BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
2.1 Konsep Risiko
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menghadapi risiko yang dapat muncul kapan saja risiko dapat muncul yaitu ketika ada ketidakpastian. Risiko atau
Risk merupakan pusat dari asuransi oleh karena itu sebelum mempelajari asuransi secara detail perlu lebih dahulu dipahami arti dari risiko
Risiko adalah ketidaktentuan atau uncertainty yang mungkin melahirkan kerugian loss. Unsur ketidaktentuan ini bisa mendatangkan kerugian dalam Asuransi. Ketidaktentuan dapat kita bagi atas 4
4 Ab b a s, sa lim. a sura nsi&ma na je me n risiko Ja ka rta p t g ra find o p e rsa d a 2005 ha l 4
A. Ketidak tentuan ekonomi (economic uncertainty), yaitu kejadian yang timbul sebagai akibat dari perubahan sikap konsumen umpama perubahan selera atau minat konsumen atau terjadinya perubahan harga, tekhnologi, atau didapatnya penemuan baru, dan lain sebagainya.
B. Ketidaktentuan yang disebabkan oleh alam (Uncertainty of nature) misalnya; kebakaran, badai, topan, banjir, dan lain-lain;
C. Ketidaktentuan yang disebabkan oleh prilaku manusia (human uncertainty), umpama peperangan, pencurian, perampokan, dan pembunuhan
Bentuk-bentuk dari risiko antara lain risiko murni, spekulatif, particular, dan fundamental
• Risiko murni (pure risk), yaitu suatu risiko yang tidak disengaja dan apabila terjadi tentu menimbulkan kerugian misalnya: kebakaran pencurian dan sebagainya
• Risiko spekulatif, adalah risiko yang disengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan, terjadinya kepastian memberikan keuntungan kepadanya. Misalnya risiko perjudian, perdagangan berjangka dan sebagainya.
• Risiko fundamental, adalah risiko penyebnya tidak bias dilimpahkan kepada seseorang dan yang menderita tidak hanya satu atau beberapa orang saja, tetapi banyak orang, seperti banjir, angin topan dan sebagainya
• Risiko khusus, adalah risiko yang bersumber pada peristiwa yang mandiri dan umumnya mudah diketahui penyebabnya seperti kapal tandas, pesawat jatuh, tabrakan mobil dan sebagainya.
• Risiko dinamis, adalah risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan (dinamika) masyarakat dibidang ekonomi, ilmu dan teknologi, seperti risiko keusangan kebalikannya disebut risiko statis, seperti risiko hari tua, risiko kematian dan sebagainya.
Pengelolaan risiko perlu dilakukan secara cermat mengingat konsekuensinya yang cukup serius jika gagal dalam mengelola risiko. Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, seperti penghindaran, ditahan, divesifikasi dan ditransfer ke pihak lain. Jika pada asuransi syariah hubungan antara peserta yang terjadi adalah
sharing of risk, maka pada asuransi konvensional justru sebaliknya adalah
transfer of risk memindahkan risiko.5
Sebagai suatu organisasi perusahan, perusahan pada umumnya memiliki tujuan dalam mengimplementasikan manajemen risiko. Tujuan yang ingin dicapai adalah: mengurangi pengeluaran, mencegah perusahan dari kegagalan, menaikkan keuntungan perusahaan, menekan biaya produksi dan sebagainya.
5 M. Sya kir Sula , Asura nsi Sya ria h (Life a nd G e ne ra l) Ko nse p da n Siste m O p e ra sio na l,
(Ja ka rta : G e ma Insa ni Pre ss. 2004), h. 304
Manajemen risiko adalah proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi,ini disebut analisis resiko dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan .
Dari pengertian diatas penulis berkesimpulan bahwa manajemen risiko islam adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan perusahaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan resiko yaitu mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian agar tercapai efektifitas dan efesiensi yang sesuai dengan ajaran islam.
Perbedaan yang mendasar antara manajemen risiko yang islam dengan manajemen risiko konvensional yaitu bahwa manajemen risiko konvesional memakai bunga sebagai landasan perhitungan investasi dalam semua kegitan yang dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan .
Dari karakter yang dimiliki manajemen resiko konvensional sudah bisa dipastikan pelaku yang terkait dengan pelaksanaan progam manajemen risiko perusahaan ini akan melakukan segala macam cara yang mungkin dilarang agama.
