• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Konsep Pemerintah Daerah

Menurut Affan Gaffar (2005:24) pemerintahan adalah kegiatan penyelenggaraan negara guna memberikan pelayanan dan perlindungan bagi segenap warga masyarakat, melakukan pengaturan, mobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, serta membina hubungan baik di dalam lingkungan negara ataupun dengan negara lain. Pemerintah adalah orang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah, atau lebih simple lagi adalah orang atau sekelompok orang yang memberikan perintah. Dan pemerintahan adalah suatu kegiatan yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang harus dijalankan yang bersumber dari pemerintah. Untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah.

Urusan yang menjadi kewenangan daerah, meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Di tingkat lokal tentu saja membina hubungan dengan pemerintahan

nasional dan pemerintahan daerah lainnya. Istilah pemerintahan diartikan kekuasaan yang memerintah suatu negara atau dengan perbuatan atau cara memerintah. Sedangkan pasal 18 ayat (5) UUD 1945 menyebutkan bahwa:

"Pemerintah daerah merupakan daerah otonom yang dapat menjalankan urusan pemerintahan dengan seluas-luasnya serta mendapat hak untuk mengatur kewenangan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat"

Definisi pemerintahan daerah di dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah pasal 1 ayat 2, adalah sebagai berikut: "Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945"

Menurut Syafrial (2009:22) mengemukakan bahwa pemerintahan daerah disini adalah penyelenggaraan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi, dimana unsur penyelenggara pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah. Melihat defenisi pemerintahan daerah yang telah dikemukakan diatas maka dari itu, peran pemerintah daerah juga dimaksudkan juga dalam rangka melaksanakan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan sebagai wakil pemerintah daerah otonom yaitu untuk melakukan:

1. Desentralisasi yaitu penyerahan semua urusan yang semula adalah wewenang pemerintahan menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Dekonsentrasi yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal diwilayah tertentu untuk dilaksanakan.

3. Tugas pembantuan yaitu melaksanakan semua penugasan dari pemerintah kepada daerah atau dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.

Fungsi pemerintah daerah menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 adalah:

a. Fungsi pemerintahan absolut, fungsi yang termasuk dalam fungsi pemerintahan absolut memiliki kewenangan pada pemerintah pusat (asas sentralisasi).

b. Fungsi pemerintahan wajib, yaitu fungsi yang wajib dibagi kewenangannya pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah (desentralisasi/dekonsentrasi).

c. Fungsi pemerintahan pilihan yaitu fungsi yang juga dibagi kewenangannya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (asas desentralisasi atau dekonsentrasi).

d. Fungsi pemerintahan umum, yaitu fungsi yang memiliki tugas, fungsi, dan wewenang presiden dan wakil presiden namun pelaksanaannya di daerah dilakukan oleh kepala daerah.

D. Konsep Pelestarian Kebudayaan Mappogau Sihamia

Mundardjito (2002:36) mengemukakan bahwa konsep awal pelestarian adalah konservasi, yaitu upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru,tanpa menghilangkan makna kehidupan budaya. Pelestarian di dasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting bagi generasi selanjumya. Tindakan pelestarian yang dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah, kerap kali berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam kegiatan pembangunan. James Mastron (2007:5) mengungkapkan bahwa hal ini menggambarkan begitu kompleksnya masalah yang ada dalam aktivitas pelestarian.

Mattulada (2011:18) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber-sumber alam yang ada disekitarnya.

Koentjraningrat (2008:21) mengemukakan bahwa kebudayaan dilihat sebagai mekanisme kontrol bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia, atau sebagai pola-pola bagi kelakuan manusia. Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 2005:15).

Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk, sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia.

Di samping itu, dalam setiap kebudayaan juga terdapat resep-resep yang antara lain berisikan pengetahuan untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai hasil atau sesuatu dengan sebaik-baiknya, berbagai ukuran untuk menilai berbagai tujuan hidup dan menentukan mana yang terlebih penting dilakukan atau dilaksanakan, berbagai cara untuk mengidentifikasi adanya bahaya-bahaya yang mengancam dan asalnya, serta bagaimana mengatasinya (Spradley,2005:15).

