkar ARB tapi juga harus mampu menyatukan dengan kelompok AL, menjadi figure pemersatu yang pecah
Yang kedua, siapa orang yang mampu setelah berhasil menyatukan faksi- faksi yang ada, mampu mengahdapai persaingan terutama dengan PDIP, strategi menghadapi kekutan PDIP yang ingin menggerusi dan mengkerdilkan Golkar
Yang ketiga, bagaimana Golkar dapat bersaing dengan partai-partai lain..mengangkat citra nya kembali. Sebetulnya itu yang harus dipikirkan Golkar bukan hanya larut dengan perpecahan, mengingat pemilu 2019 sudah dekat.
Bedasarkan hasil wawancara diatas, bahwa dualism yang terjadi dipusat adalah permasalahn serius bagi Partai Golkar. Dampak dualism yang terjadi dipusat memiliki efek pada Golkar tingkat daerah. Jika Partai tidak serius menyelesaikan konflik maka posisi partai Golkar pada pemilu selanjutnya baik didaerah atau dipusat akan terancam. Seperti yang disampikan oleh Leonardy Harmainy
Perolehanya di sumbar memang menurun, tahun 2009 itu Golkar jika dilihat dari komposisi kursi DPRD Provinsi mendapat 16,3% kursi, sedangkan Sekarang 13,8%, selanjutnya pemilu tahun 2019, saya khawatir perolehan suara golkar jauh lebih turun, bisa saja Golkar hanya memperoleh 4 kursi atau 10% suara di DPRD Provinsi. Fenomena ini masalahnya dipusat, bukan diaerah, kenapa? Karena pemilih atau masyarakat itu terus terang, apa yang terjadi di Jakarta itu setiap hari ,setiap jam bisa dilihat langsung. Beda dengan waktu dulu yang mana informasi belum secepat itu, dengan kecepatan informasi itu berakibat pada elektabilitas partai golkar.
Pernyataan itu juga disampikan oleh Afrizal117
kita akui survey terakhir itu menyatakan Golkar akan turun yang 14% itu akan menjadi 10 %, itu yg hrs kita perbaiki. Kita tidak pungkri ada nada minor terhadap partai karena berbagai konflik yang terjadi. Masyarakat akan memandang Partai Golkar tidak dapat mengatasi masalah internalnya, kenapa harus dipilih? jika Golkar tidak menang/setidaknya bertahan pada pemilu selanjutnya sangat beresiko bagi partai golkar
pernyataan ini dibenarkan oleh Yul118
Jika melihat konflik yang masih panas hingga pelaksanaan pilkada kemren, dan sampai saat ini masih belum menemukan solusi jitu, maka saya prediksi untuk Sumbar di Pileg 2019 nanti tidak akan mendapatkan kursi DPRD lebih dari 7 kursi. Bukan maksud mengkerdilkan Golkar namun ini kecendrungan yang diprediksi..
Bedasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa informan memprediksi apa yang akan terjadi jika Golkar gagal memperbaiki diri dan mencari sosok yang mempu membangkitkan Golkar kembali. Jika pernyataan diatas merupakan prediksi, maka efek dualism pusat memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam perpolitikan didaerah terutama saat even pilkada serentak Sumbar tahun 2015. Seperti yang dinyatakan oleh Leonardy Harmainy119
Kesenangan orang pada golkar itu mulai goyang ketika melihat kelakuan orang di Jakarta itu. Terbukti pada waktu pilkada kemaren isu itu dijadikan sebagai negative kampain, Jadi yang terjadi di Jakarta itu menjadi negative kampain dalam pilkada bagi lawan, dan ternyata ampuh, contonya kabupaten solok kalah, padahal incamben, solok selatan ketua golkar juga calon kalah, kalau kota solok akibat dua kubu dipusat itu akhirnya Golkar tidak jadi punya calon itu, Darmasraya calon Golkar kalah, di Pasaman ketua golkar kalah, pasbar kalah, solsel kalah, jadi kejadian golkar dipusat itu sudah terbukti di pilkada. Di jadikan negative kampain dan negative kampaian laris dan banyak kalah. Dengan banyaknya ia tidak jd bupati/walikota berpengaruh pada pemilu legislative
117 Wawancara bersama Afrizal Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2015 revitalisasi), pada tanggal 01 Maret 2016 di Kantor Komisi III DPRD Sumbar pukul 10.15 WIB
118 Wawancara bersama Yul Akhiari Sastra, Mantan Kader Partai Golkar di Jalan. A, Yani Padang pukul 16.15 WIB
119 Wawancara bersama Leonardy Harmainy Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar DPD Sumbar (2015-2019) pada tanggal 26 February 2016, di Jalan Bali Ulak Karang, Pukul 14.12 WIB
selanjutnya. Jika bupati/ walikota itu tremasuk figure yang disenangi dan berasal dari Partai Golkar maka akan memberi pengaruh bagi Golkar untuk pileg selanjutnya, kalau kejadiannya seperti saaat ini sehingga saya berasumsi pemilu selanjutya suara golkar bisa saja di bawah 10%.
Pernyataan serupa juga disampikan oleh Zulkenedi Said120
…Itu bukti kan,,, pilkada kemaren dari 13 kabupaten/Kota, Golkar hanya dapat 3 dari 10 yang di usung, kalah karena Golkar tidak solid dan terpecah,,,, karena pengambilan keputusan itu tidak demokratis…dan sudah banyak berubah.
