• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Kontribusi Pariwisata terhadap Pembangunan Ekonomi

Menurut Undang-Undang No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan terdapat pada Pasal 3 dan Pasal 4. Pasal 3 menyebutkan bahwa fungsi pariwisata adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sedangkan menurut Pasal 4 menyebutkan bahwa, kepariwisataan bertujuan untuk:

1. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi 2. Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat 3. Menghapus Kemiskinan

4. Mengatasi Pengangguran

5. Melestarikan Alam, Lingkungan, dan Sumber daya 6. Memajukan Kebudayaan

7. Mengangkat Citra Bangsa 8. Memupuk rasa Cinta Tanah Air

9. Memperkukuh Jati diri dan Kesatuan Bangsa 10.Mempererat Persahabatan antar Bangsa

Uraian diatas menyebutkan secara tidak langsung, bahwa melaui pariwisata pertumbuhan ekonomi regional maupun negara akan meningkat seiring

15

dengan pariwisata yang meningkat, baik dari segi kesempatan kerja maupun dari total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar lokasi wisata. Maka perlu adanya upaya dan strategi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah guna mencapai sebuah pertumbuhan ekonomi.

Pariwisata memberikan kontribusi produk wisata terhadap ekonomi suatu wilayah. Kontribusi tersebut dapat berupa (1) penerimaan dari penjualan produk wisata, (2) pendapatan masyarakat, (3) peluang pekerjaan dan (4) penerimaan pemerintah dari pajak dan retribusi yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.16

Pariwisata dipandang relevan untuk pembangunan ekonomi masyarakat regional, karena:

a. Produk pariwisata dikonsumsi di lokasi wisata, sehingga akan meningkatkan peluang masyarakat untuk menjual barang dan jasa lainnya (diversifikasi ekonomi masyarakat).

b. Pembatasan akses sektor yang bersifat tradisional terhadap pasar internasional, tidak berlaku dalam transaksi pariwisata.

c. Sumberdaya alam dan budaya adalah potensi pariwisata dan merupakan aset yang dimiliki oleh masyarakat.

d. Pariwisata merupakan sektor ekonomi padat karya.

e. Pariwisata memberikan peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi, kerena adanya kaitan yang luas dengan sektor-sektor lainnya.

16

Sherman dan Dixon dalam Adikampana I Made et al. 2009. Analisis Pariwisata. Fakultas Pariwisata Universitas Udayana. Bali. Hal 4.

Pengaruh langsung (primer)

Pengaruh ikutan (sekunder)

Pengaruh tidak langsung (sekunder)

Sumber: Eagles and Mc Cool (2002).

Gambar 2.1. Pengaruh Pariwisata Alam terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Berdasarkan gambar 2.1, pengaruh pariwisata terhadap ekonomi wilayah merupakan penjumlahan pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung dan pengaruh ikutan. Pengaruh primer atau langsung adalah perubahan jumlah penjualan, pendapatan, pekerjaan dan penerimaan pada usaha penerima awal/pertama pembelanjaan pengunjung. Pengaruh sekunder adalah perubahan dalam aktivitas ekonomi wilayah yang dihasilkan oleh penerimaan dari pembelanjaan pengunjung.

a. Pengaruh tidak langsung adalah perubahan jumlah penjualan, pendapatan, pekerjaan dan penerimaan di sektor-sektor yang mensuplai barang dan jasa (backward linked industries) kepada komponen usaha penerima awal/pertama pembelanjaan pengunjung.

b. Pengaruh ikutan, perubahan dalam aktivitas ekonomi wilayah yang dihasilkan oleh pembelanjaan rumahtangga (household spending). Rumahtangga membelanjakan pendapatannya yang bersumber dari upah atau gaji diberbagai komponen usaha yang dipengaruhi oleh keberadaan pariwisata17.

17

Eagles, Paul F. J, 2002 Trends in Park Tourism : Economics, Finance and Management. [Jurnal]. Austria. Hal 40.

