• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep dan Pengukuran Pro Poor Growth

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.5 Konsep dan Pengukuran Pro Poor Growth

Konsep Pro poor growth dijelaskan secara implisit oleh World Bank pada tahun 1990 dalam laporannya dengan „broadbased growth’. World Bank mendefinisikan pro-poor growth sebagai perubahan distribusi pendapatan relatif melalui proses pertumbuhan yang berpihak pada kemiskinan. Semenjak tahun 2000an orientasi pembangunan di NSB lebih diarahkan pada pro-poor growth.

Artinya, pertumbuhan ekonomi suatu negara diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan. Tingkat kemiskinan tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi tetapi juga dipengaruhi oleh level dan perubahan ketidakmerataan distribusi pendapatan. Menurut World Bank (2008) terdapat empat metode pengukuran pro poor growth meliputi:

1. Pro poor growth Index (PPGI) dikemukakan oleh Kakwani and Pernia pada tahun 2000.

2. Poverty Bias of Growth (PBG) dikemukakan oleh Kakwani pada tahun 2000.

3. Poverty Growth Curve (PGC) dikemukakan oleh Son pada tahun 2003.

4. Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR) dikemukakan oleh Kakwani, et.

al. pada tahun 2004.

Siregar (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat keharusan (necessary condition) bagi pengurangan kemiskinan, sedangkan syarat kecukupannya (sufficient condition) adalah pertumbuhan ekonomi tersebut harus efektif dalam mengurangi kemiskinan. Artinya, pertumbuhan hendaklah menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk di golongan penduduk miskin (growth with equity).

Menurut Salim (2007), pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan suatu kebijakan yang pro poor yang mempunyai dampak negatif terhadap kemiskinan melalui dampaknya terhadap pertumbuhan dan pemerataan. Efek pertumbuhan adalah efek perubahan secara proporsional pada seluruh level pendapatan sehingga secara relatif distribusi pendapatan tidak berubah. Sedangkan efek distribusi adalah efek dari perubahan dalam distribusi pendapatan relatif yang independen terhadap rata-ratanya. (Bourguignon, 2004)

Gambar 2.2 menunjukkan perubahan tingkat kemiskinan, dimana sumbu x menunjukkan kepadatan distribusi pendapatan yaitu jumlah individu pada tiap level pendapatan dalam skala logaritma. Sumbu y menunjukkan share penduduk pada level pendapatan tertentu terhadap seluruh jumlah penduduk. Diasumsikan pendapatan perkapita penduduk mengikuti distribusi log Normal dan distribusi awal jumlah penduduk miskin adalah area di bawah kurva sebelah kiri garis kemiskinan. Peningkatan pada pendapatan seluruh lapisan masyarakat dengan

distribusi tetap, berarti distribusi pendapatan bergeser ke kanan dan bentuk kurva tetap, sehingga penduduk kategori miskin sebesar daerah yang diarsir gelap dan daerah terang. Efek pertumbuhan menyebabkan jumlah penduduk miskin berkurang sebesar daerah yang diarsir lebih terang, sehingga jumlah orang miskin sekarang sebesar daerah yang diarsir gelap dan daerah terang. Perubahan menjadi distribusi yang lebih merata dengan tingkat pendapatan tetap, berarti distribusi pendapatan semakin menyempit, menyebabkan penduduk yang masuk kategori miskin semakin sedikit (daerah terang). Efek distribusi menyebabkan jumlah penduduk miskin berkurang sebesar daerah yang diarsir gelap, sehingga jumlah orang miskin sekarang sebesar daerah terang.

Gambar 2.2

Perubahan Kemiskinan karena Efek Pertumbuhan dan Efek Distribusi Sumber: Bourguignon (2004)

Peningkatan pendapatan dan perbaikan distribusi pendapatan secara bersama-sama menggeser distribusi pendapatan ke kanan dan mempersempit ketimpangan antar individu. Hal ini mengurangi kemiskinan sebesar daerah diarsir gelap ditambah dengan daerah diarsir lebih terang, sehingga semakin

efektif dalam mengentaskan kemiskinan. Pada kondisi ini maka jumlah orang miskin akan sebesar daerah terang.

