• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran umum tentang Panwaslu Kota Makassar

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Strategi Penertiban Baliho Caleg Sebagaimana diketahui bahwa Panwaslu dalam menjalankan peran

1. Kordinasi Satuan Polisi Praja (Satpol PP)

Kordinasi yang dilakukan oleh (Satpol PP) dalam bentuk tindakan penertiban baliho calon legislatif yang dimana pelanggaran tentang pemasangan atribut partai (baliho caleg). Fungsi dan kebijakan satuan polisi praja adalah menerima laporan terhadap panwaslu tentang adanya dugaan/pelanggaran baliho caleg maupun partai politik yang ada dikota Makassar baik ditinjau dari tempat (wadah) maupun waktu (spayer) tentang masa berlaku baliho caleg dan partai politik. Selain itu bahwa fungsi dan kebijakan Satuan Polisi Praja adalah menertibkan baliho caleg dan partai baik dilihat dari wilayah kota/kelurahan yang ada dikota Makassar. Sebagaiman dijelaskan bahwa fungsi (Satpol PP) mempunyai kebijakan didalam melakukan pengambilan keputusan tentang tata tertib atribut baliho dan partai caleg baik ditinjau dari tempat (wadah) dan waktu (espayaer) masa berlaku baliho, maka dari penjelasan diatas bahwa ada 2 pembagian yaitu :

a. Tempat terjadinya pelanggaran baliho calon legislatif dikota Makassar

Tempat adalah wadah dimana terjadinya pelanggaran kampanye atribut baliho calon legislatif kota Makassar dan diantara total ada 15 partai nasional yang ada di Indonesia dan selebihnya ada 3 partai yang dimilki oleh daerah Aceh . Maka dari itu penjelasan tentang pelanggaran baliho calon legislatif tahun 2014 dan wilayah kota Makassar , yang akan dibahas melalui tabel

011 PBB Tamalanrea Rumah Sakit

dan Pohon 172

012 PKPI Wajo Sekolah dan

Masjid 154

013 Total keseluruhan 2510

Sumber KPU (Komisi Pemilihan Umum) 2014 kota Makassar

sebagaimana yang dijelaskan tentang keseluruhan pelanggaran diatas maka jumlah 2510 pelanggaran baliho calon legislatif maupun baliho partai politik yang ada dikota Makassar. Sedangkan jumlah pelanggaran yang tidak sesuai aturan tempat yang telah ditentukan oleh Komisi pemilihan Umum (KPU) kota Makassar diantaranya adalah Golkar terdapat 272 pelanggaran yang telah melanggar diluar zona (KPU) kota Makassar yaitu Pohon, Rumah Sakit dan Sekolah yang ada di daerah panakukang kota Makassar . sedangkan untuk yang terendah didalam melakukan pelanggaran diluar zona yang telah ditentukan oleh (KPU) kota Makassar terdapat pada PKPI yang jumlah keseluruhanya 154 baliho calon legislatif dan partai politik yaitu zona pelarangan tempat Sekolah dan Masjid.

Adapun wawancara yang dilakukan oleh HRM terkait dengan kordinasi satpol didalam melakukan tindakan pelanggaran baliho caleg dan partai politik.

‘’ Saya kira kordinasi yang dilakukan dengan panwaslu sangatlah penting karna menyangkut masalah penataan kota Makassar dan kordinasi yang dilakukan satpol (PP) sangat baik demi untuk mencapai tujuan masing-masing baik satpol (PP) maupun Panwaslu kota Makassar dan ini akan menyangkut masalah keindahan kota Makassar. Sebagaimana program walikota Makassar yaitu tentang penghijauan kota yang artinya bahwa pohon harus dilindungi. Akan tetapi kenyataanya para caleg ini

tidak jera dan seakan-akan tidak mempedulikan kota. Padahal kalau dilihat dari janji-janjinya luar biasa kepada masyarakat apalagi masyarakat kurang pendidikanya, maka itu akan tergiur dengan janji-janji caleg’’ (Hasil wawancara dengan HRM, Pada tanggal 22 Mei 2014).

