• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Konsep Pembangunan Daerah

Disetiap negara, pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan pembangunan berbeda-beda, namun secara umum dapat dilihat dari tiga hal pokok yaitu melalui pendekayan makro, pendekatan sektoral dan pendekatan regional. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Wrihatnolo (2006;23) yang menyebutkan: pada umumnya pembangunan yang dilaksanakan suatu negara atau bangsa di dasarkan pada tiga pendekatan yaitu pendekatan makro, sektoral dan regional. Pembangunan makro mencakup sasaran-sasaran dan upaya pada lingkup nasional, yang mencapaianya merupakan hasil dari upaya-upaya pada tingkat sektoral dan regional. Pembangunan sektoral hanya memfokuskan pada bidang-bidang tertentu seperti pertanian dan pembangunan regional yang menekankan pada pelaksanaan pembangunan suatu daerah tertentu, pada dasarnya merupakan bagian dari pembangunan nasional itu sendiri.

Ini berarti bahwa keberhasilan pembangunan di daerah-daerah akan membawa

dampak positif terhadap pembangunan nasional secara keseluruhan. Kartasasmita

(dalam Bratakusuma, 2003:43) Yaitu: Proses Pembangunan daerah dilihat dengan tiga

cara pandang berbeda. Pertama Pembangunan bagi suatu Kota, daerah atau wilayah sebagai wujud bebas yang pengembangannya tidak terikat pada Kota, daerah atau wilayah lain sehingga penekanannya perencanaan pembangunannya mengikuti pola yang lepas dan mandiri. Kedua pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional, ketiga perencanaan pembangunan daerah sebagai instrumen bagi penentu alokasi sumber daya pembangunan dan lokasi kegiatan daerah.

Cara pandang pertama wujud pelaksanaan otonomi yang diimplementasikan dalam proses desentralisasi, dimana daerah dberikan kewenangan untuk melakukan perencanaan pembangunannya secara mandiri dan independen, baik dari keterikatannya dengan pemerintah pusat maupun daerah. Cara pandang kedua bahwa pembangunan yang dilaksanakan didaerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, dimana perencanaan pembangunan yang dilaksanakan oleh pusat. Ini merupakan perwujudan dari dekonsentrasi. Sedangkan cara pandang ketiga lebih menunjukkan adanya tugas pembantuan. Dalam konteks ini, perencanaan pembangunan terpusat dengan alokasi sumber daya dan kegiatan yang ada di daerah (Bratakusuma; 2003:43). Meskipun Perencanaan Pembangunan bersifat indenpenden (mandiri) sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 di ubah terakhir kali menjadi Undang-undang Nomor 12 tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, dimana setiap daerah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan sendiri untuk melakukan kegiatan-kegiatan secara otonom, namun hal itu tidak berarti bahwa daerah harus mengabaikan kepentingan nasionalnya. Hal ini sejalan dengan prinsip otonomi yang bertanggung jawab berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan berdemokras, keadilan dan pemerataan serta pemeliharaan hubungan yang serasi antar pusat dan daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini sebagaimana yang diInformasikan bahwa Perencanaan Pembangunan pada tingkat pusat dan tingkat daerah berjalan secara sendiri-sendiri. Tetapi dalam

pelaksanaan perencanaan pembangunan ditingkat pusat dan daerah diserasikan dengan adanya pelaksanaan Musrenbang.

Pembangunan Daerah adalah Usaha untuk meningkatkan kualitas dan perikehidupan manusia dan masyarakat daerah yang dilakukan secara terus menerus, berlandaskan kemampuan daerah dan kemampuan nasional dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan keadaan daerah, nasional dan global. Pengertian daerah adalah mencakup Kabupaten/Kota dan daerah Provinsi, masing-masing sebagai daerah otonom (Wrihatnolo, 2006:125).

Sedangkan menurut Siagian (2005:5): pembangunan yaitu seluruh usaha dilakukan oleh suatu negara bangsa untuk bertumbuh, berkembang dan berubah secara sadar dan terencana dalam semua segi kehidupan dan penghidupan negara bangsa yang bersangkutan dalam rangka pencapaian tujuan akhir.

Menurut Kartasasmita seperti yang dikutip (Bratakusuma, 2003:4) Pembangunan yaitu sebagai suatu proses perubahan kearah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana.

Hal lain menurut Razal (1988:2) bahwa: Aspek sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan adalah penyusunan program. Program dan proyek merupakan penjabaran atau unit kecil dari perencanaan pembangunan. Dengan demikian keseluruhan tujuan yang ditetapkan dalam rencana tersebut diimplementasikan dan dicapai melalui pencapaian sasaran0sasaran atau target yang ditetapkan dalm program dan proyek dimaksud.

