• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengembangan Agropolitan

Konsep pengembangan agropolitan pertama kali diperkenalkan oleh Friedmann dan Douglass, tahun 1975 pada sebuah seminar di Nagoya, dengan judul “Pengembangan Agropolitan: Menuju Siasat Baru Perencanaan Regional di Asia”. Menurut Friedmann dan Douglass, agropolitan adalah aktivitas pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah perdesaan.

Agropolitan terdiri dari kata “agro” yang berarti pertanian, dan “politan (polis)” yang berarti kota/permukiman. Pengembangan agropolitan dapat diartikan sebagai pengembangan kota berbasis pertanian atau kota di daerah lahan pertanian (city in the field). Agropolitan cenderung dipersepsikan sebagai suatu pendekatan pembangunan kawasan perdesaan yang diwujudkan dalam bentuk pembangunan kota-kota berbasis pertanian. Karena itu penyediaan infrastruktur setara perkotaan seperti listrik, jalan, gudang, pasar dan sebagainya dirasakan cukup untuk mengubah daerah-daerah perdesaan menjadi kota-kota berbasis pertanian.

Secara terminologi menurut Saefulhakim (2004), agropolitan berasal dari kata agro dan metropolis/metropolitan. Agro berasal dari istilah bahasa latin yang bermakna “tanah yang dikelola” atau “budidaya tanaman”, yang kemudian digunakan untuk menunjuk kepada berbagai aktivitas berbasis pertanian. Sementara metropolis mempunyai pengertian sebagai sebuah titik pusat dari beberapa/berbagai aktivitas. Dengan demikian agropolis atau agro-metropolis adalah lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian. Karena itu pengembangan agropolitan sendiri berarti pengembangan berbagai hal yang dapat memperkuat fungsi/peran agropolis sebagai lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian dimana tipologi pengembangan disesuaikan dengan karakteristik tipologi kawasan yang dilayaninya.

Menurut Deptan (2002), agropolitanadalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan

pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Sementara itu menurut Anwar (2005), pengertian agropolitan adalah merupakan tempat-tempat pusat (central places) yang mempunyai struktur berhierarki, dimana agropolis mengandung arti adanya kota-kota kecil dan menengah di sekitar wilayah perdesaan (micro urban-village) yang dapat tumbuh dan berkembang karena berfungsinya koordinasi kepada sistem kegiatan-kegiatan utama usaha agribisnis, serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian di kawasan sekitarnya. Oleh karenanya kawasan agropolitan diartikan sebagai sistem fungsional satu atau lebih kota-kota pertanian pada wilayah produksi pertanian tertentu, yang ditunjukkan oleh adanya sistem hierarki keruangan (spatial hierarchy) satuan-satuan permukiman petani, yang terdiri dari pusat agropolitan dan pusat-pusat produksi di sekitarnya.

Menurut Rustiadi (2004), agropolitan adalah suatu model pembangunan yang mengandalkan desentralisasi, mengandalkan pembangunan infrastruktur setara kota di wilayah perdesaan, sehingga mendorong urbanisasi (pengkotaan dalam arti positif) serta bisa menanggulangi dampak negatif pembangunan (migrasi desa-kota yang tak terkendali, polusi, kemacetan lalu lintas, pengkumuhan kota, kehancuran masif sumber daya, pemiskinan desa, dan lain- lain). Secara garis besar menurut Anugrah (2003), konsep agropolitan mencakup beberapa dimensi yang meliputi : (a) pengembangan kota-kota berukuran kecil sampai sedang dengan jumlah penduduk maksimum 600.000 jiwa dan luas maksimum 30.000 hektar (setara dengan kota kabupaten); (b) daerah belakang (yang merupakan daerah perdesaan) dikembangkan berdasarkan konsep perwilayahan komoditas yang menghasilkan satu komoditas/bahan mentah utama dan beberapa komoditas penunjang sesuai dengan kebutuhan; (c) pada daerah pusat pertumbuhan (yang merupakan daerah perkotaan) dibangun agroindustri terkait, yaitu terdiri atas beberapa perusahaan sehingga terdapat kompetisi yang sehat; (d) wilayah perdesaan didorong untuk membentuk satuan-satuan usaha yang optimal dan selanjutnya diorganisasikan dalam wadah koperasi, perusahaan kecil dan menengah, dan (e) lokasi dan sistem transportasi agroindustri dan pusat pelayanan harus memungkinkan para petani untuk bekerja sebagai pekerja paruh waktu (partime workers).

