• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Public dan Private Goods

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 29-33)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Konsep Public dan Private Goods

1. Dinamika Konsep Public Goods dan Private Goods

Public, sering dipakai dalam banyak istilah dan terkadang tidak membedakan dimensi lingkungan dan waktu. public goods, collective goods dan

”kepentingan nasional” adalah istilah yang sering menjadi justifikasi dan manipulasi bagi elit politik nasional dalam mencapai tujuannya sendiri. Bahkan menyusun pemerintahan yang berdifat predatory (Sargeson, 2002).

Konsep public goods dan private goods adalah dua konsep yang berkembang dalam wilayah pengaturan sumber daya yang boleh dan tidak untuk diakses oleh pasar atau kepentingan bisnis. Dua hal ini merupakan dua hal yang saling kontras (Endaryanta, 2007).

Private goods berkembang pesat dan menemukan akselerasinya dalam perkembanagan industry monopoli semenjak revolusi Inggris, revolusi Prancis dan terakhir adalah revolusi teknilogi di Amerika Serikat. Perkembnagan tersebut membawa implikasi bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan

memberikan ruang sebebas-bebasnya bagi pasar untuk bertindak dan menentukakan keputusan politik.

Demokrasi politik (semenjak revolusi Prancis) membawa pelibatan bagi warga negara sebagai entitas dari sumber kekuatan politik dan unsur vital dalam persetujuan dalam negara untuk melegitimasi aturan hukum, mengganti dominasi kerajaan. Sedangkan kosep tentang public sudah ada semenjak abad pertengahan dan mendahului kelahiran dari negara-bangsa.

Konsep public goods lebih banyak merujuk pada filsafat politik Hobbes tentang perdamaian (peace), seperti dikatakan Hobbes dalam (Endaryanta, 2007), hanya mampu diwujudkan dalam bentuk kontrak sosial.

Historistitas konsep ini berakar pada abad pertengahan dan menjadi pilar pokok dalam perkembangan berikutnya sebagai “rasionalitas kehadiran Negara”.

Mengikuti pendapat Olson dan Scmidtz dalam (Endaryanta, 2007), yang menyatakan bahwa negara adalah organisasi pertama dan utama yang diperbolehkan untuk memproduksi public goods untuk kalangannya. Menjadi

“Good” jika diselenggarakan collective action. Pentingnya collective actions dalam pengaturan public goods adalah untuk mendukung kebutuhan dari perjalanan kepentingan nasional ini. Masyarakat tidak bisa bekerjasama dengan sukses tanpa merealisasikan kepentingan bersama dan realisasi ini menjadi eksistensi dari hadirnya pemerintah.

Oleh karenanya konsep public goods ini diidentik dalam perwujudan atau pengejaran tercapainya common good atau kebijakan umum oleh negara. Dimensi ini menjadi dasar dari keberadaan negara dalam merancang public policy yang ditujukan untuk pengejaran kepentingan umum. Konsep public goods diatas

merefleksikan eksistensi dan perkembangan dari negara-bangsa, dan penjelas bagi keberadaan lembaga instrumentasi dari negara serta menjadi titik pijak penting bagi kedaulatan dari negara (Priyono, 2004).

2. Sumber Daya Air dalam Konsep Collective Goods

Perbedaan public goods dan private goods menempatkan proporsi pengaturan sumber daya sistem politik dalam relasinya negara dan pasar. Konsep diatas membantu kita dalam meletakkan dan melihat sumber daya air dalam perjalanan dominasi pasar. Laju liberalisasi modal, membawa pengertian dari public goods-konsep yang awalnya sangat longgar mulai menyempit oleh dominasi liberalisasi pasar.

