BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Konsep Pengembangan Ekowisata
Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, Ekonomi dan sosial.
Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.
Untuk mengembangkan Ekowisata dilaksanakan dengan cara pengembangan pariwisata pada umumnya. Ada dua aspek yang perlu dipikirkan Pertama, aspek destinasi, kemudian kedua adalah aspek market. Untuk pengembangan ekowisata dilaksanakan dengan konsep product driven. Meskipun aspek market perlu dipertimbangkan namun macam, sifat dan perilaku obyek dan daya tarik wisata alam dan budaya diusahakan untuk menjaga kelestarian dan keberadaannya. Pada hakekatnya ekowisata yang melestarikan dan memanfaatkan alam dan budaya masyarakat, jauh lebih ketat dibanding dengan hanya keberlanjutan. Pembangunan ekowisata berwawasan lingkungan jauh lebih terjamin hasilnya dalam melestarikan alam dibanding dengan keberlanjutan pembangunan. Sebab ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik/ dan psikologis wisatawan.Bahkan dalam berbagai aspek ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism.Ekowisata
bukan menjual destinasi tetapi menjual filosofi. Dari aspek inilah ekowisata tidak akan mengenal kejenuhan pasar.
Ekowisata menurut The Ecotourism Society (1990) sebagai berikut:
Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Ekowisata lebih populer dan banyak dipergunakan dibanding dengan terjemahan yang seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme.Terjemahan yang seharusnya dari ecotourism adalah wisata ekologis.Yayasan Alam Mitra Indonesia (1995) membuat terjemahan ecotourism dengan ekoturisme.Di dalam tulisan ini dipergunakan istilah ekowisata yang banyak digunakan oleh para rimbawan. Hal ini diambil misalnya dalam salah satu seminar dalam Reuni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (Fandeli,1998). Kemudian Nasikun (1999), mempergunakan istilah ekowisata untuk menggambarkan adanya bentuk wisata yang baru muncul pada dekade delapan puluhan.
Wunder (2000: 465-479) mendefinisikan ekowisata sebagai wisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, memberikan dampak langsung terhadap konservasi kawasan, berperan dalam usaha-usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, mendorong konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Hector Ceballos-Lascurain (1998: 7) dalam Hernandez,(2005:
611), ekowisata adalah pariwisata yang memperhatikan lingkungan, dimana perjalanan wisata atau kunjungan ke daerah yang masih alami tanpa mengakibatkan gangguan; dengan tujuan menikmati, mencari pengalaman dan
mempelajari keindahan alam, budaya daerah setempat dengan memperhatikan segi konservasi, berperan dan memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal.
Disamping itu berkembangnya ekowisata yang berbasis masyarakat menawarkan pembangunan ekologi yang berkelanjutan dan juga peningkatan hubungan sosial, ekonomi, politik dari masyarakat daerah setempat (Kontogeorgopoulos, 2005: 4-23).
Dari definisi-definisi tentang ekowisata di atas dapat disarikan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang mendasar dalam aktivitas ekowisata yaitu:
1. Perjalanan ke Kawasan Alamiah
Kawasan alamiah yang dimaksud adalah kawasan dengan kekayaan hayati dan bentang alam yang indah, unik, dan kaya. Kawasan ini dapat berupa taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya, taman laut dan kawasan lindung lainnya.
2. Dampak yang Ditimbulkan terhadap Lingkungan Rendah
Dampak yang ditimbulkan harus ditekan sekecil mungkin.Dampak dapat dihasilkan dari pengelola wisata, wisatawan, penginapan dan sebagainya. Semua pihak dituntut untuk meminimalkan dampak yang mempunyai peluang, menyebabkan pencemaran dan penurunan mutu habitat atau destinasi wisata.
3. Membangun Kepedulian terhadap Lingkungan
Tujuan aktivitas ini pada dasarnya untuk mempromosikan kekayaan hayati di habitat aslinya dan melakukan pendidikan konservasi secara langsung.
Seringkali kesadaran terhadap lingkungan hidup akan mudah dimunculkan pada pelajaran-pelajaran di luar kelas, karena sentuhan-sentuhan emosional yang
langsung dapat dirasakan. Dengan demikian, usaha ekowisata harus mampu membawa seluruh pihak yang terlibat dalam ekowisata mempunyai kepedulianterhadap konservasi lingkungan hidup.
4. Memberikan Dampak Keuntungan Ekonomi Secara Langsung bagi Konservasi
Dalam hal ini, ekowisata dengan sebuah mekanisme tertentu, harus mampu menyumbangkan aliran dana dari penyelenggaraannya untuk melakukan konservasi habitat.
5. Memberikan Dampak Keuangan dan Pemberdayaan Masyarakat Lokal.
Masyarakat lokal harus mendapatkan manfaat dari aktivitas wisata yang dikembangkan, seperti sanitasi, pendidikan, perbaikan ekonomi, dan dampak dampak lainnya. Unit-unit bisnis pendukung wisata seperti pusat penjualan cinderamata, usaha penginapan harus dikendalikan oleh masyarakat lokal.
Hal ituuntuk menjamin keikutsertaan masyarakat lokal dalam pertumbuhan ekonomi setempat, karena aktivitas wisata.