Kakwani dan Son (2006) berpendapat bahwa pertumbuhan akan mempengaruhi tingkat kemiskinan tidak hanya melalui pertumbuhan itu sendiri, tetapi juga melalui cara pendistribusian manfaat pertumbuhan diantara penduduk.

Kombinasi antara pertumbuhan dan redistribusi pendapatan dalam porsi yang tepat diperlukan untuk membuat pertumbuhan dapat bermanfaat bagi penduduk miskin sehingga proses pengurangan kemiskinan menjadi optimal.

Dalam literatur, terdapat dua teori yang memberikan definisi tentang pro-poor growth. Pertama, pertumbuhan dapat dianggap pro-kelompok miskin ketika

pengurangan kemiskinan yang terjadi lebih besar dari pengurangan kemiskinan hipotetis (yakni ketika peningkatan pendapatan sama untuk setiap kelompok).

Pendekatan ini diusulkan oleh Kakwani dan Pernia (2000) dan merupakan definisi pengaruh relatif pertumbuhan terhadap tingkat kemiskinan. Lopez (2004) menunjukkan kemungkinan lain dari definisi pertumbuhan pro-poor, yakni ketika pertumbuhan pendapatan di kalangan orang miskin, lebih besar dibandingkan pertumbuhan pendapatan kelompok non-miskin. Teori kedua - pendekatan absolut, mendefinisikan pertumbuhan sebagai pro-kelompok miskin ketika pertumbuhan diikuti oleh pengurangan kemiskinan (Ravallion dan Chen, 2003).

Pro-growth, prinsipnya mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan

menjaga kemungkinan laju inflasi serta menekan tingkat pertumbuhan penduduk.

Sedangkan pro poor adalah pendekatan pembangunan ekonomi ini lebih diarahkan untuk berpihak kepada masyarakat miskin (masyarakat marginal).

Pertumbuhan ekonomi yang berjalan serempak dengan pemerataan merupakan pertumbuhan yang ramah bagi penduduk miskin, disebut pro-poor growth, yakni pertumbuhan ekonomi yang memperluas kesempatan dan kapabilitas penduduk miskin untuk lebih berpartisipasi, dan memperoleh manfaat lebih besar dari aktivitas ekonomi (Kimenyi, 2006). Sebuah pertumbuhan ekonomi belum cukup dikategorikan sebagai pro-poor growth jika hanya menyebabkan menurunnya jumlah penduduk miskin, dengan mengabaikan ketimpangan peningkatan pendapatan. Pertumbuhan ekonomi disebut pro-poor growth jika proporsi peningkatan rata-rata pendapatan kelompok penduduk miskin lebih besar daripada proporsi peningkatan pendapatan kelompok penduduk yang tidak miskin (Kakwani dan Pernia, 2000).

Strategi pro-poor growth secara konseptual memiliki definisi berbeda dengan strategi pro-poor dan pro-growth yang masing-masing berdiri terpisah, meski di dalam strategi pro-poor growth secara implisit juga mengandung unsur pro-poor, pro-growth, pro-job, dan pro-environment. Namun ketika keempat

unsur tersebut tergabung di bawah konsep strategi pro-poor growth, maka melahirkan definisi baru yang berbeda dengan definisi masing-masing unsurnya.

Strategi pro-poor growth juga bukan sekadar hasil penjumlahan dari keempat unsur tersebut. Meski demikian, upaya mencapai pro-poor growth, tidak dapat dilepaskan dari kandungan unsur strategi pembangunan yang pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment, yang masing-masing memiliki kontribusi untuk mewujudkan proporsi peningkatan rata-rata pendapatan kelompok penduduk miskin lebih besar

daripada proporsi peningkatan pendapatan kelompok penduduk yang tidak miskin.

Pertumbuhan ekonomi (pro-growth) harus dapat menciptakan lapangan kerja (pro-job), dan pendapatan yang lebih baik bagi semua golongan masyarakat, terutama penduduk miskin (pro-poor), serta pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan (pro-environment). Melalui strategi tersebut, diharapkan pertumbuhan dan pemerataan mampu berjalan serempak, sehingga pertumbuhan ekonomi melibatkan, menyentuh, dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi semua, termasuk penduduk miskin, sehingga peningkatan pertumbuhan ekonomi pada saat yang sama disertai penurunan jumlah penduduk miskin, dan juga penurunan ketimpangan pendapatan.

Dokumen terkait