BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2) Konstruk Hubungan dalam Komunikasi: Proses
Konstruktivisme meyakini bahwa segala sesuatu ada karena konstruksi tertentu. Tidak ada pesan yang netral dalam bentuk komunikasi berbasis diri sekali pun. “... suatu pesan tidaklah netral melainkan dikonstruksi oleh sistem kognitif tertentu” (Ardianto, Anees: 2007: 163). Komunikasi antarpersona merupakan wujud konstruk hubungan dalam komunikasi yang dilalui terlebih dahulu dengan komunikasi berbasis diri, di mana menurut kalangan konstruktivis,
“suatu hubungan yang bersifat individual akan menghasilkan pesan yang lebih berbasis diri”.
Pesan berbasis diri lebih kompleks dalam tindakannya karena di dalamnya setiap individu dalam wujud person dan self menjadi berbeda karena konstruksi diri dan lingkungan yang dia gambarkan sebagai diri. Secara khusus, individu dengan konstruk sistem yang berbeda, membuat definsi kompleks tentang situasi antarpersona dan akan meproduksi pesan yang lebih bersifat kompleks serta lebih berpusat pada diri. Person dan self memberikan posisi pandangan dan membentuk perilaku berbeda setiap individu melalui sistem interaksi sosial yang dijalankan
bersama. Kemampuan menjadi person dan self dalam sistem sosial menunjukkan individu yang berhasil pada penempatan opini publik
3) Model Desain Pesan: Ekspresif, Konvensional Dan Retoris
Setiap pelaku komunikasi memiliki strategi untuk mencapai tujuan komunikasi mereka. Model penyusunan pesan menurut Litllejohn dan Foss (2011:
184-189) dapat dilihat dari tiga teori, yakni: (1) teori perencanaan oleh Charles Berger, (2) teori logika penyusunan pesan oleh Barbara O‟Keefe, dan (3) teori pengertian secara semantik oleh Charles Osgood.
Perencanaan pesan sebagai model desain atau penyusunan pesan yang menekankan pada gambaran mental dari langkah-langkah yang diambil seseorang untuk memenuhi sebuah tujuan komunikasi. Berger memperkirakan bahwa semakin banyak yang Anda tahu (khusus dan umum), akan semakin kompleks rencana anda. Perencanaan diartikan sebagai: penyusunan (cerita, uraian dsb);
perancang (orang dsb yang merencanakan) (Poerwadarminta, 2015: 816).
Desain pesan didasarkan pada tujuan seseorang sebagai kecenderungan diri dalam memanajemen tujuannya untuk kepentingan sampainya tujuan melalui pesan yang dipilihnya. Barbara O‟Keefe (Ardianto dan Anees: 2007: 164) menunjukkan tiga logika dasar pesan, yaitu ekspresif, konvensional dan retoris.
Logika ekspresif memperlakukan komunikasi sebagai suatu model ekspersi diri, sifat pesannya terbuka dan reaktif secara alami, sedikit meperhatikan keinginan orang lain. Logika ekspresif misalnya bisa ditemukan pada saat kita sedang marah. Logika konvensional, sebagai pandangan yang mengartikan komunikasi sebagai permainan yang dilakukan secara teratur. Komunikasi
dilakukan sebagai proses ekspresi berdasarkan aturan dan norma yang diterima bersama, maka komunikasi berlangsung sopan dan tertib. Logika retoris memandang komunikasi sebagai suatu cara melakukan perubahan aturan melalui negosiasi. Pesan dirancang cenderung fleksibel, penuh wawasan, dan berpusat pada orang. Berikut akan digambarkan pada tabel tentang logika desain pesan:
Tabel 2.1
Fungsi utama pesan Ekspresi diri (self expression) Sumber: Adaptasi dari O‟Keefe dikutip kembali dalam Ardianto dan Anees ( 2007: 100) 2.1.2. Definisi Berita
Arti berita dapat kita lihat dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ahli komunikasi, adalah sebagai berikut:
Bleyer mengartikan berita “sebagai kejadian aktual yang diperoleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar karena menarik dan mempunyai makna bagi pembaca”; MacDougall, menyatakan, “berita
merupakan apa saja yang menarik hati orang dan berita yang terbaik adalah yang menarik hati orang sebanyak-banyaknya”; Oetama, menyebutkan berita sebagai: “... peristiwa menjadi berita hanya apabila ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan atau membuatnya masuk dalam kesadaran publik dan dengan demikian menjadi pengetahuan publik” (Barus, 2010: 26).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa berita adalah segala laporan mengenai peristiwa, kejadian, gagasan, fakta yang menarik perhatian dan penting untuk disampaikan atau dimuat dalam media massa agar diketahui atau menjadi kesadaran umum. Artinya, berita mengandung unsur-unsur, peristiwa, menarik perhatian, penting, dilaporkan, dan laporan itu dimuat di media tertentu.
