• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Konsentrasi Kepemilikan

Kepemilikan terkonsentrasi merupakan fenomena yang lazim ditemukan di negara dengan ekonomi sedang bertumbuh dan negara-negara continental Europe. Sebaliknya, struktur kepemilikan menyebar pada umumnya ditemukan di negara maju dengan proteksi hak milik yang kuat, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Kanada (LaPorta et al., 1999). Penelitian Claessens et al. (2000) menunjukkan bahwa kepemilikan perusahaan di Asia bagian timur termasuk Indonesia cenderung ditemukan terkonsentrasi. Kepemilikan suatu perusahaan dikatakan terkonsentrasi (concentrated ownership) apabila sebagian besar sahamnya dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif dominan dibandingkan dengan pemegang saham lainnya (Dallas 2004 dalam Nuryaman 2009). Sebaliknya, kepemilikan suatu perusahaan dikatakan menyebar (diffused ownership) apabila saham perusahaan dimiliki oleh banyak pemegang saham dengan persentase

kepemilikan yang relatif sama, sehingga tidak ada pemegang saham yang dominan terhadap pemegang saham lainnya. Perbedaan struktur kepemilikan tersebut dapat berdampak pada perbedaan masalah keagenan yang terjadi dalam perusahaan.

Pada struktur perusahaan yang menyebar (diffused ownership), masalah keagenan terjadi antara investor luar dan agen, dimana agen bertindak sebagai profesional murni dan relatif tidak memiliki kepentingan yang signifikan pada perusahaan. Sedangkan pada struktur kepemilikan yang terkonsentrasi

(concentrated ownership), masalah keagenan bergeser dari permasalahan antara pemegang saham dan agen menjadi konflik kepentingan antara pemegang saham mayoritas dan manajemen dengan pemegang saham minoritas. Hal ini dikarenakan pemegang saham mayoritas akan mengontrol manajemen, sehingga kebijakan manajemen seringkali didasarkan pada kepentingan pemegang saham mayoritas dan mengabaikan kepentingan pemegang saham minoritas (Diyanty, dkk 2015)

Konsentrasi kepemilikan dapat menjadi mekanisme internal pendisiplinan manajemen, sebagai salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan. Hal ini dikarenakan dengan kepemilikan yang besar menjadikan pemegang saham memiliki akses informasi yang cukup signifikan untuk mengimbangi keuntungan informasional yang dimiliki manajemen (Hubbert dan Langhe dalam Nuryaman 2009). Jika hal ini diwujudkan maka tindakan moral hazard manajemen dapat ditekan.

Pemegang saham mayoritas dalam struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dengan dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, pemegang saham mayoritas yang secara efektif mengendalikan perusahaan, juga akan mengendalikan informasi yang dihasilkan perusahaan sehingga akan menurunkan kredibilitas informasi akuntansi bagi pasar. Sedangkan kemungkinan yang kedua, pemegang saham mayoritas akan berupaya untuk meningkatkan kredibilitas informasi akuntansi yang dihasilkan karena pemegang saham mayoritas memiliki kepentingan yang tinggi untuk menjaga nilai investasi yang dimlikinya (Feliana 2007).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan merupakan kepemilikan perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif lebih besar dibandingkan dengan pemegang saham lainnya. Konsentrasi kepemilikan mengakibatkan adanya pemegang saham mayoritas dan pemegang saham minoritas dalam suatu perusahaan.

2.9 Komisaris Independen

Struktur dewan di Indonesia menggunakan konsep two tier, di mana pada sistem ini dewan terdiri dari dewan direksi dan dewan komisaris. Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007, dewan

komisaris merupakan organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada dewan direksi. Dewan komisaris dapat terdiri dari satu orang atau lebih. Pengaturan besarnya jumlah anggota dewan komisaris diatur dalam Anggaran Dasar perseroan, disamping itu Anggaran Dasar perseroan juga dapat mengatur adanya 1 (satu) orang atau lebih komisaris independen dan 1 (satu) orang komisaris utusan.

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris lainnya, direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen (Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006

tentang pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum).