Muhannis (2009:5) mengemukakan kebudayaan Mappogau Sihanua (Pesta Kampung) adalah merupakan suatu upacara adat terbesar yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat pendukung kebudayaan Mappogau Sihanua, Acara ini berlangsung selama satu minggu dalam bulan November tahun berjalan. Upacara Mappogau Sihanua memiliki banyak nilai gotong royong. Pesta adat Mappogau Sihanua tujuannya adalah untuk mengenang leluhur mereka, sebagai bagian dari kepetaniaannya. Pelaksanaan Pesta Adat Mappogau Sihanua adalah perwujudan rasa syukur atas keberhasilan panen pertanian/perkebunan

sehingga dilaksanakan sangat meriah dan membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga memerlukan tenaga dan biaya yang sangat besar tapi hal tersebut selama ratusan tahun ini tidak pernah menjadi halangan.

Pelaksanaan Upacara Adat Mappogau Sihaanua antara lain:

a. Mabbahang adalah musyawarah adat yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Mabbahang itu sendiri baru bisa dilaksanakan ketika seluruh padi yang tumbuh dikarampuang baik sawah adat maupun sawah penduduk seluruhnya telah di panen.

b. Mappaota merupakan sebuah ritual permohonan izin atau restu untuk melaksanakan upacara adat mi. Dalam proses pelaksanaannya, seluruh penghulu adat dibantu oleh masyarakat mengunjungi tempat-tempat suci dengan membawa lempeng-lempeng, sejenis bakul mini yang berisi bahan-bahan sirih.

c. Mabbaja-baja atau Mappipaccing Hanua merupakan kewajiban seluruh masyarakat karampuang untuk melaksanakan pembersihan di pekarangan rumah, menata rumah, membersihkan sekolah, pasar, jalanan, sumur sehingga sebelum hari pelaksananan ritual adat tersebut diharapkan seluruh wilayah karampuang telah dibersihkan.

d. Menre' ri bulu adalah acara naik gunung dan merupakan puncak acara Mappogau Sihanua dilaksanakan tiga hari setelah Mabbaja-baja.

e. Mabbali Sumange' atau sering juga disebut dengan Massulo beppa adalah suatu acara yang menyiapkan bahan-bahan obat kepada seluruh warga pendukungnya.

f. Mailing merupakan tahap akhir dari upacara adat ini. Mailing ini bisa diartikan sebagai berpantang yang dimulai setelah acara Mabali Sumange'.

Nilai-nilai dalam Upacara Adat Mappogau Sihanua yaitu:

1. Nilai Solidaritas /persatuan

2. Nilai Filosofis dan Religi 3. Nilai Pelestarian Alam.

Kerja sama lembaga adat dengan pemerintah daerah dalam garis besarnya adalah menyediakan infrastruktur (tidak hanya dalam bentnk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, pengaturan dan promosi urnum. Tidak dapat disangkal hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat kebudayaan, maka yang perlu diperhatikan adalah sarana angkutan, infrastruktur, dan sarana-sarana dalam proses pelestarian kebudayaan. Hal ini yang menjadi pokok persoalan.

Mengembangkan kesemuanya secara simultan tidak mungkin karena itu diperlukan biaya yang besar , padahal dana yang tersedia terbatas, karena itu pelestarian kebudayaan haruslah skala prioritas.

Damanik dan Weber (2006:24) menyatakan bahwa dalam pelestarian kebudayaan, lembaga adat dengan pemerintah daerah dapat memainkan kerja sama dalam hal proses pelestarian kebudayaan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Melalui Media Massa

Media massa mempunyai tugas dan kewajiban selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia mi melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain-lain). Media massa

membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya di lain pihak. Dengan adanya media massa, maka tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi

budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan mengharumkan nama Indonesia meskipun sudah banyak budaya-budaya asing yang telah masuk. Dan juga supaya budaya-budaya asli negara kita tidak diklaim oleh negara lain.