1) Surat Kabar
Surat kabar atau koran merupakan media massa paling tua sebelum adanya film, radio, dan televisi. Media ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf atau mampu baca tulis. Demikian pula pelanggannya, rata-rata berasal dari golongan menengah ke atas yang berpendidikan tinggi, selain itu juga berasal dari pekerja kantoran dan mapan.
“Kelebihan surat kabar adalah sebagai: 1) catatan tertulis yang mampu merekam peristiwa atau kejadian di masa lampau meskipun peristiwa itu sudah terjadi beberapa puluh tahun lalu, 2) bisa dikliping atau diarsipkan, 3) diterbitkan pada periode terbit pagi atau sore, dan 4) sifat penerbitannya secara nasional, lokal” (Cangara, 2010: 127).
Rendahnya rasio masyarakat Indonesia membaca surat kabar menjadi salah satu masalah perkembangan surat kabar saat ini, “setiap eksemplar surat kabar hanya dibaca oleh 38 penduduk Indonesia” (Tamburaka, 2013: 46). Rasio tingkat pembaca surat kabar harian di Indonesia jauh dari standar yang ditetapkan
UNESCO yang sebesar 1:10, artinya, setiap eksemplar surat kabar seharusnya dibaca oleh 10 orang penduduk Indonesia.
Menurut Tamburaka (2013: 47), kelemahan surat kabar pada perkembangan saat ini dapat dilihat dari:
“1) banyaknya sumber informasi selain surat kabar, 2) radio dan televisi dengan berita yang lebih atraktif dan menarik menyebabkan banyak orang mendengar radio dan menonton televisi, 3) surat kabar tidak mampu memperbaharui beritanya saat itu juga dan liputan secara live dibandingkan dengan radio dan televisi, dan 4) aktivitas khalayak di luar rumah memberikan keterbatasan membaca surat kabar”.
Sehingga saat ini sebenarnya surat kabar harus pandai dalam melihat kebutuhan pembaca. Surat kabar tidak mungkin bersaing dari segi aktualitas berita dan berita langsung (straight news), seperti yang disiarkan oleh radio, televisi, dan internet. Berita mendalam dengan teknik feature akan lebih disukai karena akan membedakan berita surat kabar tersebut dengan berita di media lain. Kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh pengguna internet yang sudah terbiasa mendapatkan informasi gratis dan bebas dari berbagai media online tanpa harus berlangganan atau membayar, yaitu profesionalisme jurnalisme, penekanan terhadap akurasi dan objektivitas pemberitaan. Berbeda dengan website, blog, dan forum yang kurang berpedoman pada kaidah jurnalistik meskipun dengan keberadaan jurnalisme warga (citizen journalism).
Pembaca surat kabar tentunya menginginkan objektivitas surat kabar melalui pemberitaan dalam pemenuhan fungsi-fungsi informasi dari surat kabar begitu penting untuk memperluas wawasan pembaca atas informasi aktual (terkini) atau faktual (sesuai fakta) yang terjadi sebagai jalan cerita yang ditulis
dalam surat kabar. Sering kali untuk mengejar deadline atau tampilan berita yang menarik dan unit yang bernilai berita atau karena tuntutan sirkulasi oplah, etika jurnalistik terabaikan. Profesionalisme yang dipegang teguh terabaikan karena subjektivitas dan pelanggaran etika jurnalistik.
Pengabaian nilai profesionalisme pekerja media yang tetap teguh memegang etika jurnalistik, menjadi fenomena yang dalam dunia media cetak khusus pada surat kabar disebut dengan surat kabar kuning (yellow paper), penyebutan istilah terhadap pembiaran bahkan pelanggaran terhadap norma dan kaidah jurnalistik dengan hanya menekankan pada emosionalisme dan sensasional berlebihan.