Menurut Nigo seperti yang dikutip (dalam Abidin, 1984:4) menyebutkan: Perencanaan sebagai penentuan dasar dari oragnisasi dan pemilihan program terbaik untuk mencapai tujuan. Dia membedakannya dengan program, yang diartikan sebagai penjadwalan kegiatan dan pelaksanaan seefisien mungkin dari proyek-proyek yang diperlukan untuk mewujudkan program tersebut.

Hal yang paling penting dalam melaksanakan setiap kegiatan-kegiatan yang menuntut adanya kerjasama antar kelompok maupun individu adalah makna dari kerjasama untuk pencapaian tujuan. Oleh karena sebab itu agar kegiatan kelompok atau individu dapat diwujudkan secara efektif, maka kepada setiap anggota dalam kelompok dimaksud harus memahami dengan baik setiap kegiatan yang dilaksanakan. Disinilah pentingnya makna perencanaan sebagai suatu landasar atau kerangka dari keseluruhan fungsi manajemen, sebab keberadaannya menyangkut semua pilihandiantara beberapa alternatif usaha kegiatan dimasa yang akan datangoleh setiap unit kerja yang terdpat dalam satu kelompok organisasi.

Dari hal tersebut di atas dapat diperluas lingkupnya, dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah dapat dibedakan menjadi:

a. Perencanaan Nasional (umumnya untuk mengejar keterbelakangan suatu bangsa dalam berbagai bidang): pelaksanaan pembangunan nasional yang perencanaannya dilakukan dalam suatu rencana nasional melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS);

b. Perencanaan Regional (untuk menggali potensi suatu wilayah dan mengembangkan kehidupan masyarakat wilayah bersangkutan) dalam hal ini sebagai contoh rencana pembangunan wilayah Indonesia bagian Timur dan sejenisnya;

c. Perencanaan Lokal, Misalnya:

1. Perencanaan Kota, (untuk mengatur pertumbuhan Kota, menertibkan penggunaan tempat, memperindah Kota sebagai ciri khas kota bersangkutan. 2. Perencanaan desa, (utnuk menggali potensi suatu desa serta mengembangkan

masyarakat desa tersebut).

Perencanaan lokal sesungguhnya dapat mengandung pengertian perencanaan daerah jika dikaitkan dengan konteks pelaksanaan pembangunan daerah. Sehubungan dengan pengertian hal di atas, dapat dikaitkan dengan pembangunan daerah nyang merupakan pembangunan yang suatu wilayah atau daerah. Menurut Itisastro ( dalam Tjokroamidjojo, 1994:14) menyebutkan: perencanaan ini sebenarnya berkisar kepada dua hal yang pertama adalah penentuan pilihan secara sadar mengenai tujuan-tujuan konkret yang hendak dicapai dalam jangka waktu yang akan datang atas dasar nilai- nilai yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan, dan yang kedua adalah pilihan pilihan diantara alternatif-alternatif cara-cara alternatif yang efisien serta rasional guna mencapai tujuan – tujuan tersebut diperlukan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria tertentu terlebih dahulu.

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa pada hakekatnya tujuan dari perencanaan pembangunan adalah untuk menciptakan keseimbangan antara

kebutuhaan yang ingin dicapai dengan sumber daya atau potensi yang dimiliki oleh suatu negara, wilayah atau daerah yang bersangkutan. Hal ini juga diperkuat dari pendapat Beratha (1982;79) bahwa tujuan pokok perencanaan tiada lain adalah untuk menentukan, menciptakan dengan mengusahakan kesimbangan antara kebutuhan dengan bahan yang tersedia.

Pembangunan menurut Siagian (1999:4) menyebutkan bahwa Pembangunan adalah rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara terencana dan sadar dan ditempuh oleh suatu bangsa menuju modrenitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation-Building).

Kartasasmita (1997: 9) menyatakan: Pembangunaan adalah sebagai suatu proses perubahan kearah yang lebih baik melalui upaya yang di lakukan secara terencana. Sedangkan Wrihatnolo dan Nugroho (2006:10) mengatakan: Pembangunan diartikan sebagai suatu perubahan tingkat kesehteraan sevara terukur dan alami. Perubahan tingkat kesejahteraan ditentukan oleh dimensi dari definisi ekonomi, politik dan hukum. Petubahan alami ditentukan oleh siapa yang berperan dalam perubahan itu. Perubahan alami adalah perubahan yang melembaga dalam bangun sosial sekelompok manusia. Hanya perubahan alami yang mampu menjamin adanya perubahan terukur secara konstan.

Berpedoman pada pengertian di atas, makna dari perencanaan pembangunan dapat disebutkan sebagai suatu proses kegiatan tentang bagaimana malakukan sumber daya pembangunan yang ditentukan oleh ketetapan yang berlaku untuk melaksanakan proses program pembangunan.

Dokumen terkait