KAJIAN TEOR
C. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran
3. Konsep Dir
Konsep diri merupakan sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentag dirinya, termasuk sikap, perasaaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
Sementara Mahmud (2014: 365) berpendapat bahwa “konsep diri merupakan eksekutif kepribadian mengontrol tindakan dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar. Konsep diri dibangun berdasarkan pandangan orang yang bersangkutan dan pandangan orang lain.”
Kaitannya dengan PAI, konsep diri berhubungan dengan bagaimana siswa memandang diri mereka, baik sebagai siswa maupun orang yang beragam sehingga akan sangat berpengaruh dalam menempatkan diri atau berperilaku. Penilaian konsep diri ini dapat dilakukan dengan penilaian diri. Dengan demikian konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya dan sebagainya.
4. Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan atau perilaku yang dianggap baik dan buruk. Bila sikap mengacu kepada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, maka nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide, atau kadang juga berupa sikap dan perilaku (Darmadji: 2011, 9). Arah nilai dapat positif dan negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. Dalam pendidikan agama nilai harus dikembangkan karena meliputi nilai-nilai universal, seperti kejujuran, integritas, keadilan, kebebasan maupun nilai-nilai keislaman seperti nilai susila dan pergaulan (Darmadji: 2011, 9). Oleh karenanya satuan pendidikan harus mambantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi kontribusi positif terhadap masyarakat.
5. Moral
Istilah moral berasal dari kata mores artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan (Gunarsa: 2013, 7). Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Pelaku moral diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan (Asrori: 2011, 13).
Seringkali moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, atau melukai orang laik baik secara fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, seperti keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala (Darmadji, 2011: 9). Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang. Sejumlah indikator moral antara lain; memegang janji, memiliki kepedulian terhadap orang lain, menunjukkan komitmen terhadap tugas-tugas, memiliki kejujuran dan integritas, dan lain-lain. Sementara contoh pernyataan untuk instrumen moral antara lain; bila saya berjanji pada teman, tidak harus menepati; bila berjanji kepada orang yang lebih tua, saya berusaha menepatinya. Wujud instrumen yang sering digunakan dalam penilaian tipe afektif di atas, antara lain kuesioner dalam bentuk skala, khususnya untuk sikap minat maupun nilai (Darmadji, 2011: 10).
.
H. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Ranah Afektif
Penilaian kompetensi sikap/afektif dalam pembelajaran PAI merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur sikap peserta didik sebagai hasil dari suatu program pembelajaran. Penilaian sikap juga merupakan aplikasi suatu standar atau sistem pengambilan keputusan terhadap sikap. Kegunaan utama penilaian sikap sebagai bagian dari pembelajaran adalah refleksi (cerminan) pemahaman dan kemajuan sikap peserta didik secara individual.
Dalam penilaian afektif terdapat komponen-komponen penilaian afektif yang harus dilaksanakan guru dan sudah seharusnya sesuai dengan apa yang tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan, sehingga guru dalam penilaian afektif harus meliputi:
1. Memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,
2. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya,
3. Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan,
4. Menganalisis sikap positif terhadap penegakan hukum, peradilan nasional, dan tindakan anti korupsi,
5. Mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual,
6. Menunjukkan sikap toleran dan empati terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat setempat dalam kaitannya dengan budaya nasional,
7. Menunjukkan sikap peduli terhadap bahasa dan dialek, dan
8. Menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek (Lampiran Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan) (Direktorat Pembinaan SMA: 2010, 46-47).
Adapun aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Pendidikan Agama meliputi aspek penanaman nilai–nilai akhlak (SK Dirjen Mandikdasmen Nomor 12/C/KEP/TU/2008 tentang Bentuk dan Tata Cara Penyusunan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah) (Direktorat Pembinaan SMA: 2010, 47).
Dalam konteks pembelajaran PAI, maka pengembangan evaluasi belajar diarahkan pada pengembangan moral Islam (akhlaq) dalam kerangka pengembangan fitrah penciptaan manusia. Dalam kaitan ini, Hasan Langgulung (1986: 5) menegaskan bahwa “ketika Allah meniupkan roh (ciptaan)-Nya kepada diri manusia, maka pada saat itulah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang terdapat dalam al-asma’ al-
husna. Hanya saja, kalau Allah bersifat Maha, maka manusia itu hanya mempunyai sifat
sebagian darinya”.
