• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kosmopolitanisme versus Nasionalisme pada Cerpen “Salazar”

Ideologi kosmopolitanisme diwakili oleh tokoh aku, sementara ideologi nasionalisme diwakili oleh tokoh Salazar. Ada sensibiltas di antara kedua ideologi yang secara literer tidak sepenuhnya bertentangan namun keduanya memiliki semacam kesamaan pandangan tentang konsep identitas, etnik dan tanah air. Hanya saja kosmopolitanismenya tokoh aku lebih menekankan pada kesadaran menjadi warga semesta yang menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan dan pada persentuhannya menganut paham kesetaraan negara-bangsa lintas transnasional. Lain halnya dengan Salazar, tokoh Salazar lebih kukuh pada pandangan nasionalisme teritorial yang menekankan kemerdekaan atas suatau bangsa yang teralienasi. Sementara tokoh aku mengkritisi pandangan kemerdekaan Salazar itu, akibatnya tokoh aku berkecenderungan untuk menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai nilai yang melampui cita-cita kemerdekaan Salazar.

Sensibilitas kedua ideologi inilah pada dasarnya yang menimbulkan sikap paradoksal Ajidarma terhadap cita-cita kemerdekaan Timor Timur, jika ternyata Ajidarma bertindak sebagai pengarang yang mewakili bangsa Timor Timur maka tentunya Ajidarma mendukung cita-cita kemerdekaan itu, namun faktanya narasi cerpen ―Salazar‖ diambil dari sudut pandang tokoh aku sebagai tokoh serba tahu

223

yang tidak pro terhadap cita-cita kemerdekaan melainkan lebih menekankan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.

Mulanya cerpen ―Salazar‖ diawali oleh peristiwa penantian tokoh aku terhadap Salazar di suatu kafe tua dekat hotel murahan, kota Barcelona. Sudah dua minggu tokoh aku menunggu Salazar namun ternyata Salazar tidak juga kunjung datang padanya.

―Salazar, aku menunggumu di sini, Salazar, di kafe tua, dekat hotel murahan, di sebuah lorong gelap di Barcelona. Sudah dua minggu aku menunggu kamu Salazar, tapi kamu tidak muncul-muncul juga‖ (Ajidarma, 2016: 111).

Pengalaman menunggu tokoh aku terhadap Salazar jika mengacu pada istilah Palmer, Pocock, dan Burton (2017: 3) disebut sebagai proses refleksi diri dan kesadaran diri, oleh sebab itu pengalaman menunggu tokoh aku tidak hanya dapat dibaca sebagai kerinduan seorang saudara yang menunggu kedatangan saudara kandungnya yang ada di kota Lisabon, melainkan juga dapat dimaknai sebagai ruang tunggu yang di dalamnya terdapat suatu peroses refleksi historis tentang lanskap kehidupan aku dan Salazar di masa lalu. Oleh karena itu tokoh aku berkata:

―Kamu, kan, tahu Salazar, terlalu repot bagiku menemui kamu di sana, Salazar. Aku bukan aktivis pergerakan, bukan pula tokoh politik, yang barangkali bisa mendapat peluang masuk ke negeri itu - negerimu sekarang-tanpa kerepotan yang berarti. Aku cuma rakyat biasa, lulusan SMA yang jarang membaca, tidak mengerti politik, dan tahunya hanya berjuang dari hari ke hari supaya bisa tetap hidup. Aku hampir mati karena menunggumu, Salazar, setiap hari hanya melihat orang berciuman di taman-taman kota-padahal tidak ada kepentinganku di sini kecuali bertemu denganmu, Salazar saudaraku. Bukankah kamu masih saudaraku, Salazar?‖

224

―Apakah kamu masih seperti dulu, Salazar? Kamu memang bisa ngomong tentang kemerdekaan dengan urat tegang dan mulut berbusa - suatu hal yang tidak pernah bisa kulakukan.‖

―Semuanya tidak pernah sama tanpa dirimu - seorang lelaki yang melagukan apa yang dirasakannya, seorang pemuda yang menyatakan apa yang dipikirkannya, seorang manusia yang berkata-kata dengan jelas dan jujur tentang sikap hidupnya.

Semua itulah yang telah membuatmu terlontar ke negeri yang jauh ini. betapa terasa alangkah jauhnya dirimu sekarang, Salazar, meskipun kata orang dunia telah berubah menjadi begitu sempit ... tetapi semua itu tidak membuat aku merasa dekat kepadamu‖ (Ajidarma, 2016: 111,112 113).