Keberadaan komisaris independen di Indonesia sudah diatur dalam Code of Good Corporate Governance (KNKCG). Komisaris independen menurut code tersebut bertanggung jawab dan mempunyai kewenangan untuk mengawasi kebijakan dan kegiatan yang dilakukan direksi dan memberikan nasihat bilamana diperlukan. Selanjutnya, dalam Keputusan Direksi PT BEI Nomor Kep-00001/BEI/01-2014 pada Ketentuan III.1.4 ditetapkan bahwa jumlah komisaris independen pada perusahaan tercatat adalah minimal 30% dari jumlah anggota dewan komisaris. Ketentuan V.3.2 pada Keputusan tersebut menetapkan bahwa masa jabatan komisaris independen paling banyak adalah 2 (dua) periode berturut-turut.

Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.1.5 pada angka 2 huruf c menyatakan bahwa komisaris independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan atau mengawasi kegiatan emiten atau perusahaan publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir;

2. tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada emiten atau perusahaan publik tersebut;

3. tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten atau perusahaan publik, anggota dewan komisaris, anggota direksi, atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik tersebut; dan

4. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik tersebut.

Keberadaan komisaris independen diharapkan mampu mendorong dan menciptakan iklim yang lebih objektif, dan menempatkan kesetaraan (fairness) sebagai prinsip yang utama dalam memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas dan stakeholders lainnya (Andayani 2010). Komisaris independen bertanggung jawab untuk mendorong secara proaktif agar komisaris dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengawas dan penasehat direksi dapat memastikan perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif (termasuk memantau jadwal, anggaran dan efektivitas strategi tersebut), memastikan perusahaan

memiliki eksekutif dan manajer yang profesional, memastikan perusahaan memiliki informasi, sistem pengendalian, dan sistem audit yang bekerja dengan baik, memastikan perusahaan mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku maupun nilai-nilai yang ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya, memastikan risiko dan potensi krisis selalu diidentifikasi dan dikelola dengan baik serta memastikan prinsip-prinsip dan praktik good corporate governance dipatuhi dan diterapkan dengan baik (FCGI, 2003).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komisaris independen meruapakan anggota dewan komisaris dari luar perusahaan yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota komisaris lain, pemegang saham lain, direksi atau hubungan lain yang dapat mengganggu independensinya.

2.10 Komite Audit

Komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka membantu tugas dan fungsinya. Tugas utama komite audit pada prinsipnya adalah membantu dewan komisaris dalam melakukan fungsi pengawasan atas kinerja perusahaan, terutama berkaitan dengan sistem pengendalian internal perusahaan, memastikan kualitas laporan keuangan dan meningkatkan efektivitas fungsi audit internal yang kemudian diverifikasi oleh auditor eksternal. Komite audit berfungsi sebagai jembatan penghubung antara perusahaan dengan auditor eksternal. Di Indonesia, peraturan terbaru tentang komite audit adalah Keputusan Bapepam dengan Nomor Kep-643/BL/2012.

Dalam peraturan tersebut diuraikan tugas dan tanggung jawab komite audit yang meliputi:

a. melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan emiten atau perusahaan publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan emiten atau perusahaan publik;

b. melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang- undangan yang berhubungan dengan kegiatan emiten atau perusahaan publik;

c. memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara manajemen dan akuntan atas jasa yang diberikannya;

d. memberikan rekomendasi kepada dewan komisaris mengenai penunjukan akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan, dan

fee;

e. melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh direksi atas temuan auditor internal;

f. melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang dilakukan oleh direksi, jika emiten atau perusahaan publik tidak memiliki fungsi pemantau risiko di bawah dewan komisaris;

g. menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan keuangan emiten atau perusahaan publik;

h. menelaah dan memberikan saran kepada dewan komisaris terkait dengan adanya potensi benturan kepentingan emiten atau perusahaan publik; dan i. menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi emiten atau perusahaan

publik.

Komite audit sekurang-kurangnya terdiri tiga orang yang berasal dari komisaris independen dan pihak luar perusahaan. Komite audit diketuai oleh komisaris independen dan wajib memiliki minimal satu anggota yang berlatar pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan / atau keuangan. Rapat komite audit dilaksanakan paling kurang satu kali dalam tiga bulan atau empat kali dalam setahun.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komite audit adalah komite di bawah dewan komisaris yang memiliki tugas untuk membantu dewan komisaris dalam melakukan tugas pengawasan terutama yang berkaitan dengan pelaporan keuangan perusahaan.

Dokumen terkait