Menurut Campbell (2001: 131-132), surat kabar kuning menggambarkan:
“... surat kabar yang setiap harinya banyak menampilkan kolom-kolom di halam depan dengan banyak sekali judul seperti olahraga dan skandal yang menggunakan layout huruf bold (dengan ilustrasi yang besar dan juga warna) yang sangat berat dan sumber-sumber yang tidak jelas, mempromosikan diri sendiri (surat kabar). Istilah itu digunakan untuk menggambarkan sebagian besar surat kabar di New York pada sekitar tahun 1900-an dalam pertarungan sirkulasi”.
Sisi emosionalisme dan sensasi sering kali ditampilkan sebagai ciri khas tertentu dari aspek-aspek berita surat kabar kuning. Tujuannya adalah memenangkan pertarungan sirkulasi media dengan oplah penjualan yang diterima institusi surat kabar sebagai jurnalisme kuning. Sisi emosionalisme dan sensasi dalam tulisan Yusuf Awaluddin (2010), dari Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP), menganalisis sisi emosionalisme dari aspek jurnalisme koran kuning tampak terlihat dari headline, lead dan body berita.
Headline, ketika membaca koran kuning, kesan pertama yang muncul adalah luapan emosi judul beritanya. Emosionalisme yang ditampilkan dalam judul headline koran ini umumnya terlihat dengan teknik penulisan dengan tanda baca tertentu yang semestinya tidak digunakan, diperlihatkan dari pilihan kata, frasa, dan kalimat yang bernada emosional dalam bentuk hujatan, imbauan, ajakan, simpati, keterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan.
Lead, pemberitaan di koran kuning seperti dalam lead pemberitaan Lampu Merah sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi luapan emosi, seperti hujatan, simpati, keterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, bahkan situasi yang melatarbelakangi peristiwa, yang menggambarkan karakteristik pelaku maupun korban kejahatan.
Body berita, bentuk emosionalisme tampak dari paparan atau narasi yang meluapkan ungkapan emosi wartawan. Paparan yang mengungkapkan penonjolan terhadap peristiwa, situasi, ataupun karakterisasi pelaku bahkan korban kejahatan.
Pemberitaan surat kabar kuning mengabaikan kaidah jurnalistik yang ada. Penulisan berita yang tidak mematuhi penggunaan kaidah kelengkapan berita 5W+1H sebagai syarat berita, kemudian menggunakan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sehingga sering kali ditemukan bahasa slang atau bahasa pasaran yang tidak dimengerti masyarakat awam (Tamburaka, 2013: 156).
Artinya, pelanggaran kaidah jurnalistik profesional yang dilakukan oleh surat kabar kuning merupakan pelanggaran terhadap etika profesi dan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Penggunaan foto-foto pelaku kriminal atau kekerasan seksual dipajang secara
vulgar yang menunjukkan pelanggaran terhadap teori penjaga gawang (gatekeeper) dalam penyaringan informasi dan filter informasi yang dilakukan media sebelum diinformasikan kepada masyarakat luas. Akurasi pemberitaan menempatkan korban sebagai pihak eksploitasi. Pengabaian terhadap penciptaan opini sehat dan bermartabat sebagai tujuan utama informasi media massa termasuk surat kabar.
2) Konstruksi Berita Surat Kabar: Kapitalisme dan Konglomerasi Media Berita itu harus menarik perhatian khalayak penonton, pendengar, dan pembaca (Tebba, 2005: 61). Ketertarikan yang mempertimbangkan khalayak sebagai pembaca di dalam surat kabar disuguhkan karena materi berita yang diterbitkan perlu diketahui oleh khalayak, dan harus disajikan dengan gaya penulisan yang memikat pembaca.
Kata „menarik perhatian khalayak‟ pembaca pada Koran kuning bila mengacu pada tulisan Chomsky merupakan keadaan yang mengkawatirkan karena menghilangkan kesadaran jurnalis dan mematikan kejujuran mereka karena tujuan komersialisasi media. Berikut ungkapannya:
“... media ini adalah organisasi komersial yang memaksimalkan keuntungan (profit maximizing commercial organizational), upaya untuk mengejar keuntungan mungkin mengintervensi jurnalisme jujur dan obyektif yang berakibat mereka menjadi tidak sadar akan fakta-fakta penting yang justru dibutuhkan untuk membuat pilihan-pilihan yang tepat tentang persoanal kebijakan-kebijakan sosial” (Ibrahim &
Akhmad, 2014: 80).
