• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori dan Konsep

2. Konsep Sinetron

a. Pengertian dan Karakteristik Sinetron

Sinetron adalah sebuah sinema elektronik yang alur ceritanya membawa misi kepada penonton. Misi tersebut dapat berupa pesan moral, atau realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari.33 Sinetron juga dapat diartikan sebagai istilah untuk serial drama sandiwara bersambung yang disiarkan oleh televisi.34 Format sinetron terdiri dari beberapa jenis, yaitu: sinetron drama modern, sinetron drama legenda, sinetron drama komedi, sinetron drama saduran, dan sinetron drama yang dikembangkan dari cerita atau novel, cerita pendek, dan sejarah.35

Mengutip dari buku Wawan Kuswandi, Komunikasi

Massa Analisis Interaktif Budaya Massa bahwa sinteron

merupakan primadona acara televisi, karena dari data yang dikeluarkan oleh Survey Research Indoensia (SRI) menunjukkan bahwa sinetron merupakan acara yang banyak

33 Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya

Massa (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h 120.

34 Andi Fachruddin, Cara Kreatif Memproduksi Program Televisi, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2015), h.209.

35 RM Soenarto, Programa Televisi, (Jakarta: FFTV-IKJ Press, 2007) h. 62-63.

penontonnya.36 Pesan yang terkandung di dalam sinteron merupakan representasi kehidupan sosial. Hal tersebut kemudian menjadikan sinetron sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari dan menjadikan mereka takut untuk tertinggal alur cerita berikutnya.

Menurut Wawan Kuswandi sinetron yang membawa pesan moral biasanya mengangkat latar cerita melalui tokoh yang bijaksana, dan perilakunya dapat ditiru oleh penontonnya. Akan tetapi sinetron jenis ini memiliki kelemahan, karena kadang alur ceritanya akan bersifat menggurui dan keluar dari realitas. Jenis sinetron selanjutya yaitu sinetron yang mengangkat realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Latar cerita sinteron ini berdasarkan kejadian yang ada di masyarakat, dan cenderung akan mengalami dan menangani kasus moral yang ada di masyarakat. Penonton secara laten diajak untuk berpikir setelah melihat realitas moral dalam cerita. Akan tetapi, sinetron jenis ini biasanya hanya sebatas hiburan dan tidak bertujuan total dalam mengubah perilaku dari penonton.37

Di Indonesia minat penonton sinetron banyak sekali, sehingga timbul isltilah sinetron stripping sejak tahun 2005 yang berarti sistem pembuatan sinetron dan strategi penayangannya dipaksakan on air setiap hari, secara terus-menerus karena alur cerita yang bersambung. Pengambilan

36

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya

Massa (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 119. 37

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya

35

tema dalam sinetron, bergantung pada kecenderungan tema yang banyak ditonton oleh masyarakat. Misalnya sinetron remaja, sinetron keluarga, sinetron misteri, sinetron religi dan lain sebagainya. Idealnya pemilihan tema dalam sinteron memiliki nilai sebagai kontrol sosial masyarakat dalam berperilaku agar sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. Hal inilah yang kemudian membuat sinetron di Indonesia memiliki tema besar yang diangkat, menurut Andi Fachruddin dalam bukunya Cara Kreatif Memproduksi

Program Televisi yaitu:38

- Keluarga Berada

Tema ini berisi tentang konflik yang berlarut-larut selama bertahun-tahun di dalam satu keluarga. Tema ini menyuguhkan hedonisme yang dimana tema ini banyak disukai oleh penonton dan dapat meningkatkan rating dan share program tersebut.

- Religius

Kritik dalam sinetron ini biasanya mengangkat tema religi yang biasanya berpusat pada cerita sinetron yang dianggap terlalu mendogmakan ajaran agama. - Mistis

Sinetron mistis memuat cerita yang kental dengan unsur mistis dan mengabaikan logika penonton. Pengkritik sinetron ini biasanya menyoroti cerita yang dianggap merendahkan ajaran agama.

