• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Ekonomi Islam

1. Ekonomi Islam

Islam sebagai konsep atau sistem hidup bersifat integratif dan komprehensif (sempurna). Di mana Islam merupakan ajaran yang mengatur kehidupan dalam ruang lingkup akidah, ibadah, dan semua bentuk transaksi, khususnya pada hal yang berkaitan dengan masalah aktivitas ekonomi. Dengan bersumber pada ayat-ayat Qur’an dan Al-Hadist (Abu Bakr Jabir Al-Jabir, 2001)

Ilmu ekonomi Islam adalah teori atau hukum-hukum dasar yang

menjelaskan perilaku-perilaku antar variabel ekonomi dengan

memasukkan unsur norma ataupun tata aturan tertentu (unsur Ilahiah). Oleh karena itu, ekonomi Islam tidak hanya menjelaskan fakta-fakta secara apa adanya, tetapi juga harus menerangkan apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang seharusnya dikesampingkan (dihindari). Adapun tujuan ekonomi Islam itu adalah sebagai berikut:

 Mencari kesenangan akhirat yang diridhai Allah SWT

dengan segala kapital yang diberikan-Nya kepada kita (mengutamakan Ketuhanan).

 Janganlah melalaikan perjuangan nasib di dunia, yaitu mencari rezeki dan hak milik (memperjuangkan kebutuhan hidup duniawi).

 Berbuat baik kepada masyarakat, sebagaiman Allah SWT memberikan kepada kita yang terbaik dan tak terkira (menciptakan kesejahteraan sosial).

 Janganlah mencari kebinasaan di muka bumi ini.

Untuk mencapai atau menjamin berfungsinya sistem moneter secara baik, biasanya otoritas moneter harus melakukan pengawasan pada keseluruhan sistem. Bukan hanya itu, otoritas moneter biasanya mempercayai bahwa uang bukanlah suatu selubung yang sederhana. Sektor moneter merupakan jaringan yang penting dan mempengaruhi sektor ekonomi riil. Jadi kebijakan moneter merupakan instrumen penting dari kebijakan publik dalam sistem ekonomi modern. Hal ini juga benar (berlaku) dalam sistem ekonomi Islam, akan tetapi perbedaan mendasarnya adalah terletak pada tujuan dan larangan bunga dalam Islam. Tujuan-tujuan seperti halnya dengan alat kebijakan moneter juga akan menjadi berbeda. Sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem yang didasarkan pada moral, sementara kapitalisme adalah sistem sekuler dan netral-moral (Muhammad M. Ag, 2002).

Sistem berbasis emas menjamin kestabilan nilai tukar. Kesatuan keuangan untuk semua negara dengan sistem emas atau uang kertas substitusi (uang kertas yang mencerminkan kadar jumlah emas dan perak dalam bentuk uang atau batangan, yang disimpan di tempat tertentu, yang memiliki nilai logam sama dengan nilai nominal yang dimiliki oleh uang kertas tersebut, dan bisa ditukarkan sesuai dengan permintaan) yang secara sempurna bisa dipertukarkan dengan emas pada waktu yang sama. Karena itu, harga tukar antara uang suatu negara dan uang negara menjadi stabil karena terikat dengan emas yang sama nilainya dan sudah dikenal luas. Dinar Islam, misalnya adalah 4,25 gram emas; pound Inggris dengan ketentuan undang-undangnya, yaitu 2 gram emas murni; frank Perancis setara dengan 1 gram emas murni. Dengan demikian harga tukar atau kurs menjadi stabil. Jadi kurs pertukarannya adalah dua dinar Islam dapat ditukar dengan sembilan frank Perancis atau dengan 4,5 pound Inggris. Kurs pertukaran ini akan tetap, karena hakikatnya adalah menukarkan emas dengan emas.

Menarik untuk diperhatikan bahwa selama mata uang dunia masih disandarkan kepada emas, selama itu pula mata uang relatif stabil dan kemungkinan krisis sangat kecil. Ancaman krisis hanya ada dari penyakit yang lain, yaitu bunga. Tidak mengherankan karenanya jika dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi krisis semacam itu. Sebab, sejak zaman Nabi SAW sampai dengan Dinasti Ustmaniyyah, yang jatuh pada tahun 1923, yang namanya uang adalah uang emas atau perak. Uang kertas tidak dikenal sama sekali.

