BAB II STUDI KEPUSTAKAAN
2.2 Landasan Teori
2.2.4 Konteks
Nadar (2009:4) menjelaskan konteks merupakan situasi lingkungan yang memungkinkan penutur dan mitra tutur untuk dapat berinteraksi dan membuat ujaran mereka dapat dipahami. Konteks sangat penting dalam memahami suatu tuturan, ia tidak menelaah struktur bahasa secara internal seperti tata bahasa
melainkan secara eksternal. Contohnya “kamu lebih baik belajar sekarang”
sebagai tindak ilokusiner tergantung siapa petuturnya dan mitra tuturnya. Jika tuturan diucapkan seorang ayah kepada anaknya maka tuturan itu merupakan perintah. Namun jika seorang mahasiswa kepada temannya maka itu dimaknai sebagai anjuran dan tidak dianggap sebagai perintah.
Aspek tutur menurut Leech (1991:19) adalah (i) yang menyapa (penyapa) dan yang disapa (pesapa), (ii) konteks sebuah tuturan, (iii) tujuan sebuah tuturan, (iv) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan (tindak ujar), (v) tuturan sebagai produk tindak verbal. Menurut Leech istilah tujuan tuturan sama dengan fungsi.
Menurut Mey (1993:38) konteks sebagai the surrounding, in the widest sense, that enable the participants in the communication process to interact, and that make the linguistic expression of their interaction intelliegible (lingkungan sekitar dalam arti luas sesuatu yang memungkinkan peserta tuturan dapat berinteraksi, dan yang dapat membuat tuturan mereka dapat dipahami).
Mulyana (2005: 21) menyebutkan bahwa konteks ialah situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan, apakah itu berkaitan dengan arti, maksud, maupun informasinya, sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu.
Leech (1993) dalam Rahardi (2016:38) mengungkapkan konteks situasi tuturan merupakan aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan
(Background Knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh penutur maupun mitra tutur, serta aspek-aspek non kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah pertuturan tertentu.
Geoffrey N. Leech (dalam Rahardi 2016:39) menjelaskan tentang aspek-aspek situasi tuturan yang mencakup lima hal, yakni (1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindak tutur, (5) tuturan sebagai tindak tutur. Dari paparan yang disampaikan oleh Leech di dalam bukunya The Principles of Pragmatics diperoleh ketegasan bahwa ternyata konteks itu dipahami agak berbeda dengan pandangan-pandangan dari para pendahulunya. Dari pernyataan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa dalam sebuah percakapan telah memiliki latar belakang pengetahuan yang sama sehingga dapat dijadikan sarana untuk terbentuknya tuturan yang baik.
Halliday dan Hasan (1992) dalam Baryadi (2015:18) menyatakan bahwa konteks situasi adalah lingkungan langsung dimana konteks itu benar-benar berfungsi. Hakikat elemen konteks situasi dan jenis-jenisnya dinyataka oleh Leech (1993) dalam Baryadi (2015:31) yakni menggunakan komponen-komponen penentu dalam konteks situasi berbahasa yang dijadikan penentu dalam berbahasa.
Berikut penjelasan mengenai komponen-komponen penentu yang terkandung dalam konteks situasional :
a. Penyapa dan pesapa ( penutur dan mitra tutur)
Penyapa merupakan aktivitas sosial yakni menyapa, sedangkan pesapa merupakan yang menerima sapaan dari penyapa. Penyapa dan pesapa merupakan individu yang terlibat dalam sebuah komunikasi. Penyapa
memilki arti penulis atau pembicara, sedangkan pesapa merupakan seseorang yang disebut sebagai pendengar.
b. Konteks Tuturan
Konteks sebuah tuturan mencakup situasi tutur, diantaranya aspek lingkungan fisik dan sosial yang terkait dengan sebuh tuturan. Latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur sangatberguna dalam menafsirkan makna kebahasaan yang ada dalam setiap tuturan. Dalam hal ini latar belakang pengetahuan yang sama berperan karena tingkat latar belakang pengetahuan yang sama dapat membantu penutur dan mitra tutur dalam memahami suatu pertuturan.
c. Tujuan Tuturan
Tujuan tuturan merupakan penentu utama dari pragmatik, dari penentu pragmatik tersebut untuk mencari maksud dari tuturan yang disampaikan.n Hal-hal yang disampaikan oleh penutur maupun mitra tutur, diantaranya bertanya, meminta, menyuruh, memberitahu dan sebagainya. Tujuan tuturan dapat diartikan sebagai hal yang ingin disampaikan guna melengkapi proses berkomunikasi.
d. Tuturan sebagai Bentuk Tindakan atau tindak ujar
Tuturan dapat artikan sebagai aktivitas ujar. Hal yang dimaksud yakni pragmatik memang membahas mengenai hal-hal yang bersifat konkret atau benar-benar terjadi.
e. Tuturan sebagai tindak verbal
Hal yang dimaksud tuturan sebagai tindak verbal yakni tuturan muncul karena adanya tindakan yang dilakukan secara verbal dan secara gramatikal. Tuturan tindakan verbal dapat menggerakkan respon seseorang untuk beraksi dengan tuturan tersebut.
Setiap tuturan yang terjadi selain untuk menyampaikan atau menerima pesan, tentu memiliki tujuan lain. Hal-hal tersebut dapat ditentukan dari konteks tuturan yang melingkupi percakapan yang disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur dan dapat langsung diterima dengan baik tanpa adanya kesalahan dalam memahami pertuturan.
Kefatisan berbahasa hadir dalam setiap pertuturan. Kefatisan berbahasa hadir pertama-tama untuk memecah kesunyian ketika seseorang sedang hadir bersama dengan yang lainnya. Ungkapan itu disampaikan kepada seseorang yang ada di samping orang tersebut, merupakan contoh dari kefatisan berbahasa.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa fungsi pokok kedua dari kefatisan berbahasa adalah sebagai penanda sopan santun. Fungsi lain dari kefatisan berbahasa adalah untuk memulai kerja sama dalam proses komunikasi. Sebagai contoh tuturan yang berbunyi, ‘lagi sibuk tho Pak?’ ketika seseorang lewat di depan orang yang sedang sibuk bekerja dengan komputernya, dipastikan fungsinya adalah untuk memulai komunikasi dan interaksi.
Dengan kehadiran konteks yang jelas, hadir pulalah makna pragmatik atau maksud penutur yang jelas pula. Akan tetapi, dengan tidak jelasnya konteks pertuturan, tidak jelas pulalah makna pragmatik dari tuturan tersebut. Konteks yang menjadi penentu maksud tuturan di atas bukan saja konteks yang berdimensi
ekstralinguistik, tetapi juga yang bersifat intralinguistik. Konteks yang sifatnya ekstralinguistik lazim disebut dengan konteks saja, entah yang dimensinya adalah social, kultural, maupun situasional. Konteks yang sifatnya intralinguistik lazim disebut dengan koteks. Makna pragmatik atau maksud kefatisan dalam berbahasa sangat ditentukan oleh konteks dari tuturan tersebut. Sebuah tuturan kefatisan dapat digunakan untuk memecah kesunyian, untuk memulai perbencangan, atau yang lainnya tergantung dari konteks yang sedang mewadahi terjadinya kefatisan tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti dapat menyimpulkan bahwa konteks adalah situasi yang melatarbelakangi suatu tuturan, yang dapat menentukan maksud penutur.