BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA
KERANGKA TEORITIS
C. Teori Semiotika
1. Konsep Semiotika Roland Barthes
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengan manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak memperlajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur tanda.18
Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari Bahasa Yunani, semeion yang berarti “tanda” atau seme, yang berarti “penafsir tanda” Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastika atas seni logika, retorika, dan peotika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjukkan pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.19
Semiotik berusaha menggali hakikat sistem tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi dan
18
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 15. 19
bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti penunjukkan (denotative).20
Salah satu pakar semiotik yang memfokuskan permasalah semiotik pada dua makna tersebut adalah Roland Barthes. Ia adalah pakar semiotik Prancis yang pada tahun 1950-an menarik perhatian dengan telaahnya tentang media dan budaya pop menggunakan semiotik sebagai alat teoritisnya. Tesis tersebut mengatakan bahwa makna struktur yang terbangun di dalam produk dan genre diturunkan dari mitos-mitos kuno, dan berbagai peristiwa media ini mendapatkan jenis signifikansi yang sama dengan signifikansi yang secara tradisional hanya dipakai untuk ritual-ritual keagamaan.
Dalam terminologi Barthes, jenis budaya popular apapun dapat diurai kodenya dengan membaca tanda-tanda di dalam teks. Tanda-tanda tersebut adalah hak otonom pembacanya atau penonton.21 Sehingga, dalam semiotik Barthes, proses represntsi itu berpusat pada makna denotasi, konotasi, dan mitos. Ia mencontohkan, ketika mempertimbangkan sebuah berita atau laporan, akan menjadi jelas tanda lingustik, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana berita itu direpsentasikan seperti tata letak atau lay out, rubrikasi dan sebagainnya, tidaklah sesederhana
20
Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: PT Remadja Rosdakarya, 2004), h. 126-127
21
Ade Irwansyah, Seandainya Saya Kritikus Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2009), h. 42
mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptkan tingkat konotasi yang dilampirkan pada tanda. 22
Tatanan Pertama Tatanan Kedua
Realitas Tanda Kultur
bentuk
isi
Signifikasi Dua Tahap
Melalui gambar diatas, Barthes, seperti dikutip Friske, menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal.
Denotasi adalah hubungan yang digunakan didalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah pertanda.23 Barthes menyebutnya sebagai denotasi.
Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan
22
Jonathan Bignell, Media Semiotic: An Introduction, (Manchester and New York: Menchester University Press, 1997), h. 16
23
Marcel Danesi, Semiotika Komunikasi, h. 125. Denotasi
Konotasi
Mitos Penanda
pasti. Denotasi juga merupakan makna yang objektif dan tetap. Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan sebagainya. 24 makna ini tidak bisa dipastikan dengan tepat, karena makna denotasi merupakan generalisasi. Dalam terminologi Barthes, denotasi adalah sistem signifikansi tahap pertama.
Sedangkan makna konotatif salah satu jenis makna di mana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif terjadi karena sebagian makna pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan sebagainya pada pihak pendengar.25 Dalam makna konotatif, orang yang tersenyum bisa berarti sebagai kesenangan dan kebahagian atau sebaliknya bisa saja ekspresi senyum itu diartikan sebagai sindiran atau penghinaan terhadap orang lain.
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut dengan „mitos’, yang berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.26 Jadi, mitos memiliki tugasnya untuk memberikan justifikasi ilmiah kepada kehendak sejarah, dan membuat kemungkinan tampak abadi.27
Dapat dikatakan bahwa makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk menunjukkan secara jelas tentang sesuatu yang memiliki arti sebenarnya dari sebuah tanda. Sedangkan makna konotatif adalah makna yang memiliki arti tambahan dari makna denotatif yang merupakan hasil dari pikiran yang mengacu pada tradisi,
24
Marcel Danesi, Semiotika Komunikasi, h. 274 25
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 266. 26
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi.,h. 71 27
emosional maupun nilai rasa pada seseorang terhadap sesuatu, baik berupa kata ataupun benda.