Berita hendaknya mampu memenuhi unsur materi berita yang terus menerus diperbaharui dan dituliskan dengan gaya penulisan yang memikat. Ini berarti bahwa pemenuhan unsur peristiwa dan jalan cerita dengan gaya penulisan
harus sejalan, penonjolan dari salah satunya akan mengakibatkan berkurangnya nilai berita. Layak berita (newsworthy) ditentukan oleh media yang dimiliki oleh korporasi-korporasi besar, maka tidak heran kalau citra publik tentang realitas, sekurang-kurangnya sebagian, didefinisikan oleh pihak yang kaya dan kuat.
“Tujuan media menyediakan publik dengan informasi yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi secara cerdas dalam proses politik. Ini berlangsung melalui seleksi topik, mana yang diliput dan mana yang diabaikan, pembingkaian isu, penyaringan informasi, tekanan relatif ditempatkan pada isu-isu dan nada di mana ia disajikan ... “ (Ibrahim
& Akhmad, 2014: 82).
Tujuan media pada penyediaan informasi publik melalui berita berlangsung tidak netral, terjadi keberpihakan media, melalui pembingkaian isu, penyaringan informasi, tekanan berita sebagai sajian informasi yang relatif ditempatkan pada isu-isu publik yang tidak bertentangan dengan ideologi media dan konglomerasi media. Sederhananya, berita melalui kerja jurnalis media sudah tidak mampu lagi bertindak sebagai anjing pengawas (a watchdog) terhadap kekuasaan, karena media berada dan malah berpihak kepada kekuasaan yang dominan, hingga sulit rasanya media mampu memisahkan antara kebenaran dari dusta melalui konstruksi berita yang dilakukan. Bahkan pada akhirnya menurut McChesney:
“... media yang dimiliki korporat mengancam kewajiban-kewajiban vital jurnalis yang justru diperlukan bagi demokrasi yang sehat, termasuk tugas jurnalis untuk menyajikan pandangan berbeda berdasarkan pada informasi empirik” (Ibrahim & Akhmad, 2014: 80).
Apa yang menjadi pemikiran Chomsky dan McChesney sudah terjadi dalam alam pemberitaan saat ini. Jurnalisme jujur dan obyektif berubah menjadi jurnalisme berpihak pada kepentingan penguasa yang pada akhirnya akan menjadi
berita yang disajikan beragam dan mematikan informasi empirik jurnalis pada kewajiban-kewajiban vital jurnalis.
Pada pemahaman lain, seperti yang disebutkan oleh Djuraid (2006: 11), berita itu adalah laporan atau pemberitahuan mengenai terjadinya sebuah peristiwa atau keadaan yang bersifat umum dan baru saja terjadi yang disampaikan wartawan di media massa. Artinya, faktor peristiwa atau keadaan menjadi pemicu utama terjadinya sebuah berita. Di mana peristiwa atau kondisi sesungguhnya terjadi, bukan rekaan atau fiksi penulisnya.
Keadaan inilah yang menggambarkan bahwa konstruksi pesan di media massa termasuk dalam berita yang dibuat tidak sepenuhnya merupakan kebohongan, ada ide yang muncul karena inspirasi suatu keadaan hingga kembali dituliskan oleh jurnalis atau kolumnis. Penulisan kembali laporan kejadian atau jalan cerita yang diciptakan ini tidak bisa dilepaskan dari keikutsertaan emosional dan pengalaman penulis hingga menjadi jalan cerita yang utuh. Ketidakmampuan memisahkan pendapat pribadi secara tegas, akan menjadikan berita bias dengan berbagai kepentingan yang seharusnya tidak masuk di dalam berita.
Dalam hal aktualisasi berita, terutama dalam berita live, media cetak terutama surat kabar tidak mungkin dapat menandingi Tv atau media elektronik yang ada sekarang ini.
Memenangkan persaingan merupakan strategi bertahan hidup yang harus dimiliki oleh media massa, termasuk surat kabar. Surat kabar tidak mungkin dapat menandingi kecepatan secara langsung (live) yang dihadirkan oleh televisi (Tv). “Tv tidak hanya menyajikan hiburan tapi juga berita yang cepat. Keunggulan Tv dan media elektronik lain adalah kemampuan menyampaikan berita secara langsung (live). Berbagai peristiwa, bahkan sampai ke penjuru dunia
dapat ditampilkan secara langsung saat itu juga” (Djuraid, 2006: 16-17).
