• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) SMPN 1 Tanara

PENGETAHUAN NILAI HARIAN (ULANGAN,

C. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran

3. Konsep dir

Peserta didik kelas XI-A SMPN 1 Tanara sudah memiliki karakteristik ranah afektif pada aspek konsep diri. Hal ini dapat dilihat dari indikator mengenai dengan aspek konsep diri peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai berikut.

1. Percaya diri :

a. Lebih banyak berbuat baik dari pada berbuat jahat b. Melihat orang lain sukses tidak iri

c. Tetap belajar di sekolah dan di rumah walaupun tidak ada guru

2. Mengalami kemudahan atau kesukaran dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam:

a. mengetahui kelemahan diri sendiri

b. mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru 3. Belajar dengan diri sendiri:

a. berusaha berprestasi menunjukkan yang terbaik

b. membuat rangkuman sendiri dalam mata pelajaran PAI 4. Strategi belajar untuk kesusksesan

a. membuat strategi belajar sendiri

b. belajar mandiri atau harus dengan tutor/teman

Dengan indikator tersebut, dapat diketahui para siswa mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam sudah memiliki motivasi internal dan eksternal. Sebagian besar para peserta didik menyukai dan senang dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam ini karena metode yang digunakan guru menarik, selalu ada hal baru yang disampaikan oleh guru, selalu memotivasi siswa untuk dapat belajar mandiri dan meningkatkan prestasi belajar serta

berakhlak yang baik. Sehingga ini dalam aspek konsep diri sudah menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa yang menunjukkan perilaku tertentu yang terkandung di dalam ranah afektifnya. Sdan dapat disimpulkan perspektif hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada ranah afektif sudah menunjukkan dan menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa pada karakteristik afektif dalam aspek konsep diri.

4. Nilai

Peserta didik kelas XI-A SMPN 1 Tanara sudah memiliki karakteristik ranah afektif pada aspek nilai. Hal ini dapat dilihat dari indikator mengenai dengan aspek nilai peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai berikut.

a. Berkeyakinan prestasi belajar dapat ditingkatkan

b. Berkeyakinan bahwa kinerja guru sebagai pendidik sudah maksimal

c. Berkeyakinan bahwa hasil yang telah diperoleh saat ini adalah hasil kerja keras sendiri.

d. Belajar, berdoa dan bertawakal kepada allah e. Sikap dan perilaku ketika menghadapi musibah f. Bersaing secara sehat dalam belajar

g. Bekerja sama dalam kebaikan.

Dengan indikator tersebut, dapat diketahui para peserta didik mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam sudah memiliki motivasi internal dan eksternal. Sebagian besar para peserta didik mempunyai keyakinan tersebut karena guru Pendidikan Agama Islam selalu memotivasi siswa untuk dapat belajar mandiri dan meningkatkan prestasi belajar serta berakhlak yang baik. Sehingga ini dalam aspek nilai sudah menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa yang menunjukkan perilaku tertentu (sesuai dengan indikator aspek nilai) yang terkandung di dalam ranah afektifnya. Dan dapat disimpulkan perspektif hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada ranah afektif sudah menunjukkan dan menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa pada karakteristik afektif dalam aspek nilai.

5. Moral

Peserta didik kelas XI-A SMPN 1 Tanara sudah memiliki karakteristik ranah afektif pada aspek moral. Hal ini dapat dilihat dari indikator mengenai dengan aspek moral peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai berikut.

a. Komitmen dalam memegang janji

b. Membantu ketika orang lain sedang mengalami kesulitan c. Tegur sapa ketika bertemu teman

d. Memberikan salam ketika bertemu dengan guru

Dengan indikator tersebut, dapat diketahui bahwa para peserta didik mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam sudah memiliki motivasi internal dan eksternal. Sebagian besar para peserta didik mempunyai keyakinan tersebut karena guru Pendidikan Agama Islam selalu menjadi tauladan dalam aspek moral, selalu memotivasi siswa untuk dapat belajar mandiri dan meningkatkan prestasi belajar serta berakhlak yang baik. Jadi guru Pendidikan Agama Islam berprestasi ini tidak hanya menghimbau dan menasihati peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan indikator moral, melainkan ia memberi contoh terlebih dahulu sehingga peserta didik meniru dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan demikian, dalam aspek moral sudah menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa yang menunjukkan perilaku tertentu (sesuai dengan

indikator aspek moral) yang terkandung di dalam ranah afektifnya. Dan dapat disimpulkan perspektif hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada ranah afektif sudah menunjukkan dan menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa pada karakteristik afektif dalam aspek moral.

