• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI DESA CIHIDEUNG ILIR

Konversi lahan pertanian merupakan salah satu fenomena perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat pertanian. Perubahan merupakan suatu proses dinamis yang didalamnya terdapat usaha untuk mencapai kondisi baru. Dahulu, kehidupan masyarakat masih bergantung pada alam karena belum muncul teknologi dan ilmu pengetahuan baru. Namun sekarang, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan baru semakin pesat, pertumbuhan penduduk semakin meningkat, akibatnya kebutuhanpun semakin meningkat. Bentangan alam yang dipadati dengan lahan produktif mulai terkikis dengan adanya bangunan- bangunan untuk menunjang aktivitas manusia. Perubahan memang diperlukan, namun perlu pengawasan dan pembatasan dalam prosesnya agar tidak mengganggu pemanfaatan lahan (pertanian) yang telah ada sebelumnya.

Perubahan pemanfaatan lahan secara nyata terjadi di Kecamatan Ciampea, khususnya Desa Cihideung Ilir. Berdasarkan sejarah, pada awalnya desa ini hanya ditempati oleh empat rumah saja sehingga dinamakan “lembur leutik”. Lembur leutik ini dikelilingi oleh persawahan dan jalan yang digunakan hanya sebatas jalan setapak. Pada saat itu belum ada energi listrik dan sarana transportasi sehingga kehidupan masyarakat masih berbaur dengan alam. Namun karena perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk semakin tinggi, akhirnya persawahan sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi rumah-rumah. Kepadatan penduduk bukan hanya berasal dari penduduk asli, namun penduduk pendatang ikut memadati kawasan Desa Cihideung Ilir. Hingga akhirnya, para pengembang mulai memasuki kawasan desa ini pada tahun 1990-an untuk membangun perumahan. Para pengembang berupaya untuk membangun perumahan diatas lahan pertanian baik lahan produktif maupun lahan yang kurang atau tidak produktif.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa kasus konversi lahan pertanian telah ditemukan di Kecamatan Ciampea, khususnya di Desa Cihideung Ilir. Sebagian besar kasus yang ditemukan adalah mereka (petani yang memiliki lahan pertanian) yang menjual lahannya kepada pengembang. Keberadaan pengembang ternyata sangat mengganggu aktivitas pertanian. Strategi yang dilakukan oleh pengembang adalah membeli sedikit demi sedikit lahan sawah yang akan dijadikan perumahan. Biasanya pengembang memiliki calo-calo atau biong- biong8 untuk mendekati petani agar melakukan penjualan lahan. Jika lahan belum mancapai target yang diperlukan, pengembang belum melakukan pembangunan perumahan. Pada kondisi ini, petani masih diizinkan untuk menggarap lahan yang telah dijual dan hasilnya dapat dinikmati sendiri tanpa memberikan keuntungan atau pajak terhadap pengembang. Namun ketika luas lahan sudah mencukupi untuk pembangunan, petani tidak diizinkan untuk bertani. Bahkan ketika ada beberapa petak sawah yang belum terbeli, pengembang melakukan paksaan terhadap petani untuk segera menjual sawahnya. Paksaan tersebut dilakukan dengan cara menutup jalan atau akses masuk ke sawah serta menghambat aliran irigasi. Keadaan inilah yang memaksa petani untuk menjual lahannya. Taktik lain yang digunakan oleh pengembang melalui biong-biongnya adalah mengiming-

8

Biong adalah istilah lokal yang digunakan untuk menamakan orang-orang yang membantu pengembang mengumpulkan lahan pertanian yang akan dijadikan perumahan.

36

imingi petani dengan harga jual lahan tinggi disertai dengan penawaran penggantian lahan sawah di tempat lain.

Kasus-kasus konversi lahan seperti ini sering terjadi di wilayah yang memiliki akses cukup mudah untuk mencapai pusat keramaian. Di Desa Cihideung Ilir, konversi lahan pertanian banyak terjadi di RW 05 dan 04. Hal ini terjadi karena RW 05 dan 04 dekat dengan jalan raya. Beberapa kasus yang diteliti dapat menggambarkan proses konversi lahan pertanian mulai dari pola konversi lahan, faktor penyebab konversi lahan, dan dampak yang dirasakan oleh petani. Pada bab ini, akan dikaji lebih dalam mengenai kasus konversi lahan pertanian oleh petani di Desa Cihideung Ilir.