Media cetak tentu tidak ingin tergeser dengan kemampuan penyajian berita secara langsung oleh media elektronik, masalah dokumentatif, yang bisa dibaca berulang-ulang dan bisa disimpan merupakan salah satu keuggulan yang dimiliki media cetak. Artinya, secara personal, setiap pembaca media cetak dapat mendokumentasikan dan membaca berulang-ulang berita atau konten lain yang ingin ia ketahui lebih mendalam dari sekeder berita Tv atau media elektronik lainnya yang diinformasikan kepada mereka.
Menurut Djuraid (2006: 17), kekurangan surat kabar sebagai salah satu media cetak bisa ditutupi dengan “penampilan berita berita yang lebih menarik dan mendalam”. Agak sulit bagi Tv untuk mengorek segala sesuatu di balik berita, karena keterbatasan waktu dan mahalnya biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk kedalaman berita yang harus disuguhkan kepada publik. Pilihannya adalah kecepatan berita walau tidak terlalu dalam, dan akan terus diperbaharui.
Tampilan berita yang menarik tidak cukup dengan bekal materi berita menarik semata. Dibutuhkan keterampilan khusus dari seorang wartawan untuk
“mampu menampilkan realitas di lapangan ke dalam tulisan secara utuh” (Djuraid, 2006: 40-41). Kesulitan untuk menuliskan kembali materi berita yang menarik secara dalam dan mampu menggambarkan suasana yang sesungguhnya merupakan sebuah proses jurnalistik yang harus dialami seorang pewarta.
Rangkaian kalimat yang menggambarkan peristiwa yang sesungguhnya akan membawa imajinasi pembaca seolah-olah mereka berada atau terlibat dalam kejadian tersebut. Ini membutuhkan kemampuan untuk menuangkan pikiran atau
data yang sudah tersimpan dalam sebuah tulisan. Memang ini tidak bisa dilakukan seketika. Artinya, seorang wartawan pemula tidak bisa langsung membuat liputan dengan kalimat yang menarik. Butuh latihan untuk mengasah keterampilan yang tidak mematikan nilai kejujuran dan obyektifitas jurnalis dalam kewajiban-kewajiban vital yang seharunya bertindak sebagai anjing pengawas (a watchdog) terhadap kekuasaan, mampu memisahkan kebenaran dari dusta, dan tidak menyajikan berita secara seragam dengan mengedepankan informasi empirik.
3) Sifat Berita Surat Kabar
Berdasarkan sifat kejadian, berita di surat kabar dapat dibedakan menurut Djuraid (2006: 54), menjadi:
(1) Berita terjadwal, yakni berita-berita yang sudah dijadwalkan pada waktu tertentu. Misalnya berita pertandingan sepakbola Liga Indonesia yang sudah terjadwal mulai dari waktu pertandingan, hingga kota-kota penyelenggara, maka peliputannya sudah direncanakan terlebih dahulu, untuk menentukan siapa dan bagaimana peliputan dilakukan sesuai dengan kepentingan media.
Perencanaan berita akan menentukan kualitas berita. Termasuk berita yang terjadwal itu dilakukan pada hari-hari besar nasional seperti berita 17 Agustus 2015 sebagai hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70.
(2) Berita insidentil, yakni berita yang terjadi tiba-tiba dan tidak terduga sama sekali. Berita kriminal, bencana alam, dan kecelakaan lalu lintas tidak bisa diprediksi sebelumnya. Wartawan kriminal harus siap sedia melakukan peliputan kapan pun terjadi perampokan atau pembunuhan. Bencana alam dan kecelakaan lalu lintas merupakan bagian dari berita insidentil yang harus
dilaporkan oleh wartawan di dalam media mereka, hingga memenuhi kebutuhan informasi pembaca. Koordinasi juga dibutuhkan di lingkungan redaksi untuk mengambil keputusan cepat dalam kondisi darurat. Seorang redaktur, koordinator liputan, dan redaktur pelaksana harus siap dengan cepat dalam keadaan darurat terhadap pelaporan berita-berita yang bersifat insidentil.