Tourist spending Bisnis pariwisata lokal

Bisnis lokal lainnya Upah bekerja

2.3.1 Peran Pariwisata dalam Penciptaan Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja merupakan jumlah lapangan kerja dalam satuan orang yang dapat disediakan oleh seluruh sektor ekonomi dalam kegiatan produksi. Dalam arti luas kesempatan kerja tidak hanya menyangkut jumlahnya, tetapi juga kualitasnya18. Penggolongan lapangan usaha atau industri menurut Badan Pusat Statistik adalah sebagai berikut:

1. Pertanian, perburuan, kehutanan, dan perikanan, 2. Pertambangan dan penggalian,

3. Industri pengolahan, 4. Listrik, gas, dan air, 5. Bangunan

6. Perdagangan, rumah makan, dan hotel, 7. Pengangkutan/pergudangan dan komunikasi,

8. Keuangan, asuransi dan perdagangan benda tak bergerak/usaha persewaan bangunan, tanah, jasa, perusahaan,

9. Jasa-jasa kemasyarakan, sosial, dan pribadi.

Munurut Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Tenagakerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

18

Wartiningsih dalam Santri, Arisa. 2009. Analisis Potensi Sektor Pariwisata untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat Provinsi Bali. [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Bogor. Hal 12.

Sektor Industri Pariwisata mendatangkan banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainya, karena sektor industri pariwisata ini umumnya berorientasi pada penjualan jasa. Dan pariwisata ini menggunakan input padat karya bukan padat modal sehingga tenagakerja yang terserap lebih banyak19. Berdasarkan uraian diatas bahwa peran pariwisata dalam penciptaan kesempatan kerja adalah berkaitan erat. Pariwisata sebagai pengguna input padat karya karena pariwisata tersebut berorientasi pada penjualan jasa, yang dapat meningkatkan jumlah tenagakerja dan kesempatan kerja. Hal tersebut dapat dilihat dengan teori yang di kemukakan Neo-Klasik sebagai berikut.

Gambar 2.2 Fungsi Produksi Neo-Klasik

Berdasarkan gambar 2.2, teori pertumbuhan Neo-Klasik mengemukakan bahwa, fungsi produksi ditunjukkan oleh M1 dan M2. Dengan melihat hubungan yang seperti itu maka tingkat produksi dan jumlah tenagakerja dapat ditingkatkan tanpa merubah modal yang diperlukan. Sehingga dalam kondisi seperti ini, sama

19

Wahab, Salah Ph.D. 1992. Manajemen Kepariwisataan. PT. Pradya Paramita. Jakarta. Hal 88. Tenagakerja K3 K2 K1 L1 0 Modal M1 M2 L3 L3 L2

halnya dengan uraian tersebut mirip dengan sektor industri pariwisata yang berorientasi pada padat karya.

2.3.2 Konsep Pendapatan dalam Pertumbuhan Ekonomi

Pendapatan merupakan nilai produksi barang-barang dan jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian dalam masa satu tahun20. Pendapatan regional adalah pendapatan masyarakat pada wilayah analisis yang hanya mempunyai nilai tambah dari kegiatan produksi. Sehingga nilai tambah ini dapat mengukur tingkat kemakmuran masyarakat setempat dengan asumsi seluruh pendapatan itu dinikmati masyarakat setempat21.

Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari adanya peningkatan dalam GDP(Gross Domestic Product). Peningkatan GDP merupakan indikator adanya peningkatan pendapatan per kapita yang merupakan pendapatan masyarakat22.

Pendapatan per kapita merupakan pendapatan rata-rata penduduk disuatu wilayah tertentu. Pendapatan tersebut berasal dari pendapatan yang mempunyai nilai tambah. Nilai tambah menggambarkan indikator dari kemakmuran masyarakat. Sehingga dengan meningkatnya pendapatan per kapita maka, akan meningkatkan GDRP (Gross Domestic Regional Product) suatu wilayah. Dengan demikian peningkatan GDRP yang merupakan total produksi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

20

Sukirno S. 1985. Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi UI. Jakarta. Hal 17.

21

Tarigan S. 2006. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Bumi Aksara. Jakarta. Hal. 13.

22

Pratomo A. W. 2006. Teori Ekonomi Makro. Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Medan. Hal 4.

Dalam menghitung pendapatan dapat digunakan tiga pendekatan diantarnya adalah:

a. Pendekatan Produksi (production approach)

Dalam pendekatan ini pendapatan dihitung dari jumlah nilai akhir barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam suatu perekonomian pada periode tertentu.

b. Pendekatan Pendapatan (income approach)

Dalam pendekatan ini pendapatan dihitung dari semua pendapatan masing-masing pendapatan faktor produksi yaitu pendapatan dari tanah, modal, tenagakerja, dan kewirausahaan. c. Pendekatan Pengeluaran (expenditure approach)

Dalam pendekatan ini pendapatan dihitung dengan menggunakan pendekatan pengeluaran yaitu dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh semua pelaku ekonomi, baik rumahtangga, perusahaan, pemerintah, dan sektor luar negeri.

Dokumen terkait