• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep dan Teknik Orientasi Makna

Dalam dokumen M01576 (Halaman 45-52)

Tanggal/Hari Apa yang anda buat di siang hari Kualitas positifnya apa?

TUJUAN TEKNIK DAN

2. Konsep dan Teknik Orientasi Makna

Setelah pencapaian integritas diri berhasil, klien mengalami perkembangan positif dan penyembuhan aspek sikap barunya. Pada titik ini, klien terbuka bagi orientasi baru untuk makna. Fase pengobatan adalah penting, bahwa terapis dan klien mendengarkan satu sama lain saat mereka berdialog. Tapi, apa yang spesifik tentang konseling logotherapeutic adalah bahwa terapis tidak hanya berorientasi pada klien, tetapi terhadap makna. Dia mendengarkan jejak makna dalam apa yang klien katakan, dan mencoba untuk membangkitkan kekuatan klien sendiri dalam mengorientasikan diri terhadap makna. Terapi ini berhasil, ketika baik terapis maupun klien mengarahkan diri terhadap makna, mereka harus kreatif untuk menemukan makna. Makna tidak diberikan oleh terapis, juga bukan diciptakan oleh klien. Sebaliknya,

dalam proses logotherapy, makna ditemukan sebagai upaya kerjasama antara klien dan terapis. Beberapa prinsip yang membantu klien memulai pencarian makna.

Frankl (2000:123, 124) mengungkapkan ada 3 ragam nilai yang dapat menjadi sumber makna hidup yaitu:

a. Creative Values (nilai kreatif) yang meliputi kerja, karya, mencipta. Nilai ini lebih menunjukkan bagaimana individu harus berkarya dan dalam karya itu menjelaskan tentang kualitas hidup yaitu cara menghargai, menghormati dan bertanggung jawab terhadap apa yang individu lakukan, peroleh maupun yang dialaminya. Dalam pengertian bahwa kualitas hidup adalah apa kontribusi (donasi) yang dapat individu berikan dalam situasi dan hubungan yang dialaminya. Dengan kata lain nilai kreatif itu bukan bergantung pada seberapa yang kita peroleh secara kuantitas (durasi) tetapi lebih pada seberapa hidup kita berkualitas dan bermakna bagi orang lain dan bagi diri sendiri. Kualitas itu pulalah yang memampukan individu memilah, membedakan, memisahkan dan melepaskan untuk membuat jarak antara fenomena apapun yang dialaminya dengan dirinya sendiri (self-detachment), sehingga individu dapat keluar dari masalahnya untuk melakukan transendensi diri. Makna hidup dapat dirasakan individu jika proses-proses tersebut dijalankan dengan baik dan benar.

b. Experience Values (nilai pengalaman) yang meliputi kebenaran, keindahan, kasih dan keyakinan diri. Apapun yang bisa dilakukan individu berusahalah untuk menemukan kebenaran, keindahan dan cinta, karena nilai-nilai tersebut dapat memberikan makna sebanyak nilai-nilai daya cipta. Nilai tersebut tercipta dalam perjumpaan individu dengan dunia diluar dirinya. Dalam perjumpaan itu individu perlu melakukan suatu eksplorasi diri untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya bagi pengembangan dirinya secara inovatif. Ada makna yang harus ditemukan melalui suatu proses melampaui dirinya sendiri (self-transcendence), bahwa setiap individu punya potensi untuk melihat makna dibalik semua situasi yang dialaminya. Individu dapat mengakses kemampuan daya batinnya untuk transendensi-diri dan memobilisasi keinginannya untuk makna yang selalu mencari nilai transenden.

c. Attitudinal Values (nilai sikap) yang meliputi penerimaan dalam mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tidak dapat dihindari. Situasi apapun yang dialami individu memberikan kesempatan yang sangat besar bagi individu menemukan makna hidupnya, jika individu dapat menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan sekalipun. Hal tersebut membangkitkan kesadaran diri (self-awareness) yang dalam sehingga individu dapat melakukan penyesuaian, instropeksi dan membuka diri terhadap hal-hal baru yang inovatif untuk mengembangkan harapan yang realistis dan evaluasi diri seimbang. Hidup tetap berpotensi untuk memiliki makna dalam kondisi apapun, bahkan dalam kondisi yang paling menyedihkan, karena individu memiliki kapasitas untuk mengubah aspek- aspek hidup yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan konstruktif. Dengan kata lain, yang paling penting adalah memanfaatkan yang terbaik dari setiap situasi, maka nilai-nilai yang dianut oleh individu tetap melekat bersamanya.

Frankl menyebut ketiga nilai itu sebagai spiritualitas yang terintegrasi maksudnya penyatuan nilai-nilai itu, membentuk keseimbangan pribadi secara total dan pada tingkat ini individu dapat mencapai kepuasan yang memberi makna bagi kehidupannya. Dengan kata lain, nilai-nilai itu adalah dimensi spiritual yang merupakan inti dari meaning of life. Nilai-nilai tersebut menggambarkan a process of spiritual approach (suatu proses pendekatan spiritual) dalam menangani ketidakmampuan spiritual untuk mengatasi masalah kehidupan menemukan meaning of life.

Arahan untuk konseling 1) Five Springboard

a)Choices. Klien punya pilihan dapat mengubah sikap terhadap situasi tertentu. Menurut Wilson dan Barnes (Marshall, 2009:63) semakin banyak pilihan yang klien lihat dalam situasi, semakin tersedia makna, bahwa pilihan klien termasuk perubahan sikap dalam situasi yang tidak dapat diubah. Menurut Lukas (Marshall, 2009:63) mengungkapkan bagaimana mengandalkan sumber daya klien dalam mengelola krisis

emosionalnya dengan menjadi lebih sadar pada pilihannya. Hal tersebut terdiri dari lima pertanyaan untuk dijawab: "Apakah Masalah anda? Di mana kebebasan anda? Pilihan mana yang mungkin anda miliki? Mana yang paling bermakna? Anda ingin mengaktualisasikan makna ini" Apakah langkah pertama di dalam pilihan langsung?

b) Uniqueness. Logotherapy melihat orang sebagai yang unik dalam hidupnya, dan hidup sebagai rangkaian situasi yang diulang. ketika seseorang menjadi sadar akan keunikan pribadinya, maka hidupnya akan terasa bermakna. Yang menentukan bahwa seseorang itu unik adalah hubungan dan kreatifitasnya. Ungar (Marshall, 2009:63) menggambarkan bagaimana keunikan dan singularitas dapat terlihat dalam refleksi tentang kehidupan seseorang, bahkan dengan tragedi, dan cara di mana refleksi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan yang berorientasi makna melalui (a) Mengevaluasi kehidupan klien dengan cara terlibat dalam perilaku bermanfaat. Pendekatan tantangan dengan pikiran terbuka. Stop menghindari, melarikan diri & perilaku keselamatan. (b) Klien mempunyai power untuk menyikapi setiap situasi yang dialaminya dengan cara berperilaku positif dan mengkonfirmasi keyakinan inti baru.

c) Tanggung Jawab. Hidup klien akan lebih bermakna jika klien belajar untuk mengambil tanggung jawab, klien memiliki kebebasan memilih, dan jika klien belajar untuk tidak merasa bertanggung jawab akan menghadapi nasib yang tak dapat diubah. Kebebasan tanpa tanggung jawab tidak menghasilkan makna, tetapi kekacauan. Kebebasan memilih harus dibarengi dengan tanggung jawab yang menyebabkan tindakan bermakna.

d) Transendensi-diri. Transendensi-diri merupakan kapasitas klien untuk menemukan makna dengan menyertakan orang lain dalam cinta demi kepentingannya sendiri. Pendekatan ini akan membantu klien memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence) yang dimilikinya. Klien memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak lagi memperhatikan kondisi yang tidak nyaman,

tetapi mampu mengalihkan dan mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat yang berorientasi pada makna dan tujuan hidup yang jelas.

e) Find the meaning of life. Caranya adalah pikirkan tentang keterampilan yang telah anda pelajari dan apa yang telah membantu dalam menangani low self-esteem anda (misalnya, menantang / bereksperimen dengan harapan bias dan evaluasi diri yang negatif, memperhatikan kualitas positif, terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan dan prestasi, memperlakukan diri dengan ramah). Klien pertama-tama dibantu untuk menyadari kemampuan atau potensinya yang tidak digunakan atau terlupakan. Ini merupakan suatu jenis daya penarik terhadap nilai-nilai klien yang terpendam. Ketika nilai-nilai tersebut dapat diungkapkan dalam proses konseling maka akan muncul suatu perasaan unik, berguna dan berharga dari dalam diri klien.