2. Pementasan-pementasan

Walau tidak mudah upaya-upaya pelestarian budaya kita harus tetap gencar dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional di berbagai pusat kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan agar kebudayaan yang kita miliki tetap ada dan tidak terlupakan akibat teknologi yang sudah maju serta perubahan zaman yang semakin modern. Upaya pelestarian itu akan berjalan sukses apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan adanya sosialisasi luas dari media massa termasuk televisi. Maka cepat atau lambat, budaya tradisional tidak akan pernah terlupakan serta akan kembali bergairah dan akan tetap lestari.

3. Menyelenggarakan mata pelajaran muatan lokal

Dengan adanya sekolah menyelenggarakan mata pelajaran muatan lokal dan ekstrakurikuler wajib berbasis pelestarian kebudayaan setempat, maka dapat menimbulkan rasa cinta dan bangga memiliki kebudayaan tersebut, dengan

demikian para genarasi muda dapat mengetahui dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.

Budihardjo dan Thamrin (2010:11) mengemukakan manfaat pelestarian kebudayaan diantaranya:

a. Pelestarian memperkaya pengalaman visual, menyalurkan hasrat untuk kontiunitas, member! kaitan yang berarti dengan masa lalu, serta member!

pilihan untuk tinggal dan bekerja disamping lingkungan modern,

b. Pelestarian memberi keamanan psikologis bagi seseorang untuk dapat melihat menyentuh dan merasakan bukti-bukti fisik sejarah.

c. Dengan dilestarikannya warisan yang berharga dalam keadaan baik maka generasi yang akan datang dapat belajar dari warisan-warisan tersebut dan menghargainya sebagaimana yang dilakukan pendahulunya.

E. Kerangka Pikir

Lembaga Adat adalah sebuah organisasi kemasyarakatan, baik yang disengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan. Mappogau Sihanua dapat tercapai dengan baik dan tetap berkelanjutan. Kerja sama Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah dalam pelestarian kebudayaan Mappogau Sihanua dengan beberapa indikator yaitu bargaining, cooptation dan coalition serta beberapa faktor pendukung diantaranya adanya dukungan dari masyarakat, adanya nota kesepahaman antara Lembaga Adat dengan pemerintah daerah dan faktor pendukung diantaranya sarana dan prasarana yang ada sebagian kecil sudah tidak berfungsi, letak georafis kebudayaan Mappogau Sihanua yang cukup jauh.

Untuk lebih jelasnya, dibawah ini terdapat gambaran mengenai bagan

F. Fokus Penelitian

Kerja sama Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah dalam Pelestarian Kebudayaan Mappogau Sihanua di Kabupaten Sinjai dengan beberapa indikator yaitu bargaining, cooptation dan coalition.

G. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Kerja sama adalah suatu proses menyelesaikan pekerjaan secara berkelompok atau bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat atau ringan daripada pekerjaan sendiri.

2. Lembaga adat adalah suatu organisasi kemasyarakatan adat yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus hal- hal yang berkaitan dengan adat.

3. Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber-sumber alam yang ada disekitarnya.

4. Bargaining yaitu kerja sama antara Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu.

5. Cooptation yaitu kerja sama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari pihak lain baik dari puhak Lembaga Adat maupun dari pihak Pemerintah Daerah sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan stabilitas organisasi.

6. Coalition yaitu kerja sama antara Lmbaga Adat dengan Pemerintah Daerah mempunyai tujuan yang sama. Diantara keduanya yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerja sama sehingga jati diri dari masing-masing yang berkoalisi yang masih ada.

7. Faktor pendukung yaitu penunjang dalam pelestarian kebudayaan yaitu adanya nota kesepahaman antara Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah kabupaten Sinjai dan adanya dukungan dari masyarakat sekitar kebudayaan Mappogau Sihanua.