Sebaliknya manajemen risiko islam lebih memperhatikan ruhaniyah halal dan haram yang merupakan landasan utama dalam setiap perencanaan, pelaksanaan dan semua kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan serta tidak menyimpang dengan ajaran agama islam.
Penanganan resiko ini pernah dilakukan oleh nabi yusuf ketika mesir dilanda krisis pangan seperti yang dijelaskan dalam Firman-nya.
لﺎﻗنﻮ رْﺰﺗ ْﺳﻦﻴ ﺳًﺎ أدﺎ ﻓْ ﺗﺪﺼﺣ ورﺬﻓﻲﻓ ﻠ ﺳ إً ﻴﻠﻗﺎ نﻮﻠآْﺄﺗ
Artinya:
“ Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka yang kamutuai hendaklah kamu biarkan dibulirkan kecuali sedikit untuk kamu makan”. (Qs.Yusuf: 47)
Tahap-tahap yang dilalui oleh perusahan dalam mengimplementasikan manajemen risiko adalah mengidentifikasi terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin akan dialami perusahan, setelah mengidentifikasi maka dilakukan evaluasi atas masing masing risiko, tahap terakhir adalah pengendalian risiko dibedakan menjadi 2 yaitu: pengendalian fisik (risiko dihilangkan atau diminimalisir) dan pengendalian finasial (risiko ditahan atau ditransfer).
Menghilangkan risiko berarti menghapus semua kemungkinan terjadinya kerugian mislanya tidak mengendarai kendaraan waktu hujan. minimasi risiko dilakukan dengan upaya-upaya untuk meminimumkan kerugian misalnya dalam produksi, peluang terjadinya produk gagal yaitu dengan pengawasan mutu (quality control). menahan risiko bisa dengan menanggung keseluruhan atau sebagain dari risiko misalnya membentuk cadangan dalam perusahaan untuk menghadapi risiko yang bakal terjadi (retensi sendiri). Dan pemidahan risiko dapat dilakukan dengan mengalihkan kerugian kepada pihak lain.misalnya perusahan asuransi (transfer risk).
Dilihat dari tujuanya:6 Analisis risiko berusaha
• Agar perusahaan waspada terhadap risiko-risiko yang ada atau yang mungkin timbul dalam kegiatan perusahan.
• Memperkirakan atau mengadakan proyeksi atas pengaruh atau akibat yang diderita oleh perusahaan apabila risiko tersebut terjadi.
• Menentukan risiko-risiko manakah yang dapat mempengaruhi kontinuitas perusahaan, sehingga dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mengadakan, pencegahan kerugian ataupun pemindahan risiko tersebut pada pihak lain.
Pengendalian risiko bertujuan untuk.
• Menekan serendah mungkin akibat keuangan yang mungkin timbul akibat terjadinya suatu risiko pada perusahan
• Menciptakan suatu dasar untuk mengurangi atau membatasi kemungkinan kemungkinan terjadi atau timbulnya suatu risiko.
• Optimalisasi biaya risiko terhadap kemungkinan-kemungkinan alternatif tindakan yang dapat diambil dalam usaha mengelola risiko yang munkin timbul dalam kegiatan perusahaan
• Melakukan perlindungan terhadap produk perusahaan
6 Fe rd ina d , sila la hi.ma nj risk &a sura nsi, , g ra me d ia p usta ka uta ma ja ka rta 1997.ha l 27
Usaha untuk mengetahui kemungkinan menderita kerugian serta usaha untuk mengukur besar kecilnya kerugian serta usaha-usaha untuk menekan serendah mungkin dampak yang timbul apabila risiko tersebut terjadi7
2.2 Premi
Premi merupakan pembayaran dari tertanggung kepada penanggung, sebagai imbalan jasa atas pengalihan risiko kepada penanggung berupa penggantian kerugian yang mungkin diderita oleh tertanggung 8.
Dalam kaitanya dengan pembahasan mengenai premi (premium) atau premi adalah sejumlah uang yang harus dibayar untuk perlindungan asuransi dikenal beberapa istilah
• Writen premium: jumlah premi yang dicatat untuk semua polis pada saat polis ditulis atau diterbitkan pada tahun tersebut, dalam metode pencatatan akutansinya disebut cash basis
• Earned premium: bagian dari writen premium dicatat berdasarkan jumlah premi dari perusahan asuransi yang sudah diterima dan dinyatakan sebagai pendapatan perusahaan pada tahun tersebut, dalam metode pencatatan akutansinya disebut accrual basis.