Dalam pola pengelolaan sumber air, frame neo-liberalisme memberikan ruang yang longgar bagi swasta untuk menambah jaminan sosial kehidupan masyarakat kecil. Dikatakan oleh Shiva dalam (Endaryanta, 2004), liberalism berangkat dari doktrin “siapa cepat pasti cepat dapat”. Berkembangnya prinsip ini menguntungkan birokrasi dan lembaga komersial. Belajar dari perkembangan proyek-proyek sumber daya air yang didanai bank dunia di India, Shiva dalam (Endaryanta, 2004), mengutarakan bahwa, kontrol pemerintah terhadap sumber daya alam difasilitasi oleh proyek air raksasa dari bank dunia. Perangkat ini diciptakan untuk mengalihkan control akses air dari komunitas kepemerintah pusat serta mengklonialisasikan sungai dan rakyat. Masa revolusi hijau, bendungan dipaksakan kepada dunia ke-tiga mulai prasyarat hutang yang sebagian besar dibuat di korps angkatan darat Amerika Serikat ditahun 1965 melalui

“program air untuk perdamaian”.”air untuk perdamaian” ini sekarang diganti oleh perusahaan raksasa air.

Air pada awalnya adalah collective goods. Proporsi ini didasarkan pada argumentasi yang disampaikan oleh Sargeson, menurutnya, sifat dari barang bersama atau collective goods memiliki beberapa bentuk, pertama, adalah dibedakan dari tingkat penyediaan dan penggunaan, dirancang dalam usaha bersama dan umumnya tidak diberi nilai ekonomis seperti dalam pasar. Kedua, diproduksi secara sukarela oleh negara, organisasi kemasyarakatan atau proses pewarisan nilai atau regenerasi secara turun-temurun yang ditujukan secara ideologis atau dibentuk kebiasaan secara praktis. Ketiga, non excludability dan non rivalry. (Sargeson, 2002).

3. Air sebagai Collective Goods dalam arena privatisasi

Dinamika globalisasi neo liberal tidak dipungkiri merambah dan menjadi agenda sangat menentukan dalam dominan pengelolaan sumber air di banyak negara-bangsa. World Water Forum bulan Maret tahun 2002, dihadiri oleh 140 wakil pemerintah setingkat menteri atau pejabat senior pemerintah merekomendasikan desain baru tentang pengelolaan sumber daya air.

(Endrayanta, 2007).

Deklarasi ini dikenal dengan “air sebagai kebutuhan”. Oleh karenanya, membutuhkan pemisahan pengelolaan air tersendiri, dipisahkan dari tanah dan kepemilikan kolektif yang selama ini berjalan. Penyediaan kebutuhan air menjadi jargon yang diimplementasikan dalam corak mekanisme pasar. Melalui cara ini perusahaan memiliki hak untuk memproduksi dan mendistribusikan air sebagai pencukupan kebutuhan. (Barlow, 2002).

Kebijakan mengenai pengaturan air telah disetujui pula oleh perwakilan-perwakilan pemeritah serta agen khusus PBB. Pertemuan World Forum ke II yang

diselenggarakan bank dunia untuk masalah air di Kyoto (perwakilan pemerintah, PBB serta perusahaan multi nasional) mengajukan prinsip yang kemudian disepakati oleh para pelaku ekonomi dan sosial didalam pertemuan itu.

Prinsip ini membuat beberapa hal. Pertama, air haruslah dipertimbangkan sebagai sumber daya ekonomi. Air dapat dijual, dibeli maupun dijadikan alat pertukaran seperti halnya minyak atau jagung. Kedua, air bagi makhluk hidup merupakan kebutuhan dan bukan sekedar hak. Manusia hanayalah sebagai pengguna barang atau jasa (air) yang seharusnya dapat dijangkau dengan mekanisme pasar. Ketiga, air haruslah diperlakukan sebagai barang yang berharga, yang mana ketersediaannya semakin berkurang sehingga membutuhkan langkah-langkah penting untuk menyikapinya.

Rekomendasi tersebut diimplementasikan disetiap negara-bangsa dalam wujud kebijakan politik privatisasi dengan beberapa arahan. Pertma, privatisasi air harus berdasarkan kerja sama swasta dan umum. Kedua, pemberian prioritas (pengelolaan) kepada swasta. Ketiga, pembebasan, deregulasi maupun privatisasi harus berdasarkan prinsip-prinsip yang telah disyaratkan World Bank dan IMF dan keempat, tindakan atas pemanfaatan sumber air yang belum dieksploitasi.

(Erwin Endrayanta, 2007).

Dalam dokumen POLITIK PENGUASAAN AIR BERSIH (Halaman 29-33)

Dokumen terkait