8. Faktor penghambat yaitu hal yang menjadi hambatan dalam pelestarian kebudayaan yaitu sarana dan prasarana yang belum memadai dan letak geografis kebudayaan yang cukup jauh.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Lokasi penelitian

Adapun waktu penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu mulai awal bulan April 2016 sampai dengan bulan Mei 2016. Lokasi penelitian yaitu Lembaga Adat Kabupaten Sinjai dan Dinas Komunikasi Informatika Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Sinjai . Alasan peneliti memilih lokasi ini karena data ataupun dokumen-dokumen dapat di peroleh dari kantor Dinas Komunikasi Informatika Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Sinjai. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Kerja Sama Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah dalam pelestarian Kebudayaan Mappogau Sihanua.

B. Jenis Dan Tipe Penelitian

1. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif.

Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang yang menghasilkan data deskriptif berapa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diambil yang didukung oleh data-data tertulis maupun data-data hasil wawancara.

2. Tipe penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi. Hal ini untuk menjawab semua permasalahan yang akan diangkat atau di teliti, oleh sebab itu untuk menjelaskan suatu hal yang kemudian di klasifikasikan sehingga dapat diambil satu kesimpulan, kesimpulan tersebut dapat lebih mempermudah dalam melakukan penelitian.

29

C. Sumber Data

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi atau pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti bersumber dari dokumen-dokumen, laporan-laporan maupun arsi-arsip resmi, bahan bacaan atau dokumentasi yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

D. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan kondisi yang berhubungan dengan Kerja Sama Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah dalam Pelestarian Kebudayaan Mappogau Sihanua dengan menggunakan teknik sampling purposive.

ZK dan AR Staf Dinas Komunikasi Informatika Kebuddayaan Dan Kepariwisataan Kabupaten Sinjai

2

5 Sofyan dan yusuf SF dan YS Masyarakat sekitar Kebudayaan Mappogau Sihanua

2

Total Informan 8

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung atau melihat secara langsung dilapangan bagaimana Kerja Sama Lembaga Adat dengan Pemerintah Daerah dalam Pelestarian Kebudayaan Mappogau Sihanua di Kabupaten Sinjai.

2. Wawancara yang yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara bebas terpimpin, artinya peneliti mengadakan pertemuan langsung dengan informan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan pelestarian kebudayaan Mappogau Sihanua di kabupaten Sinjai, dan wawancara bebas artinya peneliti bebas mengajukan pertanyaaan kepada informan sesuai dengan jenis pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.

3. Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen, laporan-laporan maupun arsi-arsip resmi tertentu yang dianggap mendukung.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh di kerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam penyusunan hasil peneltian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa interaktif.

Menurut Miles dan Huberman dalam (Sugiono, 2012:19) mengemukakan bahwa Dalam model ini terdapat tiga komponen pokok yaitu sebagai berikut:

a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.

b. ReduksiData

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuat hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan peneliti data dilakukan.

c. SajianData

Sajian data merupakan suatu rangkaian informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis makna peristiwanya dapat dipahami.

d. Penarikan Kesimpulan

Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditemui dengan mencatat peraturan-peraturan sebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan simpulan dapat dipertanggung jawabkan.

G. Keabsahan Data

Validitas data sangat mendukung akhir penelitian. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang akan dikumpulkan dari sumber data menggunakan teknik pengumpulan data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.

Menurut William dalam Sugiano (2011:273) triagulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi pengumpulan data dan waktu.

a. Trianggulasi sumber untuk menguji kredibilitas dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

b. Triangulasi teknik untuk menguji kredibilatas untuk mngecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

c. Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di waktu pagi pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel..