• Unearned premium: jumlah dari bagian premium yang belum diterima.dan belum dianggap sebagai pendapatan perusahaan
7Sonnidwiharsono. “manajemen Risiko” yayasan pengembangan ilmu asuransi hal 46 8
soeisno djojosoedarso. Prinsip-prinsip manajemen risiko dan asuransi. Cetakan pertama penerbit salemba empat. Jakarta 1999 hal 69
• In force premium : jumlah dari keseluruhan premi untuk semua polis yang mempengaruhi pada titik waktu tertentu.
Calender year premium aggregation
GAMBAR 1
Dalam menentukan premi harus diupayakan terciptanya premi yang wajar, sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, yaitu premi yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perusahaan untuk mengganti kerugian yang terjadi dan memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup perusahaan asuransi tersebut. Tujuan dari ditetapkan premi yang wajar9 adalah agar :
9Robert L. Brown. Introduction to ratemaing ang loss reserving for property and casuality. Actex Publication. Winsted Connecticut. 1993. Hlm 48
a. Premi yang diperoleh penanggung dapat menutup kerugian (expected losses) dan biaya-biaya (expected expenses) secara adil adalah bahwa tidak boleh adanya subsidi silang antarlini bisnis (antarjenis produk asuransi), antargenerasi pemegang polis , ataupun antarkelompok risiko. Seluruh pendapatan yang terdiri dari premi dan hasil investasi harus dapat menutup semua klaim dan biaya-biaya yang terjadi seperti biaya promosi/penjualan, biaya pengurusan klaim dan biaya operasional (termasuk biaya overhead).
b. Premi yang diperoleh penanggung dapat memberikan cadangan yang cukup bagi terjadinya kerugian yang tidak diperkirakan (unexpected losses). Cadangan ini diperlukan untuk menutup risiko yang semula tidak diperkirakan, namun bisa terjadi, dalam penetapan cadangan ini, pihak penenggung tidak boleh menetapkannya terlalu tinggi, karena akan menghasilkan premi yang tinggi, sehingga tidak kompetitif lagi. Sebaliknya, jika cadangan terlau kecil dan risiko tersebut terjadi, maka pihak penanggung akan menanggung kerugian.
c. Premi yang diperoleh dapat menghasilkan keuntungan bagi pemodal pada perusahaan penanggung. premi yang ditetapkan oleh perusahaan harus menghasilkan keuntungan (return) bagi pemodal yang telah menanamkan dananya pada perusahaan tersebut.
d. Premi yang ditetapkan mendorong adanya pengendalian risiko. Untuk memperkecil terjadinya risiko, pihak penanggung lazim memberikan
insentif berupa potongan terhadap premi atau kemudahan lain bagi tertanggung yang menunjukan upaya preventif untuk memperkecil jumlah dan besarnya klaim yang terjadi. Contoh yang banyak dilakukan oleh perusahaan asuransi adalah pemberian potongan terhadap premi untuk pemegang polis asuransi mobil yang pada tahun sebelumnya tidak pernah melakukan klaim.
e. Premi yang ditetapkan memenuhi ketentuan /peraturan yang berlaku. Premi yang ditetapkan harus mengacu kepada ketentuan/peraturan yang berlaku seperti premi harus bersifat cukup, tidak berlebihan dan tidak diskriminatif.
f. Pencapaian tingkat premi yang stabil. Premi yang dihasilkan tidak mempunyai tingkat fluktuasi yang cukup besar, karena akan membingungkan tertanggung sebagai pemegang polis yang menyebabkan adanya ketidakpercayaan terhadap perusahaan asuransi.. g. Premi yang dihasilkan harus responsive terhadap perubahan-perubahan (fleksibel). Premi yang ditentukan harus selalu disesuaikan dengan keadaan, artinya bila keadaan berubah tarifnya harus diubah juga. Agar tdak bertentangan dengan sasaran poin f yang dimaksud dengan perubahan disini haruslah mempertimbangkan tingkat stabilitas dan responsive dari premi tersebut.
h. Dasar perhitungan premi yang dihasilkan harus sederhana dan mudah dimengerti. Agar dapat dimengerti oleh semua orang, dasar
perhitungan premi haruslah bersifat sederhana dan mudah dimengerti. Hal ini bertujuan agar produk asuransi yang akan dipasarkan dapat dengan mudah diterima dan dimengerti oleh konsumen sebagai pemegang polis, agen atau broker sebagai penjual polis, badan pengawas direktorat Asuransi dan organisasi keprofesian seperti Dewan Asuransi Indonesia.