BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Konsepsi Tentang Studi Hukum dan Pembangunan
37
Peraturan Bupati Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pendelegasian Kewenangan Penerbitan Izin Usaha dan Izin Non Usaha Kepada Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Pinrang yang ditindak lanjuti Keputusan Bupati Nomor 503/27/2013 tentang Pendelegasian Wewenang Pemberian Perizinan dan Non Perizinan di Bidang Penanaman Modal kepada Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Pinrang, sehingga pelayanan perizinan pada BP2TPM.17
38
banyak ditentang di Indonesia. sifat mekanisme Itu tampak dengan digunakannya istilah toh oleh respon Itulah sebabnya Mengapa Mochtar kusumaatmadja cenderung menggunakan istilah sarana daripada alat.
Itulah disamping disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia konsepsi tersebut dikaitkan pula dengan filsafat budaya hukum yang digunakan sebagai sarana pembaharuan itu dapat berupa undang-undang atau provinsi dan kombinasi keduanya seperti telah dikemukakan di muka Indonesia paling menonjol adalah perundang-undangan, yurisprudensi juga berperan namun tidak seberapa apa apa Lain halnya di negara-negara yang menganut sistem presidensial Sudah barang tentu peranan yurisprudensi akan jauh lebih penting agar dalam pelaksanaan perundang-undangan yang bertujuan untuk.
Pembaharuan itu dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hendaknya perundang-undangan yang dibentuk itu sesuai dengan apa yang menjadi inti pemikiran aliran sociological yurisprudensi yaitu hukum yang baik hendaknya sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat mencerminkan nilai-nilai hidup di masyarakat sebab jika ternyata tidak akibatnya Ketentuan tersebut akan tidak dapat dilaksanakan bekerja dan akan dapat tentangan tantangan beberapa contoh pengelolaan yang berfungsi sebagai sarana pembaharuan dalam arti mengubah sikap mental masyarakat tradisional ke arah modern misalnya pengayuan di Kalimantan larangan penggunaan koteka di Irian Jaya barusan pembuatan sertifikat tanah dan banyak lagi terutama di bidang penanaman modal asing hukum dan dan perdata lainnya yang bukan hukum perdata keluarga yang masih dianggap sensitif sifatnya.19
Pendekatan agama aspek religiusitas sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan kehidupannya melanda umat manusia di berbagai belahan bumi secara umum dan Indonesia secara khusus tentu saja bukan dengan pemaknaan yang umum sebagaimana selama ini kita pahami.
Nilai-nilai agama yang dimaksud tentu saja nilai-nilai agama yang dipahami secara benar Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, oleh karena 15 abad setelah kita ditinggal oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hakikat agama hubungan dengan Allah subhanahu wa ta'ala hubungan dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta hubungan dengan Baitullah mulai bergeser dengan berbagai tafsiran akibatnya kita belajar agama dari keterangan-keterangan sehingga makna hakikat agama menjadi hilang.20
1. Hubungan Hukum Dan Moral
19Lili Rasjidi, Liza Zonia Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Dan Teori Hukum (Bandung: Citra Aditia Bakti, 2016), h.
78.
20 Ahkam Jayadi, Memahami Tujuan Penegak Hukum (Yogyakarta: Genta, 2015), h, 77.
39
Satu antara hukum dan moral Terdapat hubungan erat sekali ada pepatah yang mengatakan good leges sine moribus Apa artinya undang-undang kalau tidak disertai moralitas dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa moralitas hukum akan kosong tanpa moralitas.
Kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral perundang-undangan yang moral harus diganti, di sisi lain, moral jiwa membutuhkan hukum, sebab moral tanpa hukum hanya angan-angan saja, kalau tidak digunakan atau dilembagakan dalam masyarakat dengan demikian hukum hukum bisa mengikatkan dampak sosial dari moralitas. Meskipun tidak semua harus diwujudkan dalam bentuk hukum karena hal itu mustahil hukuman yang membatasi dari dengan mengatur hubungan antar manusia yang relevan.
Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat antara berat namun hukum dan moral tetap berbeda sebab dalam kenyataannya mungkin ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada undang-undang yang immoral, yang berarti terdapat ke tidak cocok kan antara hukum dengan moral Untuk itu dalam konteks ketatanegaraan Indonesia dewasa ini apalagi dalam konteks pengambilan keputusan hukum membutuhkan moral, sebagaimana moral membutuhkan hokum. Apa artinya hukum jika tidak disertai moralitas hukum dapat memiliki kekuatan jika dijiwai oleh moralitas. kualitas hukum terletak pada bobot moral yang menjiwai nya tanpa moralitas, hukum tampak kosong dan hampa, Namun demikian perbedaan hukum dengan moral tetap jelas setidaknya seperti diungkapkan oleh KB dan yang menyatakan bahwa selain itu ada empat perbedaan antara hukum denganmoral
a. Pertama hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dibutuhkan secara sistematis dan kita perundang-undangan Oleh karena itu norma hukum lebih memiliki kepastian dan objektif dibandingkan dengan norma moral dan norma moral bersifat lebih subjektif yang akibatnya lebih banyak diganggu oleh diskusi-diskusi yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis dan tidak etis.
b. Kedua meski hukum dan moral mengatur tingkah laku manusia dalam hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriyah saja sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang.
c. Ketika yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan hati yang berkaitan dengan moral hukum untuk sebagian terbesar dan dipaksakan pelanggar akan terkena hukuman nya norma, etis tidak bisa dipaksakan sebab paksaan hanya menyentuh bagian luar, sedangkan perubahan etis justru berasal dari dalam. satu-satu dan sanksi dibidang moralitas adalah hati nurani yang tidak tenang.
40
d. Keempat hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara meskipun hukum tidak langsung berasal dari negara seperti hukum adat, namun hukum itu harus diakui oleh negara supaya berlaku sebagai hukum moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat.
Dengan cara-cara demokratis atau dengan cara lain masyarakat dapat mengubah hukum tetapi tidak pernah masyarakat dapat mengubah atau membatalkan suatu norma moral moral menilai hukum dan tidak sebaliknya .
Gunawan setiardja setiardja membedakan hukum dan moral pertama dilihat dari dasarnya, hukum memiliki dasar consensus, dan hukum dalam rangka moral berdasarkan hukum alam kedua dilihat dari otonominya hukum bersifat heteronom yaitu datang dari luar diri manusia sedangkan moral bersifat otonom datang dari diri sendiri Ketika dilihat dari pelaksanaan hukum secara lahiriyah dapat dipaksakan sedangkan moral secara lahir dan terutama betina tidak dapat dipaksakan keempat dari sanksi sanksi hukum bersifat yuridis sanksi lahirnya sedangkan sanksi moral bentuk sanksi kodrati batinnya. menyesal melalui terhadap diri sendiri kelima dilihat dari tujuannya makna hukum mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bernegara Terangkan moral mengatur kehidupan manusia sebagai manusia ke-6 dilihat dari waktu dan tempat hukum tergantung pada waktu dan tempat sedangkan orang secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu.21
2. Perkembangan Makna Hukum Dalam Masyarakat
Gagasan mengenai untuk apa hukum itu diadakan kan tidak dapat dilepaskan dari gagasan mengenai apa sebenarnya hukum itu. Untuk mengetahui tujuan hukum tersebut mengelaborasi secara kronologis gagasan mengenai apa sebenarnya hukum itu dalam hal ini respon mengemukakan tidak kurang dari 12 gagasan mengenai Apa yang dimaksud dengan hukum kiranya ke-12 gagasan tentang hukum itu.
Perlu dikemukakan untuk mengetahui gagasan mengenai untuk apa hukum itu diadakan.
Dengan memahami ke-12 gagasan itu dapat dalam perkembangan makna hukum dalam kehidupan masyarakat.
a. Pertama hukum dipandang sebagai aturan atau seperangkat aturan tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan oleh kekuasaan yang bersifatIlahi. sebagai contoh adalah kode hammurabi yang dipercaya sebagai diwahyukan oleh Dewa manu dan hukum Musa yang diwahyukan oleh di Gunung Sinai. di sini hukum dimaknai sebagai wujud campur tangan langsung kekuasaan yang bersifat Ilahi terhadap
21 Elly M. Setiadi, Kama A. Hakam, Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana, 2006), h, 147.
41
kehidupan bermasyarakat. adanya pemaknaan demikian menunjukkan bahwa status naturalis yang menggambarkan keadaan otomatis manusia yang digambarkan baik oleh Thomas Hobbes maupun John Locke tidak pernah ada.
