Tanggal/Hari Apa yang anda buat di siang hari Kualitas positifnya apa?
2. Konsep dan Teknik Modifikasi Sikap
Bagaimana modifikasi sikap dalam kasus penderitaan yang tidak dapat dihindari, yang menyebabkan rasa sakit yang nyata? Menurut Frankl (1985a:161, 162) logoterapi mengakui bahwa, secara umum, ada tiga aspek tragis yang mempengaruhi sikap kita adalah (a) penderitaan; (b) rasa bersalah; dan (c) kematian. Mungkinkah hidup masih memiliki makna, di balik semua aspek-aspek tragis yang terkandung di dalamnya? Hidup punya potensi untuk memiliki makna, apa pun kondisinya, bahkan dalam kondisi yang paling menyedihkan sekalipun. Manusia memiliki kapasitas untuk mengubah aspek-aspek hidup yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan konstruktif. Dengan kata lain, yang paling penting adalah memanfaatkan yang terbaik dari setiap situasi. Tetapi, yang dimaksud dengan “terbaik” di sini adalah “terbaik” yang dalam bahasa latin diterjemahkan sebagai optimum yaitu optimisme untuk: (a) mengubah penderitaan menjadi keberhasilan dan
sukses; (b) mengubah rasa bersalah menjadi kesempatan untuk mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik; dan (c) mengubah ketidakkekalan hidup menjadi dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab. (d) dapat mengembangkan evaluasi diri seimbang.
Menurut Lukas (Marshall, 2009:81), modifikasi Sikap dimulai dengan pengakuan bahwa sikap klien tidak ditentukan oleh situasi. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian klien pada fakta bahwa makna tersedia dalam setiap situasi. Selanjutnya, tujuan terapis adalah dengan menggunakan pengetahuan dan intuisi dalam menilai apakah sikap tertentu oleh klien berbahaya, atau tidak. Ketika terapis menemukan sikap yang merusak atau tidak sehat, ia tidak menilai klien sebagai baik atau buruk, tapi membawa klien ke tempat terbuka untuk mendiskusikannya, dan menimbang jika klien sehat atau tidak, sebagai upaya untuk hidup dalam terang yang berorientasi makna. Tugas terapis adalah mengubah dialog dengan diri sendiri, dan refleksi pada dunia, dengan cara yang datang dari klien, dan mencerminkan kebenaran dan realitas yang diakui dalam batin klien, sehingga dapat mengembangkan evaluasi diri seimbang.
Dengan demikian, sketsa proses modifikasi sikap adalah sebagai berikut : (a) Jelajahi situasi saat ini, dan memahami penyebab penderitaan yang dialami klien. (b) Carilah akar penderitaan dan melihat di mana ada keterbatasan secara realistis. (c) Perhatikan juga kekuatan dan kemungkinannya. (d) Perhatikan sikap yang tidak sehat yang meningkatkan penderitaan, dan mencoba untuk mengubahnya. (e) Temukan kesadaran klien dan mendiskusikannya secara terbuka. (f) Membantu untuk menegaskan keyakinan pada ketidakbermaknaan hidup, dan tak terbatasnya nilai pribadi seseorang. Kehidupan (tubuh dan pikiran) adalah sementara dan terbatas, namun dibalik keterbatasan ada makna kehidupan yang dapat melampaui kesementaraan. Makna itu adalah Roh manusia yang tidak pernah dapat dihancurkan, dan hidup selamanya, bahkan ketika itu tidak bisa mengekspresikan dirinya melalui instrumen (dari tubuh dan pikiran). Roh adalah kekuatan dari "kekuatan menantang
jiwa manusia" (Frankl, 1985a:147.) yang dapat diaktifkan untuk membantu klien menemukan cara di mana mereka dapat bertindak seolah-olah" kekuatan itu sudah ada, bahwa setiap hari menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru, dan klien bisa menggunakan waktu untuk dirinya sendiri, sehingga dapat mengembangkan evaluasi diri seimbang.
Coetzer dan Schulenberg (Marshall, 2009:82, 83) memahami modifikasi sikap merupakan cara untuk melahirkan nilai-nilai sikap, yang membantu klien bertumbuh dalam kekuatan dan kepercayaan menghadapi rintangan. Hal tersebut tidak terlepas dari keseimbangan yang harus ditemukan antara prestasi masa lalu dan janji masa depan. Kehidupan menuntut hidup di masa sekarang. Masa lalu tidak bisa dirubah tetapi masa sekarang bisa memperbaiki kesalahan masa lalu, untuk menatap masa depan. Modifikasi sikap menawarkan pendekatan kasih sayang dan kepedulian untuk situasi hidup klien saat ini. Tugas terapis adalah untuk mengkonfirmasi bahwa tersedia makna dalam setiap situasi. Makna tersebut akan melahirkan iman, harapan, dan cinta. Dengan itu, modifikasi sikap dapat secara khusus digunakan untuk mendorong, mendesak, memberikan kenyamanan, membantu klien kembali mendapatkan keseimbangan dan kedamaian batin. Modifikasi Sikap adalah teknik logoterapi non-spesifik, yang harus disoroti sejak dini dan tidak hanya membantu klien menghadapi situasi yang tidak dapat diubah dan kekhawatiran eksistensial, tetapi juga menyoroti kekuatan klien dan mengarahkannya sehingga dapat mengembangkan evaluasi diri seimbang.
