• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Kontribusi Pendapatan di Luar Kegiatan Bertani

Pendapatan total rumah tangga petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani berasal dari pendapatanya dari kegiatan bertani dan pendapatan yang diperoleh dari aktivitas di luar kegiatan bertaninya. Besarnya masing-masing pendapatan petani dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Deskripsi Pendapatan Petani Yang Beraktivitas di Luar Kegiatan Bertani

Pendapatan (dalam Ribu Rupiah) Rentang Rata-rata

Bertani 5306 3209,71

Luar Bertani 3500 2377,56

Sumber : Lampiran 5

Tabel 5 menunjukkan bahwa rentang antara pendapatan terendah dan tertinggi yang diperoleh petani dari kegiatan bertaninya adalah sebesar Rp. 5.306.000. Pendapatan terendah yang adalah sebesar Rp. 1.000.000 sedangkan yang tertinggi sebesar Rp. 6.306.000. Dari Tabel 6 juga dapat dilihat bahwa rentang antara pendapatan terendah dan tertinggi yang diperoleh petani dari kegiatan bertaninya sebesar Rp. 3.500.000. Pendapatan terendah yang diperoleh petani dari kegiatannya di luar bertani adalah sebesar Rp. 1.000.000 dan yang tertinggi adalah sebesar Rp. 4.500.000.

Rata-rata pendapatan petani sampel dari kegiatan bertaninya sebesar Rp. 3.209.000, sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh dari aktivitas lain di luar kegiatan bertaninya sebesar Rp. 2.377.000. Rata-rata total pendapatan rumah tangga petani yang diperoleh dari kegiatan bertani dan aktivitas di luar kegiatan bertani sebesar Rp. 5.587.000.

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata kontribusi pendapatan yang diperoleh dari aktivitas lain di luar kegiatan bertani terhadap total pendapatan rumah tangga petani sebesar 43%. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan dari kegiatan di luar bertani memberi kontribusi cukup besar bagi total pendapatan rumah tangga petani atau hampir sebagian dari total pendapatan berasal dari aktivitas lain di luar kegiatan bertani.

Pendapatan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan. Namun dalam kenyataannya ada biaya-biaya yang tidak diperhitungkan petani dalam kegiatan bertaninya, seperti biaya sewa lahan dan biaya tenaga kerja. Hal ini terjadi karena pada umumnya petani pemilik tidak menghitung biaya lahannya sebagai bagian dari biaya produksi yang harus dikeluarkannya atau diperhitungkan. Tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan bertani sebagian besar berasal dari dalam keluarga. Dalam bisnis setiap tenaga kerja yang digunakan dianggap sebagai biaya yang harus dibayarkan sesuai dengan besarnya upah yang berlaku. Namun petani juga tidak membayarkan atau menganggap penggunaan tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga sebagai biaya produksi.

Menurut realitas pembayarannya, biaya dibagi menjadi 2 yaitu (1) Biaya pengorbanan (opportunity cost) adalah biaya yang timbul karena mengorbankan kesempatan tertentu. Dalam prakteknya biaya ini tidak pernah dibayarkan, (2) Biaya sebenarnya (real cost) adalah biaya-biaya yang benar-benar dibayarkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Dengan demikian terjadi perbedaan yang sangat nyata antara total pendapatan yang diperoleh petani dari kegiatan bertani dengan menggunakan perhitungan biaya riil dan biaya opportunity.

Tabel 6. Rata-Rata Kontribusi Pendapatan Luar Bertani Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga Petani

Biaya Pendapatan Bertani (dalam Ribu Rupiah) Pendapatan Luar Bertani (dalam Ribu Rupiah) Pendapatan Total (dalam Ribu Rupiah) Kontribusi (%) Riil 3209 2377 5587 43 Opportunity 8433 2377 10811 29 Sumber : Lampiran 16, 17

Dari Tabel 6 dapat dlihat bahwa kontribusi pendapatan luar bertani yang diperoleh selama ini lebih rendah dari kontribusi pendapatan luar bertani yang sebenarnya dapat diperoleh petani. Hal ini diseebabkan karena dengan tidak memasukkan sewa lahan milik dan tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga sebagai biaya produksi maka pendapatan yang diperoleh akan lebih besar. oleh karena itu pendapatan yang diterima dari kegiatan luar bertani seolah-olah tidak memberi kontribusi yang cukup besar bagi rumah tangga petani.

