• Tidak ada hasil yang ditemukan

c. Makna Kegiatan SipulungCappa’ (mabbulo)

Dalam dokumen “UPACARA TRADISIONAL PETAN (Halaman 111-136)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Makna Upacara Tradisional Pertanian Padi Sawah

C.5. c. Makna Kegiatan SipulungCappa’ (mabbulo)

Kegiatan mabbissa bungka, sipulung tangnga dan sipulung cappa’

(mabbulo) merupakan syukuran (kande sukkuru’) dalam bentuk makan

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 98 bersama dirumah adat sawah (sanggar tani). Kegiatan mabbulo disertai dengan kegiatan mangappi’, padi berumur 3 bulan atau buah biji padi sudah keluar satu per satu. Kegiatan mangappi’ adalah pemberian ramuan tradisioanal untuk padi agar terhindar dari hama dan penyakit. Bahan yang digunakan dalam kegiatan mangappi’ berupa: kunyit hitam (konyi’ lotong), panini’, jamur (tembatang cella’), jambu, ijuk (gamma’), talla’, adea. Bahan tersebut dipercaya masyarakat setempat merupakan ramuan yang diberikan kepada padi agar terhindar dari hama dan penyakit. Mangappi’ dilakukan disawah masing-masing petani setelah kegiatan mabbulo selesai dilakukan.

Iya tu isanga mabbulo iduppai buana tu ase, iya na massu sisewwa-sewwa mo bua ase mabbulo maki, ipajokkei mi rekeng tu bulo jo igalung sewwa, sewwara jo unai tijo sideppena sao-sao galung tu itudangi le, apa inda na coco’ mabbulo ke mega mi bua ase tetto na coco’ ke inda pa papa pokona ede pa massu sisewwa-sewa ke mabbulo, Kepura I tijo ede bulo I pappacokang lambe’na dua metere apa naliwang tu ase satu setengah lah, iyate bulo inda mo na ipake ke acara pole I isellei le’ pisseng ra ipake lolling daung to’o pasti ede daunna. (Abdul Hafid, 59 Tahun, Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang).

Mabbulo adalah bentuk penyambutan untuk padi yang sudah berisi.

Jika padi telah keluar satu per satu,maka kegiatan mabbulo baru dilaksanakan. Setelah kegiatan mabbulo selesai,maka bulo (bambu) tersebut ditancapkan disudut sawah sebelah timur. Bambu (bulo) yang ditancapkan disudut sawah hanya satu batang yang panjangnya kira-kira 1,5 meter.

Bambu (bulo) yang ditancapkan tersebut harus berdekatan dengan sanggar tani (tempat berlangsung segala kegiatan upacara). Satu batang bambu yang telah ditancapakan tersebut dianggap telah mewakili semua petani yang

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 99 berada dalam lingkup daerah tersebut. Kegiatan mabbulo tidak dapat dilakukan apabila bulir padi sudah banyak yang telah berbuah, atau saat tidak ada sama sekali buah padi yang berbuah.Bambu (bulo) yang digunakan harus diganti setiap musim, karena bambu tersebut hanya dipakai dalam satu musim tanam.Bambu (bulo) yang hendak ditancapkan disawahharus memiliki tangkai dan daun.

C.6. Makna Kegiatan di Waituo

Kegiatan massorong di waituo dilakukan saat kegiatan tertentu dilaksanakan disanggar tani, seperti mabbissa bungka, sipulung tangnga, mabbulo dan mappadendang. Setiap kegiatan yang akan berlangsung,maka terlebih dahulu dilakukan kegiatan massorong di waituo. Sebelum membaca mantra, makanan disediakan dirumah adat sawah untuk dikonsumsi bersama dengan sesama warga yang hadir pada kegiatan tersebut.Pemangku adat bertugas memimpin setiap kegiatan massorong di waituo dan membaca mantra untuk alat dan makanan yangdisediakan di rumah adat. Waituo tersebut merupakan tempat yang dianggap sakral dan diyakini oleh masyarakat di Dusun memiliki penunggu yang menjaga lahan persawaha.