Pola Konversi dan Pemanfaatan Lahan yang Dikonversi

Pola konversi lahan dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu pola konversi menurut proses dan pelaku. Sejalan dengan hal tersebut, Sumaryanto dan Sudaryanto (2005) mengungkapkan bahwa pola konversi berdasarkan pelaku dibedakan menjadi konversi lahan yang secara langsung dilakukan oleh pemilik lahan yang bersangkutan dan konversi lahan yang dilakukan melalui alih penguasaan. Sementara pola konversi berdasarkan prosesnya dibagi menjadi cepat dan lambat (Sumaryanto dan Sudaryanto, 2005).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi lahan di Desa Cihideung Ilir memiliki pola yang berbeda. Perbedaan ini dapat terlihat dari sebelum dan setelah masuknya PT ke wilayah desa. Fenomena konversi lahan memang sudah dilakukan sejak dulu sebelum PT memasuki wilayah desa. Namun konversi lahan yang dilakukan adalah konversi dalam skala kecil. Pemanfaatan lahan yang dikonversi biasanya digunakan untuk membangun satu atau dua rumah warga. Konversi lahan hanya dilakukan manakala pemilik lahan membutuhkan tambahan tempat tinggal karena pertambahan jumlah anggota keluarga. Kondisi ini jelas berbeda dengan konversi lahan yang dilakukan setelah para pengembang (PT) memasuki wilayah desa.

Pemahaman mengenai pola konversi lahan dapat dikaji melalui lima kasus yang diteliti. Pola konversi lahan pada kasus pertama dapat ditinjau berdasarkan pelaku dan prosesnya. Berdasarkan pelaku, petani yang berinisial HU melakukan konversi lahan dengan cara alih penguasaan kepada PT. PT adalah pelaku primer dalam konversi lahan pertanian. Penguasaan lahan yang dialihkan kepada PT

secara tidak langsung dapat dikatakan memiliki unsur „paksaan‟. Petani biasanya

mendapat ancaman berupa pemblokiran jalan dan penutupan saluran air agar sawah yang dimiliki tidak produktif. Tindakan lain yang dilakukan adalah PT

berusaha „mengiming-imingi‟ pemilik lahan dengan menawarkan lahan yang lebih

luas di tempat lain. Sementara berdasarkan prosesnya, kasus ini termasuk pada proses secara cepat karena disebabkan oleh perubahan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan yang dilakukan secara cepat9. Jika merujuk pada Sihaloho

(2004), pola konversi lahan pada kasus ini termasuk pada pola „enclave‟. Pola ini

terjadi ketika konversi lahan dilakukan secara serentak dan pemilik tanah terdiri

9

Cepat yang dimaksud adalah perubahan fungsi lahan yang sengaja dilakukan untuk pemanfaatan lain (biasanya nonpertanian, seperti bangunan) tanpa menunggu waktu lahan tidak produktif secara alamiah.

37 dari beberapa orang. Menurut HU, sebelum melakukan konversi pada lahannya, PT berupaya untuk melakukan pembelian lahan secara terus menerus hingga mencapai target yang diperlukan. Pada kasus ini, HU masih diijinkan untuk menggarap sawah yang telah dijual kepada PT selama PT belum mulai melakukan pembangunan. PT akan melakukan konversi lahan secara serentak ketika luas lahan yang ditargetkan telah terkumpul. Misalnya PT menargetkan lahan seluas 15 ha untuk perumahan, lahan seluas 15 ha ternyata dimiliki oleh beberapa orang. Hal yang dilakukan PT adalah meminta kepada pemilik lahan yang berada dalam kawasan 15 ha tersebut untuk menjual lahannya. Setelah semua lahan dikuasai oleh PT, pembangunan (konversi lahan) mulai dilakukan.