Tabel 7. Deskripsi kontribusi Pendapatan di Luar Kegiatan Bertani terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga Petani

Kontribusi n Minimun (%) Maksimum (%)

Dengan Biaya Riil 74 20 75

Dengan Biaya Opportunity 74 10 50

Sumber : Lampiran 18

Dari Tabel 7 dapat dilihat besarnya kontribusi pendapatan luar bertani untuk masing-masing biaya. Kontribusi pendapatan terendah dengan menggunakan biaya riil adalah 20% dan tertinggi adalah 75%, sedangkan kontribusi terendah dengan menggunakan biaya opportunity sebesar 10% dan tertinggi sebesar 50%.

Sebanyak 20 orang petani atau sekitar 27% petani dari total petani yang dijadikan sampel penelitian memiliki kontribusi pendapatan diluar kegiatan bertani yang lebih besar dari 50%. Jenis pekerjaan yang ditekuni bervariasi yaitu 10 orang tukang bangunan, 1 orang berkebun, 2 orang pedagang, 2 orang nelayan, 2 orang pembuat kuedan 3 orang serabutan. Jenis pekejaan yang paling banyak ditekuni yaitu sebagai tukang bangunan sebab menghasilkan pendapatan yang relatif lebih tinggi dari jenis pekerjaan lainnya, tidak menuntut keterampilan yang

terlalu khusus, tidak memerlukan modal yang besar, serta adanya kepastian besarnya pendapatan yang akan diperoleh nantinya.

Tenaga kerja yang digunakan petani untuk membantu kegiatan bertaninya berasal dari dalam keluarga dan dari luar keluarga. Tenaga kerja dalam keluarga yang membantu petani adalah istri, adik dan anak, sedangkan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga merupakan buruh upahan yang pada umumnya adalah tenaga kerja pria. Untuk perhitungan biaya tenaga kerja akan dikonversikan kedalam Hari Kerja Pria (HKP) untuk masing-masing bagian yaitu pria 1 HKP, wanita 0,75 HKP dan anak-anak 0,5 HKP. Perbandingan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga dan tenga kerja luar keluarga pada kegiatan bertani dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Penggunaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga dan Tenaga Kerja Luar Keluarga

Keputusan Petani Kegiatan Asal Penggunaan Tenaga

Kerja (HKP) Beraktivias di Luar Kegiatan Bertani Pengolahan Lahan DK 444.6 LK 678.3 Penanaman DK 936.2 LK 492.8 Pemupukan DK 548 LK 45.6 Pemberantasan Hama DK 450.3 LK 57 Pemanenan DK 856.01 LK 815.1

Total Penggunaan Tenaga Kerja (HKP) DK 3235.11 LK 2088.8 Tidak Beraktivias di Luar Kegiatan Bertani Pengolahan Lahan DK 228 LK 171 Penanaman DK 425.8 LK 103.2 Pemupukan DK 253.8 LK 34.2 Pemberantasan Hama DK 228 LK 34.2 Pemanenan DK 400 LK 421.8

Total Penggunaan Tenaga Kerja (HKP)

DK 1535.6

LK 764.4

Sumber : Lampiran 8,9

Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani sebesar 5359,3 HKP, yang berasal dari dalam keluarga sebesar 3235,11 HKP dan tenaga kerja luar keluarga sebesar 2088,8 HKP. Sedangkann penggunaan tenaga kerja dalam keluarga petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani sebesar 2300 HKP, yang berasal dari dalam keluarga sebesar 1535,6 HKP dan tenaga kerja luar keluarga sebesar 764,6 HKP. Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan bertani adalah pengolahan lahan, penanaman,

dilakukan oleh tenaga kerja dari dalam keluarga, namun untuk kegiatan-kegiatan tertentu yang membutuhkan banyak tenaga maka petani menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga.

Untuk kegiatan pengolahan lahan, penanaman dan pemanenan dibutuhkan banyak tenaga kerja karena kegiatan-kegiatan tersebut harus diselesaikan dengan cepat dan waktu yang serentak pula. Pada umumnya untuk kegiatan pemupukan dan pemberantasan hama, hanya petani yang memiliki lahan yang relatif luas menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Hal ini disebabkan karena kegiatan pemupukan dan pemberantasan hama tidak harus diselesaikan dalam waktu yang cepat dan serentak.