b. Hukum dimaknai sebagai suatu tradisi masa lalu yang terbukti berkenaan bagi para dewa sehingga menuntun manusia untuk mengarungi kehidupan dengan selamat.
bagi masyarakat primitif yang dikelilingi oleh kekuatan yang menyeramkan dan dapat mengemukakan sewaktu-waktu manusia selalu dibayangi ketakutan yang terus-menerus sehingga tidak berani melanggar kekuatan itu secara individual maupun kelompok orang-orang ini berusaha meredakan jangan sampai kekuatan yang dahsyat itu murka. carana adalah menetapkan apa yang boleh dilakukan oleh mereka dan mengacu kepada kebiasaan masa lalu mengenai segala sesuatu yang tidak dapat diperkenalkan Dewa.
c. Hukum dimaknai sebagai catatan kreatif para orang tua yang telah banyak makan garam atau Pedoman tingkah laku manusia yang telah ditetapkan secara Ilahi.
Kearifan dan Pedoman tingkah laku itu lalu dituangkan ke dalam kitab undang-undang primitive. Dalam hal ini pun hubungan bersifat transendental masih terasa sehingga bisa dipikirkan bahwa kearifan para orang tua tersebut merupakan sesuatu yang dapat dari suatu kuasa yang mereka anggap Ilahi.
d. Hukum dipandang sebagai sistem prinsip yang ditentukan secara filosofi dan prinsip-prinsip itu mengungkapkan hakikat hal-hal yang merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia. Dalam gagasan ini pandangan yang bersifat transendental mulai dilepas dan digantikan oleh pandangan yang bersifat metafisis akan tetapi sebenarnya menurut teleskop gagasan keempat ini merupakan penggabungan gagasan kedua dan ketiga yang dilakukan oleh para konsumen Romawi. Karya para konsumen adalah pendapat hukum yang ditujukan kepada para hakim ke kaisaran Romawi Barat pada masa itu, yaitu dari abad ke-2 sampai ke abad ke-4 masehi latihan hukum tersebut dikompilasi dalam buku-buku tes oleh karena itulah dapat Kemukakan bahwa buku-buku teks tersebut merupakan suatu Spirit ajudikasi yang dikembangkan berdasarkan penalaran. Dalam buku-buku teks macam ini dapat ditemukan prinsip-prinsip keadilan dan hak dalam memberikan bentuk untuk dinyatakan dalam pengalaman melalui penalaran.
e. Kelanjutan gagasan ke-4 di tengah para filsuf prinsip-prinsip itu ditelaah secara cermat , interpretasi , dalam kemudian digunakan. oleh karena itulah dalam gagasan
42
kalimat hukum diartikan sebagai seperangkat aturan dan pernyataan kode moral yang abadi dan tidak dapat berubah.
f. Hukum dipandang sebagai seperangkat perjanjian yang dibuat oleh orang-orang dalam suatu masyarakat yang diorganisir secara politis. perlu dikemukakan di sini bawah pandangan ini bukan merujuk pada teori-teori spekulatif yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes pandangan plato yang berjudul minios minat pandangan ini menurut teleskop merupakan suatu pandangan yang bersifat demokratis dalam hal yang dihukum didentifikasi sebagai undang-undang dan dekrit yang diundangkan dalam negara kota yang ada pada zaman Yunani kuno demosthenes menerangkan pandangan demikian pada Juli Athena. Dalam teori semacam itu sangat mungkin gagasan yang bersifat filosofis mendukung gagasan politis dan menjadikan dasar pokok dasar kewajiban moral yang melekat di dalam mengenai alasan mengapa perjanjian yang dibuat di dalam Dewa rakyat harus ditaati hukum dipandang sebagai suatu refleksi pikiran Ilahi yang harus ditaati.
g. Menguasai alam semesta pandangan demikian dikemukakan oleh Thomas aquinas tidak pelak lagi Sejak saat itu pandangan yang sangat berpengaruh bahkan kemudian terjadi berbagai variasi atas pandangan hukum alam ini.
