• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DIRI

Dalam dokumen KONSEP DIRI REMAJA VEGETARIAN (Halaman 24-38)

BAB II DASAR TEORI

A. KONSEP DIRI

1. Pengertian Konsep Diri

Konsep diri adalah seluruh pandangan seseorang tentang dirinya. Pandangan itu berasal dari bagaimana seseorang melihat dirinya, bagaimana pemikiran dan pendapat tentang dirinya, bagaimana sikapnya terhadap dirinya (Noesjirwan, 1979). Brooks (dalam Rakhmat, 2000) mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial, dan fisik, dan bukan hanya gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian seseorang tentang dirinya sendiri.

Pengertian konsep diri menurut Hurlock (1990) adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri merupakan gabungan keyakinan yang dimiliki orang langsung dari mereka sendiri yang mencakup karakteristik fisik, psikologis, emosional, aspirasi, dan prestasi.

Konsep diri menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2002) adalah sesuatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti manusia dan sifatnya fenomenologis yang berarti terdapat prinsip dasar bahwa manusia bereaksi terhadap dunia fenomenal seseorang. Aspek yang paling penting yaitu dirinya sendiri sebagaimana diamati, dipersepsikan dan dialami oleh orang tersebut..

Konsep diri ini mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.

Pengertian menurut Santrock (1996), konsep diri merupakan evaluasi terhadap domain yang spesifik dari diri. Konsep diri berbeda dengan rasa percaya diri.

Berdasarkan uraian diatas, maka disimpulkan bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri, sebagaimana diri diamati, dipersepsi, dan dialami oleh orang tersebut.

2. Dimensi-Dimensi Konsep Diri

Menurut Acocella J.R & Calhoun F. J (1993), konsep diri memiliki beberapa aspek, yaitu

a. Aspek Pengetahuan ( Knowledge), adalah dimensi pertama dalam konsep diri yang merupakan dimensi yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya sendiri. Aspek ini memberikan gambaran tentang keadaan diri sendiri (self picture). Gambaran mengenai diri sendiri akan membentuk citra diri (self image). Aspek ini merupakan data yang bersifat objektif. Misalnya jenis kelamin, pekerjaan, suku, kebangsaan.

b. Aspek Harapan ( Expectations), pada saat seseorang mempunyai satu set pandangan tentang siapa dirinya, maka orang tersebut juga mempunyai pandangan lain tentang kemungkinan orang tersebut menjadi apa dimasa yang akan datang (Rogers, dalam

Calhoun&Acocella, 1990). Pandangan ini akan mengakibatkan orang tersebut memiliki pengharapan bagi dirinya sendiri.

c. Aspek Evaluasi (Evaluation), adalah dimensi ketiga dari konsep diri. Setiap hari individu selalu memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri, apakah saya dapat melakukan seperti yang saya harapkan, dan apakah saya dapat memenuhi apa yang menjadi standar saya.

Berzonnsky (1981) menyatakan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian terhadap diri-dirinya, penilaian tersebut terdapat dalam beberapa aspek berikut, yaitu:

a. Aspek fisik, meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya seperti tubuh, pakaian, dan benda miliknya. b. Aspek psikis, di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan sikap

yang dimiliki individu terhadap dirinya sendiri.

c. Aspek sosial, meliputi bagaimana peran sosial yang diperankan individu dan penilaian individu terhadap peranan tersebut.

d. Aspek moral, meliputi nilai dan prinsip yang memberi arti serta arah bagi kehidupan seseorang.

Hurlock (1990) menyatakan bahwa konsep diri seseorang terdiri dari beberapa komponen, antara lain sebagai berikut :

Konsep diri dasar sama dengan konsep diri real, menurut pandangan seseorang tentang suatu atau hal-hal yang benar-benar ada dalam dirinya, mencakup penilaian dirinya, kemampuan dan ketidakmampuan, status, peranan, keyakinan, aspirasi, dan nilai-nilai. Individu memandang dirinya sebagaimana adanya, bukan diri yang diinginkannya.

b. Konsep diri sementara (the trainsitority self concept)

Pandangan seseorang tentang diri yang diharapkan dan diri yang sebenarnya, jadi individu mempunyai gambaran diri yang dia yakini saat ini sifatnya sementara dan akan segera dilepas.

c. Konsep diri sosial ( the social self concept)

Didasarkan pada keyakinan tentang penerimaan orang-orang lain terhadapnya melalui perkataan dan perbuatan biasa disebut “gambaran cermin” (mirror image).

d. Konsep diri ideal (the ideal self concept)

Konsep tentang diri sendiri yang diharapkfan dan diyakini seharusnya terjadi. Konsep diri ideal dapat bersiat realistis dalam arti dapat dicapai secara nyata, namun dapat juga tidak realistis karena apa yang diinginkan tidak akan pernah terjadi dalam kenyataan hidup.