Mata uang yang ada dalam sejarah Islam adalah emas dan perak. Uang kertas yang ada sekarang bukanlah produk peradaban Islam, karena itu wajar bila terjadi krisis dimana-mana. Uang kertas yang ada sekarang adalah legal tender, yaitu janji pemerintah yang menganggap bahwa itu adalah uang. Jika suatu saat hukum menyatakan ia bukan uang, maka yang tertinggal hanyalah tumpukan kertas berwarna yang tidak bernilai apa-apa. Padahal uang adalah alat tukar yang bisa menggantikan posisi barang bila suatu transaksi berhenti di tengah (uang belum sempat ditukarkan lagi dengan barang lain). Jika orang sedang memegangnya lalu datang pengumuman bahwa uang kertas berhenti sebagai alat tukar dan digantikan oleh beras, misalnya, ia hanya memiliki kertas yang tidak bernilai apa-apa. Selain itu, jika demikian itu dilakukan maka pemerintah bertanggung jawab menyediakan beras sekian banyak untuk mengganti uang tersebut.

a. Definisi Ekonomi Islam

Berikut ini merupakan definisi ekonomi dalam Islam yang dikemukakan oleh beberapa ahli:

1). Muhammad Syauki al Fanjari, mendefinisikan bahwa ekonomi Islam adalah segala sesuatu yang mengendalikan dan mengatur aktivitas ekonomi sesuai dengan pokok-pokok Islam dan politik ekonminya. (Heri Sudarsono, 2002:3).

2). MM. Metwally, mendefinisikan bahwa ekonomi Islam adalah sebagai ilmu yang mempelajari perilaku muslim

(yang beriman) dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Al-Qur’an Hadist, Ijma’, dan Qiyas. (P3EI, 2008:3).

3). M. Akram Khan, mendefinisikan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu ekonmi yang bertujuan mempelajari kesejahteraan manusia (falah/welfare) yang dicapai dengan mengorganisir sumber-sumber daya bumi atas dasar kerjasama dan partisipasi. (Ali Sakti, 2007:13). 4). M. N. Siddiqi, Ilmu ekonomi Islam adalah respon para

pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi zaman mereka. Dalam upaya ini mereka dibantu oleh Al-Qur’an dan As-Sunah maupun akal dan pengalaman.

2. Ekonomi Moneter

Ekonomi moneter adalah bagian dari ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari sifat, fungsi, dan peranan serta pengaruh uang terhadap aktivitas perekonomian sebuah negara.

Dengan ekonomi moneter, dapat diketahui secara mendalam

berbagai hal yang berkaitan dengan uang, seperti mekanisme penciptaan uang, peranan uang, pasar uang, tingkat bunga, sistem dan kebijakan moneter, dan hal penting lainnya. Ini sangat penting karena uang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan mempelajari ekonomi moneter, dapat diketahui serta dianalisis berbagai

fenomena dan kebijakan moneter serta dampaknya pada aktivitas ekonomi masyarakat dan negara. Beberapa fenomena moneter tersebut diantaranya adalah bertambahnya jumlah uang beredar, berubahnya tingkat suku bunga, kredit macet, fluktuasi nilai tukar, dan sejenisnya (Nopirin, 2006).

a. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah suatu usaha dalam

mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan.

Kebijakan moneter penting dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mengendalikan jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar memiliki keterkaitan langsung terhadap aktivitas perekonomian, yaitu produksi (output) dan harga. Jumlah uang beredar yang berlebih akan mendorong kenaikan harga sehingga menekan daya beli masyarakat, sedangkan jumlah uang beredar yang terbatas akan menekan atau melesukan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Arah kebijakan didasarkan pada sasaran laju inflasi yang ingin dicapai dengan memperhatikan berbagai

sasaran ekonomi makro lainnya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Angandrowa Gulo dalam tesisnya yang berjudul Analisis Pengaruh Aspek Fiskal dan Moneter Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (2008), menyebutkan bahwa kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

 Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy), adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang edar.

 Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy), adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).

Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi-fungsi bank

sentralnya terhadap bank-bank yang berdasarkan syariah

mempunyai instrumen-instrumen sebagai berikut:

a). Sertikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI), yang sekarang berganti nama menjadi Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).

b). Sertifikat Investasi Mudharabah antar Bank Syariah (SIMA), yang sekarang lebih dikenal dengan Pasar Uang Antar Bank Indonesia (PUAS).

c). Giro Wajib Minimum (GWM).

Achmad Tolihin dalam tesisnya yang berjudul

Implementasi Perbankan Islam: Pengaruh Sosio-Ekonomis dan Peranannya dalam Pembangunan (2003), menyebutkan perbedaan antara instrumen moneter konvensional dengan instrumen moneter syariah, yang tergambar dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2.1

Perbedaan Instrumen Moneter Konvensional dengan Instrumen Moneter Syariah

Bank Konvensional Bank Syariah

Instrumen Moneter 1. Sertifikat Bank Indonesia 1. Sertifikat Bank

(kontrol jumlah uang (SBI) Indonesia Syariah

beredar) (SBIS)

2. Surat Berharga Pasar 2. Pasar Uang Antar

Uang (SBPU) Bank syariah (PUAS)

Sumber: Achmad Tolihin, 2003.

Dokumen terkait