Menurut Friedmann dan Douglass (1975), agropolitan terdiri dari distrik- distrik agropolitan yang didefinisikan sebagai kawasan pertanian perdesaan yang memiliki kepadatan penduduk rata-rata 200 jiwa per km2. Kota-kota tani dalam distrik agropolitan berpenduduk 10.000 – 25.000 jiwa. Batas distrik dinyatakan dalam radius sejauh 5-10 km atau kurang lebih setara dengan 1 jam perjalanan dengan sepeda. Dimensi luasan geografis wilayah agropolitan ini akan menghasilkan jumlah penduduk antara 50.000 – 150.000 jiwa yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Friedmann tidak membedakan secara spesifik bentuk pertanian modern atau tidaknya, tetapi lebih cenderung menggunakan referensi pertanian modern yang ada di Amerika atau di Eropa. Ilustrasi model area agropolitan seperti yang digambarkan oleh Friedmann disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Ilustrasi model area agropolitan menurut Friedmann (1975).

Menurut Friedmann (1975), di dalam model area agropolitan di atas, kawasan agropolitan (A) lebih prioritas dari kawasan agropolitan (B), karena : tingkat populasi lebih tinggi dan terjadi konsentrasi penduduk; ekologinya lebih

Batas Internasional

Pusat Pertumbuhan 1

Pusat Pertumbuhan 2

Hutan Lindung Nasional

Distrik Agropolitan III

Sungai Danau Kawasan Agropolitan (B) Kws. Metropolitan Distrik Agropolitan II Kawasan Agropolitan Prioritas A)

potensial untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas eksport; kapasitas pemasaran untuk produk pertanian lebih baik; kondisi fisik lahan lebih baik; serta kondisi infrastukturnya lebih baik.

Konsep dasar pembangunan agropolitan menurut Friedmann dan Douglass (1975), ditujukan untuk:

a. Mengubah daerah perdesaan dengan cara memperkenalkan unsur-unsur gaya hidup kota (urbanism) yang telah disesuaikan pada lingkungan perdesaan tertentu. Hal ini berarti tidak lagi mendorong perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan menanam modal di kota, tetapi mendorong mereka untuk tetap tinggal ditempat mereka semula, dengan menanam modal di daerah perdesaan, dan dengan demikian merubah tempat permukiman yang sekarang ini untuk dijadikan suatu bentuk campuran yang dinamakan agropolis atau “kota di ladang”. Pertentangan abadi antara kota dan desa dalam pembangunan agropolitan dapat diredakan.

b. Memperluas hubungan sosial di wilayah perdesaan sampai keluar batas-batas desanya, sehingga terbentuk suatu ruang sosio-ekonomi dan politik yang lebih luas, atau yang disebut dengan agropolitan district. Agropolitan district dapat disesuaikan untuk dipakai sebagai dasar satuan tempat permukiman untuk kota-kota besar atau pusat kota-kota, terutama yang berada di sekitarnya dan yang selalu berkembang.

c. Memperkecil keretakan sosial (social dislocation) dalam proses pembangunan, memelihara kesatuan keluarga, memperteguh rasa aman, dan memberi kepuasan pribadi dan sosial dalam membangun suatu masyarakat baru.

d. Menstabilkan pendapatan desa dan kota, dan memperkecil perbedaan-

perbedaannya dengan cara memperbanyak kesempatan kerja yang produktif dan khususnya memadukan kegiatan-kegiatan pertanian dengan kegiatan non- pertanian dalam lingkungan masyarakat yang sama.

e. Menggunakan tenaga kerja yang ada secara lebih efektif, dengan

mengarahkannya pada usaha-usaha yang mengembangkan sumberdaya- sumberdaya alam secara sangat luas di tiap-tiap agropolitan district, termasuk peningkatan hasil pertanian, proyek-proyek untuk memelihara dan

mengendalikan air, pekerjaan umum di perdesaan, memperluas pemberian jasa- jasa untuk perdesaan dan industri yang berkaitan dengan pertanian.

f. Merangkai agropolitan district menjadi jaringan regional, dengan cara membangun dan memperbaiki sarana hubungan antara agropolitan district dan kota-kota besar, serta menempatkan pada daerah (regional) jasa-jasa tertentu dan kegiatan-kegiatan penunjang yang membutuhkan tenaga kerja yang lebih besar dari pada yang terdapat dalam satu district.