Pernyataaan serupa juga disampaikan oleh afrizal121
Ya berpengaruh, jadi gini proses itu sangat mempengaruhi mental kawan- kawan, jadi rekomendasi calon kepala daerah itu diambil dari pihak ARB dan pihak AL, saya dari pihak ARB mengurusnya saparo mati, 10 hari prosesnya. Moril…beban mental kemudian materil biaya di tanggung pribadi, Bantuan parpol tertahan untuk itu karena dualism, jadi uang yang 250jt yang hangus tidak bisa dicairkan. Jadi untuk menggurus rekomdasi pakai uang pribadi, untuk menyelamatkan kawan-kawan yang maju.. namun banyak mereka yang tumbang, sehingga Konflik internal ini ikut mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.
Bedasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa, prahara pusat dijadikan sebagai kampanye negatif oleh lawan calon dari Partai Golkar. Berbagai berita tentang konflik Partai Golkar di pusat yang secaar terus menerus di ekspos media masa juga menjadi salah satu faktor semakin kuatnya kampanye negative ini, karena masayarakat bisa langsung mengklarifikasikan berita via televise, Koran atau surat kabar. Kampanye negative ini memang terbukti berhasil, dapat dilihat dari tumbangnya calon kepala daerah yang diusung oleh Partai Golkar. Bahkan ada daerah di Sumatera Barat yang tidak dapat mengajukan calon karena terhambat proses
120 Wawancara bersama Zulkenedi Said Demisioner Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2014) pada tanggal 10 February 2016 di Villa Bukit Berlindo, Gunung Panggilun, Pukul 11.15
121 Wawancara bersama Afrizal Sekretaris DPD Golkar Sumbar (2009-2015 revitalisasi), pada tanggal 01 Maret 2016 di Kantor Komisi III DPRD Sumbar pukul 10.15 WIB
pengajuan dari kedua kubu. Bahkan calon incumbent pun kalah, sehingga Golkar tidak dapat apa-apa di Sumbar.
Selain di jadikan kampanye negative, konflik dipusat juga berpengaruh pada mental calon yang diusung partai terkait rekomdasi diantara kedua kubu. Persetujuan yang rumit diantara kedua kubu telah menyerap tenaga, mental dan materil dari para calon serta penggurus partai. Kemudian Konflik ini juga membuat tersumbatnya dana partai, sehingga kader mesti menggeluarkan dana pribadi untuk sementara waktu untuk berbagai urusan administrasi. Kekalahan dalam pilkada serentak ini akan menjadi mata rantai yang juga akan berefek pada pemilu selajutnya di tahun 2019, hal ini seperti yang disampaikan oleh Leonardy Harmainy122
Jika bupati/ walikota itu tremasuk figure yang disenangi dan berasal dari Partai Golkar, maka akan member pengaruh bagi Golkar untuk pileg selanjutnya, setidaknya masyarakat akan simpati pada partai kalau kepala daerahya disenagi. kalau kejadiannya seperti saat ini sehingga saya berasumsi pemilu selanjutya suara Golkar bisa saja di bawah 10%. Trennya turun lagi, penyebkan bukan orang Sumbar, aceh atau papua, tapo orang di Jakarta
Pernyataan diatas didukung oleh Yul Akhiari Sastra123
Parpol, mereka mengejar kepala daerah itu dalam rangka memenagkan pemilu berikutnya. Kenapa?karena kepda itu mau tak mau kue pembangunan ada disana, maka ketida dia Kepala Daerah berbuat dengan baik, orang akan bagaimanapun akan mengatakan”dia orang Golkar”. Kedua kalau dai sebagai Kepala Daerah maka, adalah proyek-proyek yang dapat disisipkan untuk partai. Sekarang mana? Mana ada lagi kepda yang dimiliki Golkar, paliangan Tanah Datar, Agam. Bukittinggi, Pasaman, Solok sudah tidak lagi.
122 Wawancara bersama Leonardy Harmainy Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar DPD Sumbar (2015-2019) pada tanggal 26 February 2016, di Jalan Bali Ulak Karang, Pukul 14.12 WIB
123 Wawancara bersama Yul Akhiari Sastra, Mantan Kader Partai Golkar pada tanggal 17 Maret 2016 di Jalan. A, Yani Padang pukul 16.15 WIB
Kekalahan Partai Golkar dalam Pilkada Serentak di Sumbar, sedikit banyak dipengaruhi oleh prahara pusat, kemudian kekahalan ini nantinya akan berakibat pada pemilu selanjutnya, khusunya wilayah Sumbar. Survey Partai Golkar sendiri menyatakan bahwa di pemilu selanjutnya kalau Golkar tidak mampu memperbaiki sistemnya, maka Sumbar yang sebelumnya memperoleh 16% suara akan mendapat suara terbanyak hanya 10%. Dan selanjutnya Golkar tidak memiliki tokoh kepala daerah yang banyak lagi di Sumbar sebagai basis masa untuk partai.
Selain dari pada pegaruh pada pelaksanaan pilkada, dikhawatirkan dualism yang terjadi di pusat juga berefek pada kepenggurusan di daerah dan dalam musda daerah. Dimana kubu dipusat pecah sampai pada kubu di tingkat Provinsi bahkan