• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Balita

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 25-30)

2.2.1 Balita sebagai Agregat At Risk

Kelompok resiko adalah kumpulan orang yang lebih beresiko menderita suatu penyakit daripada yang lain (Stanhope & Lancaster, 2004). Allender dan Spradley (2005) mendefinisikan populasi resiko sebagai kumpulan orang yang berpeluang mengalami peningkatan masalah kesehatan karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. Stanhope dan Lancaster (2004) menyebutkan bahwa faktor biologi, sosial ekonomi, gaya hidup dan peristiwa dalam kehidupan menempatkan balita sebagai kelompok beresiko. Adapun kotribusi faktor resiko tersebut terhadap munculnya masalah kesehatan adalah sebagai berikut:

2.2.2.1 Faktor Biologi dan Usia

Faktor biologi merupakan faktor genetik atau fisik yang berkontribusi terhadap timbulnya resiko tertentu yang mengancam kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004). Faktor genetic merupakan faktor gen yang diturunkan orangtua pada anaknya. Beberapa masalah kesehatan yang diturunkan secara genetic adalah diabetes melittus, penyakit jantung bawaan, kejiwaan dan sebagainya. Anak tidak dapat menghindari masalah kesehatan yang diturunkan secara genetic, namun

resiko masalah kesehatan akibat faktor genetic dapat diminimalisir dengan perilaku hidup sehat (Stanhope & Lancaster, 2004).

Berdasarkan periode usia perkembangan, masa kanak-kanak awal (satu sampai enam tahun) terbagi menjadi dua periode yaitu toddler (1 - 3 tahun) dan pra sekolah (3 - 6 tahun) (Potter & Perry, 2005). Namun, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan bahwa balita kependekan dari anak di bawah lima tahun yaitu dari usia 12 sampai 59 bulan. Usia balita terjadi perkembangan yang dapat meningkatkan resiko terhadap terjadinya maslah kesehatan. Menurut Potter dan Perry (2003), pertunbuhan dan perkembangan pada balita dapat dilihat dari aspek fisik, kognitif dan psikososial.

Ditinjau dari aspek fisik, perubahan pada balita ditandai dengan pertumbuhan yang relative lambat dibarengi dengan perkembangan motorik yang pesat.

Perkembangan motorik tampak pada peningkatan koordinasi otot besar dan halus sehingga keterampilan balita berjalan, berlari dan melompat semakin baik. Pada usia ini anak senang memasukkan segala seuatu ke mulutnya sehingga terjadi peningkatan resiko keracunan dan masuknya mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang mengakibatkan anak memiliki resiko besar untuk mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).

Ditinjau dari aspek kognitif, perkembangan balita tidak terlepas dari perkembangan moral. Balita belum memahami konsep salah dan benar. Perilaku yang ditampilkan berdasarkan apa yang disukai dan yang tidak disukai sehingga balita belum dapat menentukan apa saja kebutuhan yang penting untuk dipenuhi guna optimalisasi pertumbuhan dan perkembangannya (Potter & Perry, 2003).

Perkembangan aspek psikososial ditandai dengan peningkatan kemandirian. Balita senang mengatakan tidak pada segala sesuatu yang ditawarkan padanya.

Egosentris sangat menonjol menunjukkan perasaan otonomi berkembang pada usia ini.

2.2.2.2 Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya masalah kesehtan Stanhope dan Lancaster (2004) mendefinisikan lingkungan sebagai karakteristik orang-orang disekitar tempat tinggal beerta sumber dan fasilitas yang tersedia.

Lingkungan internal keluarga yang sehat merupakan system pendukung tercapainya kesehatan fisik dan psikologis bagi seluruh anggota keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Kondisi lingkungan ekstrenal yang tidak sehat seperti tingkat kriminalitas tinggi, polusi udara, kimia, suara, dan minimnya fasilitas kesehatan merupakan penyebab terjadinya masalah kesehatan pada keluarga (Stanhope & Lancaster, 2004). Pada usia balita terjadi peningkatan kemampuan sosialisasi dan ketertarikan dalam mengeksplorasi lingkungan, sehingga pada usia ini anak sudah memiliki teman dan aktivitas bermain (Whaley

& Wong, 1995). Paparan virus dan bakteri di lingkungan yang tidak sehat pada saat anak bermain dapat meningkatkan resiko anak mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).

2.2.2.3 Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan faktor finansial yang memiliki keterkaitan secara langsung terhadap kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan. Anak usia balita memiliki ketergantungan penuh pada keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menghadapi masalah ekonomi lebih beresiko mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004)..