Menurut Fitts (dalam Tarakanita, 2002) konsep diri dapat dipahami dalam 2 dimensi yaitu :

a. Dimensi internal, terdiri dari

• Diri identitas, merupakan kumpulan label dan simbol yang digunakan seseorang untuk menggambarkan dirinya,. Diri identitas ini dapat dipengaruhi oleh cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan dan dengan diri sendiri.

• Diri penilaian, yang mempunyai fungsi mengamati dan menilai, memberikan standar dan memberikan perbandingan terhadap dirinya.

• Diri pelaku, ,merupakan persepsi seseorang terhadap tingkah lakunya atau caranya bertindak.

b. Dimensi eksternal, terdiri dari

• Diri fisik, merupakan persepsi seseorang terhadap keadaan fisik, kesehatan, penampilan dan gerakan motoriknya.

• Diri etik-moral, merupakan persepsi individu tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan nilai – nilai moral dan etika. • Diri personal, merupakan perasaan individu terhadap nilai-nilai

pribadi, terlepas dari keadaan fisik dan hubungannya dengan orang lain dan sejauh mana individu merasa adekuat sebagai pribadi

• Diri keluarga, merupakan perasaan dan harga diri individu sebagai anggota keluarga dan teman-teman dekatnya.

• Diri sosial, merupakan penilaian individu terhadap dirinya dalam interaksi dengan orang lain dalam lingkungan yang lebih luas. • Diri akademi/ kerja, merupakan penilaian yang berkaitan dengan

penilaian ketrampilan dan prestasi akademik.

Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti cenderung menggunakan teori tentang dimensi-dimensi konsep diri menurut Acocella J.R & Calhoun F. J, dengan pertimbangan dimensi-dimensi tersebut dianggap cukup mewakili beberapa pendapat dari beberapa ahli.

3. Proses Terbentuknya Konsep Diri & Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Konsep Diri

Menurut Symonds (dalam Partosuwido, 1979), konsep diri bukanlah terjadi dengan sendirinya, tetapi terbentuk sejak kemampuan perspektif anak mulai berfungsi. Melalui proses pengalaman belajar terus menerus terhadap diri sendiri, kemudian berkembang pula atas dasar nilai-nilai yang dipelajari dari interaksi sosial dengan orang lain.

Konsep diri bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan dalam perkembangannya konsep diri merupakan hasil dari proses belajar dan berinteraksi. Gunarsa dan Gunarsa (1986) mengatakan bahwa pada dasarnya konsep diri itu tersusun atas tahapan-tahapan yaitu :

a. Konsep diri primer

Konsep diri primer terbentuk atas dasar pengalaman seseorang terhadap lingkungan terdekatnya yaitu lingkungan rumahnya sendiri.

Pengalaman-pengalaman yang berbeda yang ia terima melalui anggota rumah dari orang tua, paman, nenek atau anggota rumah yang lain. Konsep tentang bagaimana dirinya banyak bermula dari perbandingan antara dirinya dengan saudara yang lain, sedangkan konsep terntang bagaimana aspirasi ataupun tanggung jawabnya dalam kehidupan ini banyak ditentukan atas dasar pendidikan ataupun tekanan-tekanan yang datang dari orangtuanya.

b. Konsep diri sekunder

Setelah bertambah besar, ia akan mempunyai hubungan yang lebih luas dari pada sekedar hubungan dalam lingkungan keluarganya, ia mempunyai banyak teman, lebih banyak kenalan sehingga ia lebih banyak pengalaman. Akhirnya anak akan mempunyai sikap diri yang baru yang berbeda dengan apa yang sudah terbentuk dari rumah. Terbentuknya konsep diri sekunder ini banyak ditentukan oleh konsep diri primer yang sudah terbentuk, dan orang akan cenderung memilih teman yang sesuai dengan konsep diri sebelumnya yang sudah terbentuk. Dengan demikian konsep diri bukanlah faktor keturunan atau sifat bawaan sejak lahir, namun merupakan faktor-faktor yang dipelajari dan terbentuk dari interaksi individu dengan individu lainnya. Pertama dengan lingkungan keluarganya lalu melalui hubungan individu dengan lingkungan yang lebih luas. Menurut Argyyle (dalam Soenarji, 1988) terdapat empat faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri, yaitu :

• Reaksi orang lain

Reaksi yang tidak biasa dari seseorang akan mempengaruhi dan dapat mengubah konsep diri, apabila reaksi ini muncul dari orang lain yang memiliki arti bagi individu maka reaksi ini dapat mempengaruhi perkembangannya.