Kegiatan massorong di waituo mirip dengan kegiatan massorong di puwata’. Perbedaannya, kegiatan massorong di-puwata’ dilakukan sebelum ke sawah (mappalili’), sedangkan kegiatan massorong di waituo dilakukan

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 100 sejak kegiatan mabbissa bungka,sipulung tangnga, mabbulo sampai acara mappadendang atau pesta panen.

Wai tuo itu sumberna wai na pake paggalung, ede wai na pake tu paggalung, iya tijo wai tuo itudangi massorong ngo ede sumberna na pake tu paggalung, iyamo na ede le’ una wai napake tu paggalung, iya tijo wai yo massolo likka I galung, termasuk mata air namoto sarrang tia to matti iyamo na likka jo.

(Abdul hafid, 59, ketua kelompok tani lapporang).

Menurut Abdul Hafid sebagai Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang.

Waituo merupakan sumber mata air, karena air waituo digunakan oleh petani.

Menurut kepercayaan petani, waituo merupakan tempat yang sangat sakral karena sumber air tersebut tidak pernah kering walupun musim kemarau, serta ada anggapan bahwa air yang digunakan dalam bertani disebabkan karena adanya waituo. Itulah sebabnya petani mengunjungi waituo untuk melakukan kegiatan massorong atau membawa sesajen setiap kagiatan adat pertanian akan dilaksanakan.

Gambar 9. kegiatan massorong di wai tuo yang dipimpin oleh pemangku adat dan dihadiri beberapa warga petani.

Sumber : Foto Pribadi.

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 101 C.7. Makna Kegiatan Mallammang, Mappadendang dan Maddowa’

Kegiatan mallammang termasuk dalam kegiatan syukuran Karena dilakukan setelah petani memanen padi. Kegiatan mallamang dilakukan oleh petani di lahan sawahnyamasing-masing, namun ada pula yang melakukannya secara berkelompok dengan satu tempat pembakaran.

Menurut latajawi sebagai Ketua Kelompok Tani Lapporang mengatakan bahwa tujuh (pitu) lammang yang dibawa tiap-tiap petani kerumah sanggar tani sebetulnya diperuntukkan kepada tamu yang datang pada saat acara mappadendang. Sedangkanlammang yang akan diantar untukdi-panggolo diwaituoditanggung oleh Latajawi,karena lammang yang ingin dipangolo diwaituo tersebut harus dipisahkan terlebih dahulu dengan lammang yang akan dimakan. Lammang yang ingin diantar ke waituo bukan sisa lammang yang telah dimakan,itulah sebabnya kenapaharus dipisahkan terlebih dahulu. Lammang tersebut berupa dua macam yaitu lammang yang dibuat menggunakan beras ketan hitam (pulu’ bolong) sebanyak tiga buah lammang, dan lammang yang terbuat dari beras ketam putih (pulu’ pute) sebanyak tiga buah lammang.

Massu’na te mappadendang pesta penen ra sibawa kande sukurang rami, berterimah kasih sipakario-rio apa ede una iduppa (Tajawi, 44 tahun, Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang).

Mappadendang merupakan puncak kegiatan atau tahap terakhir adat pertanian di Dusun Palita. Mappadendang sebagai acara syukuran atau

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 102 tanda terima kasih kepada Tuhan karena petani sudah memperoleh hasil panen.

Kegiatan maddowa’ merupakan pelengkap untuk kegiatan mappadendang, karena maddowa’ tidak bisa terpisah dengan kegiatan mappadendang.Latajawi mengatakan bahwa acara mappadendang tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan maddowa’, karena mappadendang merupakan mata putih (mata pute) sedangkan maddowa’ merupakan mata hitam (mata bolong).

Iya tu kegiatang ipegau lako manangngi sanggar tani, iyara na massu ke likka massorong lako puata na jewwa wai tuo iyara tijo, apa jo’ memang rai ammemanganna tu tau riolo jadi jo’ letoki(Tajawi, 44 Tahun, Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang).