Kalau dilihat dari batasan-batasan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan suatu batasan yang lebih sederhana yaitu: Ekowisata adalah suatu jenis pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan aktivitas melihat, menyaksikan, mempelajari, mengagumi alam, flora dan fauna, sosial-budaya etnis setempat, dan wisatawan yang melakukannya ikut membina kelestarian lingkungan alam di sekitarnya dengan melibatkan penduduk lokal. Semakin populernya kegiatan ekowisata dan sumbangan-sumbangan penting yang diberikan bagi aktivitas konservasi mendorong PBB lewat Badan Lingkungan
Hidup (UNEP), menetapkan tahun 2002 sebagai International Year of Ecotourism.Dalam Deklarasi Quebec, ekowisata menganut prinsip-prinsip pariwisata yang berkelanjutan yaitu:
a. Berperan dalam konservasi alam & warisan kebudayaan.
b. Mengikutsertakan masyarakat pribumi/lokal dalam perencanaan, pengembangandan operasional.
c. Menampilkan alam dan warisan budaya sebagai tujuan wisata.
d. Bentuk perjalanan wisata dapat independent maupun kelompok (TIES, 2004) F. Konsep kebun Raya dan tujuan pengembangannya
1. Konsep kebun raya
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2011 Tentang Kebun Raya Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia,
Menimbang :
a. Bahwa Kebun Raya sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara exsitu berperan dalam rangka mengurangi laju degradasi keanekaragaman tumbuhan, sehingga perlu meningkatkan pembangunan Kebun Raya.
b. Bahwa Kebun Raya sebagai bagian dari Agenda 21 Indonesia terkait konservasi keanekaragaman hayati, harus dibangun secara terencana, terkoordinasi dan memenuhi standar pembangunan Kebun Raya.
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentangKebun Raya.
Mengingat :
1. Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 3419);
3. Undang-UndangNomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bang sa mengenai KeanekaragamanHayati (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3556).
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844).
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725).
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059).
7. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3803).
8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3804).
9. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833).
2. Tujuan pengelolaan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang
Tujuan awal dari pengembangan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang sesuai dengan yang tercantum di dalam Perjanjian Kerjasama dengan PKT Kebun Raya Bogor adalah:
a. Menyediakan tempat untuk konservasi tumbuhan secara in-situ dan ex-situ b. Menyediakan tempat penelitian dan pendidikan serta laboratorium alam
tumbuhan tropis.
c. Menambah objek wisata alam di Kabupaten Enrekang.
d. Menyelamatkan dan melestarikan lahan yang lokasinya strategis.
Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang, maka tujuan dari pembangunan kebun raya ini
kemudian didasarkan pada letak geografis dan kondisi alamnya.Oleh sebab itulah tujuan utama pembangunan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang kemudian diarahkan pada pelestarian jenis-jenis tumbuhan.
Pembangunan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang ditujukan untuk:
1. Menjadi salah satu kebun raya terbaik di bidang konservasi dan penelitian tumbuhan.
2. Mengembangkan penelitian di bidang konservasi dan pendayagunaan tumbuhan Indonesia
3. Mengembangkan pendidikan lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap tumbuhan dan lingkungan
4. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi tumbuhan, terutama perlindungan hutan dan tumbuhan.
G. Kerangka fikir
Untuk menghindari terjadinya bias maka dalam penelitian ini harus meiliki arah yang yang menjadi fokus dari penelitian, berdasarkan uraian diatas,maka model kerangka pikir penelitian ini dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
H. Deskripsi Fokus Penelitian
Adapun deskripsi fokus dalam penelitian ini adalah :
1. Strategi pengembangan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang a. Pembangunan infrastruktur
Pembangunan infrastruktur dalam suatu objek wisata adalah yang terpenting dan menjadi hal yang diutamakan karena dengan adanya infrastruktur yang memadai akan memudahkan pengelola dalam mengembangkan objek wisata tersebut dan langkah dari pengelola akan terus meningkatkan pembangunan infrstruktur akan terus dilakukan demi peningkatan kualitas wisata Kebun Raya Massenrempulu Enrekang.
Strategi Pemerintah Daerah
Pengembangan Kebun Raya Massenrempulu Pembangunan
Infrastruktur
Kerjasama antar Lembaga Peningkatan
Kualitas SDM
Penataan Ruang
b. Peningkatan Kualitas Pengelola ( SDM )
Peningkatan kualitas pengelola dalam objek wisata adalah suatu usaha untuk menghadirkan suatu wisata yang berkualitas dan mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pengunjung.
c. Penataan Ruang
Penataan ruang adalah hal yang sangat serius dilakukan agar konsep dari Master Plan itu sendiri mejadi hal yang nyata bukan hanya sebatas konsep tata ruang saja tetapi menjadi hal yang ditampilkan dalam objek wisata tersebut.
d. Kerjasama Antar Lembaga
Kerjasama antar lembaga yang dilakukan oleh pihak pengelola dalam hal ini UPTD Kebun Raya Massenrempulu Enrekang adalah langkah inisiatif mengingat pengembangan Kebun Raya sebagai objek wisata bukan hanya terfokus pada anggaran dari PEMDA akan tetapi membutuhkan bantuan dari beberapa lembaga baik dari pengembangan infrastruktur maupun mengenai pengembangan kapasitas pengelola dalam meningkatkan pembangunan Kebun Raya Massenrempulu Enrekang.
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi a. Faktor pendukung
Hal – hal yang menunjang dalam proses pengembangan khusunya dalam suatu objek wisata yaitu adanya dukungan dari berbagai pihak maupun pembangunan infrastruktur dasar sebagai penunjang terciptanya suatu objek wisata yang diinginkan
b. Faktor penghambat
Kendala atau hambatan yang dihadapi pengelola dalam pengembangan objek wisata diantaranya SDM sebagai pengelola masih belum memiliki Kualitas dalam pengembangan suatu objek wisata dan belum rampungnya pembangunan infrastruktur sebagi penunjang dalam suatu objek wisata.