Pola konversi dengan alih penguasaan juga tergambar dalam kasus HE. PT

berusaha memperoleh lahan yang dimiliki oleh HE dengan cara „mengiming-

imingi‟ harga lahan yang lebih tinggi. PT memang telah mengukur luasan lahan

yang akan dijadikan target perumahan. Pada kasus ini, pola konversi berdasarkan prosesnya termasuk dalam pola konversi secara cepat. Pembangunan perumahan di sekitar sawah yang masih produktif nampaknya sangat berpengaruh terhadap kerusakan atau kekeringan pada sawah yang masih produktif tersebut. Hal yang sama dialami oleh HS. Kasus konversi lahan ini memiliki pola konversi dengan

cara alih penguasaan kepada PT. Menurut HS, PT telah „merajalela‟ di desa ini.

Segala cara dilakukan oleh PT beserta biong-biongnya untuk memperoleh lahan. Kerusakan lingkungan akibat pembangunan perumahan merupakan cara yang secara tidak langsung memaksa petani untuk menjual lahannya. Pada kondisi

serba sulit yang merupakan „permainan‟ bagi PT menyebabkan petani khawatir

dan takut mengalami kerugian yang lebih besar. Pada kasus ini pemanfaatan lahan yang dikonversi adalah untuk perumahan. Oleh karena itu, pola konversi berdasarkan prosesnya termasuk dalam konversi lahan berpola cepat.

Hampir setiap kasus memiliki pola yang sama. Hal ini terjadi karena pelaku primer konversi lahan pertanian di Desa Cihideung Ilir dilakukan dalam skala besar (tingkat desa) oleh PT. Kasus BI memiliki gambaran yang hampir sama dengan kasus-kasus sebelumnya. Pola konversi yang terjadi adalah pola konversi dengan cara alih penguasaan kepada PT. Menurut BI, saat ini jarang ditemukan kasus konversi lahan yang dilakukan oleh pemilik lahan secara langsung apalagi dalam skala besar. Berdasarkan prosesnya, pola konversi dalam kasus ini adalah berproses lambat sekaligus cepat. Dikatakan lambat karena menurut BI, sawah yang dulu dimiliki sudah mengalami penurunan produktivitas. Kondisi ini ditunjukkan oleh penurunan hasil yang diperoleh dari sawah pada setiap musimnya. Fungsi sawah yang tidak optimal mendorong BI untuk melakukan alih penguasaan kepada PT. Jika sawah sudah beralih kepada PT, sangat jelas bahwa lahan pertanian tersebut akan dikonversi menjadi perumahan. Hal ini merupakan pergeseran dari pola menurut proses dari lambat ke cepat.

Berkaitan dengan pola konversi lahan, kasus konversi lahan oleh HW juga menunjukkan pola yang hampir sama. Pola konversi yang terjadi pada kasus HW berdasarkan pelaku adalah pola konversi dengan cara alih penguasaan. Berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, alih penguasaan dilakukan kepada sesama masyarakat desa. Hal yang mendasarinya adalah adanya permasalahan sosial yang dihadapi oleh kedua pihak. Sementara menurut prosesnya, pola konversi pada kasus HW termasuk dalam pola berproses cepat. Berproses cepat karena sawah yang dikonversi menjadi kolam ikan (empang) masih memiliki produktivitas yang

38

baik. Berikut ini disajikan tabel mengenai pola konversi lahan berdasarkan lima kasus konversi lahan pertanian yang ditemukan di Desa Cihideung Ilir.

Tabel 5 Pola-pola konversi lahan berdasarkan lima kasus konversi lahan pertanian di Desa Cihideung Ilir

Hasil penelitian (lima kasus)

Aspek pola konversi lahan

Pelaku konversi lahan Proses konversi lahan Langsung oleh

pemilik lahan

Alih

penguasaan Cepat Lambat

Kasus HU -   -

Kasus HE -   -

Kasus HS -   -

Kasus BI -   

Kasus HW -   -

Berdasarkan tabel di atas, konversi lahan pertanian di Desa Cihideung Ilir secara umum memiliki pola yang hampir sama. Keberadaan PT sangat berpengaruh terhadap cepatnya proses konversi lahan. Upaya yang dilakukan oleh PT sangat gencar sehingga dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, secara cepat dan serentak sawah telah berubah fungsi menjadi perumahan. Berdasarkan lima kasus yang diteliti, konversi lahan pada umumnya dilakukan dengan cara alih penguasaan. Secara cepat, sebagian besar lahan yang dikonversi dikuasai oleh pihak luar.

Faktor-faktor Penyebab Konversi Lahan Pertanian

Berdasarkan kajian literatur, faktor penyebab konversi lahan pertanian antara lain faktor kependudukan, faktor ekonomi, dan kebijakan pembangunan. Berbagai kasus konversi lahan pertanian telah ditemukan di Desa Cihideung Ilir. Kasus-kasus tersebut memiliki dasar penyebab yang berbeda. Pada umumnya, keberadaan perumahan (PT) merupakan salah satu alasan bagi mereka untuk melakukan konversi lahan pertanian. Beberapa masyarakat menyatakan bahwa keberadaan PT merupakan salah satu bentuk perkembangan zaman. Perkiraan bahwa pertanian akan tergeser oleh berbagai kepentingan lain telah muncul dalam pemikiran mereka. Berikut ini akan disajikan lima kasus konversi lahan pertanian di Desa Cihideung Ilir yang menjelaskan mengenai alasan atau faktor penyebab alih fungsi lahan pertanian (sawah) menjadi pemanfaatan lain.

Kasus pertama ditemukan pada pemilik lahan berinisial HU. HU melakukan konversi lahan pertanian pada tahun 2008 dengan luas lahan yang dikonversi sekitar 4.000 m2. Kepemilikan sawah oleh HU berasal dari pembagian warisan oleh orang tua. Sawah yang dimiliki tergolong sawah yang masih produktif. Sebelum timbul masalah kekeringan, padi merupakan salah satu komoditas utama dalam pertanian. Bahkan saat kondisi air yang melimpah, HU pernah memelihara ikan di sawah. Namun ketika kekeringan melanda, sebagian besar petani

39 mengurangi penanaman padi bahkan tidak menanam sama sekali karena kebutuhan air cukup banyak dalam proses penanaman padi. Kondisi kekeringan merupakan salah satu alasan bagi HU untuk menjual sawah kepada pengembang. Pada musim hujan, aliran irigasi yang berasal dari sungai tersumbat oleh sampah karena tepian sungai pernah mengalami longsor. Akibat lain yang ditimbulkan adalah sebagian sampah yang menyumbat ikut mengalir ke sawah. Hal ini menyebabkan penurunan pertumbuhan padi dan kesuburan tanah.

Sekarang sulit kalau ingin menanam padi. Kalau musim hujan, banyak sampah plastik yang ikut mengalir ke sawah-sawah. Itu karena sungai yang berada di ujung pernah jebol, jadi tersumbat oleh sampah. Ada saja sampah yang mengalir ke sawah, jadi mengganggu terhadap tanaman. Apalagi kalau musim kemarau, sawah sangat kering.”

Alasan lain yang mendasari HU untuk menjual sawah adalah faktor usia. Walaupun masih dapat bercocok tanam di usia tua, tetapi tenaga yang digunakan tidak sekuat dahulu. Akses yang cukup jauh untuk mencapai sawah menyebabkan HU tidak dapat mengontrol keadaan sawah ketika masa menunggu panen. Apalagi semakin banyak perumahan yang menyerap tenaga kerja perempuan, sehingga buruh tani wanita cenderung tidak berminat terhadap pekerjaan tani. Berbagai anggapan terhadap pekerjaan tani dapat tergambar dari minat para buruh tersebut. Mereka menganggap bahwa bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di perumahan lebih menjanjikan untuk pendapatan mereka dibandingkan dengan buruh tani dengan pendapatan yang tidak menentu. Anggapan lain muncul dari generasi muda bahwa pekerjaan tani adalah pekerjaan yang kotor dan tidak bergengsi. Apalagi jika mereka telah memiliki ijazah SMA yang dianggap dapat memperoleh pekerjaan yang lebih tinggi daripada bertani. Kondisi inilah yang menyebabkan anak-anak petani untuk tidak bekerja sebagai petani.