Dengan demikian, apabila hasil belajar Pendidikan Agama Islam ranah afektif tidak dilaksanakan akan berakibat yang cukup serius , sebagaimana terjadinya dekadensi moral para remaja, seperti tawuran, narkoba, pergaulan bebas, bahkan sampai pada tindak kriminalitas. Namun, pada sekolah ini hasil belajar afektif sudah menunjukkan dan menggambarkan hasil belajar yang tinggi dengan terjadinya perubahan psikomotorik siswa sehingga sikap siswa sesuai dengan perbuatan dan perilakunya. Dengan demikian, untuk ke depan guru harus memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi untuk melakukan penilaian dengan baik, hal ini akan memperkuat kognitif dan afektif siswa.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Guru Pendidikan Agama Islam berprestasi ini melakukan evaluasi hasil belajar tidak berjenjang sesuai hirarki yang telah dijelaskan oleh konsep Bloom dan para koleganya dalam taksonomi proses belajar yang harus berjenjang mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks. Hal yang dilakukan oleh guru berprestasi ini sejalan dengan konsep dari L.Dee Fink, Ph.D dalam tulisannya yang berjudul A Self-Directed

Guide to Designing Courses for Significant Learning bahwa pada saat ini (sekarang)

sebuah taksonomi tidak dan bukan lagi dalam jenjang hirarki, melainkan yang agak rasional dan interaktif.

Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama Islam yang bertugas di SMPN 1 Tanara menurut data dari Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 197 tahun 2014 Tentang Penetapan Penerimaan Penghargaan Apresisasi Pendidikan Islam Tahun 2014 bahwa ia sudah siap dengan sistem penilaian afektif dalam kurikulum 2013. Namun, sekolah tersebut belum menggunakan kurikulum 2013 karena kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang.

Dalam praktiknya guru Pendidikan Agama Islam ini melakukan proses penilaian ranah afektif dengan baik. Dengan demikian dapat dikatakan guru PAI berprestasi ini memiliki kompetensi yang tinggi dalam evaluasi hasil belajar, dan sudah sepenuhnya menerapkan sistem evaluasi ranah afektif. Demikian juga, para peserta didik SMPN 1 Tanara memiliki motivasi yang cukup tinggi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada ranah afektif sudah menunjukkan dan menggambarkan hasil belajar psikomotorik siswa.

B. Saran-saran

Hal-hal yang dipeneliti sarankan adalah sebagai berikut. 1. Bagi siswa

Siswa-siswi SMPN 1 Tanara diharapkan lebih meningkatkan kesadaran hasil belajar afektif untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

2. Bagi Orang Tua

Agar dapat menjadi teladan akhlak terpuji sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam bagi putra – putrinya.

3. Bagi Guru

Agar lebih meningkatkan dalam pengembangan instrumen afektif. 4. Bagi dinas pendidikan

Agar segera mengimplementasikan kurikulum yang lebih menonjolkan sisi afektif.

Adiningsing, C. (2004). Pembelajaran Moral Berpijak pada Karakteristik Siswa dan

Budayanya. Jakarta: Rineka Cipta.

Ali, M & Asrori, M. (2011). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Ali, Muhammad. (1989). Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru. cet. 2

Anas, Zulkifli. (2014). Hitam Putih Kurikullum 2013. Jakarta: AMP Press & Pustaka Bina Putra.

Anderson, Lorin W. (1981). Assessing Affective Characteristic in the Schools. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Anderson, Lorin. W & Krathwohl, David. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational

Objective.Longman: Pearson Education.

Anderson, Lorin. W & Krathwohl, David. R. (2015). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom

(Prihantoro, Agung,. Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arifin, M. (2009). Ilmu Pendidikan Islam; Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan

Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara.

Arifin, Zaenal. (2011). Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, dan Prosedur. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi, saprudin, A.J.C. (2004). Evaluasi Program Pendidikan:

Pedoman Teoritis Praktis bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 19 April 2016. Rekomendasi BSNP

Tentang Perbaikan Kurikulum 2016. Jakarta.

Bloom, Benjamin. S. (1956). Taxonomy of Educational Objective, The Classification

of Educational Objective, Handbook 1: Cognitive Domain. New York: David

McKay Company.