Semua kegiatan upacara adat yang dilakukan harus berada dilokasi pertanian atau sanggar tani, karena (ammemangan) adat orang dulu telah menentukannya disana.Adapun kegiatan adat yang dilakukan di luar lingkup sanggar tani adalah ketika massorong di waituo dan di puata, serta pada saat penyembelihan ayam di teppo’.Adat yang berlangsung di sanggar tani adalah adat sipulung, mabbissabungka,sipulung tangnga, sipulung cappa’ atau mabbulo, mappadendang dan maddowa’. Sedangkan acara mallammang dilakukan di sawah masing-masing petani dan beberapa orang juga melakukannya di sanggar tani.

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 103 D. Pengaruh Implikasi Terhadap Pelaksanaan Upacara Tradisional

Terhadap Pertanian

Setiap daerah memiliki adat budaya yang berbeda-beda.Adat kebudayaan telah menjadi ciri khas setiap daerah tertentu.Setiap adat memiliki pengaruh bagi daerah tersebut apabila salah satu rangkaian adat tidak dilakukan, seperti halnya upacara adat tradisional pertanianpadi sawah yang berlangsung di Dusun Palita Desa Malimpung Kabupaten Pinrang.Apabila salah satu adat tersebut tidak dilaksanakan, maka akanada hal-hal buruk yang menimpa para petani, entah itu padi mereka dirusak hama, atau aliran air tidaklancar.

Ede’, apa ede terjadi tau laba, iya ke yaku iya ke teppapa iduppa toto ku pegau I, iyara ke ede una kupigau I, tettosi wa akua assalang puratta maggalung ijamana taeng, edepa iduppa apa tijo massu’na sebagai tanda terimah kasi ra ede na bengang ki ede una yala(La Tajawi, 44 Tahun, Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang).

Pengaruh yang pernah terjadi apabila salah satu kegiatan adat tidak dilakukan, bahkan bisa merenggut nyawa petani dan mengakibatkan hal-hal buruk lainnya.Hal tersebut dipercaya karena sebelumnya sudah pernah terjadi hal serupa. Kegiatan adat yang pernah tidak dilakukan adalah mappadendang, Karena hasil panen yang diperoleh kurang baik di bawah 75%. Kegiatan adat yang dilakukan hanyalah sebagai tanda terimakasih apabila telah diberi hasil panen yang cukup memuaskan, ditandai dengan adanya hasil panen yang bisa dibawa pulang kerumah untuk dimakan atau

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 104 dijual, namun jika hasilnya tidak memuaskan berarti petani tidak melakukan kegiatan mallammang, maddowa’, dan mappadendang.

H M. Tahir menambahkan sebuah cerita mengenai suatu pengaruh yang pernah terjadi pada masa dulu terkait dengan kegiatan upacara padi sawah yang ada di Dusun Palita Desa Malimpung. Seperti pada tulisan berikut : Itulah yang dulu waktu salah satu petani yang meninggal, pada waktu itu disaat salah seorang petani ini meninggal, orang yang di beri amanat atau orang yang di percaya bisa mengontrol adat pertanian disini, ingin melepaskan amanat tersebut dan memberkan kepada orang yang sebelumnya belum meninggal, penunggu yang ada di waituo tersebut tidak ingin kalau amanat tersebut diberikan ke orang lain, jadi penunggu yang berada di waitou ini berkata bahwa kalau amanat ini kau berikan kepada orang lain,yang pastinya saya akan mengambil nyawa orang yang kau berikan, dan amanat tersebut di ambil sama orang yang telah meninggal ini, karena orang ini menerima amanat tersebut akhirnya orang ini meninggal,

kemudian amanat tersebut ingin berikan kepada saya, saya pun berkata appa palaku mappala saya tidak mau menerima amanat tersebut diamanatkan kepada saya. Karena kau berikat amanat itu untuk saya bawa tapi saya tidak bisa membawanya. Jadi disaat diberikan kepada saya dia berkata pasti anda yang harus mengambilnya, pada saat itu besoknya orang mau adakan adat yang namanya mappadendang, saya pergi kerumah-rumah sawah saya untuk tidur saya melihat ular hitam yang besar (ula bolong pa

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 105 sallena) sesampai dirumah-rumah mata saya tidak mau tertidur karena ular yang saya liat sebelumnya selalu terbayang-bayang kalau ular itu datang menghapiri saya.