Dulu saya suka menanam padi saat banyak air. Sekarang sulit menanam padi, sawahnya juga susah, sudah jadi rumah, airnya juga tidak ada. Apalagi sekarang saya sudah tua, sudah tidak kuat lagi pergi ke sawah. Mencari buruh juga sulit karena sudah banyak yang menjadi pembantu di BTN10. Lagipula, anak muda zaman sekarang sudah tidak mau berurusan dengan sawah. Berbeda dengan saya pada zaman dulu yang suka membantu orang tua di sawah.”

Bagi HU, bukan hanya persoalan teknis dan faktor usia yang menjadi alasan melakukan konversi lahan, tetapi lahan yang dijual dapat memberikan keuntungan lain. Keuntungan tersebut antara lain dapat membeli sawah di tempat lain dengan harga yang lebih murah, sehingga sisa uang penjualan dapat digunakan untuk menunaikan ibadah haji dan dapat dibagikan kepada anak-anaknya.

Kasus kedua yang menarik untuk dikaji adalah kasus konversi lahan pertanian (sawah) yang dilakukan oleh HE. HE melakukan konversi lahan pada tahun 2008 dengan luas sekitar 5.000 m2. Faktor yang mendorong HE untuk menjual sawah kepada pengembang adalah keinginan yang kuat untuk menunaikan ibadah haji. Pada awalnya, HE tidak berniat untuk melakukan

10

40

konversi lahan karena sawah yang dijual kepada pengembang adalah sawah gadai milik mertua HE. Namun, karena kondisi keuangan tidak mencukupi untuk keberangkatan ibadah haji, mertua HE bersedia membayar hutang kepada HE dengan menyerahkan sawah yang digadaikan. Akhirnya HE menjual sawah tersebut kepada pengembang dengan harga yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 35.000 per meter. Selain untuk keperluan ibadah haji, persoalan kekurangan air pada musim kemarau merupakan bahan pertimbangan bagi HE untuk menjual sawahnya.

Alasan lain yang memperkuat HE untuk mengkonversi lahan sawah adalah posisi sawah berada di tengah lokasi yang menjadi target untuk perumahan. Hal ini sejalan dengan penelitian Maftuchah (2005) bahwa konversi lahan pertanian terjadi karena posisi lahan berada dekat atau berbatasan dengan bangunan- bangunan seperti perumahan, pusat perbelanjaan, atau kawasan industri. Kondisi ini menyulitkan HE dalam menggarap sawah karena PT berusaha untuk menutup akses air irigasi maupun jalan. Secara tidak langsung, PT telah memaksa HE untuk menjual sawahnya. Bahkan ada satu contoh kasus ketika petani tidak bersedia menjual sawahnya walaupun dengan penawaran harga tinggi, seluruh jalan dan saluran irigasi telah ditutup secara paksa, akhirnya menjadi kondisi yang dilema bagi petani. Pada kondisi terjepit, petani terpaksa menjual sawahnya dengan harga dibawah normal. Strategi lain yang dilakukan oleh para biong- biong PT untuk menarik minat penjualan lahan adalah menawarkan harga yang lebih tinggi dari harga normal. Hal ini merupakan salah satu faktor penentu bagi HE untuk mengkonversi lahan sawah kepada PT. Sama halnya dengan kasus HE, Sumaryanto et al (1995) juga mengungkapkan bahwa harga lahan yang tinggi memang menarik minat orang lain untuk melakukan konversi lahan.

Menurut HE, tidak semua petani yang menjual sawah kepada PT karena terpaksa. Petani yang menjual sawah karena keinginan sendiri adalah petani yang ingin merubah nasib. Bagi mereka, alih profesi merupakan harapan baru untuk meningkatkan pendapatan dibandingkan dengan menggarap sawah satu atau dua petak dengan hasil yang tidak mencukupi. Hasil penjualan sawah digunakan untuk modal usaha selanjutnya, seperti untuk berdagang atau membeli angkot untuk disewakan. Berdasarkan pengamatan HE, banyak petani yang beralih profesi tetapi tidak berhasil. Salah satu contoh, petani yang beralih profesi menjadi pedagang pada akhirnya gulung tikar karena banyak pesaing, sedikit pembeli, dan kurang menguasai strategi dagang. Alasan untuk berubah ini sejalan dengan penelitian Sihaloho (2004) bahwa setiap penduduk memiliki keinginan untuk berubah ke arah yang lebih sejahtera. Namun bagi petani yang ingin tetap mempertahankan sawahnya termasuk HE, pekerjaan bertani memiliki keberkahan yang luar biasa. Terdapat pemikiran para petani bahwa nasib petani berlahan sempit tergantung pada petani berlahan luas. Ketika petani berlahan luas menjual sawahnya, kemungkinan besar petani berlahan sempit akan terjebak oleh kondisi antara menjual sawah secara terpaksa atau tetap bertahan dengan kondisi serba sulit.