Berdasarkan fitrah yang disebutkan di atas pengembangan evaluasi ranah afektif pembelajaran pendidikan agama Islam telah dilakukan. Dalam kaitannya dengan ranah afektif pembelajaran, maka pengembangan evaluasi ranah afektif pembelajaran pendidikan agama Islam mengarah kepada pengembangan aspek perilaku (afektif) melalui penekanan bagaimana mengevaluasi perilaku (akhlak/ moral Islam). Tentu saja evaluasi terhadap aspek perilaku membutuhkan suatu proses pembelajaran PAI yang juga menitik beratkan pada ranah afektif ini, dengan tidak meninggalkan aspek kognitif dan psikomotorik. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan evaluasi pendidikan adalah bagaimana mengevaluasi pembelajaran PAI dengan bertolak pada aspek perilaku dan moral anak didik.
Sementara dalam kurikulum 2013 sikap dibagi menjadi dua kompetensi yakni, kompetensi sikap spiritual yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Sikap spiritual sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan sikap sosial sebagai perwujudan eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan (kemendikbud: 2014, 7).
Pada jenjang SMP/MTs, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1: menghargai
dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, sedangkan kompetensi sikap sosial
mengacu pada KI-2: menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya (Mulyasa: 2013, 177).
Berdasarkan rumusan KI-1 dan KI-2 di atas, penilaian sikap pada jenjang SMP/ MTs mencakup:
Tabel 2. 3 Cakupan Penilaian Sikap
Penilaian Sikap Cakupan
Sikap Spiritual Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut Sikap Sosial 1. Jujur 2. Disiplin 3. Tanggung jawab 4. Toleransi 5. Gotong royong 6. Santun 7. Percaya diri
KD pada KI-1: aspek sikap spiritual (untuk mata pelajaran tertentu bersifat generik, artinya berlaku untuk seluruh materi pokok). Sedangkan KD pada KI-2: aspek sikap sosial (untuk mata pelajaran tertentu bersifat relatif generik, namun beberapa materi pokok tertentu ada KD pada KI-3 yang berbeda dengan KD lain pada KI-2). Guru dapat menambahkan sikap-sikap tersebut menjadi perluasan cakupan penilaian sikap. Perluasan ini, didasarkan pada karakteristik KD pada KI-1 dan KI-2 setiap mata pelajaran.
Dengan demikian tipikal hasil belajar akan tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Sekalipun bahan pengajaran dalam lembaga pendidikan berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan pengajaran dan harus tampak dalam proses belajar mengajar yang dicapai siswa. Dan aspek afektif merupakan aspek pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan dengan kedua aspek lainnya, yaitu kognitif dan psikomotorik baik di dalam proses pembelajaran maupun evaluasinya.
Adapun fungsi evaluasi ranah afektif Pai adalah agar tidak terjadi kesalahan ketika mengadakan penilaian. Berikut ini beberapa fungsi evaluasi ranah afektif PAI dalam pembelajaran adalah:
a. Sebagai alat seleksi dan berfungsi sebagai diagnostik disini guru akan mengetahui kelemahan siswa dan sebab-sebabnya sehingga guru akan mudah dalam mengadakan penilaian terhadap siswa dan cara mengatasinya.
b. Sebagai penempatan.
c. Sebagai pengukuran keberhasilan, penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan, dan keberhasilan program pengajaran ditentukan oleh beberapa faktor yakni guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem administrasi (Suharsimi: 2009, 10-11).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa fungsi evaluasi adalah melingkupi beberapa hal; a) dapat mengukur terhadap peningkatan karakteristik afektif siswa; b) melakukan bimbingan terhadap karakteristik afektif siswa ke arah yang baik; c) menempatkan karakteristik siswa kepada kondisi yang sesuai dengan latar belakang siswa baik dari aspek sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral.