• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi   Good   Governance  dan   Akuntabilitas

Dalam dokumen Modul Ahli MPP 2014 Copy (Halaman 24-33)

Bab II   KONSEPSI   GOOD   GOVERNANCE DAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

B.   Konsepsi   Good   Governance  dan   Akuntabilitas

1. Revolusi Manajemen Sektor Publik 

Seiring  dengan meningkatnya  peran  swasta  dan  masyarakat  dalam  penyelenggaraan 

pemerintahan,  manajemen  sektor  publik  telah  mengalami  perubahan  yang  cukup 

signifikan. Hal ini antara lain dipicu oleh pemikiran Osborne dan Gaebler dalam bukunya  Reinventing Government (1992) atau pemerintahan wirausaha. Perubahan tersebut pada 

dasarnya diarahkan pada penciptaan manajemen publik yang handal dan mempertajam 

serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi publik. Konsep dan sistem 

administrasi publik yang kaku, struktural/hirarkis, dan birokratis telah ditinggalkan dan 

sebagai gantinya telah dikembangkan suatu konsep manajemen publik yang fleksibel dan 

berorientasi  kepada  pasar.  Dalam  paradigma  manajemen  sektor  publik  yang  baru, 

birokrasi  pemerintah dibuat  seefisien dan seefektif mungkin sehingga mereka dapat 

bergerak  fleksibel  dalam  mengikuti  tuntutan  masyarakat dan  perubahan  lingkungan. 

Paradigma baru ini dianggap sebagai solusi atas berbagai label negatif yang melekat pada 

sektor  publik  yaitu  dengan  mengacu  pada  kaidah‐kaidah  terhadap  new  public  management (NPM). 

Perubahan  ini  bukan  perubahan  sederhana  dalam  “management  style”  administrasi 

publik. Akan tetapi, perubahan ini merupakan perubahan peranan pemerintah dalam 

masyarakat dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakatnya. Paradigma baru ini 

merupakan tantangan langsung atas berbagai fungsi prinsip administrasi publik yang telah 

diyakini sebagai paradigma terpenting selama hampir 20 abad. Dalam paradigma baru, 

birokrat dan pemerintah bukanlah satu‐satunya provider barang dan jasa masyarakat. 

Perspektif  ini  menempatkan  organisasi  swasta  sebagai  mitra  pemerintah  untuk 

menyediakan  berbagai  kebutuhan  publik.  Pemerintah  berperan  dalam  memfasilitasi 

kebutuhan  masyarakatnya  melalui  subsidi,  pengaturan  perundang‐undangan  dan 

pengaturan kontrak. Keterbukaan pemerintah juga ditekankan dalam paradigma baru ini, 

yang ditunjukkan dengan diadopsinya berbagai prinsip dan sistem manajemen sektor 

swasta ke dalam sektor publik untuk memperbaiki kinerja birokrasi. 

Dalam mekanisme dan pola hubungan ini akuntabilitas yang ada tidak hanya mengalir dari 

bawah ke atas, dalam arti pegawai secara hirarkis mempertanggungjawabkan kegiatan 

kepada pihak luar organisasi publik, dalam hal ini masyarakat ataupun kepada sektor 

swasta. 

2. Pergeseran Paradigma New Public Management (NPM) ke Governance 

Orientasi “privatisasi” yang terdapat pada NPM tidak berarti bahwa peran pemerintah 

berkurang, namun tetap terwujud dengan munculnya peranan pengaturan (regulations

terhadap keterlibatan sektor swasta dan juga dengan mengelola respon yang efektif 

terhadap tuntuntan sosial dan ekonomi masyarakat. World Bank (1997) menyebutkan 

bahwa  meskipun  terjadi  kecenderungan  “privatisasi”  terhadap  berbagai  kegiatan 

pemerintah, hal ini tidak berarti bahwa peran pemerintah menjadi berkurang. Peran 

pemerintah  masih  sangat  penting/dominan  dalam  manajemen  pembangunan.  Peran 

pemerintah mungkin akan berkurang dalam memberikan arahan dan petunjuk dari pusat 

pemerintahan.  Akan  tetapi,  pemerintah  masih  tetap  bertanggung  jawab  terhadap 

perancangan  dan  pelaksanaan  kebijakan  publik,  terutama  yang  berkaitan  dengan 

transformasi ekonomi, pengurangan kemiskinan, peningkatan kinerja sektor pertanian, 

ketenagakerjaan, fasilitas sosial dan umum, serta pengelolaan lingkungan hidup. 

Hal lain yang mendukung bahwa  peran pemerintah  masih  sangat dibutuhkan dalam 

pelayanan publik adalah kenyataan bahwa prinsip ekonomi dan efisiensi tidak selalu dapat 

diterapkan pada semua aktivitas pemerintah (misalnya fasilitas sosial dan fasilitas umum). 

Pemerintahan  yang  modern  tidak  hanya  mencakup  efisiensi  dan  peningkatan 

keekonomisan, tetapi juga merupakan hubungan akuntabilitas antara negara dengan 

warga negara, di mana warga negara tidak diberlakukan hanya sebagai konsumen tapi 

juga sebagai warga negara yang memiliki hak untuk mendapatkan jaminan atas kebutuhan 

dasar dan menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab atas berbagai kebijakan yang 

dilakukan.  Hal  ini  merupakan  perubahan  pandangan  dalam  manajemen  publik  dari 

penekanan pada hubungan antara negara dengan pasar ke hubungan antara negara 

dengan warga negaranya. Pandangan ini dikenal dengan governance (kepemerintahan) 

yang diartikan oleh UNDP sebagai: 

“…  the  exercise  of  political,  economic  and  administrative  authority  in  the  management of a country’s affairs at all level…comprises the complex mechanisms,  processes  and  institutions  through  which  citizens  and  groups  articulate  their  interests, mediate their differences and exercise legal rights and obligations” (UNDP, 

Dengan kata lain,  governance meliputi berbagai  kewenangan baik yang menyangkut 

kewenangan  politik,  ekonomi,  dan  administrasi  berinteraksi  satu  dengan  lainnya. 

Hubungan ini mencakup hubungan yang komplek antar berbagai kewenangan dalam 

semua level pemerintahan dalam bentuk mekanisme, proses dan pembentukan institusi di 

mana masyarakat dan kelompok masyarakat dapat menyampaikan keinginan, mengatur 

berbagai perbedaan, dan juga mendapatkan jaminan hukum, termasuk pengaturannya. 

Konsep ini lebih luas dari fungsi dan kapasitas sektor publik, akan tetapi konsep ini 

berkaitan dengan manajemen proses pembangunan yang melibatkan pemerintah, swasta, 

dan masyarakat. Hubungan semua pihak ini bukan merupakan kerangka kegiatan yang 

terpisah melainkan dalam kerangka keterpaduan dan kerja sama yang harmonis untuk 

pencapaian  tujuan  dan  kepentingan  bersama.  Tujuan  interaksi  sosial‐politik‐ekonomi 

dalam  pengertian  ini  adalah  tercapainya  suatu  keseimbangan  dan  sinergi  dalam 

pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masing‐masing institusi dalam satu keselarasan 

dan keseimbangan. 

3. Karakteristik Good Governance (GG) 

Dalam  rangka  mengembangkan  strategi  yang  lebih  implementatif,  terdapat  banyak 

karakteristik dan prinsip tentang GG. Salah satu yang menjadi tonggak penting adalah 

karakteristik GG yang dirumuskan pada deklarasi Manila, yaitu transparan, akuntabel, adil, 

wajar, demokratis, partisipatif, dan responsif. 

Masing‐masing karakteristik dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut. 

a. Transparan, mengindikasikan adanya adanya kebebasan dan kemudahan didalam 

memperoleh informasi yang akurat dan memadai bagi mereka yang memerlukan. 

Informatif, mutakhir, dapat diandalkan, mudah diperoleh dan dimengerti adalah 

beberapa parameter yang digunakan untuk mengecek keberhasilan tranparansi. 

b. Akuntabel, di mana semua pihak (baik pemerintah, swasta dan masyarakat) harus 

mampu memberikan pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan kepadanya 

untuk para stakeholders. Secara umum organisasi atau institusi harus akuntabel 

kepada mereka yang terpengaruh dengan keputusan atau aktivitas yang mereka 

c. Adil, yaitu terdapat jaminan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan dan 

kesempatan yang sama dalam menjalankan kehidupannya. Sifat adil ini diperoleh 

dari aspek ekonomi, sosial dan politik. Adil ini juga berarti terdapat jaminan akan 

kesejahteraan  masyarakat  dimana  semua  masyarakat  merasa  bahwa  mereka 

memiliki hak dan tidak merasa diasingkan dari kehidupan masyarakat. 

d. Wajar,  yaitu  jaminan  pemerintah  terhadap  pemenuhan  kebutuhan  dasar 

masyarakat  (standar). Hal  ini mensyaratkan  bahwa semua kelompok,  terutama 

kelompok yang lemah, memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya. 

Untuk alasan ini, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pemerintah 

harus  menyediakan  standar  pelayanan  untuk  menjamin  kesamaan  (fair)  dan 

konsistensi pelayanan. 

e. Demokratis,  yaitu  terdapat  jaminan  kebebasan  bagi  setiap  individu  untuk 

berpendapat/mengeluarkan pendapat serta ikut dalam kegiatan pemilihan umum 

yang bebas, langsung, dan jujur. 

f. Partisipatif,  yaitu  terdapat  jaminan  kesamaan  hak  bagi  setiap  individu  dalam 

pengambilan keputusan (baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan). 

Dalam  kaitannya  dengan  partisipasi  ini,  terdapat  tuntutan  agar  pemerintah 

meningkatkan fungsi kontrol terhadap manajemen pemerintah dan pembangunan 

dengan melibatkan organisasi non‐pemerintah. Peran organisasi non‐pemerintah 

sangat penting dalam konteks ini karena diyakini organisasi ini memiliki kontak yang 

lebih baik dengan masyarakat miskin, memiliki hubungan yang baik dengan daerah 

pedalaman dan pedesaan, mampu menyediakan metode alternatif pelayanan publik 

dengan harga yang murah dan sebagai mediator dalam menyampaikan berbagai 

pandangan dan kebutuhan masyarakat. 

g. Tanggap/peka/responsif, yang berarti bahwa dalam melaksanakan kepemerintahan 

semua institusi dan proses yang dilaksanakan pemerintah harus melayani semua  stakeholders secara tepat, baik dan dalam waktu yang tepat (tanggap terhadap 

kemauan masyarakat). 

Berdasarkan konsep di atas, dapat dilihat bahwa good governance mempunyai tujuan 

yang lebih besar dari sekedar manajemen yang efisien dan penggunaan sumber daya yang 

kuat, dan juga untuk membuat pemerintah/publik sektor semakin terbuka, responsif, 

akuntable dan demokratis. Di samping itu, konsep good governance jika dikembangkan 

akan menciptakan modern governance (nasional maupun lokal) yang handal yang tidak 

hanya menekankan aktivitasnya dalam kerangka efisiensi tetapi juga akuntabilitasnya di 

mata publik. Penerapan good governance juga sangat berperan dalam pencegahan dan 

pemberantasan praktik‐praktik KKN yang dapat menghindarkan penyalahgunaan fasilitas 

publik untuk kepentingan pribadi semaksimal mungkin. 

4. Konsep Akuntabilitas 

Good governance tidak hanya terkait dengan efisiensi dan ekonomis, tapi juga berkaitan 

dengan  akuntabilitas  berbagai  penyelenggaraan  kepentingan  publik  kepada  stakeholder‐nya.  Ide  dasar  dari  akuntabilitas  adalah  kemampuan  seseorang  atau 

organisasi  atau  penerima  amanat  untuk  memberikan  jawaban  kepada  pihak  yang 

memberikan amanat atau mandat tersebut. Semua unit organisasi, apakah dipilih atau 

ditunjuk,  dikatakan  akuntabel  ketika  mereka  mampu  menjelaskan  dan 

mempertanggungjawabkan  semua  tindakan/kegiatan  yang  mereka  lakukan,  dan 

menerima  sanksi  untuk  tindakan  yang  tidak  layak  atau  tidak  dapat 

dipertanggungjawabkan. 

Konsep dan aplikasi akuntabilitas sebenarnya sudah ada namun seiring dengan perubahan 

lingkungan tuntutan akuntabilitas menjadi semakin besar. Secara garis besar terdapat 

empat  model  akuntabilitas yang  perkembangannya  lebih  banyak  dipengaruhi  karena 

perubahan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. 

a. Model Tradisional Westminster 

Model ini menyebutkan bahwa garis pertanggungjawaban akuntabilitas adalah dari 

bawah ke atas (hierakhis), dan garis kewenangan (otoritas) dari atas ke bawah atau 

akuntabilitas ministerial. 

Model akuntabilitas ini sesuai dengan konsep birokrasi yang diterapkan oleh Max 

Weber sehingga disebut juga sebagai administrative accountability. Dalam konsep 

ini, setiap individu memberikan pertanggungjawaban terhadap suatu tugas spesifik 

yang diterima kepada atasannya secara hirarkis. Hal ini dilakukan sebagai bentuk 

Model tradisional Westminster memiliki beberapa kelemahan, yaitu: 

1) ide pertanggungjawaban yang menekankan pada penjelasan dan pembenaran 

atas suatu tindakan dianggap tidak cukup digunakan untuk melihat kinerja 

suatu tindakan; 

2) hubungan dalam pertanggungjawaban yang bersifat interpersonal; 

3) kontrol yang bersifat top‐down

b. Model Tradisional yang Dikembangkan (upward, inward dan outward

Model ini merupakan jawaban terhadap adanya beberapa kelemahan dalam model 

tradisional Westminster. Dengan berbagai kelemahan tersebut dan tuntutan global 

terhadap transparansi dan kejujuran organisasi pemerintah, maka dikembangkan 

konsep pertanggungjawaban akuntabilitas yang tidak hanya dari bawah ke atas, 

tetapi  juga  bersifat  ke  dalam  (perorangan)  dan  ke  luar  (masyarakat).  Untuk 

mendukung  akuntabilitas  internal  dan  eksternal  ini,  pendukung  konsep  ini 

menyarankan diciptakannya berbagai mekanisme dan sistem akuntabilitas seperti 

pengembangan  jaminan  kebebasan  mendapatkan  informasi  dan  pembentukan 

berbagai lembaga independen yang bertujuan untuk mengontrol  kinerja sektor 

publik seperti ombudsman dan lembaga peradilan yang kuat. 

c. Model Stone 

Dalam model ini  pertanggungjawaban/akuntabilitas  dibagi  dalam  lima  kategori, 

yaitu: 

1) kontrol dari parlemen (DPR), 

2) managerialism

3) pengadilan/lembaga semi peradilan, 

4) perwakilan masyarakat, 

5) pasar (konsumen‐pengusaha). 

d. Model Jaringan Kerja (Jaringan yang Kompleks) 

Para pihak yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu jaringan kerja yang 

pada pola hubungan yang terjalin dalam suatu kerja sama. Dalam suatu sistem kerja 

sama, semua pihak yang terkait saling melakukan komunikasi, pemberian informasi 

dan hubungan kerja yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan dari jaringan 

kerja yang dibuat. 

Selain model akuntabilitas yang menekankan pada cara dan institusi pendukung 

dalam  pelaksanaan  akuntabilitas,  terdapat  faktor  lain  yang  penting,  yaitu 

mekanisme akuntabilitas. Pengembangan mekanisme akuntabilitas diarahkan untuk 

meningkatkan: 

a. kejelasan tugas dan peran, 

b. hasil akhir yang spesifik, 

c. proses yang transparan, 

d. ukuran keberhasilan kinerja, dan 

e. konsultasi dan inspeksi publik. 

Mekanisme akuntabilitas juga meliputi beberapa aspek, yaitu siapa yang harus melakukan 

akuntabilitas, kepada siapa akuntabilitas ini dilakukan, untuk apa akuntabilitas dilakukan, 

dan bagaimana proses akuntabilitas dilaksanakan. Mekanisme akuntabilitas ini sangat 

bervariasi dan sangat ditentukan oleh keputusan atau aktivitas yang dilakukan suatu 

organisasi mengikat organisasi secara internal atau mengikat secara eksternal. 

Kepada siapa kita harus bertanggung jawab, tergantung pada siapa yang memberi kita 

mandat dan seberapa besar berbagai tindakan yang kita lakukan mempengaruhi orang 

lain. Pertanggungjawaban dapat diberikan kepada masyarakat (pelanggan), pemerintah 

pusat dan daerah (termasuk dalam hal ini presiden, menteri, bupati/walikota, gubernur, 

pejabat  struktural  dalam  birokrasi  pemerintah),  organisasi  kemasyarakatan/NGOs, 

organisasi pemerintah lainnya misalnya BUMN, dan lembaga penilai organisasi publik yang 

diatur dalam undang‐undang. 

Mulgan, Richard (2003) dalam bukunya “Holding Power to Account”, membuat matriks 

mekanisme akuntabilitas pemerintah. Contoh dari matriks yang dikembangkan adalah 

sebagaimana Tabel 2.1  berikut.   

Tabel 2.1  Mekanisme Akuntabilitas Pemerintah 

Mekanisme  Siapa  Kepada Siapa  Untuk Apa  Bagaimana  Prosesnya 

Bagaimana  Pemilu  ƒParpol ƒIndividu (yang dipilih) ƒPemilih ƒKinerja secara total ƒKampanye Parpol ƒDiskusi Amandemen Media  ƒPemerintah ƒBirokrasi ƒWartawan ƒPublik ƒKinerja secara umum ƒKeputusan khusus ƒLaporan pers ƒWawancara ƒLaporan dari informan ƒInformasi ƒDiskusi Akses publik  secara  langsung 

ƒBirokrasi ƒPublik ƒKebijakan umum ƒKeputusan khusus ƒProsedur pengaduan ƒProsedur FOI ƒAnggaran dasar ƒInformasi ƒDiskusi (bukan FOI) ƒAmandemen (bukan FOI)