Disaat pagi saya pulang saya pergi ke acara pappadendangang sesampai disitu saya tanya kesalah satu orang bahwa lain-lain yang saya rasa, saya mau pulang duluan, disaat pulang pas dijalan ada orang bertanya kepada saya bilang kenapaki?, saya pun menjawab bilang perasaan saya lain-lain (maja’ kusadding) ingatan saya sudah bercampur aduk, kebetulan ada orang yang lewat dan membonceng saya sampai dirumah,,saya pun sudah lupa siapa pada saat itu yang membonceng saya.sesampai dirumah saya menyurah salah seorang yang dirumah untuk memangilkan saya tabib ( sandro), sandro itupun datang dan dia dirasuki oleh sih penunggu yang ada di pertanian itu sandro itu pun berbicara panjang lebar,ini mi yang saya bilang bahwa amanat ini tidak boleh diberikan kepada orang lain,kalau orang itu tidak mengambil kembali amanat tersebut saya akan mengambilnya (nyawanya) amanat ini tidak boleh kalau orang lain yang mengambilnya,karena orang yang sebelumnya memegang amanat ini sudah meninggal, kau akan membuat orang ini juga akan meninggal, tapi kalau amanat ini tidak kau ambil kembali pasti kau yang akan meninggal.

Kemudian sandro itu berkata kepada saya bahwa kau harus pergi ketemu dengan orang yang telah memberikan amanat tersebut untuk mengambil kembali amanat itu, kalau dia tidak mengambilnya tidak sampai

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 106 malam istrimu akan meninggal,saya pun pergi memberitahunya karena saya merasa sudah agak baikan karena sudah di obati oleh si sandro ini. pikiran saya pun sudah bagus,sayapun kerumah orang tersebut,orang itu pun ada sedang duduk-duduk di bawah rumahnya di atas balai-balai (pangka-pangka), saya pun lansung bilang ambillah kembali amanat tersebut, kalau kau tidak mau menerimanya tidak akan sampai malam istrimu akan meninggal, orang ini pun berkata bahwa tadi malam dia datang menghampiri saya dalam mimpi ingin memanggil saya tapi saya tidak mau, ini kata istri yang harus mengambil kembali amanat tersebut. jadi orang inipun akhirnya menerima kembali amanat itu,karena tidak ada seperti ini yang acara mappadendang meminta dua kali dalam setahun kecuali kamu yang meminta.

Itulah kenapa pada saat ini kita rutin melakukan adat mappadendang sehabis panen,karena orang ini memang yang memintanya dua kali dalam setahun,amanat itu sebetulnya tidak boleh diberikan kepada orang lain karena dia sendiri yang memintanya.sebetulnya dalam adat ini ada adat untuk kepentingan bersama dan ada untuk kepentingan diri kita sendiri,misalnya dalam hal mappalenna-lenna tallo,kalau untuk kepentingan kami sendiri adat mappelenna-lenna tallo ini merupakan bentuk terimah kasih kita sendiri agar kita di beri keselamatan dalam hal mengelolah pertanian mulai dari membajak sawah hingga pada akhirnya sampai di pemanenan.

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 107 Kalau yang dilakukan oleh si pemandu adat tersebut itu untuk kepentingan bersama para petani,mahkluk penunggu yang ada di lokasih pertanian itu yang laki-laki bernama andi pajokkai kalau yang perempuan bernama andi patudangi (H. M. Tahir, 56 Tahun, Petani).

Sattaungi tu tekku olai, tapi sempa ede terjadi tiai rekeng pakkambi’na ke pisseng rai, inda to na melo ke taeng dowa’na, iya ke yaku simula memangi iyara tenna yola apa caui tau maggattung dowa’, apa nukua mawatang nasanga tu dowa’

igattung, manyamang-nyamang unai ke issong, cia na yaku ke ippasarai mata lotongna na mata putena ke ipassarai pajama, iya tu dowa’ mata pute pappadendangang mata bolong, iya tijo battuanna tu pappadendangan na paddowa, tenna cocok I passara’ (Latajawi, 44 Tahun, Ketua Kelompok Tani Sinar Lapporang).