38

Andi Fachruddin, Cara Kreatif Memproduksi Program Televisi, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2015), h. 210-211.

b. Teknik Pengambilan Gambar

Dalam sinetron pengambilan gambar diperlukan dalam mendramatisir setiap adegan yang diperankan. Bambang Semedhi mengemukakan bahwa terdapat ukuran-ukuran (size) dalam pengambilan gambar dalam mendramatisis sebuah adegan, yaitu39:

- Extreme Close Up (ECU)

Pengambilan gambar dengan berfokus hanya pada bagian tertentu saja. Contoh pengambilan gambar dengan teknik ECU adalah dengan fokus pengambilan gambar pada mata kiri seseorang. - Big Close Up (BCU)

Pengambilan gambar yang ukurannya lebih kecil dari CU. Tidak ada batasan dalam pengambilan gambar ini, akan tetapi diperkirakan mulai dari dagu hingga rambut seseorang, dalam satu frame. Pengambilan gambar ini ditujukan untuk melihat detail ekspresi.

- Close Up (CU)

Sebuah shot yang memerlihatkan wajah seseorang dengan ukuran penuh sehingga ekspresi wajah seseorang dapat terlihat. Biasanya pengambilan ukuran ini diambil dari leher hingga ujung kepala.

39 Bambang Semedhi, Sinematografi-Videografi Suatu Pengantar, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2011) h.50.

37

- Medium Close Up (MCU)

Ukuran pengambilan gambar ini dilakukan jika ingin menampilkan seseorang dari batas dada ke ujung kepala. Biasanya dipakai jika ingin menampilkan mimik wajah seseorang secara utuh dan nampak rambut serta aksesorisnya.

- Medium Shot (MS)

Medium Shot merupakan ukuran gambar yang

memerlihatkan seseorang dari batas pinggang hingga ujung kepala. Hal ini memungkinkan untuk melihat dari gerak tubuh seseorang.

- Medium Long Shot (MLS)

Pengambilan gambar ini dilakukan dengan ukuran seseorang yang nampak dari sedikit di atas lutut atau di bawah lutut, hingga ujung kepala. Biasanya pengambilan gambar ini dilakukan saat ada pergerakan lambat dengan ekspresi wajah yang masih terlihat.

- Long Shot (LS)

Teknik pengambilan gambar yang bertujuan untuk memerlihatkan penampilan seseorang secara utuh mulai dari kepala hingga kaki. Pengambilan gambar ini dimaksudkan untuk melihat pergerakan seseorang dan terlihat pula lingkungan di sekitarnya. - Very Long Shot (VLS)

Suatu teknik pengambilan gambar dengan menampilkan seseorang dalam ukuran di atas

pengambilan LS, hal ini menyebabkan latar subjek akan terlihat lebih dominan dari subjek itu sendiri. - Extreme Long Shot (ELS)

Pengambilan gambar pada ukuran ini tidak lagi menonjolkan siapa subjeknya. Melainkan lebih ditekankan pada latar (setting) di mana subjek itu berada, bisanya ELS ini digunakan untuk establishing atau shot pembuka.

c. Sinetron sebagai Media Dakwah

Secara bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a-yad’u-da’watan, yang artinya mengajak, menyeru, memanggil.40 Secara istilah dakwah berarti serangkaian kegiatan penyampaian pesan-pesan atau ajaran-ajaran agama islam yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk kebaikan umat dengan cara menyeru, mengajak, mengajarkan, merealisasikan syariat-syariat islam sesuai dengan petunjuk Al-Qur‘an dan Hadits untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan dalam berdakwah yaitu untuk menciptakan tatanan kehidupan manusia yang aman, damai, dan sejahtera dengan kebahagiaan, baik jasmani maupun rohani dengan mengharapkan ridho-Nya.41 Sinetron digunakan sebagai media dakwah karena informasi yang disampaikan secara teratur dan berupa

40 Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah dan Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h. 33-35.

41 Bambang S. Maarif, Komunikasi Dakwah “Paradigma untuk Aksi”, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010) h. 26.

Dokumen terkait