Berdasarkan penjelasan oleh informan di atas, dapat diketahui bahwa kordinasi yang dilakukan oleh satpol(PP) efektif didalam pencapaian tujuan baik ditinjau dari tempat penertiban baliho calon legislatif dan partai politik. dan kordinasi yang dilakukan oleh satpol (PP) reel untuk penataan ruang kota.

Selain bahwa kordinasi yang dilakukan oleh satpol mengenai masalah undang-undang Komisi Pemilihan Umum (KPU) yaitu No 15 tahun 2013 tentang Pedoman pelaksanaan Pemilu. Akan tetapi undang-undang kurang efektif terhadap legislator sehingga berpeluang untuk melakukan pelanggaran tata atribut partai politik. Dan ini akan berdampak kepada penataan kota yang bersih dikota Makassar.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan LKY terkai dengan kordinasi pemerintah.

‘’ Saya kira kalau kordinasi yang dilakukan oleh satpol (PP) betul-betul untuk penataan kota. Maka kota Makassar akan menjadi kota yang bersih, namun kenyataanya yang saya lihat bahwa masih banyak kekurangan yang dimiliki oleh satpol (PP) kota Makassar baik ditinjau dari Sumber daya Manusia, maupun Sumber Daya Alam. sumber daya manusia yang dimaksudkan adalah megenai kebijakan aparat didalam mengambil keputusan kerja. Sedangkan Sumber Daya Alam adalah megenai masalah transportasi didalam melakukan penertiban baliho caleg, yang artinya bahwa masih mempunyai keterbatasan didalam melakukan kebijakan’’ (Hasil wawancara dengan LKY, pada tanggal 22 Mei 2014).

Sesuai dengan penjelasan dari informan di atas, megenai kordinasi yang dilakukan oleh satuan (PP) reel untuk penertiban baliho partai politik maupun

baliho calon legislatif dan kebijakan yang dilakukan oleh satuan (PP) untuk penataan kota yang bersih, akan tetapi fakta dan peneliti menurut diatas bahwa kordinasi yang dilakukan oleh satpol (PP) mempunyai keterbatasan baik ditinjau dari pelaksanaan sampai Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam. Ditinjau dari segi Sumber Daya Manusia adalah bahwa mempunyai keterabatasan didalam mengambil kebijakan dan keputusan di dalam melakukan penertiban baliho calon legislatif, maka peneliti melihat belum maksimal didalam melakukan penertiban diefek karna mempunyai keterbatasan personel aparat satuan (PP). Sedangkan ditinjau dari Sumber Daya Alam adalah bahwa satuan (PP) mempunyai keterbatasan didalam melakukan penertiban diefek oleh transportasi untuk pengangkutan sampah baliho calon legislatif dan partai politik. Dan wilayah Makassar mempunyai 14 kecamatan sehingga luas daerah Makassar tidak terkontrol diefek oleh aparat dan transportasi.

b. Waktu (espayer) masa berlaku baliho calon legislatif dan Partai Politik Terkait masalah waktu yang telah ditentukan oleh KPU kota Makassar undang-undang 22 tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilu yang dimana semua partai politik diwajibkan memasang baliho partai yang telah ditentukan zona tempat dan waktu masa berlakunya baliho partai politik yaitu 3 bulan memasang baliho partai politik. Sebagaimana untuk mempormosikan legislator terhadap masyrakat (Publik) dan peran legislator disini adalah untuk bersaing didalam pemilihan umum tahun 2014 dan baliho partai ini adalah sebagai jembatan untuk memperkenalkan diri terhadap publik.

Selain itu bahwa peran aparat pemerintah kota Makassar adalah (Satpol PP) berperan didalam mengambil keputusan didalam mengambil kebijakan tentang penertiban baliho caleg dan partai sebagaiman yang direalisasikan oleh Panwaslu Kota Makassar untuk penataan kota Makassar yang efektif.

Sebagaiaman yang diprogram oleh walikota Makassar yaitu pencapaian kawasan bersih seperti pohon dan sekolah, rumah sakit, masjid dan kantor instansi pemerintahan lainya yang berpengaruh terhadap yang telah diebutkan diatas.

Selain itu bahwa mengenai tabel dibawah yang akan dijelaskan tentang waktu penertiban baliho dan partai yang mengenai masalah kadualrsa (espayer) baliho partai politik sebagai berikut.

