• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI

2.1.7 Konsep Analisis Mengenai Dampak Lingkungan(AMDAL)31

AMDAL pertama kali diperkenalkan pada tahun 1969 oleh National Environmental Policy Act di Amerika Serikat. Menurut UU No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dampak diartikan sebagai pengaruh aktivitas manusia dalam pembangunan terhadap lingkungan, dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan oleh pembangunan selalu lebih luas daripada yang menjadi sasaran pembangunan yang direncanakan. Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan berturut – turut sebagaimana diatur dalam PP nomor 27 Tahun 1999 yang terdiri dari :

a. Kerangka acuan (KA) adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan.

b. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telahaan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana atau kegiatan.

c. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan atau kegiatan.

d. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) adalah upaya pemanfaatan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha atau kegiatan.

Sehubungan dengan prosedur / tata laksana AMDAL, peraturan pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 telah menetapkan mekanisme yang harus ditempuh sebagai berikut :

1. Pemrakarsa menyusun Kerangka Acuan (KA) bagi pembuatan dokumen AMDAL. Kemudian disampaikan kepada komisi AMDAL Kerangka Acuan tersebut diproses selama 75 hari kerja sejak diterimanya oleh komisi AMDAL. Jika lewat waktu yang ditentukan ternyata Komisi AMDAL tidak memberikan tanggapan, maka dokumen Kerangka Acuan tersebut menjadi sah untuk digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL.

2. Pemrakarsa menyusun dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RPL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), kemudian disampaikan kepada instantsi yang bertanggung jawab untuk diproses dengan menyerahkan dokumen tersebut kepada komisi penilai AMDAL.

3. Hasil penilaian dari komisi AMDAL disampaikan kembali kepada instantsi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu 75 hari. Apabila dalam jangka waktu yang telah disediakan, ternyata belum diputus oleh instansi yang bertanggung jawab, maka dokumen tersebut tidak layak lingkungan.

4. Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ternyata instansi yang bertanggung jawab mengeluarkan keputusan penolakan karna dinilai belum memenuhi pedoman teknis AMDAL, maka kepada pemrakarsa diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

5. Hasil perbaikan dokumen AMDAL oleh pemrakarsa diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab untuk diproses dalam memberi keputusan sesuai dengan pasal 19 dan pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999.

Apabila dari dokumen AMDAL dapat disimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi, atau biaya penanggulan dampak negatifnya lebih besar dari dampak positifnya

Pasal 16 UULH menyatakan sebagai berikut :

Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah.

Dari ketentuan pasal 16 UULH dapat disimpulkan 2 hal yaitu :

1. Analisis Mengenai Dampal Lingkungan merupakan bagian dari proses perencanaan dan instrumen pengambilan keputusan.

2. Tidak semua rencana kegiatan wajib ilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hanyalah yang mempunyai dampak penting terjadap lingkungan.

Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut diantaranya digunakan criteria mengenai :

1. Besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan.

2. Luas wilayah penyebaran dampak.

3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.

4. Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. 5. Sifat kumulatif dampak.

6. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Menurut PP No. 27 Tahun 1999 Pasal 3 ayat (1), usaha dan atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi :

1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.

2. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui.

3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya.

4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan serta lingkungan sosial dan budaya.

5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlingungan cagar budaya. 6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jenis jasad renik.

Di Indonesia PP 51 Tahun 1993 memisahkan AMDAL dari perencanaan pengelolaan lingkungan dan perencanaan pemantauan lingkungan, namun ketiganya disajikan sekaligus oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. Tujuan AMDAL secara umum adalah menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak negativenya menjadi serendah mungkin. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah komisi penilai AMDAL, pemrakarsa dan masyarakat yang berkepentingan. Komisi penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementrian Lingkungan Hidup, di tingkat Provinsi berkedudukan di Bapedalda atau intansi pengelola lingkungan hidup Provinsi, dan tingkat Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili

di dalam Komisi Penilai ini. Pemrakarsa adalah orang atau badan hokum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan , faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada lingkungan hidup dan atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat yang berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

AMDAL merupakan instrumen pengelola lingkungan yang diharapkan dapat mencegah kerusakan lingkungan dan menjamin upaya-upaya konversi. Hasil studi AMDAL merupakan bagian penting dari perencanaan pembangunan proyek itu sendiri. Prosedur AMDAL terdiri dari :

a. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL b. Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat c. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)

d. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL dan RPL Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi kegiaran wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.

Proses penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan). Proses penilaian KA-ANDAL setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen

KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusunan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.

2.1.8 Prinsip Analisis Dampak

Gibson dalam Brucemitchel (2003) yang dikutip kiki (2012-26) menyarankan bahwa analisis dampak dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip – prinsip berikut secara bersama – sama

1. Prinsip pendekatan terpadu. Pembangunan harus dilihat dampaknya pada skala lokal, nasional dan internasional. Implikasinya dapat memenuhi kebutuhan dasar dan kemiskinan dapat dihilangkan. Implikasi penggunaan sumberdaya alam secara besar – besaran harus terkendali sehingga tetap memiliki daya dukung yang kokoh terhadap kehidupan manusia. Mengkaji pula implikasi sosial budaya, ekonomi dan moral jangka pendek, menengah dan ujung jangka panjang.

2. Semua bentuk pembangunan harus ramah lingkungan. Baik pembangunan yang dilakukan pemerintah, masyarakat maupun swasta. Prinsip ini berarti bahwa kebijakan, program dan proyek pembangunan harus melalui analisis dampak.

3. Analisis dampak harus menekankan pada identifikasi kemungkinan terbaik. Artinya tujuan dan keunggulan relatif dan alternative pembangunan yang dipilih harus dikaji secara kritis dan mendalam.

4. Analisis dampak harus berdasarkan hukum, spesifik, dan wajib dapat diterapkan. Artinya analisis dampak harus dapat membawa perubahan positif.

5. Proses analisis dan pengambilan keputusan yang terkait harus terbuka, pasrtisipatif, dan adil. Prinsip ini merefleksikan konsep persamaan, pemberdayaan dan keadilan yang merupakan hakekat pembangunan. 6. Harus ada petunjuk pelaksanaan. Kondisi dan syarat penerimaan harus

dapat dijalankan, kepastian juga harus ada untuk memantau efek dan penataan terhadap peraturan pelaksanaan. Artinya harus tetap komitmen. 7. Analisis damapak harus menekankan efisiensi.

8. Berbagai cara harus disusun secara sistematis untuk menghubungkan analisis dampak dan pengambilan keputusan yang lebih tinggi.

2.1.9 Isu – isu Strategis Dalam Analisis Dampak

Dokumen terkait