BAB II KERANGKA TEORI FUNDAMENTALISME GERAKAN
B. Konsep dan Teori Gerakan Fundamentalisme Islam
Gerakan fundamentalisme dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu fundamentalisme pra-modern dan kontemporer, yang dapat pula disebut neo-fundamentalisme. Fundamentalisme pra-modern muncul disebabkan situasi dan kondisi tertentu di kalangan umat Muslim sendiri. Karena itu, ia lebih genuine dan
inward oriented –berorientasi ke dalam diri kaum Muslim sendiri. Adapun
36
fundamentalisme Islam pra-modern ini berupa gerakan kaum Khawarij yang dikenal sebagai kelompok radikal yang berkembang pada masa Islam klasik. Sedangkan pada pihak lain, fundamentalisme kontemporer bangkit sebagai reaksi terhadap penetrasi sistem dan nilai sosial, politik, budaya, dan ekonomi Barat, baik sebagai akibat kontak langsung dengan Barat maupun melalui pemikir Muslim –seperti kelompok modernis, sekularis, dan westernis- atau rezim
pemerintahan Muslim yang menurut kaum fundamentalis merupakan
perpanjangan mulut dan tangan Barat.37 Di antara fundamentalisme Islam
kontemporer ini tidak lain adalah kelompok al-Qaeda, Taliban, dan ISIS. Mereka melakukan aksi-aksi radikalisme dan terorisme di berbagai negara yang berpenduduk Muslim di seluruh dunia.
Sebenarnya radikalisme terjadi di semua agama di dunia. Setiap agama selalu terdapat kelompok minoritas, militan, ekstrim, dan radikal. Sedangkan dalam Islam, gejala kemunculan radikalisme telah disinyalir semenjak Rasulullah
Saw masih hidup.38 Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
dikisahkan, ketika Rasulullah Saw membagi fa’i atau harta rampasan perang di daerah Tha‟if dan sekitarnya, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Dzul-Khuwaishirah dari Bani Tamim melayangkan protes kepada beliau, “Bersikap adillah, wahai Muhammad!” Nabi Muhammad Saw pun dengan tegas menjawab, “Celaka kamu! Tidak ada orang yang lebih adil dari aku. Karena apa yang kami lakukan berdasarkan petunjuk Allah!”. Setelah Dzul-Khuwaishirah pergi, Nabi Saw bersabda: “Suatu saat nanti akan muncul sekelompok kecil dari umatku yang membaca al-Qur‟an, namun tidak mendapatkan substansinya. Mereka itu
37
Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, h. 111
38
Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan
jeleknya makhluk di dunia ini”. Maka, gelombang umat Islam radikal yang berkembang saat ini memang harus diakui eksistensinya. Mereka sebenarnya terpengaruh pada pola-pola Khawarij di masa periode awal sejarah umat Islam. kelompok umat Islam radikal ini tidak hanya menggelisahkan kalangan non-Muslim, tetapi umat Islam pun bisa terkena dampaknya. Islam sebagai rahmat, sebagai agama harmoni, pun bisa dengan mudah distigmatisasi sebagai agama kekerasan. Mereka itulah yang disebut sebagai fundamentalisme Islam. Gerakan-gerakan Islam fundamentalis yang radikal tersebut muncul dan berkembang di
berbagai belahan dunia.39
Gerakan fundamentalisme di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia Tenggara, umumnya lahir karena ketidakadilan global dan ketidakpuasan atas fenomena politik di masing-masing negaranya. Maraknya aksi terorisme di abad 21 ini telah mewarnai percaturan politik, baik dalam skala nasional maupun Internasional. Gerakan tersebut muncul selain dipengaruhi oleh situasi dalam
negeri, juga dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri negara-negara Barat.40 Seperti
halnya gerakan Islam Fundamentalis dari Timur Tengah (Arab dan Persia), sebagai basis pergerakan Islam yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Barat, sehingga mereka memerangi kepentingan Barat untuk menyelamatkan supplay
minyak bagi keperluan negerinya. 41
Para anggota gerakan itu menilai bahwa sistem politik yang kini diterapkan di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, termasuk di
39
Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan
Fundamentalisme Noe-Liberal, h. 417 40