3. Proses Konseling

TAHAP AWAL TAHAP REALISASI

MAKNA

TAHAP AKHIR

a. Konselor dan klien mendengarkan satu sama lain saat mereka berdialog. b. Konselor tidak

hanya berorientasi pada klien, tetapi terhadap makna, dan mendengarkan jejak makna dalam apa yang klien katakana. c. Konselor mencoba untuk membangkitkan kekuatan klien sendiri dalam mengorientasikan diri terhadap makna. a. Konselor menjelaskan kepada klien tentang kualitas hidup yaitu cara menghargai, menghormati dan bertanggung jawab terhadap apa yang konseli lakukan, peroleh maupun yang dialaminya.

b. Konselor menjelaskan kepada klien bahwa kualitas hidup adalah kontribusi (donasi) yang dapat klien berikan dalam situasi dan hubungan yang dialaminya. c. Konselor menjelaskan

kepada klien tentang nilai kreatif yang dimilikinya, itu bukan bergantung pada seberapa yang konseli peroleh secara kuantitas (durasi) tetapi lebih pada

a. Konselor meyakinkan klien bahwa yang paling penting dalam hidupnya adalah memanfaatkan yang terbaik dari setiap situasi, maka nilai-nilai yang dianut oleh klien tetap melekat bersamanya. b. Konselor meyakinkan klien

bahwa hidup tetap berpotensi untuk memiliki makna dalam kondisi apapun, bahkan dalam

kondisi yang paling

menyedihkan, karena klien memiliki kapasitas untuk mengubah aspek-aspek hidup yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan konstruktif. c. Konselor menjelaskan kepada

klien bahwa dengan kesadaran diri yang mendalam terhadap derita yang dialaminya, mendorong klien melakukan

orientasi baru untuk makna.

seberapa hidup klien berkualitas dan bermakna bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.

d. Konselor menjelaskan kepada klien bahwa pengalaman hidupnya masa lalu dan masa kini mempunyai nilai yang meliputi kebenaran, keindahan, cinta kasih dan keyakinan diri.

e. Konselor mendorong klien berusahalah untuk menemukan kebenaran, keindahan, cinta kasih, dan keyakinan diri karena nilai- nilai tersebut dapat

memberikan makna

kehidupan bagi dirinya dan orang lain.

f. Konselor menjelaskan kepada klien bahwa nilai- nilai tersebut tercipta dalam perjumpaan klien dengan dunia di luar dirinya, melalui berbagi masalah dan pengalaman hidup dengan orang lain, pengetahuan membaca buku, media masa (Koran, majalah, televisi, video film dan media elektronik lainnya), peristiwa dan kejadian-kejadian yang dialaminya sendiri maupun bersama orang lain.

g. Konselor meyakinkan klien bahwa klien mempunyai potensi untuk melihat makna dibalik semua situasi yang dialaminya.

penyesuaian, instropeksi dan membuka diri terhadap hal-hal baru yang inovatif untuk memperoleh penghargaan atas dirinya serta pencapaian tujuan dan makna hidupnya.

h. Konselor menjelaskan kepada konseli bahwa tindakan dan setiap perilaku yang dilakukannya mempunyai nilai yang meliputi penerimaan dalam mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tidak dapat dihindari.

i. menjelaskan kepada klien bahwa situasi apapun yang dialami klien memberikan kesempatan yang sangat besar bagi klien

menemukan makna

hidupnya, jika klien dapat menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan sekalipun. TUJUAN TEKNIK DAN SASARAN PENCAPAIAN MEDIA EVALUASI a. Tujuannya adalah klien memperoleh healthy self-esteem serta menemukan makna dan tujuan hidup.

b. Sasarannya adalah klien memiliki potensi, aktivitas, dan evaluasi diri positif.

Lima jurus untuk makna Sesi ini berhasil apabila klien berhasil menemukan makna dan tujuan hidup serta penghargaan atas dirinya.

Dalam dokumen M01576 (Halaman 45-52)

Dokumen terkait