h. Hukum dipandang sebagai serangkaian perintah penguasa dalam suatu masyarakat yang diorganisir secara politis. Berdasarkan perintah itulah manusia bertingkah laku tanpa perlu mempertanyakan Atas dasar apakah perintah itu diberikan. Pandangan demikian dikemukakan oleh Romawi dan masa klasik tidak dapat disangkal bahwa pandangan itu hanya mengakui hukum positif yaitu hukum yang dibuat oleh penguasa sebagai hokum. Sebagian telah dikemukakan pada bab 1 bahwa hukum norma yang menjadi acuan hukum barat sebenarnya bersumber pada hasil kodifikasi Kaisar yustinianus.
i. Hukum dipandang sebagai sistem pedoman yang dikemukakan Berdasarkan pengalaman manusia dan pandangan pedoman tersebut manusia secara individual akan merealisasikan kebebasannya sebanyak mungkin seiring dengan kebebasan yang sama yang dimiliki orang lain. gagasan semacam ini dengan berbagai bentuknya dikemukakan oleh masa Stories. Menurut pandangan ini , Von savigny hukum bukanlah dibuat secara sengaja melainkan temukan melalui pengalaman manusia.
j. Sekali lagi hukum dipandang sebagai sistem prinsip yang ditemukan secara filosofis dan dikembangkan secara rinci melalui tulisan you listrik dan putusan pengadilan sistem prinsip tersebut digunakan untuk mengukur kehidupan lahirnya manusia
43
melalui Nalar atau dalam suatu fase yang lain digunakan untuk menyelaraskan kehendak manusia secara individual dengan kehendak sesamanya.
k. Hukum dipandang sebagai seperangkat satu suatu sistem aturan yang dipaksa pada manusia dalam masyarakat oleh sekelompok kelas yang berkuasa baik sengaja atau tidak untuk meneguhkan kepentingan kelas yang berkuasa tersebut pandangan ini merupakan suatu pandangan dari segi ekonomi pandangan ini dikemudian mengemukakan dalam bentuk positif analitis yang menempatkan hukum sebagai perintah penguasa dasar perintah tersebut pada hakekatnya adalah kepentingan ekonomi dari kelas yang berkuasa.
l. Hukum dipandang sebagai suatu gagasan yang ditimbulkan dari prinsip-prinsip ekonomi dan sosial tentang tingkah laku manusia dalam masyarakat ditemukan berdasarkan observasi ditinjau ditingkatkan dalam petunjuk-petunjuk yang bekerja melalui pengalaman manusia mengenai apa yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan dalam pelaksanaan keadilan pandangan ini merupakan suatu pandangan akhir abad ke-21 ketika mulai dikemukakan pandangan Puri berdasarkan observasi sebagai ganti pandangan yang bersifat metafisis.22
3. Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Layak
Asas umum pemerintahan yang baik asas hukum adalah alam pikiran yang dirumuskan secara luas dan yang mendasari suatu norma hukum menurut bellefroid, Dasar hukum merupakan norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif yang oleh ilmu hukum ia dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum asas hukum umum adalah merupakan penerapan hukum positif dalam suatu masyarakat. Sulit nomor togel Sumo asas hukum adalah mata-mata kaidah yang berkenaan dengan kaidah hukum dalam bentuk kaidah perilaku dalam Arief Sidharta menurut kaidah perilaku penulis buku ini asas-asas hukum adalah nilai-nilai moral yang mendasari atau dasi norma hukum positif atau pikiran-pikiran yang bersifat abstrak dan norma hukum positif.
22Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum Edisi Revisi ( Jakarta: Kencana 2008), h. 109.
44
Setiap penyelenggara pemerintahan oleh aparatur Pemerintah dan memberikan pelayanan pada masyarakat perlu didasari oleh nilai-nilai moral atau asas asas umum pemerintahan yang baik atau layak agar pelaksanaan pemerintahan berjalan efektif dan efisien, asas-asas pemerintahan yang baik dan layak.
a. asas kepastian hukum b. asas keseimbangan
c. asas kesamaan dalam mengambil keputusan d. asas bertindak cermat atau seksama
e. asas motivasi untuk Setiap keputusan f. asas jangan menyalah gunakan kewenangan g. asas permainan yang layak
h. asas keadilan atau larangan bertindak sewenang-wenang i. asas pemenuhan Pengharapan yang ditimbulkan
j. asas meniadakan akibat dari keputusan yang dibatalkan k. asas perlindungan secara hidup pribadi23
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PELAKSANAAN PELAYANAN