Adat mappadendang pernah tidak dilakukan dalam jangka satu tahun, sehingga ada kejadian-kejadian yang membuat para petani merasa tidak tenang, karena ada beberapa anggota kelompok tani yang meninggal dikarenakan adat mappadendang tersebut diberhentikan. Semua orang pasti akan meninggal, namun ada anggapan bahwa hal tersebut disebabkan oleh penghentian kegiatan mappadendang, sehinggapara petani kembali melakukan adat mappadendang tersebut,bahkan dilaksanakan setiap selesai panen atau dua kali dalam satu tahun. Kalangan petani mempunyai anggapan bahwa mappadendang dan maddowa’ tersebut adalah dua hal yang saling mengikat atau satu rangkaian yang tidak boleh dipisahkan.Ayunan (dowa’) itu dianggap sebagai mata putih (mata pute) dan pappadendangang itu dianggap sebagai mata hitam (mata bolong).Itulah sebabnya kedua adat tersebut dilakukan selalu bersamaan karena mata putih

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 108 dan mata hitam tidak bisa terpisah,dan ketika terpisah maka mata tidak dapat digunakan lagi untuk melihat, begitu jugapelaksanaan salah satu adat, tidak boleh terpisah dari yang lainnya.

Assabaranna (sebabnya) aktifitas pertanian pada saat dahulu yang dilakukan oleh nenek moyang masih memiliki kekurangan dalam pelaksanaan tahap-tahapnyasehingga petani pada waktu itu memperoleh hasil panen yang kurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Petani di Dusun Palita masih mempercayai sebuah mimpi (nippi).Mimpi (nippi) tersebut merupakan mimpi yang seolah-olah kenyataan.Salah seorang petani yang pernah bermimpi (mannippi) diperintahkan untuk melakukan kegiatan mallammang, mappadendang dan maddowa’ setelah panen. Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi maka petani di Dusun Palita tidak akan memperoleh hasil panen yang melimpah.

Seseorang yang terlibat dalam setiap kegiatan upacara tradisional petani di Dusun Palita adalah masyrakat yang dianggap sangat berperan penting dalam kegiatan tersebut, seperti pemangku adat (dulung), Latajawi beserta istrinya (Isarepa), dan beberpa petani yang ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang akan dilakukan. Para petani yang lain hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Latajawi atau istrinya (Isarepa). Kedua tokoh tersebut yang akan memberitahukan kepada para petani lainnya apabila ingin melakukan suatu kegitan dalam pertanian. Misalnya penentuan hari untuk melakukan suatu kegiatan, Latajawi dan Isarepa harus memberitahukan

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 109 terlebih dahulu kepada pemangku adat (dulung).Jika pemangku adat menyepakati hari yang telah ditentukan oleh Latajawi dengan Istrinya, maka hari itulah yang dipilih untuk melakukan suatu kegiatan.Tapi terkadang pemangku adat (dulung) berbeda pendapat dengan Latajawi apabila ingin menetukan hari tersebut. Pemangku adat (dulung) dapat menentukan hari untuk melakukan suatu kegiatan adat dengan cara melihat petunjuk yang ada pada buku lontara’ adat Bugis. Latajawi dan istrinya (Isarepa) adalah orang yang mengetahui segala sesuatu yang akan dipersiapkan apabila hendak melakukan suatu kegiatan adat pertanian.

Rorai tijo assipulunganna dulung, tenna wadding ki kua laingi laitudangi tattai kua ambe-mbe na kua ki dulung jo maki, dulung ra passu’ pendapa’ ku anjoki wo tenna wadding kita kua lako e. wadding una ke ipoai jolo tu dulung ken a sicocok’i iyamo yola intinna lalang na ra dulung yola. (H. M. Tahir, 56 Tahun, Petani).