Sumber KPU (Komisi Pemilihan Umum) 2014 kota Makassar

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa luas wilayah kelurahan yang ada dikota Makassar berjumlah 14 kecamatan, sehingga tingkat pelanggaran tata tertib berpeluang diefek oleh luas wilayah yang tidak terkontrol dan undang-undang kurang maksimal terhadap calon legislator. Dan jumlah pelanggaran baliho kadualrsa (espayer) keseluruhan baliho caleg dan partai politik 277.

Sedangkan jumlah partai yang tertinggi adalah partai Golkar 32 masa kadualrsa sedangkan yang terendah adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain diefek oleh Panwaslu kota Makassar yang dimana Panwaslu bersifat sementara dan kinerja yang kurang maksimal diefek keterlambatan surat yang direalisasikan oleh aparat pemerintah satuan (PP). sehingga baliho dan partai politik yang tidak teratasi.

Adapun wawancara yang dilakukan dengan SYB terkait masalah waktu (espayer) masa berlakukanya baliho sebagai berikut :

‘’Saya kira ada aturan yang dilakukan oleh KPU Kota Makassar kenapa sampai saat ini masih banyak baliho caleg dan partai yang masih saja saya lihat dipinggir jalan, dan itu akan merusak pemandangan kota . apalagi pemilihan ini sudah akan berakhir. Apa karna pihak parpol atau caleg yang tidak tertibkan ataukah pihak pelayan yaitu panwaslu dan satpol (PP) yang malas turun dijalan’’ (Hasil wawancara dengan SYB, Pada tanggal 24 Mei 2014).

Sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwa terdapat baliho yang masa sudah berakhir (espayer) akan tetapi masih terdapat baliho yang menghiasi jalan prtokol kota Makassar . apakah diakibatkan oleh para legislator yang tidak menurunkan atributnya baik baliho caleg maupun partai politik atau Panwaslu kota makassar, aparat pelayan satpol (PP) yang tidak menertibkan baliho caleg

dan parpol sebagaimana tentang No 22 tentang Penyelenggaraan Pemilu tahun 2007. Dan ini akan berdampak terhadap publik karna diefek tentang penataan kota Makassar yang tidak tertib. Peneliti melihat bahwa koordinasi yang dilakukan aparat satuan (PP) menerima dugaan/laporan terhadap panwaslu sehingga tidak terdapat baliho masa berlakunya yang kaduarsa (espayer).

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan oleh AGS terkait masalah waktu masa berakhirnya baliho yang diturunkan yaitu kadaluarsa (espayer) sebagai berikut :

‘’ menurut pengamatan yang saya lihat bahwa banyak baliho caleg dan partai politik yang masa berlaku baliho caleg yang sudah berakhir, akan tetapi saya melihat masih banyak baliho yang belum ditertibkan, apalagi daerah kota makassar terdapat lorong-lorong yang belum diturunkan baliho partainya dan jangkauan teransportasi yang sulit dijangkau didalam menertibkan baliho caleg dan partai politik’’ (Hasil wawancara AGS pada tanggal 24 Mei ).

Berdasarkan penjelasan informan diatas, dapat diketahui bahwa terdapat baliho yang melanggar aturan yang mengenai masa berlakunya baliho caleg dan partai politik yang kadalursa (espayer). Diefekan masalah transportasi didalam melakukan penertiban atribut kampanye. Dan mengenai masalah tempat yang tidak terjangkau didalam melakukan penertiban yaitu disetiap sudut dan daerah yang kecil seperti lorong-lorong yang ada dikota Makassar . dan mengenai masalah luas wilayah yang ditertibkan oleh satpol (PP) yang terbatas didalam personil sehingga kota Makassar yang tidak efektif didalam melakukan penataan ruang dan wilayah.