Catatan: FOI = freedom of information 

5. Kebijakan Akuntabilitas di Indonesia 

Pengembangan kebijakan akuntabilitas di Indonesia dipicu oleh dua hal penting, yaitu: 

pertama, adanya tuntutan internal (masyarakat Indonesia) antara lain agar sektor publik 

semakin transparan dan mampu mempertanggungjawabkan atas berbagai kebijakan dan 

tindakan yang dilakukan yang ditujukan untuk menyelesaikan dan memenuhi tuntutan 

publik. Kedua, adalah tuntutan perubahan dalam lingkungan global dalam hal manajemen 

sektor publik misalnya tuntutan Good Governance dan Performance Management

Kebijakan akuntabilitas di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya TAP MPR RI Nomor 

XI/MPR/1998 dan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih 

dan Bebas  dari  KKN.  Dalam  UU  Nomor  28  Tahun  1999  disebutkan  salah  satu  asas 

penyelenggaraan kepemerintahan yang baik yaitu asas akuntabilitas. Asas akuntabilitas di 

sini diartikan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara 

harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan 

tertinggi negara sesuai dengan ketentuan perundang‐undangan yang berlaku. 

Dalam  tataran  praktis,  terdapat  Instruksi  Presiden  Nomor  7  Tahun  1999  tentang 

Indonesia.  Inpres  ini  mendefinisikan  Akuntabilitas  Kinerja Instansi  Pemerintah  (AKIP) 

sebagai  pertanggungjawaban  keberhasilan  atau  kegagalan  misi  dan  visi  instansi 

pemerintah  dalam  mencapai  tujuan  dan  sasaran  yang  telah  ditetapkan  melalui 

seperangkat indikator kinerja. Dalam konteks AKIP ini, instansi pemerintah diharapkan 

dapat menyediakan informasi kinerja yang dapat dipahami dan digunakan sebagai alat 

ukur keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran tersebut. Inpres 

Nomor  7  Tahun  1999  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  Keputusan  Kepala  Lembaga 

Administrasi Negara Nomor  589/IX/6/Y/99 tentang Pedoman Pelaporan  Akuntabilitas 

Instansi  pemerintah,  yang  telah  diperbaiki  dengan  Keputusan  Kepala  LAN  Nomor 

239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi 

Pemerintah. 

Sistem  Akuntabilitas  Kinerja  Instansi  pemerintah  (SAKIP)  merupakan  instrumen  yang 

digunakan  instansi  pemerintah  dalam  memenuhi  kewajiban  untuk 

mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi (LAN, 

2004,  hal.  63).  Sebagai  suatu  sistem,  SAKIP  terdiri  dari  komponen‐komponen  yang 

merupakan satu kesatuan, yakni perencanaan kinerja, pengukuran dan evaluasi kinerja, 

serta pelaporan kinerja. Komponen dalam SAKIP ini menceminkan semua proses yang ada 

dalam manajemen kinerja. 

PP Nomor 8 Tahun 2006 Pasal  2  ‐ 3 telah menegaskan  kewajiban penyusunan dan 

penyajian laporan keuangan maupun laporan kinerja dalam rangka pertanggungjawaban 

pelaksanaan  APBN/  APBD  bagi  pemerintah  pusat,  pemerintah  daerah,  kementerian 

negara/lembaga, dan Bendahara Umum Negara. 

Selanjutnya berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan 

Kualitas Akuntabilitas Keuangan Negara ditetapkan peran BPKP untuk melaksanakan (1) 

asistensi  kepada  kementerian/lembaga/pemerintah  daerah  untuk  meningkatkan 

pemahaman bagi pejabat pemerintah pusat/daerah dalam pengelolaan keuangan negara/ 

daerah,  meningkatkan  kepatuhan  terhadap  peraturan  perundang‐undangan,  dan 

meningkatkan  kualitas  laporan  keuangan  dan  tata  kelola,  (2)  evaluasi  terhadap 

penyerapan  anggaran  kementerian/  lembaga/pemerintah  daerah,  dan  memberikan 

rekomendasi langkah‐langkah strategis percepatan penyerapan anggaran, dan (3) audit 

publik dan menjadi isu terkini, dan (4) rencana aksi yang jelas, tepat, dan terjadwal dalam 

mendorong penyelenggaraan SPIP pada setiap kementerian/lembaga/pemerintah daerah. 

Dalam dokumen Modul Ahli MPP 2014 Copy (Halaman 24-33)

Dokumen terkait