g. Menyusun suatu pemerintahan dan perencanaan yang sesuai dengan

lingkungannya yang dapat mengendalikan pemberian prioritas-prioritas pembangunan dan pelaksanaannya pada penduduk daerahnya. Apa yang dimaksudkan disini ialah suatu pemerintahan yang memberi wewenang pada

agropolitan district untuk mengambil keputusan sendiri.

h. Menyediakan sumber-sumber keuangan untuk membangun agropolitan dengan cara : (1) menanam kembali bagian terbesar dari tabungan setempat di tiap-tiap

district, (2) mengadakan sistem bekerja sebagai pengganti pajak bagi semua anggota masyarakat yang telah dewasa, (3) mengalihkan dana pembangunan dari pusat-pusat kota dan kawasan industri khusus untuk pembangunan agropolitan, dan (4) memperbaiki nilai tukar barang-barang yang merugikan antara petani dan penduduk kota agar lebih menguntungkan petani.

Sedangkan pengembangan kawasan agropolitan di Indonesia ditujukan untuk:

(1) Menciptakan pembangunan desa-kota secara berimbang

(2) Meningkatkan keterkaitan desa-kota yang sinergis (saling memperkuat)

(3) Mengembangkan ekonomi melalui upaya konsentrasi/akumulasi nilai

tambah di wilayah perdesaan berbasis aktivitas pertanian

(4) Meningkatkan ketahanan pangan melalui konstribusi produk-produk sub- sistem pertanian primer, baik itu pertanian primer tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, maupun perikanan

(5) Pengembangan lingkungan permukiman perdesaan

(6) Diversifikasi dan perluasan basis peningkatan pendapatan dan kesejahteraan (7) Menciptakan daerah yang lebih mandiri dan otonom

(8) Menahan arus perpindahan penduduk dari wilayah perdesaan ke wilayah perkotaan agar tidak berpindah secara berlebihan (berkontribusi pada penyelesaian masalah baru yang timbul di perkotaan)

(9) Pemulihan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Berdasarkan model area agropolitan apabila besaran penduduk yang menjadi ukuran, maka suatu distrik agropolitan setara dengan 1 wilayah pengembangan partial (WPP) permukiman transmigrasi. Namun bila dilihat dari luas wilayahnya (sekitar 100 – 250 km2 atau 10.000 – 25.000 Ha), ukurannya dapat lebih kecil dari luasan 1 WPP. Secara administratif luasan dan besaran penduduk ini setara dengan luasan wilayah kecamatan, dapat berpenduduk sampai dengan 25.000 jiwa dan sudah dapat berfungsi sebagai suatu simpul jasa distribusi.2 Simpul jasa distribusi merupakan titik tumpu bagi tumbuh dan berkembangnya kota, menurut pertimbangan ekonomis, atau dengan kata lain kota mempunyai fungsi ekonomi dalam perannya sebagai simpul jasa distribusi.

Model pembangunan agropolitan ini sebenarnya didasarkan pada pendekatan perencanaan pembangunan perdesaan di China yang diorganisasikan oleh Mao Tse Tsung pada awal tahun 1960-an (Pradhan 2003). Teori ini menekankan bahwa otoritas perencanaan dan pengambilan keputusan harus didesentralisasikan ke wilayah perdesaan, sehingga masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan akan mempunyai tanggung jawab penuh terhadap perkembangan dan pembangunan daerahnya sendiri.

Sebelum konsep agropolitan dikembangkan, Mosher (1965) telah menawarkan lima faktor utama yang harus dipenuhi dalam mensukseskan pembangunan pertanian di wilayah perdesaan, yaitu:

a. Adanya pasar atau pemasaran hasil pertanian, dimana petani dapat membeli sarana produksi dan alat pertanian dan menjual hasil pertanian;

b. Adanya teknologi yang selalu berubah untuk membuat percobaan-percobaan pengujian lokal;

c. Adanya sarana produksi secara lokal;

2

Konsep dasar pengembangan wilayah dikembangkan oleh Dr. Poernomosidhi Hadjisaroso ketika beliau menjadi Dirjen Bina Marga, Dep. PU. untuk pengembangan dan pembinaan sistem jaringan jalan di Indonesia.

d. Adanya insentif produksi bagi petani, berupa fasilitas kredit untuk penyediaan sarana produksi, dan

e. Adanya transportasi yang memadai.