Mitos menurut Barthes, disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Hal ini memungkinkan kita untuk berpandangan bahwa mitos tak bisa menjadi sebuah objek, konsep, atau ide; mitos adalah cara penandaan (signification), sebuah bentuk. Segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana.28 Dalam mitos sekali lagi kita mendapati tiga pola dimensi yang disebut Barthes sebagai: penanda, petanda, dan tanda. Ini bisa dilihat dari peta tanda Barthes yang dikutip dari buku Semiotika Komunikasi, karya Alex Sobur sebagai berikut;
Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz. 1999. Introducing Semiotics. NY: Totem Books, hlm. 51.
28
Dari peta Barthes di atas terlihat bahawa tanda denotative (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4).
Mitos menurut Barthes memaparkan fakta. Mitos adalah murni sistem ideografis. Mitos pun dapat sangat bervariasi dan lahir di lingkup kebudayaan massa. Mitos merupakan perkembangan dari konotasi. Konotasi yang menetap pada suatu komunitas berakhir menjadi mitos. Pemaknaan tersebut terbentuk oleh kekuatan mayoritas yang memberi konotasi tertentu kepada suatu hal secara tetap sehingga lama kelamaan menjadi mitos: makna yang membudaya. Mitos ini menyebabkan kita mempunyai prasangka tertentu terhadap suatu hal yang dinyatakan dalam mitos.29 Barthes membuktikannya dengan melakukan pembongkaran (demontage semiologique). Mitos juga merupakan suatu bentuk pesan atau tuturan yang diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan.
Barthes juga mengupas 28 teks dari berbagai bidang dalam konteks kehidupan sehari-hari: pertunjukan, novel, buku petunjuk, iklan, keadaan, ma- kanan, boneka, foto, mobil, bahan baku -plastik-, film, dan otak manusia (Einstein) disebut Mythologies.
Adapun ciri-ciri mitos menurut Roland Barthes,30 yaitu:
1. Detormatif. Barthes menerapkan unsur-unsur Saussure menjadi form (signifier), concept (signified). Ia menambahkan signification yang merupakan
29
Indriawan Seto Wahyu Wibowo, Semiotik: Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Penulisan Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi, (Tangerang: Wisma Tiga Dara Perum Cimone Permai, 2009), h. 20.
30
hasil dari hubungan kedua unsur tadi. Signification inilah yang menjadi mitos yang mendistorsi makna sehingga tidak lagi mengacu pada realita yang sebenarnya.
2. International. Mitos merupakan salah satu jenis wacana yang dinyatakan secara internasional. Mitos berakar dari konsep historis. Pembacalah yang harus menemukan mitos tersebut.
3. Motivasi. Bahasa bersifat arbiter, tetapi kearibiteran itu mempunyai batas, misalnya melalui afikasi, terbentuklah kata-kata turunan: baca-membaca-dibaca-terbaca-pembaca. Sebaliknya, makna mitos tidak arbiter, selalu ada motivasi dan analogi. Mitos bermain atas analogi antara makna dan bentuk. Analogi ini bukan sesuatu yang Alami, tetapi bersifat historis.
Salah satu contoh mitosnya. Seperti; minuman anggur di Prancis: denotasi dari anggur adalah minuman beralkohol yang bisa memabukkan. Barthes mengamatinya lebih dalam. Orang sangat menikmati anggur yang diminumnya bukan sekadar untuk bermabuk-mabukan. Hal tersebut ditunjukkan pula oleh adanya pelabelan tahun bagi minuman tersebut. Anggur dengan merek tertentu dengan usia yang semakin tua semakin mahal harganya. Di dalam menu makan, anggur mengambil bagian sintagmatik, yaitu anggur putih menyertai makanan dengan ikan, anggur merah dengan daging, dsb. Dengan demikian, konotasi anggur, yaitu kenikmatan, tertanam di dalam praktik kehidupan sehari-hari, memegang peranan dalam menu dan pada akhirnya menjadi mitos.
Contoh yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) berusaha menjelaskan penanda, pertanda, dan mitos yang terdapat dalam beberapa adegan yang ada dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) yang menjelaskan mengenai penanda seorang teroris yang digambarkan oleh pemerintah terhadap agama Islam, sedangkan pertandanya agama Islam dikaitkan dengan kekerasan dan pengeboman. Kemudian adanya mitos yang mengidentikan agama Islam dengan teroris, mitos itu muncul karena pengaruh yang disebarkan oleh budaya Barat dalam menggambarkan agama Islam. Sehingga masyarakat percaya dengan mitos yang disebarluaskan oleh kalangan politik.
D.Konsep Teror dan fanatik