BAB VI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA BAGI KEBIJAKAN
E. Konsumerisme
menjadi budak mesin-mesin industri.13
Ada beberapa strategi yang diterapkan oleh para sarjana barat untuk melemahkan umat Islam sehingga mereka terjebak dalam perangkap mereka:14
1. Mereka memanfaatkan pertentangan yang ada dalam tubuh umat Islam dan mempertajam pertentangan itu serta tidak memberikan kesempatan bagi umat islam untuk bersatu.
2. Mengkritik dan menjelekkan hukum-hukum Islam serta menyebutkan bahwa hukum-hukum Islam itu penghambat kemajuan.
3. Mempertentangkan posisi wanita dalam Islam, menuduh islam menindas kaum wanita, dan menuduh jilbab sebagai lambang penindasan
4. Merusak moral generasi muda Islam dengan cara mempertontonkan kebebasan moral yang mereka anut yang mereka sebut sebagai lambang kemajuan.
5. Menumbuhkan semangat sekuralisme yang mempertentangkan kaum intelektual muslin dengan agamanya.
masyarakat menengah ke atas saja, akan tetapi telah sampai pada masyarakat yang paling bawah dalam tingkatan sosial dan ekonominya.
Pola hidup konsumtif ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahwa barang yang mereka beli adalah barang-barang yang menurut pandangan mereka adalah barang-barang yang “mewah” misalnya kulkas, televisi, radio, tape-corder, kompor gas, bahan, alat-alat masak dan makanan-makanan (supermi dan sejenisnya, snack dan sebagainya).
Pembelian–pembelian tersebut begitu meriahnya, tanpa disadari pentingnya setelah mereka membeli.
Melihat dengan jernih pemahaman di atas, kiranya perlu dilihat dengan jelas bahwa manusia dipastikan butuh untuk mengkonsumsi.
Namun di dalam dirinya ada kecenderungan untuk menjadi konsumtif.
Konsumerisme, sebagai sebuah gerakan untuk perlindungan adalah usaha yang wajar. Namun, usaha perlindungan semacam ini tidak berarti mencegah seseorang dari sifat konsumtif. Setiap orang yang melakukan kegiatan konsumsi memiliki potensi menjadi konsumtif. Salah satu pemicu utamanya adalah iklan. Bayangkan, kalau ada orang yang berkulit hitam, biasa di’ejek’ sebagai orang yang hitam. Hitam dikonotasikan sebagai warna yang jelek, kotor, dan tidak bersih. Lalu muncul, dengan sosok tertentu, yang menunjukkan ada obat pemutih kulit. Bukan salah iklan yang merayu, tapi memang ada yang menanti untuk dirayu, bukan?
Banyaknya iklan di hampir semua media massa dengan frekuensi tinggi ditujukan untuk mengintervensi proses dan cara berfikir konsumen untuk pengambilan keputusan atas apa yang harus dia beli.
Di dalamnya, terdapat kekerasan simbolik dalam iklan yang terwujud dalam pandangan ideal akan sesuatu. Bagaimana bentuk tubuh yang seharusnya, warna kulit yang menarik, gaya hidup yang elegan, rumah idaman semua orang, mobil yang bergaya, tempat belanja bergengsi, dll.
Seorang remaja miskin akan berusaha membeli HP seri terbaru, karena itulah parameter ‘gaul’ menurut iklan yang pernah dilihatnya. Meskipun untuk itu dia rela berpuasa selama berbulan-bulan.
Adorno mengemukakan empat aksioma penting yang menandai
“masyarakat komoditas” atau ”masyarakat konsumer”. Aksioma adalah semacam keadaan awal yang tidak perlu didiskusikan lagi kebenarannya.
Masyarakat ini terjadi setelah era di mana masyarakat mengkonsumsi apa yang mereka perlukan sehari-hari. Empat aksioma tersebut adalah;
Pertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang yang ditujukan untuk mendapatkan profit dan keuntungan, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup manusia. Hal ini mungkin masih bisa kita lihat di desa-desa, ketika mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dari apa yang tersedia di alam. Masyarakat Badui di Jawa Barat biasa memproduksi padi kemudian dikonsumsi bersama lalu sisa disimpan. Sampai sekarang, ada padi yang masih tersimpan yang usianya sudah lebih dari seratus tahun.
Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan pasar bebas yang memungkinkan terjadinya monopoli modal dengan barang-barang yang distandarisasi. Pada tingkat ini, modal dan keuntungan terkonsentrasi pada pihak-pihak yang bisa mengaksesnya saja. Dengan sistem paten dan standarisasi barang, masyarakat digiring untuk mengkonsumsi barang-barang yang disediakan dengan berbagai macam fasilitasnya. Hal yang sangat sulit terjadi dalam sistem perekonomian di pedesaan yang senantiasa mengangkat kebersamaan.
Ketiga adalah meningkatnya tuntutan yang terus menerus, sebagai kecenderungan dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara kondisi-kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka sebarkan sendiri. Jadi, mereka membuat ancaman, tapi pada saat yang sama menginginkan masyarakat sendiri yang mengatasinya. Seperti sebuah game yang diserahkan pada konsumen agar diselesaikan dan dimenangkan.
Keempat munculnya semacam antagonisme di dalam masyarakat karena adanya kekuatan-kekuatan produksi sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada. Antagonisme ini bukan hanya ada pada “wilayah ekonomi” tetapi juga ke “wilayah budaya”. Ada musuh bersama yang dihindari, bukan karena seseuatu itu jahat dari dalam dirinya, tapi karena dibuat seolah-olah menjijikkan dan tidak baik untuk dikonsumsi. Dengan demikian, orang yang mengkonsumsinya juga dianggap berbeda kelas, dianggap musuh yang bersifat antagonis.
Misalnya, rasa ketertinggalan jika tidak mengkonsumsi barang-barang yang terbaru dan bermerk. Ketertinggalan adalah musuh bersama yang harus diatasi oleh masyarakat sendiri.Dengan kata lain, motif utama yang mendasari era ini bukan lagi masalah ekonomi sebagaimana terjadi
pada abad modern, tetapi sebuah motif budaya.
Budaya masyarakat konsumsi adalah sebuah budaya untuk menampilkan identitas tertentu atau justru sebaliknya, melepaskan diri dari belenggu kemapanan sebuah identitas. Lokalitas ditarik ke budaya global, globalitas dijadikan budaya lokal. Dengan demikian, sesungguhnya kaburlah batas-batas budaya itu. Beberapa waktu lalu, kita mendengar atau mungkin juga mengalami demam goyang gangnam style yang dipopulerkan oleh Psy. Sebuah goyangan penunggang kuda yang lucu tersebut diunggah ke youtube dan dilihat miliaran penonton.
Awalnya, menurut pengakuan sang artis, goyangan a la Gangnam tersebut lebih sebagai parodi gaya hidup orang-orang di daerah Gangnam. Tanpa goyangan itu, warga dunia tidak akan tahu nama daerah Gangnam.
Namun, dengan goyangan yang lucu dan digemari banyak orang itu, Gangnam seakan milik dunia dengan gaya hidup yang semacam itu.
lokalitas mendunia. Dunia digiring untuk melokalisir budayanya.
Kondisi lain yang melanda umat Islam adalah ketidakmampuan sebagian umat memahami dan mengartikan modernisasi sebagai sebuah keadaan budaya yang harus dialami. Namun di sisi lain dengan masuki keadaan demikian bukan berarti umat Islam harus meninggalkan identitas keislamannya. Sesuatu yang patut menjadi renungan bahwa bencana ini melanda umat Islam.
Banyak di kalangan umat Islam merasa dirinya belum bisa modern kalau belum mencontohkan segala apa yang berasal dari Barat. Hal ini meliputi cara berpakaian, pergaulan dan lain sebagainya. Inilah yang salah pemahaman dimana modernisasi diartikan dengan westernisasi.
Seharusnya umat Islam telah waspada dan memahami dengan baik keadaan seperti ini, karena bukankah dalam al-Qur’an Allah SWT telah mengingatkan kita dengan firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 120 yang artinya: “Orang orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: sesungguhnya petujuk Allah itu petunjuk yang sebenarnya “. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong kamu.