• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konspirasi ‘Terselubung’

‘PERMAINAN’ PARA LOCAL STRONGMEN

B. Konspirasi ‘Terselubung’

Kehidupan malam yang terjadi dalam kampung prostitusi Pasar Kembang merupakan sebuah relasi yang terjalin antara warga sekitar kampung prostitusi, preman, konsumen (tamu) dan beberapa oknum aparat keamanan Pemerintah Kota Yogyakarta. Adapun relasi yang terjalin dalam komunitas tersebut berupa relasi kerja dan relasi kuasa. Preman sebagai aktor sentral dalam kampung prostitusi Pasar Kembang memiliki peranan dalam mengatur kehidupan dalam kampung tersebut. Di sini, para preman mengimplementasikan kekuasaannya terhadap para pekerja seks dan mucikari, serta melakukan relasi kerja dengan oknum aparat keamanan pemerintah setempat.

Relasi kerja yang dilakukan preman dengan oknum aparat keamanan pemerintah setempat dapat dilihat dari cara preman bersosialisasi dengan preman-preman lainnya. Tidak semua kumpulan orang yang nongkrong di dalam kampung prostitusi Pasar Kembang murni preman. Sebagian di antaranya adalah oknum aparat yang datang tanpa berseragam resmi dari institusinya dengan maksud dan tujuan tertentu, sebagian lagi merupakan preman dari luar serta konsumen yang sering datang (pelanggan) . Keberadaan para oknum aparat dalam kampung prostitusi Pasar Kembang yang menyatu dengan para preman merupakan habitus (kebiasaan) sehari-hari di waktu malam.

“Nang kéné ora mung préman thok mas, enek polisi karo militer barang, tapi wong-wongané ra nganggo seragam. Njaluk geger po wani teko dhewean nganggo seragam? Dheweké nek mréné ki yo mung dolan, ndelok-ndelok ono sing anyar pora. Nek ra ngono yo melu ngombé bareng préman kéné.”56

(Di sini tidak cuma preman saja mas. Ada juga polisi dan militer, tapi tidak berseragam. Minta ribut apa berani datang ke Sarkem sendirian dengan berseragam? Mereka kalau ke sini kadang cuma main, lihat-lihat ada pekerja seks yang baru atau tidak. Kalau tidak bertanya seperti itu, mereka juga ikut minum bersama dengan preman di sini).

Agenda harian dari acara nongkrong preman dengan oknum aparat lebih sering diisi dengan aktivitas bersenang-senang, membicarakan hal apa saja, merokok dan minum minuman beralkohol57. Khusus untuk aktivitas ngombé, apabila

56 Wawancara dengan IR, preman yang seringkali nongkrong di Pasar Kembang, berlangsung pada tanggal 14 Februari 2010.

57 Aktivitas minum minuman beralkohol biasa disebut dengan istilah ngombé.

dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan hilang akal sadar yang kemudian berujung pada pertikaian (cekcok). Biasanya diawali dari saling pandang yang tidak mengenakkan, mengumpat atau tidak sengaja memukul rekannya terlebih dahulu. Keadaan onar ini seringkali diselesaikan melalui mekanisme kekerasan fisik, yaitu perkelahian. Implikasi yang ditimbulkan dari perkelahian ini adalah memunculkan perasaan tidak enak (kurang nyaman) dalam aktivitas nongkrong di lain waktu. Sehingga, mereka yang terlibat perkelahian merasa sungkan untuk kembali ikut nongkrong di dalam kampung prostitusi Pasar Kembang58.

“Nongkrong nang njero Sarkem ki identik karo ngombé, mas. Nek sampeyan gelem, teko melu ngumpul waé, rasah pekéwuh. Tapi ojo nganti kaget nek kadang-kadang ono sing senengé gawé ribut pas posisi wis mendhem. Ono-ono waé polahé, sing parah ki yo ngejakki gelut. Tau aku karo kancaku bedho kampung dolan bareng nang njero trus melu ngombé bareng préman liyané. Pas kancaku bedho kampung mau posisiné wis teler, e lha kok malah ngejak gelut kancaku sing asli Sarkem. Padahal sakdurungé ra ono masalah opo-opo. Aku malah dadi ra kepénak dhewe to, mas? Ujung-ujungé saiki aku dadi pekéwuh karo kanca-kanca Sarkem nek arep dolan mrono goro-goro kejadian kaé.”

(Nongkrong di dalam Pasar Kembang itu identik dengan minum, mas.

Kalau anda mau, datang langsung kumpul saja, jangan sungkan. Tapi jangan sampai terkejut kalau terkadang ada yang sukanya membuat onar saat keadaannya sudah mabuk. Ada-ada saja tingkahnya, yang parah itu mengajak berkelahi. Saya pernah mengajak teman kumpul beda kampung untuk nongkrong dan minum bersama preman lainnya di dalam Pasar Kembang. Sewaktu teman saya beda kampung tadi dalam keadaan mabuk berat, dia malah mengajak berkelahi teman saya yang tinggal di Pasar Kembang. Padahal sebelumnya tidak terjadi

58 Wawancara dengan AG, preman Badran yang dulu seringkali nongkrong di Pasar Kembang, berlangsung pada tanggal 17 Februari 2010.

masalah di antara mereka. Saya jadi tidak enak hati kan, mas? Ujung-ujungnya sekarang saya sungkan dengan teman-teman Pasar Kembang jika hendak nongkrong, gara-gara kejadian tempo hari).

