(Dahar,2006:106) menjelaskan bahwa Peta konsep merupakan suatu pendekatan yang dapat dilaksanakan dan dapat dikembangkan baik oleh pelajar ataupun guru secara sadar dan bebas. Ausubel (Munthe, 2009:17) menjelaskan bahwa :
Concept map sebagai suatu teknik yang telah digunakan secara ekstensif dalam pendidikan. Teknik concept map ini di ilhami oleh teori belajar asimilasi kognitif Ausubel yang mengatakan bahwa belajar bermakna terjadi dengan mudah apabila konsep baru dimasukan ke dalam konsep-konsep yang lebih inklusif, dengan kata lain proses belajar terjadi bila siswa mampu mengasimilasi yang ia miliki dengan pengetahuan yang baru.
Martin (Trianto, 2007:157) menyatakan bahwa:
Peta konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyedikan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Para guru yang telah menggunakan peta konsep menemukan bahwa peta konsep memberi basis logis untuk memutuskan ide-ide utama apa yang akan dimasukkan atau dihapus dari rencana-rencana pembelajaran. Pemetaan yang jelas dapat membantu menghindari miskonsepsi yang dibentuk siswa.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa concept mapping merupakan suatu pembelajaran yang didasarkan pada pembelajaran bermakna dan menggali kemampuan kognitif siswa yang menekankan pada pengetahuan atau konsep-konsep yang dimiliki siswa.
a. Pengertian Konsep dan Peta Konsep (consept mapping)
Djamarah & Zain (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa: Konsep atau pengertian merupakan kondisi utama yang diperlakuan untuk menguasai kemahiran diskriminasi, dan proses kognitif fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objeknya. Carrol (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa : mendefinisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok objek atau kejadian.
Abstrasi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Konsep-konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir, dan dalam belajar. Dengan menguasai konsep, dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan yang tidak terbatas.
Martin,1994 (Trianto 2017: 18) menyatakan bahwa: peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana suatu konsep tunggal dihubungkan ke konsep lain pada kategori yang sama. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Erman (Trianto 2017: 185) mengemukakan bahwa:
ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
1) Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk
memperlihatkan konsep dan proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi IPA, IPS dan Matematika. Dengan mengguakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu bermakna. 2) Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan proporsional antara konsep-konsep. 3) Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep yang lain. 4) Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta onsep tersebut.
Berdasarkan ciri tersebut diatas maka sebaiknya peta konsep disusun secara hierarki, artinya peta konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif. Dalam IPA peta konsep membuat informasi abstrak menjadi konkret dan sangat bermanfaat meningkatkan ingatan suatu onsep pembelajaran, dan menunjukkan pada siswa bahwa pemikiran itu mempunyai bentuk.
b. Karakteristik Peta Konsep
Munthe (2009:18-19) menyebutkan ada beberapa karakteristik terkait teknik mendesain bahan ajar dengan concept tmap yaitu:
1) Biasanya berstruktur hierarkis dengan lebih inklusif. Dalam struktur tersebut, konsep konsep general berada dibagian atas, kemudian diikuti konsep- konsep khusus yang terletak dibagian bawah. 2) Kata-kata yang menghubungkan selalu ada diatas garis-garis yang menghubungkan konsep-konsep. 3) Concept map mengalir dari atas ke bawah halaman. Tanda panah digunakan untuk menunjukan arah hubungan. 4) Sebuah Concept map merupakan representasi atau gambaran pemahaman seseorang tentang sebuah masalah. 5) Kekuatan Concept map berasal dari inter-koneksi antar konsep. 6) Perasaan sesorang mungkin dapat terekspresikan kedalam sebuah concept map.
Menerapkan strategi belajar peta konsep harus memperhatikan karakteristik peta konsep agar dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan teknik yang akan diterapkan.
c. Kegunaan (concept mapping) dalam strategi belajar bermakna
(Muthe, 2009:20) Ada beberapa kegunaan concept map sebagai strategi belajar siswa yaitu:
1) Ia dapat digunakan sebagai sarana belajar dengan membandingkan concept map siswa dan guru. Peta konsep yang telah dibuat siswa menunjukan tingkat penguasaan siswa. 2) Dapat digunakan sebagai cara lain mencatat pelajaran sewaktu belajar, ini adalah cara belajar aktif individual. 3) Ia dapat digunakan juga sebagai alat pembanding peta konsep yang dibuat pada awal dan akhir pembelajaran dikelas. 4) Concept map membantu meningkatkan daya ingat siswa dalam belajar.
Penjelasan tersebut memperjelas bahwa peta konsep mempunyai kegunaan yang tentunya akan membawa dampak positif dalam pembelajaran:
1) Berbagi pemahaman Concept map adalah suatu teknik pendidikan yang penuh kekuatan, Karena baik siswa atau pun guru dapat membuat dan berbagi concept map sehingga tercipta berbagai pemahaman tentang suatu topik. 2) Hubungan Concept map dapat membantu memfasilitasi hubungan yang lebih sepadan antara guru dan siswa
Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa peta konsep dapat digunakan guru dan siswa untuk berbagi pemahaman, meningkatkan kreativitas si pembuat peta konsep, dan meningkatkan hubungan yang baik antara guru dan siswa karena dalam pembuatan peta konsep bimbingan guru sangat dibutuhkan agar peta konsep yang dibuat siswa tidak melewati batas materi yang diajarkan.
d. Strategi Pembelajaran Peta Konsep (concept Mapping)
Masalah merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipecahkan,
sehingga siswa dalam proses pemecahan masalah tentu memerlukan suatu strategi yang teapat. Sulistyono (Trianto 2017: 169) menyatakan bahwa “strategi pembelajaran sebagai tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih efektif dan lebih mudah ditransfer ke dalam situasi yang baru.