Menurut Wong (2007:8, 9) modifikasi sikap digunakan untuk neurosis noogenic, depresi dan kecanduan dengan mempromosikan kehendak untuk makna. Hal ini juga dapat digunakan dalam menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit. Umumnya, penekanannya pada reframing atau rekonstruksi sikap dari negatif ke positif. Sebagai contoh, klien mungkin bertanya: "Apakah ada sesuatu yang positif tentang situasi?" Atau "Apa kebebasan masih tersedia untuk Anda dalam situasi ini?" Tugas konselor adalah (a) Meyakinkan klien
tentang kekuatan yang dimilikinya dibalik situasi yang dialaminya. (b) Memberikan sugesti bagi klien untuk berubah menjadi lebih baik, terlepas dari keadaan klien saat ini, dan kondisi fisik / emosionalnya. (c) Mengungkapkan kepercayaan, martabat, kebebasan, dan tanggung jawab, sehingga dapat mengembangkan evaluasi diri seimbang.
Arahan untuk konseling
Apakah anda menyesali kesalahan dan masa lampau yang buruk? (ya / tidak). Apakah anda memiliki pola perilaku menyalahkan diri dan membenci dirinya sendiri? (ya / tidak). Apakah anda menampilkan suasana hati murung dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi? (ya / tidak). Apakah anda memiliki peran diri negatif karena kehilangan harkat, martabat dan harga diri? (ya / tidak).
Apakah anda mau memperbaiki kesalahan dan masa lampau yang buruk? (ya / tidak). Apakah anda bertekat memiliki pola perilaku positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain? (ya / tidak). Apakah anda akan enjoy dan menampilkan suasana hati senang, sukacita dan bahagia serta melupakan apapun yang pernah menimpa diri anda? (ya / tidak). Apakah anda akan berperan positif karena anda mempunyai harkat, martabat dan harga diri? (ya / tidak). Apakah anda menjadikan kesalahan dan masa lampau yang buruk sebagai kekuatan menggapai masa depan yang sukses dan bahagia? (ya / tidak). Apakah anda telah menjadi bagian dari kehidupan orang lain, karena anda mengembangkan sikap dan perilaku positif yang bermanfaat bagi mereka? (ya / tidak). Benarkah anda enjoy dan menampilkan suasana hati senang, sukacita dan bahagia karena telah menemukan harkat dan martabat diri serta tujuan hidup anda sendiri? (ya / tidak).
3. Proses Konseling
TAHAP AWAL TAHAP MODIFIKASI SIKAP TAHAP AKHIR
a. Jelajahi situasi klien saat ini.
b. Melihat di mana ada keterbatasan klien secara realistis.
c. Memperhatikan juga
kekuatan dan
kemungkinannya.
a. Perhatikan sikap yang tidak sehat dan mencoba untuk mengubahnya.
b. Temukan kesadaran klien dan
mendiskusikannya secara terbuka. c. Konselor mengarahkan klien, ini
saatnya untuk menata masa depan, meraih apa yang diinginkannya.
d. Konselor menyadarkan klien,
memaafkan orang-orang yang pernah melakukan pelecehan dan kekerasan secara fisik, psikis dan seksual terhadap dirinya.
e. Konselor meyakinkan klien bahwa hidup ini jauh lebih penting dan harus diperjuangkan sekalipun anda pernah diteror, ditekan dan diancam.
f. Konselor meyakinkan klien, bahwa ia berarti bagi suami/istri dan anak-anak sekalipun pernah diisolasi dan disekap. g. Setelah situasi tersebut; 1) apakah anda mau menata diri anda? 2) apakah andah merasa berguna dan berharga dimata orang lain? 3) apakah anda mau memaafkan diri anda sendiri dan orang lain?
a. Konselor mengajak konseli
berkomitmen untuk:
1) Mengubah penderitaan menjadi
keberhasilan dan sukses.
2) Mengubah rasa bersalah menjadi
kesempatan untuk mengubah diri
sendiri ke arah yang lebih baik; dan
3) Mengubah ketidakkekalan hidup
menjadi dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab.
TUJUAN