Wawan H. Purwanto, Terorisme Undercover: Memberantas Terorisme hingga ke
Akar-akarnya, Mungkinkah? (Jakarta: CMB Press, 2007), h. 34 41
Todiruan Dydo, Islam Fundamentalis dan Kegusaran Masyarakat Barat: Percaturan
Indonesia tidak sesuai dengan “syariat Islam,” dan karena itu harus diperjuangkan
untuk diubah agar sejalan dengan ajaran Islam.42 Islam yang secara qath’i
mengajarkan konsep spiritual (ruhaniyah), yang berkaitan dengan akidah, dan hukum-hukum ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan jihad, sehingga siapapun yang mengingkari seluruhnya ataupun hanya sebagian saja, sama artinya
telah “kafir” atau “jahil”.43
Mereka menegaskan bahwa menjadi seorang Muslim
berarti terlibat konflik dengan masyarakat non-Muslim.44 Sehingga bagi mereka
solusinya adalah dengan mendirikan negara Islam dan menerapkan syariat Islam, yang menjadi bagian dari cita-cita perjuangan “gerakan-gerakan” itu. Selain itu, mereka memandang bahwa kebijakan luar negeri negara-negara Barat, yang kini dipimpin Amerika Serikat, khususnya dalam program demokratisasi dan kampanye hak asasi manusia (HAM) yang menerapkan “standar ganda” telah melahirkan ketidakadilan global. Dua konteks inilah yang memberi semangat
jihad bersenjata.45
Fundamentalisme Islam telah menjelma menjadi gerakan politik modern sejak tahun 1920-an. Hal ini dimungkinkan karena Islam sejak awal sejarahnya
telah menjadi agama dunia yang paling politis.46 Pada tahun ini pula, efek
polarisasi fundamentalisme Islam mulai terungkap melalui kecenderungan umum pemerintah-pemerintah di dunia Islam dan Barat, media, dan banyak analis yang menyimpulkan bahwa fundamentalisme Islam secara inheren merupakan suatu
42 Wawan H. Purwanto, Terorisme Undercover, h. 34
43
Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam Politik dan Spiritual (Bogor: Al-Azhar Press, 2007), h. 7, lihat pula: Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Politik Muslim: Wacana
Kekuasaan dan Hegemoni dalam Masayarakat Muslim, Penerjemah: Endi Haryono dan Rahmi
Yunita (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1998), h. 12
44 Husain (Ed.), Matinya Semangat Jihad: Catatan Perjalanan Seorang Islamis (Tangerang Selatan: Pustaka Alvabet, 2008), h. 66
45 Wawan H. Purwanto, Terorisme Undercover, h. 34
46 Ian Adams, Ideologi Politik Mutakhir: Konsep, Ragam, Kritik, dan Masa Depannya, Penerjemah: Ali Noerzaman (Yogyakarta: Qalam, 2004), h.426
ancaman global utama, tanpa memperhatikan keanekaragaman organisasi Islam dan konteks-konteks sosial. Sadar akan kecenderungan Barat yang memandang Islam sebagai ancaman, banyak pemerintah muslim menggunakan bahaya radikalisme Islam sebagai dalih untuk mengendalikan atau menekan
gerakan-gerakan Islam.47
Menurut John L. Esposito, “Fundamentalisme” dan “Terorisme” dalam benak banyak orang dapat saling berkaitan. Stereotip bahwa Islam dan kaum
Muslim merupakan para fundamentalis militan yang senantiasa mengancam.48
Wujud gerakan Islam Fundamentalis yang kaku tersebut sering diartikan sebagai manifestasi masyarakat Islam secara keseluruhan. Kesan negatif ini telah mendorong lahirnya banyak gagasan dari kalangan Barat yang berhaluan pragmatis untuk merekayasa penghancuran Islam sebagai kekuatan politik dan
ideologi.49 Sebagaimana kelompok radikal ISIS yang menjadi „produk bawah
meja‟ Amerika Serikat dan sekutunya, khususnya di Timur Tengah (Arab Saudi, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab) untuk terus mengacaukan Timur Tengah, menebar ketakutan, membangun citra buruk, serta pada akhirnya mengintervensi atas nama “Perang Melawan Terorisme” siapa saja yang tidak bersekutu dengan AS atau membahayakan posisi AS dan sekutunya di regional Timur Tengah. Hal ini berdasarkan pengakuan langsung oleh mantan Menlu AS, Hillary Clinton,
melalui bukunya yang berjudul “Hard Choice”.50
47
John L. Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, h. 192
48