Aktivitas nongkrong dan ngombé dalam kampung prostitusi Pasar Kembang menjadi media pertemuan antara para preman dengan oknum aparat keamanan pemerintah Kota Yogyakarta. Pertemuan ini memiliki pelbagai maksud dan tujuan dari kedua belah pihak. Di sisi preman, pertemuan dengan oknum aparat menjadi senjata ampuh dalam meminta perlindungan terhadap regulasi pemerintah dan intervensi yang berasal dari pihak luar yang tidak menginginkan keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang. Sedangkan bagi para oknum aparat, seperti mendapat ‘lahan’ baru terkait dengan pemasukan kantong pribadinya. Terjadi transaksi jasa dan materi antar kedua belah pihak dari efek pertemuan rutin yang terjalin oleh keduanya. Para oknum aparat memberikan informasi terkait operasi razia (implementasi regulasi daerah) dan membantu para preman dalam melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang dari gangguan pihak luar (semacam kelompok kepentingan ataupun preman luar). Namun, para oknum tersebut bekerja atas nama individu, tidak atas nama institusi (korps). Sehingga sulit untuk dilacak dari institusi (korps) mana mereka berasal59.

“Para oknum yang ikut ngumpul bareng dengan preman Sarkem itu kebanyakan berasal dari luar, kalo yang berasal dari instansi pemerintah terdekat, seperti Koramil maupun Polsek Gedong Tengen

59 Wawancara dengan TJS, salah seorang petugas Pol PP yang bertugas melakukan monitoring di dalam komunitas prostitusi Pasar Kembang di setiap malam hari, berlangsung pada 11 April 2010.

jarang sekali, dik. Mereka yang datang, ngga’ menggunakan seragam, hanya berpakaian biasa. Mereka datang ke Sarkem bukan atas nama institusi melainkan personal. Jadi uang yang nanti masuk itu ya ke kantong mereka sendiri.”

Situasi yang terjadi selama ini dalam kampung prostitusi Pasar Kembang terkait pertemuan kedua belah pihak – melalui media nongkrong dan ngombé – dapat direpresentasikan sebagai sebuah konspirasi ‘terselubung’ yang berlangsung secara aman, rapi dan tanpa diketahui secara pasti oleh pihak manapun. Mayoritas orang awam yang keluar-masuk kampung prostitusi di Pasar Kembang tidak dapat membedakan mana preman yang sebenarnya, oknum ataupun intel dari kepolisian yang menyamar. Hal ini dikarenakan mereka memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu bertampang garang, berpakaian biasa dan tidak bertingkah yang mencurigakan. Analisis karakteristik ini diketahui berdasarkan hasil observasi langsung dan bincang-bincang ringan dengan penjual makanan dan minuman di luar kampung Pasar Kembang60.

“Wong-wong sing podho ngumpul-ngumpul kaé ki ora mung preman thok. Enek polisi, tentara karo intel sing nyamar, mbuh kuwi dadi tamu opo mung dolan ngumpul bareng preman. Nek ra sethithi, ra mungkin iso mbedhakké sing ndi waé wong-wongané. Soalé model-modelané sangar kabeh.”

(Orang-orang yang sedang berkumpul di sana tidak hanya preman saja.

Ada polisi, militer dan intel yang datang menyamar, entah itu menjadi konsumen atau hanya datang nongkrong dengan para preman. Kalau

60 Wawancara dengan Pak Sri, penjual angkringan di depan Gang Sosrowijayan 3 Pasar Kembang, berlangsung pada 11 Februari 2010.

tidak teliti, tidak mungkin dapat membedakan berasal dari mana saja mereka. Karena mereka berpenampilan garang).

BAB V KESIMPULAN

Keberadaan praktek prostitusi di kampung Sosrowijayan Kulon Gang III atau lebih akrab dengan kampung Pasar Kembang telah memberikan warna tersendiri dalam dinamika kehidupan masyarakat kota Yogyakarta, khususnya warga di kawasan Pasar Kembang dan sekitarnya. Didukung oleh lokasinya yang berada di jantung kota Yogyakarta, praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang menjadi model usaha ekonomi informal ilegal, tetapi memberikan implikasi positif berupa peningkatan pendapatan di sektor pariwisata kota Yogyakarta dan menghidupkan perekonomian di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan sebuah fenomena menarik dilihat dari perspektif politik. Pertama, praktek prostitusi ini berlangsung di tengah-tengah perkampungan warga, dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan, pusat transportasi, pusat perekonomian dan perdagangan serta kraton Ngayogyakarta.

Keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang menjadikan citra kampung ini negatif di mata masyarakat pada umumnya. Labelling kampung prostitusi pada kampung Pasar Kembang pun melekat hingga sekarang ini.