Menurut Sitorus dan Nurwono (1998), pendekatan konsep agropolitan adalah pembentukan kota-kota pertanian, pada umumnya dilaksanakan dengan menerapkan strategi pembangunan perwilayahan berdasarkan efisiensi produktivitas yang dipengaruhi oleh jenis kesesuaian komoditas yang dikembangkan, volume produksi, skala usaha dan keuntungan komparatif pemasaran komoditas dalam jangka panjang serta keterpaduan pengembangannya berdasarkan :

a. Internalisasi dari berbagai dampak eksternal melalui keterkaitan dan komplementari kegiatan pertanian, industri dan jasa;

b. Pemerataan pemilikan, peluang dan kontribusi terhadap produktivitas sistem perekonomian pertanian;

c. Investasi yang berkesinambungan dalam pembangunan dan pemeliharaan

sarana produksi dan pemasaran;

d. Perlindungan terhadap pertumbuhan perekonomian setempat dari intervensi globalisasi ekonomi yang bersifat parasitik.

Persyaratan terbentuknya agropolitan adalah kota tersebut memiliki nilai tambah (efisien) baik dalam pelayanan jasa-jasa yang mudah dan murah dibandingkan dari kota terdekat maupun dalam produksi dan pemasaran serta memiliki hinterland yang kegiatan perekonomian utamanya adalah di bidang agribisnis (ada rantai agribisnisnya). Perwujudan dari konsep tersebut adalah mengurangi kesenjangan pertumbuhan desa-kota melalui keterkaitan yang saling menguntungkan, dan penyamaan dasar kemitraan. Keterkaitan dalam konteks ini desa-desa utama harus dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang berfungsi sebagai tempat untuk memulai penyamaan kemitraan dalam mengurangi kesenjangan pertumbuhan. Konsep ini menurut Friedmann dan Douglass (1975) dinamakan “perwilayahan agropolitan” dengan ciri sebagai berikut:

a. Mempunyai tingkat kemandirian dan kepercayaan diri untuk tumbuh;

c. Disertifikasi ketenagakerjaan (tidak hanya petani) yang dapat menumbuhkan agroindustri);

d. Keterkaitan yang baik antara sektor pertanian, pengolahan dan industri manufaktur yang banyak menggunakan hasil pemanfaatan sumberdaya setempat, agar tidak terjadi kesenjangan pertumbuhan antara sektor pertanian yang cenderung makin tertinggal dibandingkan sektor industri (Gambar 7).

SP (Sektor Pertanian) SI (Sektor Industri)

Gambar 7 Diagram Ketertinggalan Sektor Pertanian dengan Sektor Industri.

Menurut Rustiadi (2007), agropolitan adalah salah satu konsep pembangunan pertanian dan perdesaan yang mampu memposisikan dirinya dalam kerangka untuk mengatasi permasalahan nasional yang timbul di wilayah perdesaan, melalui pengembangan:

a. Secara spasial: agropolitan sangat menekankan perlunya keterkaitan hirarki ruang antara kawasan perdesaan dengan kota-kota kecil menengah (agropolis) dan kota besar (urban rural linkage);

b. Secara sektoral: agropolitan sangat menekankan perlunya keterkaitan antara sektor pertanian dengan industri pengolahan, keuangan, dan jasa perdagangan termasuk ekotourism;

c. Secara sumberdaya: agropolitan sangat menekankan keterkaitan antara

pembangunan sumberdaya buatan (infrastruktur perdesaan), sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya sosial kelembagaan.

Agropolitan menjadi relevan dengan wilayah perdesaan karena pada umumnya sektor pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam memang merupakan mata pencaharian utama dari sebagian besar masyarakat perdesaan.

Setelah Pembangunan Sebelum Pembangunan SP SI SP SI

Namun pengelolaan sektor pertanian di wilayah perdesaan masih bersifat primer, yang seharusnya dikembangkan ke arah industrialisasi pertanian untuk mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, yang sering juga disebut agroindustri. Agroindustri akan sulit berkembang apabila tidak didukung oleh pertanian primer sebagai penghasil bahan baku. Pertanian primer tidak akan berkembang apabila tidak disokong oleh pengembangan industri-industri yang menghasilkan sarana produksi. Ketiga hal tersebut, yaitu agroindustri, pertanian primer dan industri sarana produksi, tidak dapat berkembang jika tidak ada dukungan dari penyedia jasa pendukung, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian, maupun pendidikan. Oleh karena itu, pembangunan industri yang didukung oleh pertanian yang tangguh pada dasarnya adalah pembangunan agribisnis.

Dokumen terkait