2.2.2.4 Faktor Gaya Hidup

Gaya hidup/ perilaku merupakan kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup yang bersiko akan berdampak pada terjadinya ancaman terhadap kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004). Apabila keluarga tidak emnerapkan dan memperkenalkan perilaku/ gaya hidup sehat sejak dini kan mengakibatkan resiko masalah kesehatan lebih besar bagi anak (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

2.2.2.5 Faktor Peristiwa dalam Kehidupan

Kejadian dalam kehidupan merupakan suatu periode transisi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Kejadian dalam kehidpan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti pindah rumah tinggal, anggota keluarga meninggalkan rumah, kehilangan anggota keluarga dan ada anggota keluarga baru (Stanhope & Lancaster, 2004). Anak seringkali merasa terancam dan dapat lebih temperamen ketika terjadi peristiwa-peritiwa tersebut.

2.2.2 Keluarga dengan Balita

Keluarga adalah kumpulan orang-orang yang bergabung bersama diikat oleh perkawinan, darah, atau adopsi, dan lainnya yang berada dalam satu rumah (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Status sehat dan sakit para anggota keluarga saling mempengaruhi satu sama lain. Keluarga cenderung menjadi seorang reaktor terhadap masalah-masalah kesehatan dan menjadi aktor dalam menentukan masalah-masalah anggota keluarga. Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat sakit setiap anggota keluarga, seperti mulai dari keadaan sehat hingga diagnosa, tindakan penyembuhan (Hidayati, 2011).

Berdasarkan teori Duvall (1985 dalam Firedman et all, 2003) keluarga dengan balita termasuk dalam tahap perkembangan keluarga dengan anak baru lahir dan keluarga dengan anak pra sekolah. Tugas perkembangan keluarga tahapan keluarga dengan anak bayi baru lahir adalah (1) Memulai keluarga menjadi keluarga muda sebagai unit yang stabil (integrasikan bayi baru lahir sebagai bagian dari keluarga). (2) Rekonsiliasi konflik tugas perkembangan dan kebutuhan yang beragam dari setiap anggota keluarga. (3) Membantu kenyamanan hubungan pernikahan. (4) Memperluas hubungan dengan keluarga besar dengan peran orang tua dan kakek nenek.

Menurut Duvall (1985 dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003) tugas perkembangan keluarga dengan anak usia pra sekolah adalah (1) Pencapaian

kebutuhan anggota keluarga untuk rumah yang adekuat, ruangan, privasi, dan keamanan. (2) Mensosialisasikan anak-anak. (3) Mengintegrasikan keanggotaan anak baru dengan juga memenuhi kebutuhan anak lainnya. (4) Memelihara kesehatan dihubungkan dengan keluarga (perkawinan dan orang tua anak), keluarga besar, serta lingkungan. Berdasarkan tugas perkembangan tersebut tanggung jawab yang harus dilakukan keluarga adalah membentuk individu dalam keluarga menjadi lebih berpotensi.

Keluarga dengan balita merupakan kelompok yang kompleks yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tahapan perkembangan keluarga berhubungan dengan pertumbuhan individu anggota keluarga dan memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangannya (Fitriyani, 2009). Keluarga harus menciptakan pola pemeliharaan kesehatan untuk mencapai kesehatan fisik, mental, dan sosial yang optimal. Balita merupakan masa dimana gizi yang adekuat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara pesat dan tidak dapat terulang (Potter & Perry, 2005).

2.2.3 Peran Perawat Keluarga

Perawat keluarga memiliki beberapa peran dalam membantu mengatasi masalah kesehatan yang ada di dalam keluarga. Asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan bertujuan untuk memberdayakan keluarga dalam pengambilan keputusan dan menangani persoalan yang penting untuk kesehatan atau kesejahteraan di dalam keluarga. Perawat keluarga perlu melakukan tahapan-tahapan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tindakan dalam proses penyelesaian masalah (Anderson & McFarlane, 2007).

Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan dapat berupa upaya-upaya preventif dan promotif yang berupa pendidikan kesehatan mengenai masalah kesehatan yang ada dalam keluarga, dalam hal ini terkait masalah gizi kurang pada balita.

Perawat keluarga berperan sebagai edukator dalam memberikan pendidikan dan promosi kesehatan pada keluarga sebagai upaya menyelesaikan masalah gizi

kurang pada balita. Perawat keluarga dapat memberikan informasi kesehatan yang berkelanjutan dan memberikan saran kepada keluarga mencakup komunikasi terkait temuan masalah kesehatan dan cara mengatasinya. Tujuan pendidikan adalah mendukung dan mengubah perilaku tidak sehat, meskipun perubahan perilaku tidak secara langsung terlihat (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Perawat keluarga dapat memberikan bimbingan antisipatif pada keluarga mengenai masalah kesehatan yang bersifat potensial atau fase pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Perawat keluarga dapat berperan sebagai konsultan. Konseling adalah suatu proses untuk membantu keluarga dan anggota keluarganya dalam memperhatikan, menyelesaikan, dan mengatasi masalah dalam keluarga secara benar. Peran perawat sebagai konsultan sering kali memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga. Perawat keluarga juga dapat berperan sebagai koordinator, perawat memastikan bahwa keluarga dapat melakukan duplikasi dari asuhan keperawatan yang telah diberikan (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 25-30)

Dokumen terkait