Penggunana tenaga kerja dalam keluarga berhubungan dengan keputusan petani untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani. Hubungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Hubungan Penggunaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga Dengan Aktivitas di Luar Kegiatan Bertani

Penggunaan Tenaga Keja Dalam Keluarga (HKP) Keputusan Petani Total Beraktivias di Luar Kegiatan Bertani Tidak Beraktivias di Luar Kegiatan Bertani 32,80 - 37.20 28 22 50 39,90 - 45.53 6 28 34 45,70 - 50.00 6 19 25 64,30 - 82.80 0 5 5 Total sampel 40 74 114 Sumber : Lampiran 19

Tabel 9 menunjukkan bahwa semakin besar penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga maka keputusan petani untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani semakin kecil. Hal ini terjadi karena penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga tidak dianggap sebagai bagian dari biaya produksi yang harus dikeluarkan atau petani tidak perlu mengeluarkan upah tenaga kerja bagi keluarganya. Dengan demikian penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga akan menghasilkan pendapatan yang relatif lebih besar dibandingkan dengan jika petani menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Oleh karena itu petani akan lebih fokus pada kegiatan bertaninya dan tidak akan mencari aktivitas lain di luar kegiatan bertani, serta mempekerjakan seluruh keluarganya dalam kegiatan bertani dan tidak akan mencari tenaga kerja dari luar keluarga.

4.3. Hasil Analisis Perbedaan Luas Lahan, Tingkat Pendidikan, Jumlah Tanggungan, Status Pennguasaan Lahan, Pengalaman dan Pendapatan Bertani

Hasil pengujian perbedaan faktor luas lahan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, status penguasaan lahan, pengalaman dan pendapatan bertani antara petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak memiliki aktivitas di luar kegiatan bertani dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Analisis Perbedaan Luas Lahan, Tingkat Pendidikan, Jumlah Tanggungan, Status Pennguasaan Lahan, Pengalaman dan Pendapatan Bertani Variabel Beraktiviatas di luar kegiatan bertani Tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani Sign Rata-rata Rata-rata Luas Lahan 0,78 0,58 .00 Tingkat Pendidikan 9,93 9,75 .67 Jumlah Tanggungan 3,79 4,27 .06 Pengalaman 10,16 12,40 .01 Pend. Usahatani 3209,71 2777,75 .02 Jumlah Sampel 74 40 Sumber : Lampiran 2, 5, 6

Tabel 10 menjelaskan perbedaan luas lahan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, status pennguasaan lahan, pengalaman dan pendapatan dari kegiatan bertani antara petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani. Jumlah populasi di daerah penelitian adalah 114 orang petani yang terdiri dari 74 orang petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan 40 orang petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani.

Dari hasil penelitian dengan menggunakan alat uji SPSS dapat dilihat bahwa rata-rata luas lahan yang diusahakan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani adalah 0,8 hektar, sedangkan pada petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani adalah 0,6 hektar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan yang diusahakan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih tinggi 36% dari rata-rata luas lahan petani yang tidak beraktivitas di

luar kegiatan bertani. Secara statistik signifikansi (α) yang diperoleh adalah sebesar 0,000 atau α < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik luas lahan yang diusahakan petani sampel berbeda secara nyata atau ada perbedaan yang nyata antara luas lahan yang diusahakan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani.

Perbedaan luas lahan garapan antara petani yang beraktivitas diluar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani disebabkan karena jenis-jenis kegiatan yang ditekuni oleh petani sebagian besar membutuhkan modal untuk menjalankannya. Lahan yang relatif lebih luas diharapkan akan menghasilkan pendapatan yang besar pula. Oleh karena itu petani membutuhkan pendapatan yang besar agar dapat dijadikan sebagai tambahan modal dalam aktivitasnya di luar kegiatan bertani.

Dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lamanya pendidikan formal yang ditempuh petani pada dua daerah penelitian adalah 10 tahun. Secara statistik, rata-rata tingkat pendidikan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani tidak berbeda secara nyata. Hal ini dapat dilhat dari hasil uji signifikansi yang diperoleh sebesar 0,67 atau α > 0,05.

Lamanya tingkat pendidikan yang dijalankan oleh petani sangat berhubungan erat dengan kecakapannya untuk menjalankan aktivitas di luar kegiatan bertani. Hal ini terjadi karena kegiatan yang ditekuni petani di luar bertani bukan hanya memerlukan modal tetapi juga ada jenis pekerjaan tertentu yang memerlukan keterampilan khusus untuk menjalankannya. Petani yang memiliki tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi akan lebih mudah untuk dapat belajar hal-hal baru untuk menambah keterampilan dalam dirinya.

Besarnya jumlah tanggungan petani di desa penelitian tidak ada perbedaan yang signifikan. Rata-rata jumlah tanggungan masing-masing petani adalah 4 jiwa. Secara statistik juga diperoleh hasil signifikansi (α) yang lebih besar dari kriteria uji yaitu sebesar 0,06 atau α > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani secara statistik tidak berbeda secara nyata.

Dalam menjalankan kegiatan bertaninya, petani di daerah penelitian umumnya menggunakan tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga. Mengingat bahwa luas lahan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih luas dari pada petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani, maka jika terjadi kekurangan tenaga kerja petani akan mencari tenaga kerja dari luar keluarga. Oleh karena itu jika ada penambahan jumlah anggota/ tanggungan keluarga maka petani akan mengikutsertakan anggota keluarganya untuk bertani.

Untuk tingkat pengalaman petani, rata-rata pengalaman petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani adalah 10 tahun sedangkan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani adalah 12 tahun. Hal ini berarti bahwa pengalaman petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih tinggi 22% dari pengalaman petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani. Hasil uji statistik menunjukkan hasil signifikansi yang diperoleh yaitu sebesar 0,01 atau α < 0,05 artinya bahwa ada perbedaan yang nyata antara pengalaman petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani. Oleh Karena itu dapat disimpulkan bahwa pengalaman petani di desa penelitian berbeda nyata atau berbeda secara signifikan.

Pengalaman petani yang memiliki aktiviatas lain relatif lebih rendah dari pada petani yang tidak memiliki aktivitas di luar bertani menyebabkan petani belum begitu cakap/ terampil untuk berusahatani yang baik. Oleh karena itu petani akan menggunakan waktu luang, modal dan keterampilannya di bidang lain untuk menjalankan aktivitas di luar bertani untuk penambahan pendapatan rumah tangganya.

Rata-rata pendapatan usahatani petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani adalah Rp. 3.209.000 dan Rp. 2.777.000 untuk petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendapatan bertani yang diperoleh petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih tinggi 16% dari pendapatan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani. Secara statistik juga dapat dinyatakan bahwa pendapatan petani di dua daerah penelitian berbeda secara nyata yaitu dengan tingkat signifikansi sebesar 0,02 atau α < 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara pendapatan petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dan petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani.

Besar kecilnya luas lahan garapan sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya pendapatan yang akan diperoleh dari kegiatan bertani. Pendapatan yang diterima petani yang memiliki aktivitas di luar kegiatan bertani relatif lebih besar dari pendapatan petani yang tidak memiliki aktivitas di luar bertani karena luas lahan yang dikerjakan petani yang memiliki aktivitas di luar kegiatan bertani juga relatif lebih besar dari luas lahan petani yang tidak memiliki aktivitas di luar bertani.

Status penguasaan lahan pada penelitian ini terbagi atas 2 macam yakni sebagai pemilik dan sebagai penggarap, adapun data status pengasaan lahan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Uji Chi Square untuk Status Penguasaan Lahan

Keputusan Petani

Status Penguasaan

Lahan Jumlah

(orang) Pemilik Penggarap

Beraktivitas di luar kegiatan bertani 36 38 74 Tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani 13 27 40