4) Berita Kriminal Surat Kabar
Kriminalitas dinilai sebagai peristiwa, menarik perhatian, penting, dilaporkan, dan laporan itu dimuat di media tertentu. Peristiwa kriminal (event of crime) mengandung daya tarik karena mengandung ancaman (Barus, 2014: 44).
Peristiwa perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, pembajakan, terorisme, atau narkoba menarik perhatian, dan menjadi berita karena dimuat diberita tertentu, termasuk di Harian Posmetro Medan. Berita kriminal adalah mengenai segala peristiwa kejadian dan perbuatan yang melanggar hukum seperti pembunuhan, perampokan, pencurian, penodongan, pemerkosaan, penipuan, korupsi, penyelewangan, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan yang ada dalam masyarakat.
Berita kriminal di surat kabar merupakan jalan cerita tentang perbuatan yang melanggar hukum pidana, baik dilakukan secara perseorangan dan kelompok. Pidana berarti “hukum kejahatan, kriminal, mengenai perbuatan-perbuatan kejahatan dan pelanggaran terhadap penguasa (Poerwadarminta, 2014, 750).
Chazawi (2014: 24) menjelaskan bahwa pidana: “sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau diberikan negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana”. Sanksi pidana yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang terdiri dari: 1) pidana pokok: pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda, dan pidana tutupan; dan 2) pidana tambahan berupa: pidana pencabutan hak-hak tertentu, pidana perampasan barang-barang tertentu, dan pidana pengumuman keputusan hakim.
Perbedaan perwajahan surat kabar yang dilakukan Posmetro Medan, dapat dilihat sebagai ciri khusus yang dikembangkan menjadi ciri surat kabar kriminal di Sumatera Utara, khsusnya untuk masyarakat pembaca di Kota Medan.
Penempatan kolom Lae Togar di halaman satu, dengan lead atau satu alinea berita buatan (cerita fiksional sebagai Lae Togar) dengan segala kehidupan kesehariannya, menjadi cerita yang menghibur pembaca kelas bawah.
Penulisan lead menurut Djuraid (2006: 95), memenuhi syarat-syarat berikut: 1) berisi kalimat langsung yang mudah dimengerti pembaca, 2) mencakup unsur 5W+1H, 3) ditempatkan dialinea pertama, 4) maksimal tiga kalimat yang tidak bertele-tele, dan 5) merupakan bagian yang terpenting dari berita. Artinya, secara umum lead di dalam surat kabar sebagai gambaran tentang isi berita secara keseluruhan. Lead yang dibaca seseorang mampu memberikan informasi yang lengkap dalam sebuah berita.
Lae Togar sebagai berita buatan bagi masyarakat kalangan bawah di Sumatera Utara dan Kota Medan khususnya, menjadi cerita yang menghibur
dengan judul yang vulgar, lead yang tidak menceritakan seluruh isi secara lengkap.
2.1.3. Analisis Bingkai (Framing Analysis)
Analisis framing merupakan versi terbaru dari analisis pendekatan wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan framing pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995 (Sobur, 2001: 162), dimakna sebagai:
“struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini dikembangkan oleh Goffman pada 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.
Konsep framing dalam perkembangan ilmu komunikasi belakangan ini secara luas digunakan untuk menggambarkan proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Konsep tentang framing atau frame bukan murni konsep ilmu komunikasi, akan tetapi dipinjam dari ilmu kognitif (psikologis). Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang bagi implementasi konsep-konsep sosiologis, politik dan kultural untuk menganalisis fenomena komunikasi, sehingga fenomena dapat diapresiasi dan dianalisis berdasarkan konteks sosiologis, politis, atau kultural yang melingkupinya.
Perspektif komunikasi menempatkan analisis framing untuk “membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta” (Sobur, 2001: 162).
Analisis framing mencermati strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat,
untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Artinya, framing adalah cara mendekati atau membangun pengetahuan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang itu digunakan wartawan dalam menyeleksi isu dan menulis berita.
Analisis framing merupakan suatu analisis yang dipakai untuk mengungkapkan bagaimana seorang wartawan dari semua media tertentu membingkai atau mengkontruksi suatu realitas atas kasus tertentu. Analisis
Analisis framing merupakan suatu analisis yang dipakai untuk mengungkapkan bagaimana seorang wartawan dari semua media tertentu membingkai atau mengkontruksi suatu realitas atas kasus tertentu. Analisis