Kedua, meskipun aktivitas yang terjadi di Pasar Kembang berorientasi pada materi (ekonomi), namun di dalamnya sarat dengan muatan politis yang mengindikasikan bahwa dalam kampung prostitusi Pasar Kembang tersebut terjalin

sebuah relasi kuasa, yaitu (1) kuasa mucikari terhadap para pekerja seks; (2) kuasa preman terhadap mucikari dan para pekerja seks.

Keberadaan preman di kampung prostitusi Pasar Kembang serta interaksi yang dijalinnya dengan institusi formal negara ditunjukkan melalui dua konsepsi (teorisasi), yaitu konsep local strongmen dan patronase (patron-klien). Kedua konsepsi ini merupakan kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian di kampung prostitusi Pasar Kembang untuk mengetahui sejauhmana posisi dan peran para preman dalam melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang terhadap entitas di luar mereka. Indikator yang digunakan untuk mengetahui sejauhmana kedua konsepsi ini sesuai dengan realita dalam Pasar Kembang dapat diketahui melalui fenomena-fenomena yang terjadi dari kemunculan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang hingga sekarang ini.

Ketimpangan dalam pendistribusian kekuasaan yang terjadi pada masyarakat kampung Pasar Kembang, penyalahgunaan wewenang dan kemampuan mengoptimalisasi sumber daya yang ada menyebabkan preman menjadi berkuasa di kawasan tersebut. Dengan asumsi sebagai orang kuat lokal (local strongmen), preman memperoleh ‘legitimasi’ dan kepercayaan dari pengelola kampung Pasar Kembang dan pelaku prostitusi (para pekerja seks dan mucikari) untuk menjaga keberlangsungan praktek prostitusi yang ada di dalam kampung tersebut.

Preman sebagai local strongmen memiliki kapasitas membangun jaringan yang luas dan kuat dengan menjalankan konsep patronase. Jaringan yang dimiliki

oleh para local strongmen tidak hanya sebatas dengan preman saja, melainkan dengan institusi formal negara (dalam hal ini aparat keamanan negara, yaitu kepolisian dan militer). Konsep patronase digunakan untuk menunjukkan peranan mereka sebagai patron (pelindung) keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang dan para pekerja seks (klien) terhadap ancaman maupun gangguan dari entitas luar, termasuk kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Peran sebagai patron dalam konsep patronase dijalankan dengan baik oleh para preman pada saat GJ – pimpinan preman – masih aktif turun langsung ke dalam kampung prostitusi Pasar Kembang. Upaya yang dilakukan GJ pada saat itu adalah memberikan perlakuan manusiawi kepada para pekerja seks dan masyarakat di sekitar kampung prostitusi Pasar Kembang. Karena pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan status sosial masyarakat kelas ekonomi bawah dan men-setting mainset para pekerja seks bahwa aktivitas yang mereka lakukan tidak salah, dengan catatan demi pemenuhan kebutuhan hidup. Hal inilah yang menjadikan GJ memiliki image sebagai preman intelek yang baik karena posisinya yang kuat dalam masyarakat dengan memiliki dua modal, yaitu modal simbolik ( sebagai preman untuk mengejar martabat dan kehormatan sosial) dan modal kultural (pengetahuan dan pendidikan).

Adapun strategi resistensi yang diterapkan oleh GJ sebagai local strongmen pada saat aktif turun langsung berupa menjalin komunikasi eksternal dengan pihak-pihak terkait (polisi, militer, legislatif, agama dan budaya) dan internal (agama dan

ekonomi). Komunikasi eksternal dilakukan untuk membentuk karakter GJ dan membangun jaringan yang luas dan kuat. Sedangkan komunikasi internal ditujukan untuk memberikan pembinaan, pembimbingan dan mengayomi masyarakat kelas ekonomi bawah dan juga para pekerja seks.

Keadaan berubah tatkala GJ memutuskan untuk tidak turun lagi secara langsung ke dalam kampung prostitusi Pasar Kembang (hanya berperan monitoring).

Perubahan yang dimaksudkan di antaranya adalah bentuk perlakuan terhadap para pekerja seks yang terkesan tidak menghargai mereka sebagai seorang wanita, pemungutan iuran secara paksa kepada para pekerja seks, ketidakmampuan dalam menyelesaikan suatu konflik yang terjadi dalam kampung prostitusi Pasar Kembang dan segala tindakan yang berujung pada terpenuhinya kebutuhan para preman tapi menyusahkan hidup para pekerja seks.

Akhir dari penelitian ini menyimpulkan bahwa peran preman sebagai local strongmen dalam membangun patronase di kampung prostitusi Pasar Kembang dimanifestasikan dalam bentuk kapasitas membangun jaringan antar preman dan oknum aparat keamanan negara (polisi dan militer) untuk melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang. Meskipun pola patronase sedikit

‘ternoda’ oleh perubahan perilaku para preman terhadap para pekerja seks, fenomena ini tidak berimplikasi signifikan terhadap keberlangsungan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.

Dokumen terkait