Jumlah (orang) 49 65 114

Pearson Chi-Square Signifikansi 0,096

Sumber : Lampiran 3

Dari total populasi di daerah penelitian sebesar 114 orang sampel terdiri dari 65 orang petani dengan status penggarap dan 49 orang dengan status sebagai pemilik. Untuk petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani dari total polpulasi sebanyak 74 orang terdiri dari 36 orang berstatus pemilik dan 38 orang berstatus sebagai penggarap, sedangkan untuk petani yang tidak beraktivitas di luar kegiatan bertani dari total populasi sebanyak 40 orang yang terdiri dari 13 orang berstatus pemilik dan 27 orang berstatus sebagai penggarap. Secara statistik dapat dilihat bahwa penguasaan lahan petani untuk daerah penelitian tidak berbeda secara nyata, hal ini ditunjukkan dari hasil uji signifikansi yng diperoleh sebesar 0,09 atau α > 0,005.

Dapat kita lihat bahwa status petani yang beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih dominan sebagai penggarap. Oleh sebab itu walaupun luas lahan garapan yang diusahakan lebih luas, tetapi pendapatan yang diterima petani harus dibagi lagi kepada pemilik sebagai balas jasa atas sewa lahan tersebut. Hal ini menyebabkan jika memiliki waktu luang, modal dan keterampilan yang cukup

maka petani akan beraktivitas di luar kegiatan bertaninya untuk menambah pendapatan rumah tangganya.

4.4. Faktor-fakor yang Mempengaruhi Keputusan Petani untuk Beraktivitas di Luar Kegiatan Bertani

Variabel yang diuji sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas petani di luar kegiatan bertani dalam penelitian ini adalah luas lahan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, status penguasaan lahan, pengalaman dan pendapatan kegiatan bertani. Hasil uji statistik dengan mengunakan regresi logit dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Hasil Analisis Logit Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Petani di Luar Kegiatan Bertani

Variabel B Std. Error Wald Sign Exp (B)

X1 11.485 2.93 15.36 .000 97208.72 X2 -.129 .11 1.29 .256 .37 X3 -.432 .21 4.02 .045 .64 X4 -1.345 .53 6.39 .011 .26 X5 -.171 .06 7.42 .006 .34 X6 -.002 .00 10.33 .001 .99 Konstanta 5.668 2.02 7.86 .005 289.37 Sumber : Lampiran 7

Dari hasil diatas maka diperoleh persamaan regresi:

ln P P − 1 = 5.668+ 11.485X1 – 0,129X2 – 0,432X3 – 1,34X4 – 0,171X5 – 0,002 X6 4.4.1. Pengujian Parameter

Adapun pengujian parameter yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Uji Omnibus (serempak), Uji Wald (individu), Uji Hosmer dan Lemeshow serta Marginal Effect. Hasil pengujian parameter ditunjukkan pada Tabel 13.

Tabel 13. Hasil Pengujian Parameter

Pengujian Chi-Square df Sign

Omnibus 41,48 6 .00

Hosmer dan Lemeshow 7,57 8 .47

Sumber : Lampiran 4

a. Uji Omnibus ( Serempak)

Uji omnibus bertujuan untuk menguji kemampuan seluruh variabel independent secara bersama-sama memprediksi variasi pada variabel dependent, uji ini sering dikenal dengan uji serempak.

Dari hasil uji omnibus yang dilakukan diperoleh hasil signifikansi sebesar 0,00 atau α < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa faktor luas lahan, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, status penguasaan lahan, pengalaman dan pendapatan bertani mempengaruhi keputusan petani untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani.

b. Uji Wald (Individu)

Pengujian parsial (uji Wald) dari hasil estimasi dapat dilihat pada nilai signifikansi pada Tabel 12. Hasil pengujian menunjukkan bahwa luas lahan, jumlah tanggungan, status penguasaan lahan, pengalaman dan pendapatan dari usahatani mempengaruhi keputusan petani untuk beraktivitas lain di luar kegiatan bertani. Hal ini diperoleh dari hasil signifikansi yang diproleh untuk masing-masing variabel luas lahan sebesar 0,00, jumlah tanggungan 0,04, status penguasaan lahan 0,01, pengalaman 0,00 dan pendapatan usahatani sebesar 0,00 atau signifikansi < 0,05. Sedangkan untuk tingkat pendidikan tidak mempengaruhi keputusan petani untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani secara nyata dengan signifikansi sebesar 0,25.