• Pembandingan dengan orang lain

Konsep diri sangat tergantung kepada bagaimana cara orang tersebut membandingkan dirinya dengan orang lain. • Peranan seseorang

Setiap orang memainkan peran yang berbeda-beda, didalam setiap peran tersebut individu diharapkan akan melakukan perbuatan dengan cara-cara tertentu.

• Identifikasi terhadap orang lain

Anak-anak khususnya mengagumi orang dewasa, mereka seringkali mencoba menjadi pengikut orang dewasa antara lain dengan meniru keyakinan, nilai, dan perbuatan mereka. Proses ini menyebabkan anak merasa mereka memiliki beberapa sifat dari orang yang dikaguminya. Model tersebut biasanya mereka ambil dari keluarga (orang tua, saudara, kerabat), lingkungan (guru, pemuka agama), kelompok sebaya mereka.

4. Penggolongan konsep Diri & Ciri-Cirinya a. Konsep diri positif

Konsep diri positif diartikan sebagai evaluasi diri positif, penghargaan diri yang positif. Pengetahuan yang luas dan beragam tentang diri sendiri, harapan yang masuk akal serta harga diri yang tinggi. (Burns, dalam Limbong, 2002).

Konsep diri positif menurut William (dalam Rakhmat, 2000) adalah orang yang yakin akan kemampuannya dalam mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengemukakan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Konsep diri positif menurut Hamachek (dalam Rakhmat, 2000) adalah orang yang betul-betul meyakini nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya walaupun menghadapai tantangan, berani mengubah prinsip bila ternyata pengalaman dan bukti-buktinya ternyata salah, mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik, tidak terlalu cemas akan apa yang akan terjadi hari esok, masa lalu, dan sekarang. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, menerima diri apa adanya dan mampu menikmati

hidup secara utuh dalam berbagai kegiatan seperti, pekerjaan, permainan, maupun persahabatan.

Berdasarkan paparan diatas maka peneliti menarik kesimpulan bahwa orang yang memiliki konsep diri positif adalah orang yang meyakini nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya serta mampu mengatasi tantangan dan persoalan yang dihadapinya.

b. Konsep diri negatif

Konsep diri yang negatif sama dengan evaluasi diri yang negatif , rasa tidak suka terhadap diri, kurang menghargai dirinya, pengetahuan yang tidak tepat, harapan yang salah dan harga diri yang rendah (Burns, dalam Limbong, 2002). Orang yang memiliki konsep diri negatif peka terhadap kritik dan responsif terhadap pujuan, penghargaan terhadap dirinya, merasa tidak diperhatikan, tidak disenangi dan pesimis terhadap kompetisi.

Orang yang memiliki konsep diri negatif mempunyai pengetahuan yang tidak tepat tentang dirinya sendiri, pengharapan yang tidak realistis dan harga diri yang rendah. Biasanya hal ini menghambat lancarnya hubungan sosialyang dilakukan dengan orang lain. Anggapan bahwa orang lain tidak suka akan dirinya , peka terhadap keritik dan pesimis terhadap kehidupan

menyebabkan ia enggan menjalin hubungan dengan orang lain (Calhoun & Acocella, 1990).

Menurut Fitts (dalam Partosuwido, 1979) ciri-ciri individu yang memiliki konsep diri rendah adalah tidak menyukai dan menghormati diri sendiri, memiliki gambaran yang tidak pasti terhadap dirinya, sulit mendefinisikan diri sendiri dan mudah terpengaruh dari luar, tidak mempumyai pertahanan psikologis yang membantu menjaga tingkat harga dirinya. Merasa asing dan aneh terhadap diri sehingga sulit bergaul, mengalami kecemasan negatif dan tidak mampu mengambil manfaat dari pengalaman tersebut.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang memiliki konsep diri negatif adalah orang yang mempunyai gambaran dan pengetahuan yang tidak tepat mengenai dirinya sehingga ia menjadi tidak suka dan tidak menghormati dirinya.

