• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUTUSAN IJTIMA‟ ULAMA‟ KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA‟ SE-INDONESIA

B. Masail Fiqhiyyah Mu‟ashirah (Masalah Fikih Kontemporer)

VIII. Konsumsi Makanan Halal Deskripsi Masalah

Setiap muslim diwajibkan untuk menkonsumsi makanan halal. Namun, dewasa ini marak industri makanan dan wisata kuliner yang terkadang tidak jelas bahan baku, bahan penolong, bahan tambahan, serta pengolahannya.

Mengkonsumsi produk-produk haram, baik berupa pangan (makanan dan minuman), obat, dan kosmetika, adalah sesuatu yang harus dihindari oleh setiap muslim. Hal itu karena mengkonsumsi produk-produk haram tidak hanya akan membahayakan secara phisik bagi yang bersangkutan, tetapi juga membawa konsekuensi ukhrawi.

Ketika Allah SWT menghallkan hal-hal yng baik kepada kita, tidak ada maksud di balik penghalalan itu kecuali untuk kemslahatan kita. Dan ketika Allah SWT mengharamkan hal-hal yang khabits (buruk) kepada kita, tidak ada maksud dibalik pengharaman itu kecuali untuk kemaslahatan kita.

Apabila al-Qur‟an dan Hadits telah menjelaskan sedemikian rupa tentang hokum mengkonsumsi makanan dan minuman bagaimana tentang produk yang belum jelas kehalalannya apakah boleh dikonsumsi?

Setiap konsumen puny hak untuk memperoleh jaminan produk-produk yang dikonsumsinya adalah halal. Sementara tidak semua konsumen, seiring

dengan rumitnya masalah teknologi pangan yang terus berkembang, dapat mengetahu kehalalan produk makanan.

Dipihak yang lain, MUI, melalui LP-POM dan Komisi Fatwa telah berikhtiyar untuk memberikan jaminan makanan halal bagi konsumsi muslim melalui instrument sertifikat halal. Namun karena sifat suka rela, tidak semua produsen makanan, miniman dan obat-obatan mau melakukan sertifikasi.

Ketentuan Hukum

1. Status jaminan perlindungan halal adalah hak bagi konsumen muslim, karena setiap konsumen muslim hanya boleh mengkonsumsi produk halal.

2. Produk pangan, obt, dan kosmetika yang belum jelas kehalalannya, wajib dihindari sampai ada kejelasan kehalalannya. Karena setiap produk makanan, minuman, obt-obatan, dan kosmetika yang dalam prduksinya melalui proses teknologi hokum asalnya adalah syubhat.

3. untuk memberikan jaminan atas kehalalan produk yang dihasilkan untuk dikonsumsi masyarakat muslim, produsen agar segera mensertifikasi halal prosuknya.

4. a. Penetapan status kehalalan produk harus dilaksanakan oleh lemabaga yang memiliki otoritas untuk itu, yang dalam hal ini adalah Majelis Ulama Indonesia.

b. Produsen yang telah memperoleh sertifikat Halal wajib menjaga status kehalalan produk melalui penerapan Sistem Jaminan Halal sebagaimana yang telah ditetapkan oleh LP-POM MUI.

c. Pemerintah wajib melakukan pengawasan terhadap kehalalan produk.16

Rekomendasi

1. Pemerintah dan DPR-RI diminta untuk segera menuntaskan pembahsan RUU tentang Jaminan Halal, antara lain berisi:

a. Pemberian kepastian hokum tentang jaminan halal bagi konsumen;

16 Tim Penyusun, H. M Ikhwan Syam, Ijma‟ Ulama‟ Keputusan Ijtima‟ Ulama‟

b. Kewajiban produsen untuk memberikan jaminan halal yang menjadi hak konsumen;

c. Sanksi bagi produsen yang melanggar ketentuan;

d. Aturan pengawasan tentang kehalalan produk;

e. Penetapan kehalalan produk oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk itu (MUI), yang merupakan bagian dari fatwa.

f. Kewenangn masyarakat untuk ikut serta melakukan pengawasan terhadap kehalalan produk

2. Mayarakat muslim dihimbau untuk menghindari produk yang belum jelas kehalalannya.

3. Untuk mempermudah proses sertifikasi halal bagi usaha kecil di bidang rumah makan, hendaknya diserahkan kepada MUI Provinsi dengan bantuan MUI Kabupaten/Kota.

4. Pemerintah diminta untuk melakukan pengawasan atas kehalalan produk.

5. Seluruh lembaga pelayanan publik, baik Pemerintah atau swasta seperti perusahaan, hotel, jasa transportasi (Pesawat terbang, kapal laut, kareta api, bus), rumah sakit, dan usaha lainny dihimbau untuk mempioritaskan layanan catering yang bersertifikat HALAL

6. Lembaga perbankan dan keuangan syari‟ah diminta dalam melakukan pembiayaan kepada perusahaan pangan, obat-obatan, dan kosmetika hany pada yang telah bersertifikat Halal.

7. Dewan Syariah Nasional dalam melakukan proses sertifikasi terhadap lembaga bisnis diharapkan untuk emmperhatikan kehalalan produk bisnisnya yang terkait dengan pangan, obat-obatan dan kosmetika.

Dasar Penetapan

1. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Mu‟minun [23]: 51:

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 168:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,…….

3. Hadits Nabi SAW.:

“Dari Nu‟man bin Basyir ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda: „Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Diantar keduanya ada yang mutasyabbih yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barang siap takut atas hal-hal yang syubhat tersebut niscay akan terbebas atas agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalam hal yang syubhat ia akan terjatuh ke dalam hal yng haram sebagaimana gembala yang menggembala di sekitar pantangan, dikhawatirkan akan terperosok ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap penguasa memiliki pantangan dan ketahuilah pantngan Allah SWT adalah larangan-larangan-Nya” (HR.

Muslim).

4. Hadits Nabi SAW.:

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullh bersabda: Wahai Manusia, Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali hal yang baik-baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana ia memerintahkan kepada par Rasul. Allah berfirman: “Wahai para Rasul, makanlah dari sesuatu yang baik-baik, lakukanlah amalan yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan”. Dan firmannya “Wahai orang-orng yng yang beriman, makanlah hal yang baik-baik dari apa yang Kai rizkikan kepadamu”. Kemudian Rasulullah mnyebutkan seseorang yang jauh perjalanannya dan rambutnya yang acak-acakan berdoa dengan menengadahkan tangannya ke langit (sambil berkata), “Wahai Tuhan, wahai Tuhan”. Sedangkan makanan, minuman dan pakaiannya adalah sesuatu yang haram. Maka bagimana mungkin doanya terkabul? (HR.

Imam Muslim).

5. Hadits Nabi SAW.:

Dari Uqbah ibn „Amir ra. Berkata: Saya mendengar Nabi SAW, bersabda: “Orang Islam itu bersaudar. Orang Islam tidak boleh menjual baranh yang ada aibnya kecuali setelah emnjelaskannya kepada pembeli” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

6. Kaidah Ushul Fiqh:

“Perintah terhadap sesuatu merupakan perintah terhadap sarananya”.

7. Keputusan Menteri Kesehatan dan menterai Agama RI NOMOR 427/MEN KES/VIII/1985 NOMOR: 68 TAHUN 1985 tentang pencamtuman tulisan “halal” pada label makanan, pada pasal 2:

“Produsen yang emncamtumkan tulisan “Halal” pada label/penandaan makanan produknya bertanggungjawab terhadap halalnya makanan tersebut bagi pemeluk agama Islam”

Dokumen terkait