2. Anggaran (Financial)

Sebagaimana yang diartikan adalah megenai masalah anggaran pemilihan umum No 22 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu baik ditingkat kabupaten/kota. Dan anggaran tentang pemilihan calon legislatif (DPR) bersumber pada Anggaran Pendapatan Hasil Daerah (APBD) Sebagaimana Undang-Undang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. daerah setempat yang tentunya sangatlah berpengaruh dalam memperlancar kinerja Panwaslu. Sehingga mengenai penganggarannya disesuaikan dengan pendapatan daerah setempat yang tentunya sangatlah berpengaruh juga dalam memperlancar kinerja Panwaslu.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan MHT terkait dengan anggaran pemilihan umum legislatif dan panwaslu kota Makassar

‘’Apakah anggaran ini sangat berpengaruh terhadap kinerja panwaslu maupun satpol (PP) didalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi masing-masing akan tercapainya dan tepat sasaran didalam melakukan tindakan dan keputusan. Akan tetapi saya lihat masih banyak baliho caleg dan partai yang berserakan dijalan maupun dtinjau dari zona pelarangan waktu mapun tempat’’(Hasil wawancara dengan MHT, tanggal 2 juni 2014).

Sesuai dengan penjelasan dari informan di atas, bahwa apakah anggaran (Financial) akan tepat sasaran didalam mengambil kebijakan dan keputusan menindak lanjuti baliho caleg dan partai politik yang ada dikota Makassar. Selain mengenai kinerja yang berpengaruh terhadap anggaran yang diberikan oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kota Makassar (APBD) . dan menurut informan diatas bahwa anggaran yang diberikan oleh (APBD) kurang tepat sasaran. Karna mengenai masalah kinerja panwaslu yang kurang efektif didalam mengambil tindakan keputusan. Karna masalah- masalah mengenai tata tertib

baliho caleg dan partai poltik, kurang maksimal didalam menanggulangi tata tertib baliho caleg, baik ditinjau dari sarana dan prasarana.

Lebih lanjut wawancara yang dilakukan dengan ASS terkait dengan anggaran pemilu 2014.

‘’saya lihat selama ini panwaslu didalam penyelenggaraan umum (pemilu) sesuai kinerjanya, karna kenapa saya lihat di (TPS) tempat pemungutan suara maupun ditinjau pengawasan atribut partai sangat siksa . karna tidak sesuai anggaran (gaji) dari kinerja panwaslu, dan saya lihat disini bahwa pengawasan itu betul-betul mental dan tenaga yang kuat, apalagi atribut partai yang diawasi oleh panwaslu kota Makassar adalah massa pendukung partai politik yang ada di lapangan. maka saya berprinsip bahwa pemerintah harus memberikan anggaran maksimal terhadap pelaksanaan Pemilu . apalagi mengenai masalah transportasi, aparat pelayanan’’ (Hasil waawancara dengan ASS, pada tanggal 2 juni 2014).

Berdasarkan penjelasan dari informan di atas, dapat diketahui bahwa Anggaran Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) yang bersumber dari (APBD) tidak sesuai dengan regulasi yang ada baik ditinjau dari kinerja panwaslu yang efektif. Selain itu bahwa anggaran sangat berpengaruh (efektifitas) kinerja panwaslu didalam melakukan agenda baik meninjau dari observasi melaui pengawasan di (TPS) maupun yang ada dilapangan mengenai tata tertib atribut yang melanggar maupun jumlah atribut yang tertata maksimal. Bahwa meneurut diatas bahwa anggaran yang diberikan pemerintah harus sesuai regulasi didalam mengemplemantasikan baik ditinjau dari Sumber Daya Manusia maupun Sumber Daya Alam yang dikategorikan mengenai efektifitas masalah transportasi dan aparat pelayan panwaslu maupun satpol (PP).

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kota Makassar mengenai Pelaksanaan Panwaslu di dalam Penertiban Baliho Calon Legislatif (Caleg) Kota Makassar. Maka dari itu, penulis menyimpulkan dari hasil penelitian yaitu:

1. Pelaksanaan penertiban Baliho Calon Legislatif (caleg) dan Partai Politik (Parpol) yang diterapkan oleh panwaslu kota Makassar, disebabkan regulasi Undang-Undang Komisi Pemilihan Umum (KPU) kurang efektif yaitu mengenai Undang-Undang No 15 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemilu. Selain itu bahwa tidak ada regulasi UUD megenai pedoman penataan atribut serta pelarangan zona pemasangan atribut baliho calon legislatif (caleg) dan baliho partai politik (Parpol). Yang direalisasikan oleh baik Panitia Pengawas Pemilu maupun Kordinasi Satpol (PP). dan Tugas dan kewenangan masing-masing yang diperintahkan oleh (KPU) Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) adalah berfungsi sebagai Pengawas Pemilu, baik ditinjau dari pengawasan pemilihan maupun dari segi penataan atribut. Sedangkan fungsi aparat pemerintah yaitu Satpol (PP) adalah mempunyai kebijakan didalam berkoordinasi menertibkan baliho calon legislatif (Caleg) maupun baliho (parpol). Menurut hasil observasi peneliti selama dilapangan bahwa ditinjau dari sosialisasi, pengawasan, tidak diskriminasi belum efektif. Karna dilihat sosialisasi terhadap caleg belum maksimal terhadap proses komunikasi yang disampaikan oleh panwaslu karna menurut peneliti masih terdapat melanggar aturan kampanye. Sedangkan peneliti melihat dari sudut

pengawasan masih terdapat penyimpangan yaitu mengenai masalah aturan pemilihan sampai penataan atribut yang kurang efektif. Sedangkan dilihat dari sudut tidak diskriminasi, menurut peneliti obsesrvasi bahwa masih banyak efektifitas positif dari pada negatif. Postif adalah menidak lanjuti sesuai dengan prosedur dan regulasi yang ada. Yang direalisasikan oleh (KPU) terhadap (Panwaslu) dan aparat satpol (PP). Sedangkan Efektifitas Negatif adalah masih terdapat baliho dan partai politik yang ada dipersimpangan jalan-jalan protokol maupun lorong-lorong yang ada didaerah Makassar . diakibatkan oleh dari pengawasan panwaslu kurang maksimal terhadap kordinisasi yang dilakukan oleh 2 lembaga yang berwewenamg yang kurang efektif dalam pencampaian tujuan.

Terdapat dua faktor yang cukup mempengaruhi pelaksanaan penertiban baliho para caleg yaitu; (a) Kordinasi satpol (PP) baik ditinjau dari segi tingkat tempat maupun tingkat waktu (b) Anggaran (Financial). Sebagaimana hasil peneliti selama meninjau obseravasi bahwa kordinasi ada 2 tempat dan waktu yaitu : (1) Tempat adalah dimana terjadinya pelanggaran baliho caleg dan partai politik, apakah pelanggaran terjadi diarea zona pelarangan seperti tempat sekolah, masjid, pohon, dan rumah sakit. maka peneliti selama dilapangan observasi menjelaskan melalui tabel diatas. (2) Waktu adalah berlakunya masa baliho caleg dan partai poltik yang masa berlakunya sudah berakhir (espayer) maka panwaslu disini berhak melaporkan aparat satuan (PP) untuk menindak lanjuti tentang penertiban baliho caleg dan partai politik, sebagaiamana yang dijelaskan di pembahasan .

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kota Makassar mengenai Pelaksanaan Panwaslu di dalam Penertiban Baliho Calon Legislatif (Caleg) Kota Makassar, maka dari itu peneliti menyarankan:

1. Diharapkan kepada para anggota Panwaslu untuk menyusun sebuah rencana dalam rangka meminimalisir tindakan-tindakan pengawasan pelanggaran tata atribut penertiban baliho caleg dan partai politik (parpol) dan kordinasi yang dilakukan oleh aparat satpol (PP) dalam hal untuk penertiban baliho calon legislatif dan partai politik dikota Makassar.

2. Diharapkan kepada anggota Panwaslu untuk lebih memperhatikan faktor-faktor kordinasi dan anggaran dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selaku pengawas panwaslu (panwaslu), disebabkan kedua faktor tersebut merupakan kunci efektif. Dalam hal melaksanakan fungsi dan tugas yang dipengaruhi oleh anggaran dalam hal kinerja panwaslu dan aparat satpol (PP) kedepan untuk penataan kota/wilayah kota Makassar.

Sebagai saran adalah bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan yang dilakukan oleh peneliti baik dalam hal penelitian observasi maupun teori yang digunakan dalam konsep pembahasan skripsi tentang pelaksanaan penertiban baliho caleg oleh panwaslu kota Makassar. Bahwa peneliti disini mempunyai keterbatasan waktu dan tenaga dalam hal melakukan penelitian.

Dokumen terkait