Faktor lain yang menyebabkan konversi lahan terus terjadi adalah perijinan pembebasan lahan sawah di Desa Cihideung Ilir. Faktor ini sejalan dengan penelitian Yunis (2001) bahwa intervensi pemerintah telah mengundang para investor untuk membangun perumahan. Menurut HE, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan petani dengan melakukan pembatasan

41 terhadap pembangunan perumahan. Pembangunan perumahan yang terus dilakukan dapat menyebabkan hilangnya sawah di Desa Cihideung Ilir.

Menurut saya, kalau pemerintah desa terus mengijinkan adanya pembangunan perumahan, berarti pemerintah desa tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap masyarakat.”

Perijinan pembangunan oleh pemerintah yang pada dasarnya ditentang oleh masyarakat desa juga sejalan dengan sikap negatif responden terhadap pernyataan:

“Bagi saya, adanya alih fungsi lahan sawah menjadi non sawah tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani maupun buruh tani”. Sikap negatif ini ditunjukkan dengan besarnya proporsi penilaian responden yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju pada pernyataan tersebut. Sekitar 73,3% responden menyatakan tidak setuju dan 21,7% responden menyatakan sangat tidak setuju. Pada kondisi ini masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk menentang melalui aksi (tindakan nyata) untuk menghalangi terjadinya konversi lahan pertanian. Selain itu, tekanan-tekanan yang dilakukan oleh para pengembang menyebabkan petani berada dalam kondisi sulit dan terpaksa melakukan penjualan lahan sawah. Disisi lain, penjualan lahan dimulai oleh orang-orang yang ingin merubah nasib keluar pertanian yang pada akhirnya menular kepada banyak orang karena pemikiran jangka pendek untuk memperoleh uang. Oleh karena itu, saat ini sulit untuk mempertahankan sawah karena perbedaan kepentingan masing-masing pemilik lahan.

Menurut HE, pengurangan lahan sawah bukan hanya disebabkan oleh PT yang terus membangun perumahan, tetapi banyak penduduk asli yang melakukan konversi lahan pertanian menjadi rumah secara perlahan-lahan. Artinya, pertambahan jumlah anggota dalam keluarga mempengaruhi tindakan untuk membangun rumah bagi anggota keluarga yang baru.

Kasus berikutnya adalah konversi lahan sawah yang dilalukan oleh HS. Pada tahun 2008, sawah seluas 1600 m2 milik HS berada dalam kondisi terjepit. Di sekitar sawah milik HS, sawah-sawah milik orang lain ternyata sudah terjual kepada PT. Strategi yang dilakukan PT untuk membangun perumahan telah diketahui oleh para petani, yaitu membeli satu per satu bagian sawah yang berada dalam lokasi target dan berusaha menghancurkan sawah yang belum terbeli. Saat itu, HS terpaksa menjual sawah kepada PT karena sawah HS berada dalam kondisi serba sulit. Kondisi ini juga tergambar dalam penelitian Maftuchah (2005) bahwa lahan yang berbatasan dengan perumahan dapat menyebabkan konversi lahan. Pada kasus HS, beberapa bangunan telah menghambat saluran air sehingga sawah menjadi kering dan pada akhirnya tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Menurut HS, konversi lahan pertanian menjadi perumahan merupakan salah satu perkembangan zaman. Jumlah penduduk di kota semakin banyak, akibatnya penduduk kota banyak yang mencari tempat tinggal di desa. Apalagi harga lahan di desa tidak semahal harga lahan di kota. Pada penelitian Sihaloho (2004) dan Irawan (2005) juga menjelaskan bahwa pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan tempat tinggal semakin tinggi. Selain faktor kependudukan, HS