BNSP. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Belajar Agama dan Akhlak Mulia. Jakarta.

Bodgan, R. & Biklen, S. K. (1982). Qualitative Research for Education: an

Introduction to Theory ang Methods. Boston: Allyn and Bacon. Inc.

Bugin, B. (2007). Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan

Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Cartono & Sutarto, Toto. (2006). Penilaian Hasil Belajar Berbasis Standar. Bandung: Prisma Proses Prodaktama.

Creswell, J. W. (1988). Research Design : Qualitative Quantitative and Mixed

Methods Approaches. California: SAGE Publication.

Daradjat, Zakiah. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Darmadi, Hamid. (2009). Kemampuan Dasar Mengajar (Landasan dan Konsep

Implementasi). Bandung: Alfabeta.

Darmadji, Ahmad. (2011). Urgensi Ranah Afektif dalam Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. UNISIA Januari (2011), h. 1-12.

Daryanto, H. (2008). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Deswita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya. Dimyati & Mujiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Asdi Maha Satya. Direktorat Pembinaan SMA. (2010). 30 Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian

Afektif. Jakarta : Direktorat Pendidikan dan Kebudayaan.

Djaali & Mulyono, Pudji. (2008). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Drever, James.. (1986). Kamus Psikologi. Jakarta: Bina Aksara.

Fink, L. D. (2004). A Self-Directed Guide to Designing Courses for Significant Learning.

https://www.deefinkandassociates.com/GuidetoCourseDesignAug05.pdf. Diakses 3 Juni 2016.

Gunarsa & Dirga, Singgih. (1993). Pengantar Psikologi. Jakarta: Mutiara.

Gunawan, Imam. (2013). Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamalik, Umar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Huitt, W. (2011). Motivation to learn: An overview. Educational Psychology

Interactive. Valdosta, GA: Valdosta State University.

http://www.edpsycinteractive.org/topics/motivation/motivate.html. Diakses 1 Juni 2016.

Ismail, Fajri. (2013). Inovasi Evaluasi Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (Model- model Penilaian Berbasis Afektif). Ta’dib, Vol. XVIII, No. 2, November 2013, h. 228-259.

Isnaini, Muhammad. (2015). Pendidikan Sebagai Penentu Kualitas Bangsa. Sumsel

Kemenag. Diakses tanggal 16 Juni 2015 dari:

Kartono, Kartini & Daliguo. (1987). Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.

KEMENDIKBUD. (2014). Model Penilaian Pencapaian Kompetensi Peserta Didik

Sekolah Menengah Pertama. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan

Menengah.

KEMENDIKBUD. (2015). Panduan Penilaian untuk Sekolah Menengah Pertama

(SMP). Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja

Guru (PK Guru). Jakarta. bermutuprofesi.org

Kohlberg, Lawrence. (1985). Tahap-tahap Perkembangan Moral, Terj. John de Santo dan Agus cremers. Yogyakarta: Kanisius.

Krathwohl, D.R., A Revesion of Bloom’s Taxosonomy, an Overview (electronic

Version), (Theory into practice: Autumm, 2002), No. 4, pp.212-218 .

Krathwohl, David. R., Bloom, Benjamin. S., & B, Marsia Bertram. (1980). Taxonomy

of Educational Objective: Book 2 Affektive Domain. New York: Longman.

Kunandar. (2015). Penilaian Autentik. Jakarta: Rajawali Pers. Kurikulum SMPN 1 Tanara Tahun Pelajaran 2015/2016 Dokumen 1

Lincoln, Y. S. Dan Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. London: SAGE Publication.

Maemunah, Mumun. (2015). Evaluasi Ranah Afektif PAI di SMP Bakti Mulya 400

Jakarta (Tidak diterbitkan Tesis). UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Mahmud. (2010). Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Majid, Abdul. (2014). Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: interes Media.

Mantau, Burhanudin AK. (2009). Pengukuran Ranah Afektif Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Penilaian Berbasis Kelas. Jurnal Pelangi Ilmu,

vol 2 No. 5, Mei 2009, h. 115-128.

Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogjakarta: Kanisius.

Miles & Huberman. (1984). Qualitative Data Analysis; A Source Book of New

Methods. California: SAGE Publication.

Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhaimin & Mujib, Abdul. (1993). Pemikiran Pendidikan Agama Islam, Kajian

Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.

Mulyana, Deddy. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Mansur. (2008). KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan : Pedoman bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Dewan

Sekolah dan Guru. Jakarta: Bumi Aksara.