B. REMAJA

1. Pengertian Remaja

Remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial. Perubahan biologis, kognitif dan sosial yang terjadi meliputi perkembangan

fungsi seksual, proses berfikir abstrak sampai dengan kemandirian (Santrock, 1996).

Berdasarkan teori Erikson remaja berada pada tahap perkembangan ke lima yaitu identitas VS kekacauan identitas,pada tahap ini individu dihadapkan pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan kemana sebenarnya mereka akan menuju dalam hidupnya. Remaja dihadapkan akan banyak peran baru dalam hidupnya (Santrock,1996).

Menurut Rifai (1984), masa remaja merupakan taraf perkembangan dalam kehidupan manusia, dimana mereka sudah tidak dapat lagi disebut anak kecil namun belum dapat disebut orang dewasa, disebut juga masa psysiological learning dan social learning , hal ini berarti bahwa pada masa ini individu sedang mengalami suatu pematangan fisik dan pematangan sosial. Kedua hal ini serempak terjadi pada waktu bersamaan.

2. Usia Masa Remaja

Secara umum masa remaja dibagi menjadi dua bagian yaitu awal masa dan akhir masa remaja. Masa remaja awal (early adolescence) kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama, dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas. Masa remaja akhir (late adolescence) menunjuk kira-kira setelah usia 15 tahun, minat pada karir, pacaran dan eksplorasi diri menjadi lebih nyata pada masa ini.

Subjek penelitian adalah remaja berusia 15 tahun, jadi termasuk dalam golongan masa remaja awal.

3. Tugas Perkembangan Masa Remaja

Tugas – tugas perkembangan remaja menurut Havighurst ( Hurlock, 1980) • Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman

sebaya

• baik pria maupun wanita • Mencapai peran sosial

• Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif

• Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab

• Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya

• Mempersiapkan karir ekonomi

• Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

• Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ideologi.

4. Konsep Diri Remaja

Perkembangan masa remaja sangat dipengaruhi oleh konteks dimana mereka berada. Latar belakang lingkungan, sosio kultural masyarakat sekitar maupun latar belakang keluraga akan ikun memberikan corak dan arah proses perkembangan maupun proses pembentukan identitas remaja yang bersangkutan (Steinberg, dalam Purwadi . 2004).

Menurut Hurlock(1980) konsep diri remaja dipengaruhi oleh beberapa kondisi, yaitu:

• Usia kematangan, remaja yang matang lebih awal akan diperlakukan hampir seperti orang dewasa, sehingga mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik. • Penampilan diri, perbedaan fisisk mengakibatkan remaja memiliki

perbedaan dalam konsep diri.

• Kepatutan seks, dalam penampilan diri, minat dan perilaku membantu remaja dalam mencapai konsep diri yang baik,

• Nama dan julukan, remaja peka dan merasa malu bila teman sekelompok memberikan nama dan julukan yang bernada cemooh.

• Hubungan keluarga, remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan dirinya dengan orang tersebut.

• Teman-teman sebaya, keberadaan teman-teman sebaya mempengaruh kepribadian remaja dalam dua cara yaitu,

• Konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang dirinya

• Ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompoknya

• Kreatifitas, remaja yang masa kanak-kanak didorong agar lebih kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademis, mengembangkan

persaan individualitas dan identitas yang berpengaruh baik dalam pembentukan konsep dirinya.

• Cita-cita, bila remaja punya cita-cita yang tidak realistik, ia akan mengalami kegagalan, hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana ia akan menyalahkan orang lain atas kegagalannya.

Selain kondisi-kondisi diatas, stereotipe yang populer juga mempengaruhi. Sangat mudah menempelkan stereotipe tertentu pada seseorang, termasuk golongan tertentu, stereotipe adalah suatu kategori umum yang merefleksikan kesan dan keyakinan kita tentang manusia, semua stereotipe merujuk pada citra tentang seperti apa anggota dari kelompok tertentu( Santrock, 1996). Banyak stereotipe tentang remaja, menurut Daniel Offer (Santrock, 1996) remaja digambarkan sebagai orang yang mudah tertekan dan terganggu, mereka memasuki masa dewasa dengan integrasi dari pengalaman sebelumnya.

C. VEGETARIAN

Dalam dokumen KONSEP DIRI REMAJA VEGETARIAN (Halaman 24-38)

Dokumen terkait