John L. Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, Penerjemah: Alwiyah Abdurrahman dan MISSI (Bandung: Mizan, 1995), h. 193
49
Todiruan Dydo, Islam Fundamentalis dan Kegusaran Masyarakat Barat, h. 7
50 Muhammad Haidar Assad, ISIS: Organisasi Teroris Paling Mengerikan Abad Ini, Jakarta: Zahira, 2014), h.77
Menurut Quintan Wiktorowicz, gerakan fundamentalisme Islam ini imperatif utamanya adalah untuk membentuk sebuah masyarakat yang dapat dikendalikan dan dipandu oleh syariah. Kontrol dan rekonstruksi lembaga-lembaga negara mungkin merupakan suatu sarana efektif untuk mencapai transformasi ini, namun ini hanya salah satu dari banyak jalan untuk perubahan. Dengan kata lain, negara Islam adalah sebuah sarana untuk produksi makna,
bukan merupakan sebuah tujuan akhir dari kelompok ini.51
Wacana jihad dan terorisme dalam kaitannya dengan kecenderungan global saat ini mengarah pada gerakan fundamentalisme Islam. Pengaitan tersebut dimungkinkan ketika gerakan-gerakan Islam internasional dimunculkan sebagai hasil dari konstruk „benturan peradaban‟ (the clash of civilizations) pasca-perang dingin. Terorisme muncul ketika ramalan „benturan peradaban‟ menghendaki adanya „the order’ yang bisa membuat clash ditingkat riil, yang kemudian ditunjukkan dengan sebenar-benarnya dalam „spectale’ tragedi 11 September
2001 di New York.52
Data mutakhir yang dirilis National Consortium for the Study of Terrorism and Responses (START) pada tahun 2013 menunjukkan fakta yang mencengangkan. Lembaga ini mendokumentasikan bahwa telah terjadi 5.100 serangan teroris yang terjadi di seluruh dunia pada paruh pertama tahun 2013. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan 8.500 serangan teroris pada keseluruhan tahun 2012. Fenomena inilah yang kemudian oleh Karen Amstrong disebut sebagai salah satu fenomena yang paling
51
Quintan Wiktorowicz, Gerakan Sosial Islam: Teori Pendekatan dan Studi Kasus, Penerjemah: Tim Penerjemah Paramadina (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012), h. 61
52
Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan
mengejutkan di akhir abad ke-20, yakni munculnya fundamentalisme dalam
tradisi keagamaan dunia.53
Kelompok fundamentalis dan radikal tak hanya ada dalam agama monoteis seperti Islam, Yahudi dan Kristen, tetapi juga terdapat dalam tradisi agama besar lainnya seperti Budha, Hindu dan Kong Hu Cu. Salah satu contoh kecilnya adalah peristiwa bom bunuh diri yang pernah dilakukan oleh pemeluk Hindu di India
untuk membunuh Indira Ghandi.54 Para fundamentalis dan kelompok-kelompok
radikal ini melakukan aksi teror dalam berbagai bentuk seperti membunuh, menembaki jamaah di masjid, melakukan bom bunuh diri, merusak fasilitas publik, hingga yang paling ekstrim adalah menggulingkan pemerintahan yang sah. Problem utama yang dihadapi saat ini adalah bahwa fenomena fundamentalisme dan radikalisme telah menjadi bagian penting dari panggung dunia modern dan
menjadi masalah penting saat ini.55
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gerakan fundamentalisme Islam muncul akibat ketidakadilan global dan ketidakpuasan atas fenomena politik di masing-masing negaranya. Sehingga konsep-konsep gerakan radikal yang mereka garap tidak lain untuk mendirikan Negara Islam dengan sistem yang dipraktikkan pada masa sahabat, yakni Khilafah. Untuk mewujudkan hal tersebut, mereka siap melawan AS sebagai the great satan yang mereka anggap sebagai negara kafir dan negara-negara lain yang berbeda paham dengan mereka. Adapun pembahasan
53 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Draft Blue Print Pencegahan
Terorisme (Pusat Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI,
2014), h. 1
54
Muhamad Hanif Hassan, Pray to Kill (Jakarta: Grafindo, 2006), h. xix
55
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Draft Blue Print Pencegahan
mengenai gambaran umum ideologi gerakan politik ISIS akan dipaparkan secara rinci pada bab selanjutnya.
31