Nata, Abudin. (1997). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Nata, Abudin. (2005). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. Nata, Abudin. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group.

Nizar, Samsul. (2002). Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan

Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.

Peraturan Menteri Pendidikan No. 160 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013.

Peraturan Pemerintah NO. 32 Tahun 2013 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

Permendikbud No. 53 Tahun 2015 Tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Permendikbud No. 66 Tahun 2013 Tentang Atandar Penilaian Pendidikan. Salinan 04 B.

Purwadarminto. (1996). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Bina Aksara.

Purwani, Lilik Endang. (2013). Panduan Memahami Kurikulum 2013 (Sebuah Inovasi

Struktur Kurikulum Penunjang Masa Depan). Jakarta: Prestasi Pustaka.

Purwanto, Ngalim. (2009). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Remaja pelaku seks bebas meningkat. (2014, 12 Agustus). Diakses dari: http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1761

Saefudin, A.M. et al. (1991). Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan.

Sahertian, Piet. A. (1994). Profit Pendidik Profesional. Yogyakarta : Andi Offset. Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. .

Saudagar, Fachruddin & Idrus, Ali. (2011). Pengembangan Prefesionalitas Guru. Jakarta: Gaung Persada Press.

Savic, Marko & Kashef, Mohamad. (2013). Learning Outcomes in affective Domain within Contemporary architectural Curricula. International journal Technologi Education. Springer 2 March 2013.

Sax, Gilbert. (1980). Principle of Educational Measurement and Evaluation. California: Wadsworth Publishing Company.

Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-

Quran. Jakarta: Lentera Hati.

Simpson, E. (1972). The classification of educational objectives in the psychomotor

domain: The psychomotor domain. Vol. 3. Washington, DC: Gryphon House

Sofyan, Ahmad. (2015). PAN dan PAK (Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Kriteria). Pengembangan evaluasi PAI. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 8 Desember 2015.

Sudaryono. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sudijono, Anas. (2011). Pengantar Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Sudjana, Nana. (2002). Dasar - dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar

Baru Algensindo.

Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet ke-14.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Summers, Edwar G. ‘Instrument for Assesing reading Attitudes a Review of research and Bibliography’. Journal of Literacy Research. 1977, 9: 137, h, 139, diakses tanggal 23 Februari 2016 dari http://jlr.sagepup.com/

Supranata,Sumarna. (2005). Panduan Penulisan Tes Tertulis Implementasi Kurikulum

2004. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Supriadi, Gito. (2007). Kemampuan Guru dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam di Madrasah tsanawiyah Se-kota Palangkaraya.

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Volume 4 nomor 1 Juni 2007. H. 103-

125.

Taher, M. (2013). Implementasi Penilaian Sikap Pada Pembelajaran Kurikulum

2013. Medan: Balai Diklat Keagamaan 2013. Diakses dari:

http://sumut.kemenag.go.id/file/file/TULISANPENGAJAR/nobs1404714717.p df

Taras, Maddalena. ‘Summative and Formative: Some Theoretical Reflections’, British

Journal of Educatioal Studies, Vol. 53, No. 4, Dec 2005, pp 466-478, Published

by Taylor & Francis. Sumber http://www.jstor.org/stable/3699279, diakses tanggal 26 Maret 2015 pukul 07:57 WIB.

Thoha, M. Chabib. (2001). Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tohirin. (2008). Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tumanggor, Rusmin. (2007). Pembuatan Proposal Penelitian. Makalah disampaikan pada Orientasi Pelatihan Penelitian Tingkat Lanjutan Bagi Dosen, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 9-10 Agustus 2007.

Tyler, R.W. (1950). Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago: The University of Chicago Press.

Undang-undang NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Uno, Hamzah B. (2013). Assesment pembelajaran: salah satu bagian penting dari pelaksanaan pembelajaran yang tidak dapat diabaikan adalah pelaksanaan

penilaian. Jakarta: Bumi Aksara.

Uno, Hamzah B. dkk. (2001). Pengembangan Instrumen Pendidikan. Jakarta: Delima Press.

Wahyudin, Uyu. (2006). Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press. Wandt, Edwin & Brown, Gerald Wayne. (1957). Essentials of Education Evaluation.

Holt: Universitas Michigan.

Wiersma, William & Jurs, Stephen G. (1985). Educational measurement and testing. Allyn and Bacon.

Dokumen terkait