• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pengembangan Fasilitas Persampahan

METROPOLITAN BODEBEK KARPUR

5. Konsep Pengembangan Fasilitas Persampahan

GAMBAR 23 WASTEWATER TREATMENT FACILITY DI COLORADO, AMERIKA SERIKAT

Sumber : www.bouldercolorado.gov, 2013

5. Konsep Pengembangan Fasilitas Persampahan

Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, volume sampah, khususnya sampah padat, yang dihasilkan oleh kawasan perkotaan terus mengalami peningkatan. Masalah pengelolaan sampah perkotaan antara lain adalah keterbatasan peralatan, lahan, dan sumber daya manusia (Damanhuri dan Padmi, 2010). Berdasarkan kajian BPPT (2002) mengenai Model Pengelolaan Persampahan Perkotaan, pengelolaan persarnpahan mempunyai beberapa tujuan yang sangat mendasar yang meliputi:

a) Meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat; b) Melindungi sumber daya alam (air);

c) Melindungi fasilitas sosial ekonomi; d) Menunjang pembangunan sektor strategis.

Pengelolaan persampahan di negara industri sering didefinisikan sebagai kontrol terhadap timbulan sampah, mulai dari pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, proses, dan pembuangan akhir sampah, dengan prinsip-prinsip terbaik untuk kesehatan, ekonomi, keteknikan/engineering, konservasi, estetika, lingkungan, dan juga terhadap sikap masyarakat (Tchobanoglous et al, 1993).

54

Keberhasilan pengelolaan, bukan hanya tergantung aspek teknis semata, tetapi mencakup juga aspek non teknis, seperti bagaimana mengatur sistem agar dapat berfungsi, bagaimana lembaga atau organisasi yang sebaiknya mengelola, bagaimana membiayai sistem tersebut dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana melibatkan masyarakat penghasil sampah dalam aktivitas penanganan sampah. Untuk menjalankan sistem tersebut, harus melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti perencanaan kota, geografi, ekonomi, kesehatan masyarakat, sosiologi, demografi, komunikasi, konservasi, dan ilmu bahan (Damanhuri dan Padmi, 2010).

Berdasarkan Laporan WJPMDM (2011) mengenai Pengelolaan Sampah Padat Perkotaan di Wilayah Metropolitan di Jawa Barat: Belajar dari Pengalaman di Singapura, kunci keberhasilan Singapura dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah padat perkotaan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan ditopang oleh empat aspek kunci, yaitu: a) visi jangka panjang; b) kelembagaan yang menunjang; c) swastanisasi kegiatan pengumpulan dan pengolahan sampah; serta d) sosialisasi dan kampanye kepada masyarakat.

Pengelolaan persampahan perkotaan terutama di kota besar dan metropolitan pada umumnya menghadapi persoalan utama yaitu keterbatasan lahan. Kebijakan regionalisasi TPA merupakan salah satu solusi dalam rangka mengefisienkan pengelolaan persampahan perkotaan. Balai Pengelolaan Sampah Regional Provinsi Jawa Barat menjelaskan klasifikasi TPA dalam lingkup provinsi yaitu TPA regional, TPA bersama, dan TPA mandiri. TPA regional berada di pusat-pusat kegiatan nasional; TPA bersama berada di pusat-pusat kegiatan wilayah; sedangkan TPA mandiri berada di wilayah kabupaten/kota untuk melayani kebutuhan kabupaten/kota itu sendiri. Dalam hal ini, jika ingin menerapkan kebijakan regionalisasi TPA maka idealnya terdapat TPA yang mampu melayani kebutuhan pengelolaan persampahan perkotaan di ketiga metropolitan di Jawa Barat.

Dalam lingkup Metropolitan Bodebek Karpur, terdapat rencana pembangunan TPA Nambo yang berlokasi di Kabupaten Bogor. Pada tahun 2006, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghasilkan kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok tentang Kerjasama Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional untuk Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok.

55

GAMBAR 24 RENCANA LOKASI TEMPAT PENGOLAHAN DAN PEMROSESAN AKHIR SAMPAH (TPPAS) REGIONAL NAMBO DI KABUPATEN BOGOR

Sumber : Balai Pengelolaan Sampah Regional Provinsi Jawa Barat, 2013

Selanjutnya, pada bulan Januari 2011, tindak lanjut dari kesepakatan tersebut adalah dihasilkannya kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk dan PT Cibinong Center Industrial Estate (CCII) tentang Penyediaan Akses Jalan Menuju ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional di Desa Nambo dan Desa Lulut Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Peta orientasi lokasi TPPAS Regional Nambo ditunjukkan pada Gambar 25.

Kapasitas operasi TPPAS Regional Nambo direncanakan dapat mengelola sebanyak 1000 ton sampah/hari. Wilayah pelayanan TPPAS ini mencakup Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Infrastruktur yang direncanakan untuk mendukung operasional TPPAS Nambo adalah jalan operasi, drainase, dan instalasi pengolahan

leachate. Proses pengelolaan sampah di TPPAS ini terdiri dari tiga tahap yaitu pemilahan, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Fasilitas untuk melakukan pemilahan terdiri dari hanggar dan alat pemilah, serta fasilitas untuk mengolah terdiri dari mesin pemilahan, sarana pengomposan, sarana daur ulang, dan sarana pengolahan sampah menjadi bahan bakar (Refuse Derived Fuel (RDF)).

56

GAMBAR 25 PETA ORIENTASI LOKASI TPPAS REGIONAL NAMBO

Sumber : Balai Pengelolaan Sampah Regional Provinsi Jawa Barat, 2013

GAMBAR 26 PROSES PENGELOLAAN SAMPAH DI TPPAS REGINAL NAMBO

Sumber : Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, 2013

Berdasarkan rencana pelaksanaan yang disusun oleh Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, kegiatan yang dilakukan pada tahun 2013 adalah

57

persiapan lelang yang dilanjutkan ke proses lelang kerjasama pemerintah-swasta. Target realisasi proyek ini pada tahun 2013 mencakup:

a) Kerjasama pemanfaatan kawasan hutan 40 Ha dengan Perum Perhutani; b) Kerjasama pemanfaatan hasil pengolahan sampah dengan PT Indocement; c) Terlaksananya proses lelang Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS);

d) Proses penyusunan kerjasama antardaerah dalam rangka kesepakatan pembiayaan (tipping fee dan/atau subsidi).

Selanjutnya, pada tahun 2014 dilakukan perencanaan teknis rinci oleh investor, dan pada tahun 2015 sudah memulai pembangunan TPPAS regional Nambo. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kebijakan regionalisasi TPA ini merupakan salah satu solusi dalam menghadapi persoalan persampahan perkotaan. Namun, saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih fokus pada upaya realisasi TPPAS prioritas yaitu Nambo yang melayani Kota Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor serta Legoknangka yang melayani wilayah di Bandung Raya. Pada kenyataannya, wilayah timur Metropolitan Bodebek Karpur yang mencakup Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta diprediksikan akan berkembang pesat karena kegiatan industri yang banyak berkonsentrasi di wilayah ini. Untuk ke depannya, diperlukan kajian mengenai pembangunan TPPAS yang dapat melayani wilayah Jawa Barat bagian Utara termasuk wilayah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Dokumen terkait