Sanggar tani merupakan tempat berlangsungnya semua kegiatan dalam pertanian kecuali kegitan massorong di puwata, menyembelih ayam di teppo’ (DAM), dan massorong di waituo.Tempat tersebut merupakan tempat yang telah dipilih oleh nenek moyang dan pemangku adat terdahulu, karena menurut mereka, semua tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya (assipulunganna) makhluk gaib (wariala).Petani tidak berhak menentukan tempat untuk melakukan suatu kegiatan adat pertanian kecuali di sanggar tani dan tempat-tempat sakral lainnya, karena yang berhak menentukan

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 110 tempat untuk melakukan suatu kegiatan adalah pemangku adat (dulung), sehingga keputusan pemangku adat (dulung) harus dikuti.

E. Pertanian Tradisional Dan Modern Menurut Pengertian Lokal E.1. Pengertian Pertanian Tradisonal

pertanian tradisional adalah pertanian yang akrab lingkungan karena tidak memakai pestisida atau tehknologi. Akan tetapi produksinya tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus bertambah.Untuk mengimbangi kebutuhan tersebut perlu diupayakan peningkatan produksi yang kemudian berkembang sistem pertanian konvensional.Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan infut yang ada.Salah satu contoh system pertanian tradisional iyalah system lading atau pertanian yang berpindah-pindah.System lading atau pertanian ynag berpindah-pindah tersebut sudah tidak sejalan lagi dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat akibat bertambahnya penduduk.

Yang dimaksud dengan pertanian tradisional di Dusun Palita adalah kegiatan para petani yang belum tersentuh oleh mesin seperti kegiatan maccalere, mallammang, mappadendang, maddowa, dan penggunaan bibit unggul. Maccalere merupakan alat penabur bibit padi yang terbuat dari pipa dan dirakit sendiri oleh petani untuk digunakan sebagai alat penabur bibit.

Pada kegiatan mallammang, mappadendang, dan maddowa’ merupakan kegiatan tradisional yang masih bertahan sampai sekarang. Selanjutnya

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 111 penggunaan bibit unggul, penggunaan bibit unggul yang dipilih oleh masyarakat petani di Dusun Palita masih menggunakan bibit dari hasil panen sebelumnya untuk di tabur kembali.

E.2. Pengertian Pertanian Modern

pertanian modern adalah pola bertanding dengan menggunakan alat-alat canggih dengan skala besar. Pertanian modern harus menggunakan peralatan yang modern.Aplikasih pertanian modern yang telah terlaksana seperti pertanian gandum, pertanian padi, dan pertanian anggur.Pertanian modern yang bertumpuh pada pasokan bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida) yang menimbulkan kekhawatiran berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.Sedangkan pertanian tradisional yang bertumpuh pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal menimbulkan kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian yang jauh dibawah kebutuhan manusia.Kedua hal tersebut yang dilematis dan telah membawa manusia kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan penggunaan masukan dari luar sistem pertanian tersebut.namun tidak membahayakan kehidupan manusia dan lingkungannya (Mungnisja, 2011).

Pertanian modern dikhawtirkan memberikan dampak pencemaran sehingga membahayakan kelestarian lingkungan, hal tersebut dipandang sebagai suatu krisis pertanian modern.

Yang dimaksud dengan pertanian modern di Dusun Palita adalah alat yang dipakai untuk menggarap sawah terbuat dari mesin yaitu mesin

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 112 traktor.Sedangkan pertanian pada masa yang dahulu alat yang dipakai untuk menggarap sawah hanya mengunakan hewan ternak dan cangkul. Selain itu alat yang dipakai untuk memanen padi kini menggunakan mobil pemanen (oto passangking. Sedangkan pada waktu dahulu alat yang dipakai untuk memanen padi dengan cara massangking dengan menggunakan sabit, dan untuk memisahkan buah padi dengan batangnya dikenal dengan istilah massampa. Serta penggunaan pupuk yang tebuat dari zat kimia yang dulunya hanya menggunakan pupuk kandang seperti kotoran sapi dan kerbau.