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ginting (2004) yang menyimpulkan bahwa usia, jumlah tanggungan dan status penguasaan lahan berpengaruh nyata terhadap keputusan mobilitas pada taraf kepercayaan α = 10%, sedangkan luas lahan milik dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh nyata.

c. Uji Hosmer dan Lemeshow

Untuk menguji kesesuaian distribusi observasi dengan distribusi teori maka dilakukan pengujian Hosmer dan Lemeshow. Hasil uji menunjukkan bahwa signifikansi yang diperoleh sebesar 0,476 atau α > 0,05, maka terima Ho tolak H1, hal ini berarti bahwa tidak ada perbeadaan perbedaan distribusi observasi dengan distribusi teori / model sesuai dengan data.

d. Marginal Effect

Perhitungan marginal effect masing-masing variabel adalah : - Luas lahan Pi Pi − 1 = 97208 Pi = 97208 (1-Pi) Pi = 97208 – 97208Pi Pi = 97209 97208 Pi = 0,99 ci = βˆiPˆi

( )

1−Pˆi = (11,485)(0,99)(1-0,99) = 0,1137

Artinya bahwa setiap penambahan luas lahan sebesar 1 hektar maka peluang petani untuk beraktivitas lain di luar kegiatan bertani sebesar 11%. Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya luas lahan bertani maka petani memilih untuk menyewakan sebagian lahannya kepada petani lain dan waktu luang dari kegiatan bertani tetap digunakan untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani, sehingga pendapatan total rumah tangga petani akan meningkat karena berasal dari kegiata bertani, upah yang didapat dari menyewakan lahan dan dari aktivitas di luar kegiatan bertani. - Tingkat pendidikan Pi Pi − 1 = 0,379 Pi = 0,379 (1-Pi) Pi = 0,379 – 0,379 Pi Pi = 379 , 1 379 , 0 Pi = 0,27 ci = βˆiPˆi

(

1−Pˆi

)

= (-0,129)(0,27)(1-0,27) = - 0,025

Artinya bahwa setiap penambahan tingkat pendidikan sebesar 1 tahun maka peluang petani untuk beraktivitas lain di luar kegiatan bertani turun sebesar 2,5%. Hal ini disebabkan karena petani akan mengaplikasikan ilmu yang telah diperolenya secara optimal, mulai dari

pengolahan tanah yang baik, pemeluharaan yang sesuai dan perlakuan pasca panen yang tepat sehingga akan terjadi peningkatan pendapatan dari kegiatan bertani. Oleh karena itu petani tidak akan memikirkan aktivitas di luar kegiatan bertani dan akan menjalankan kegiatan bertaninya dengan baik sesuai dengan tambahan ilmu yang telah diperolehnya.

- Jumlah Tanggungan Pi Pi − 1 = 0,649 Pi = 0,649 (1-Pi) Pi = 0,649– 0,649Pi Pi = 649 , 1 649 , 0 Pi = 0,39 ci = βˆiPˆi

(

1−Pˆi

)

= (-0,432)(0,39)(1-0,39) = - 0,10

Artinya bahwa setiap penambahan jumlah tanggungan 1 orang maka peluang petani untuk beraktivitas lain di luar kegiatan bertani turun sebesar 10%. Dengan bertambahnya jumlah tanggungan keluarga maka akan bertambah pula beban / biaya yang harus ditanggung oleh petani, oleh karena itu petani akan lebih berkonsentrasi / berupaya untuk meningkatkan hasil produksi dari kegiatan bertaninya agar pendapatan dari kegiatan bertani akan meningkat, sehingga aktivitas di luar kegiatan bertani tidak

- Status Penguasaan Lahan Pi Pi − 1 = 0,26 Pi = 0,26 (1-Pi) Pi = 0,26 –0,26Pi Pi = 269 , 97201 26 , 0 Pi = 0,21

Artinya bahwa pemilik mempunyai peluang untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani lebih besar 21% dibandingkan dengan petani penggarap. Hal ini terjadi karena pemilik lahan dapat lebih bebas bertani tanpa dituntut kewajiban untuk membayar sewa lahan, sehingga jika memiliki waktu senggang akan dimanfaatkan untuk beraktivitas di luar kegiatan bertani, sedangkan petani penggarap mempunyai kewajiban

Dokumen terkait