Martin (Trianto 2017: 183) berpendapat bahwa: pemetaan konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari
Dahar (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa: peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep dan proposisi suatu bidang studi, apakah itu fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep siswa dapat melihat bidang studi lebih jelas.
e. Manfaat Pembelajaran Peta Konsep (consep mapping)
(Wahidi, 2010: 108) Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep mempunyai banyak manfaat. Ausubel (Wahidi, 2010: 108) menyatakan dengan jaringan konsep yang digambarkan dalam peta konsep, belajar menjadi bermakna karena pengetahuan atau informasi baru dengan pengetahuan terstruktur yang telah dimiliki siswa tersambung sehingga menjadi lebih mudah terserap siswa.
f. Kelebihan dan Kelemahan Strategi Peta Konsep
Kelebihan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep yang dinyatakan
Novak dan Gowin (Anggelia ningrum, 2014:31) adalah sebagai berikut :
1) Bagi Guru: a) Pemetaan konsep dapat menolong guru mengorganisir seperangkat pengalaman belajar secara keseluruhan yang akan disajikan. b) Pemetaan konsep merupakan cara terbaik menghadirkan materi pelajaran. c) Pemetaan konsep menolong guru memilih aturan pengajaran. d) Berdasarkan kerangka kerja yang herarki. e) Membantu guru meningkatkan efisiensi dan efektitifitas pengajarannya. 2) Bagi Peserta didik: a) Pemetaan konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna. b) Dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas berfikir peserta didik. c) Mengembangkan struktur kognitif yang terintegrasi dengan baik yang akan memudahkan dalam belajar. d) Dapat membantu peserta didik melihat makna materi pelajaran secara lebih komperehensif dalam setiap komponen-komponen konsep dan mengenali hubungan.
Kelemahan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep adalah:
a) Perlunya waktu yang cukup lama dalam menyusun peta konsep, sedangkan waktu yang tersedia di kelas sangat terbatas. b) Sulit menentukan konsep-konsep yang terdapat pada materi yang dipelajari. c) Sulit menentukan untuk menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.
g. Pembuatan Peta Konsep
Arends (Trianto, 2017: 187) mengemukakan bahwa: langkah langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut :
1) Mengedentifikasi ide pokok yang melingkupi sejumlah konsep. 2) Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama. 3) Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut. 4) Mengelompokkan ide-ide sekunder disekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan ide-ide tersebut dengan ide utama.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut :
1) Memilih suatu bahan bacaan. 2) Menentukan konsep-konsep yang relevan.
3) Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke paling tidak inklusif. 4) Menyusun konsep-konsep tersebut kedalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan dibagian atas atau di
pusat bagian bagan tersebut.
h. Macam-macam Peta Konsep
Nur (Trianto, 2017: 187) menyatakan bahwa: peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba (spider concept map)
1) Pohon Jaringan (Network tree)
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain yang dituliskan pada garis-garis penghubung antara ide-ide itu. Garis-garis pada peta konsep menunujukkan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkontruksi suatu pohon jaringan, tulislah topic itu dan daftarlah konsep utama yang berkaitan dengan konsep itu. Periksalah daftar dan mulai menempatkan idea tau konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berkaitan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut :
a) Suatu hierarki
b) Prosedur yang bercabang
c) Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
2) Rantai Kejadian (Events Chain)
Nur (Trianto, 2017: 188) mengemukakan bahwa: peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Dalam membuat rantai kejadian,
pertama-tama temukan suatru kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut kejadian awal. Kemudian, temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut:
a) Memberikan tahap-tahap dalam suatu proses b) Langkah-langkah dalam suatu prosedur linear c) Suatu urutan kejadian.
3) Peta Konsep Siklus (Cycle Concept Map)
Nur (Trianto, 2017: 189) mengemukakan bahwa: Peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final. Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Karena tidak ada hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke kejadian awal, siklus itu berulang dengan sendirinya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menjelaskan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinterasi untuk menhasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.
4) Peta Konsep Laba-Laba (Spider Concept Map)
Trianto (2017: 190) Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide sentral sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide, dan ini berkaitan dengan ide sentral itu, namun belum jelas hubungannya satu sama lain. Peta konsep laba-laba cocok dugunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut:
a) Tidak menurut hierarki b) Kategori yang tidak parallel c) Hasil curah pendapat.
i. Langkah-langkah model pembelajaran peta konsep (consept mapping)
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. 3) Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 4) Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya. 5) Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. 6) Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa. 7) Kesimpulan/penutup.
j. Peta Konsep sebagai alat Evaluasi
Trianto (2017: 190) mengemukakan bahwa:
“Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep dapat digunakan untuk mengetahui pengetahuan siswa sebelum guru mengajarkan suatu topic, menolong siswa bagaimana belajar, untuk mengungkapkan konsepsi ialah (miskonsepsi) yang ada pada anak, dan sebagai alat evaluasi.
Sutowijoyo (Trianto, 2017: 191) mengemukakan bahwa: peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan atas tiga prinsip dalam teori kognitif Ausebel. yaitu :
1) Struktur kognitif diatur secara hierarkis dengan konsep dan proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep dan proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. 2) Konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi progresif. Prinsip ini menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinu, dimana konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan dibentuk lebih banyak kaitan-kaitan proposisional.
Jadi, konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. 3) Prinsip penyesuaian integrative menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara segmen-segmen konsep dan proposisi.
Dalam peta konsep, penyesuaian integrative ini deiperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara segmen-segmen konsep.
Peta konsep bertujuan untuk memperjelas pemahaman suatu bacaan, sehingga dapat dipakai sebagai alat evaluasi dengan cara meminta siswa untuk membaca peta konsep dan menjelaskan hubungan antara konsep satu dengan konsep yang lain dalam satu konsep.