Dengan adanya pertanian modern di Dusun Palita, petani yang dulunya hanya mengunakan ternak untuk mengolah sawah kini petani tersebut lebih memilih mesin traktor untuk mengelolah sawah mereka.Penggunaan mesin tersebut untuk membajak sawah para petani dan masyarakat petani lebih dipermudah dengan adanya pertanian modern.Yang dulunya memerlukan waktu beberapa hari untuk membajak satu petak sawah kini bisa dibajak dengan setengah atau satu hari saja untuk satu petak sawah.Pertanian tradisional yang dulunya dapat mempererat tali silatuhrahmi para petani, karena dengan pertanian tradisonal petani dapat bekerja bersama-sama dan saling gotong-royong.Namun pertanian modern kini telah menarik perhatian bagi kalangan masyarakat petani untuk menggunakan alat-alat mesin dalam pengolahan pertanian hingga pada saat pemanenan.

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 113 Adanya pertanian modern membuat beberapa perubahan dalam pertanian tradisional seperti penggunaan mesin traktor untuk membajak sawah, mesin pemanen padi dan penggunaan pupuk yang berbahan kimia.Masyarakat petani di Dusun Palita kini lebih tergantung dengan alat-alat pertanian yang lebih modern karena dapat mempermudah pekerjaan dan mempersingkat waktu dalam pengolahan sawah hingga pada kegiatan pemanenan.Pertanian modern tersebut juga terpengaruh pada penggunaan pupuk dan pestisida yang diguanakan oleh para petani.yang dulunya petani dapat membasmi hama dengan menggunakan ramuan tradisioanal kini petani lebih tergantung pada penggunaan pestisida.

Pertanian modern tersebut membuat beberapa rangkain pertanian tradisional hilang sama sekali seperti memajak sawah dengan menggunakan hewan ternak kini tergantikan dengan mesin traktor. Penggunaan pupuk kandang yang sekarang lebih menggunakan pupuk yang terbuat dari zat kimia seperti pupuk urea, dan poska. Penggunaan pestisida untuk membasmi hama dan penyakit. Serta penggunaan mesin pemanen padi yang dulunya hanya dikenal dengan istilah massangking dan massampa’.Pertanian modern tersebut berdampak untuk semua kalangan petani tidak hanya di Dusun Palita tersebut.tetapi pertanian modern tersebut tidak terpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan petani yang bersifat ritual dan sakral.

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 114 BAB VI

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. tahap atau proses upacara tradisional petani padi sawah yang saat ini masih dipraktekkaan di Dusun Palita Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang mereka percayai.

2. Terjadinya perubahan pada tahap kegiatan upacara karena adanya gangguan dari mahkluk yang mendiami lokasi pertanian tersebut.

3. Makna yang terkandung dalam setiap kegiatan upacara merupakan sebuah bentuk syukur kepada tuhan dan sekaligus sebagai wujud negoisasi petani terhadap mahkluk halus yang menghuni lokasi pertanian tersebut.

4. implikasi terkait dengan perubahan pada proses upacara tersebut petani merasa aman dari gangguan makhluk halus sehingga kegiatan pertaniannya dilancarkan.

B. SARAN

Kegiatan upacara tradisional petani padi sawah di Dusun Palita merupakan kegiatan yang telah berlangsung sejak dahulu. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan turunan nenek moyang yang dahulu yang hingga

UPACARA TRADISIONAL PETANI PADI SAWAH DI DESA MALIMPUNG Page 115 sampai saat ini tetap dipertahankan meskipun telah mengalami berbagai perubahan. Kegiatan tersebut juga menandakan ciri khas suatu daerah, karena setiap daerah memiliki kebudayaan atau tahap upacara yang berbeda dengan daerah yang lainnya.

Adapun saran penulis berdasarkan penelitian yang telah dibahas, adalah sebagai berikut :

1. Akademisi atau Peneliti

Semoga tulisan tersebut dapat menjadi rujukan atau masukan untuk penelitian serupan berikutnya.

2. Masyarakat

Sekiranya masyarakat setempat menyadari pentingnya menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi atau adat istiadat demi kepentingan bersama.

3. Pemerintah

Pemerintah Kabupaten sampai Desa, agar kiranya dapat lebih ketat dalam menjaga adat istiadat dan upacara tradisional petani di Dusun Palita demi keberlangsungan dan keseimbangan sistem sosial.

Dalam dokumen “UPACARA TRADISIONAL PETAN (Halaman 111-136)

Dokumen terkait