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Dan Karakteristik Obyek Penelitian

1. Profil Lembaga Adat

Kondisi geografis Lembaga adat yang berada pada kecamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai dengan memiliki luas 99,47 km2 dan secara administrasi memiliki sebanyak 7 (tujuh) wilayah Desa yakni Desa Tompobulu, Desa Bulu Tellue, Desa Duampanuae, Desa Lamatti Riattang, Desa Lamatti Riaja, Lamatti Riawang, Lappa Cinrana yang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bone b. Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Sinjai Utara c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sinjai Tengah d. Sebelah Barat berbatasan dengan Sinjai Barat

Keadaan topografi Kecamatan Bulupoddo yang merupakan dataran ketinggian 7 meter dari permukaan laut dan secara geografis wilahyahnya memiliki jenis tanah hitam dan berpesisir. Kecamatan Bulupoddo memiiki 2 (dua) iklim tropis dengan suhu rata-rata mencapai 28 OC serta memiliki 2 tipe musim kemarau dan musim hujan, dimana musim hujan terjadi mulai bulan Desember sampai April, dimana musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai Nopember yang berputar setiap tahunnya. Disamping memiliki jumlah curah hujan rata-rata tahun di Kecamatan Bulupoddo mencapai 2.000 mm sampai 3.000 mm.

34

Wilayah Kecamatan Buluppodo saat ini jumlah kepala keluarga sebanyak 1.046 KK dengan jumlah 4.176 yang sebagian besar dan memiliki pekerjaan pokok petani 40% beternak% pegawai negeri sipil 5%, lain-lain 15%

pekerjaan lain diluar pekerjaan diatas.

Wilayah Kecamatan Bulupoddo sampai sekarang ini setiap tahunnya masyarakat melaksanakan upacara adat Mappogau Sihanua (Pesta kampung).

Acara ini berlangsung selama satu minggu dalam bulan November tahun berjalan.

Kebudayaan Mappogau Sihanua ini berada di Desa Tompobulu yang jaraknya kurang lebih 10 km dari ibu kota kabupaten Sinjai. Pesta adat Mappogau Sihanua tujuannya adalah untuk mengenang leluhur mereka, sebagai bagian dari kepetaniaannya. Pelaksanaan Pesta Adat Mappogau Sihanua adalah perwujudan rasa syukur atas keberhasilan panen pertanian/perkebunan sehingga dilaksanakan sangat meriah dan membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga memerlukan tenaga dan biaya yang sangat besar tapi hal tersebut selama ratusan tahun ini tidak pernah menjadi halangan.

Kebudayaan Mappogau Sihanua (Pesta Kampung) merupakan suatu upacara adat terbesar yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat pendukung kebudayaan Mappogau Sihanua di kecamatan Buluppodo kabupaten Sinjai, Acara ini berlangsung selama satu minggu dalam bulan November tahun berjalan. Pesta adat Mappogau Sihanua tujuannya adalah untuk mengenang leluhur mereka, sebagai bagian dari kepetaniaannya. Pelaksanaan Pesta Adat Mappogau Sihanua adalah perwujudan rasa syukur atas keberhasilan panen pertanian/perkebunan sehingga dilaksanakan sangat meriah dan membutuhkan waktu yang sangat lama

sehingga memerlukan tenaga dan biaya yang sangat besar tapi hal tersebut selama ratusan tahun ini tidak pernah menjadi halangan. Pelaksanaan Upacara Adat Mappogau Sihaanua antara lain:

a. Mabbahang adalah musyawarah adat yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Mabbahang itu sendiri baru bisa dilaksanakan ketika seluruh padi yang tumbuh dikarampuang baik sawah adat maupun sawah penduduk seluruhnya telah di panen.

b. Mappaota merupakan sebuah ritual permohonan izin atau restu untuk melaksanakan upacara adat ini. Dalam proses pelaksanaannya, seluruh penghulu adat dibantu oleh masyarakat mengunjungi tempat-tempat suci

b. Mappaota merupakan sebuah ritual permohonan izin atau restu untuk melaksanakan upacara adat ini. Dalam proses pelaksanaannya, seluruh penghulu adat dibantu oleh masyarakat mengunjungi tempat-tempat suci

Dokumen terkait