Kutipan data tersebut merupakan refleksi diri tokoh aku dan sekaligus merupakan pembayangan tokoh aku terhadap tokoh Salazar, artinya melalui pengalaman menunggu sebagaimana yang disebut sebelumnya mengakibatkan tokoh aku membangkitkan kembali ingatan subjektif tentang suatu peristiwa historis yang lampau tentang identitas Salazar sebagai subjek dan tentang identitas dirinya sebagai bagian dari subjek itu. Aku merefleksi dirinya sebagai identitas rakyat biasa lulusan SMA, jarang membaca dan tidak mengerti politik, dan hanya hidup berdiaspora untuk bertahan hidup, sementara di lain hal tokoh aku sekaligus merefleksi identitas Salazar sebagai manusia subjek yang bertentangan dengan dirinya; mengerti politik, suka membaca, dan mencita-citakan kemerdekaan. Perbedaan dua identitas antara aku dan Salazar kemudian menjadi semacam perbedaan ideologis antara kosmopolitanisme tokoh aku dan nasionalisme tokoh Salazar sebagaimana pernyataan tokoh aku ―Semua itu tidak membuat aku merasa

dekat kepadamu‖. Perbedaan ideologi antara kedua tokoh tersebut dipertegas pada

225

―Kita bersaudara, Salazar, mengapa kita harus terpisah begitu jauh dan menjadi orang asing satu sama lain? Aku tidak tahu apakah kamu bisa hidup tanpa segala hal yang kita cintai, tapi yang telah kamu tinggalkan, Salazar?‖ (Ajidarma, 2016: 113).

Tidak ada kesepahaman dalam pandangan antara kedua tokoh, tokoh aku menganggap keterasingan di antara keduanya disebabkan oleh perpisahan yang begitu jauh, aku di Barcelona, Salazar di Lisabon (aku tidak bisa ke Lisabon sementara Salazar tidak datang ke Barcelona). Salazar begitu mencintai kemerdekaan akibatnya Salazar diasingkan, sementara tokoh aku hanya mencintai kehidupan oleh sebab itu aku pun terasing ke Barcelona untuk bertahan hidup. Hal inilah yang kemudian menjadi ciri khas ideologi kosmopolitanisme yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan untuk melampui nilai-nilai humanisme universal ekstrem yang cenderung menekankan pada perjuangan keselamatan manusia, dan tidak menganggap universalisme manusia sebagai sebentuk penindasan atas nama keseragaman artinya kosmopolitanisme tidak mengambil satu sisi manusia seperti rasionalitas dan kebebasannya sebagai titik utama memanusiakan manusia melainkan secara totalitas bergerak ke arah pandangan hidup bersama sebagai warga semesta (Wattimena, 2018: 127). Akibatnya karena berkecenderungan melampaui nilai-nilai humanisme ektrem, ideologi kosmopolitanisme kemudian melakukan pembebasan terhadap berbagai konsep ―isme-ime‖ yang lain dan salah satunya ialah nasionalisme Salazar, militerisme serdadu, dan hal apa pun yang cenderung dipandang sebagai simtom dari alegori dehumanisasi.

―Salazar saudaraku, jika kita bertemu nanti, kuharap kita tidak usah meratapi kembali kisah-kisah yang jika dikumpulkan akan membuat air

226

mata tertumpah bercampur darah ... Semua itu terlalu pedih, Salazar, terlalu pedih untuk manusia. Ayah ditembak serdadu, Ibu dibunuh gerilya, kepada siapakah kita harus marah? Salazar? Apakah kita harus marah pada sejarah?‖

―Jika kamu muncul di lorong itu, Salazar ... aku tidak akan menambah daftar informasimu dengan kisah-kisah rutin seperti penculikan malam, peyiksaan tahanan, penyetruman wanita, pemotongan telinga, dan penyembunyian mayat dalam kotak yang diangkut dengan helikopter untuk dibuang ke tengah lautan‖ (Ajidarma, 2016: 115, 117).

Aku sebagai bagian dari warga semesta melalui pengalaman menunggunya mencoba manarik Salazar ke bagian dari konsep kosmopolitanisme oleh sebab itu aku menunggu Salazar di Barcelona, artinya ada suatu harapan pada tokoh aku untuk menjadikan Salazar sebagai bagian dari warga semesta, namun ternyata Salazar tidak datang menemuinya sehingga tokoh aku pun terus menunggu tanpa adanya kepastian dan melaluinya kemudian refleksi diri terus berlanjut hingga menyajikan semacam lanskap identitas nasionalisme etnis dimunculkan hal itu terlihat dari cara-cara tokoh aku membayangkan masa lalu secara subjektif tentang lanskap geografi imaginatif masa lalu yang jauh dan yang lampau mengenai ―tanah air kita‖ (Salazar dan aku).

―Sudah berapa tahun kamu tinggal di negeri itu, Salazar, yang sekarang menjadi negerimu, itu pun aku tidak ingin mengingat-ngingatnya lagi. Meskipun nama penduduk negeri itu hampir sama dengan nama-nama kita, dan kita menguasai bahasa mereka, tapi bukankah semuanya begitu berbeda, Salazar? Sampai sekarang aku masih selalu bertanya-tanya sebegitu besarkah harga yang disebut kemerdekaan itu bagimu sehingga rela menggantikan kenyataan dengan keterasingan?‖

―Di sini aku melihat dunia tanpa debu, tanpa keringat, rumah-rumah yang bersih, dan sapi-sapi yang gemuk, tapi apakah semua itu cukup? Dunia itu bukan dunia kita, Salazar, aku selalu tahu itu, seperti aku tahu betapa terikatnya kita dengan kambing-kambing gunung yang selalu kita manjakan

227

itu, betapa akrabnya kita dengan panas dan debu itu, yang membuat angin bertiup sore-sore itu bisa menjadi begitu nikmat menggoyangkan padang alang-alang tempat para leluhur memacu kudanya dengan gagah mengenakan busana tenunan kain-kain terindah dan aksesori logam yang gemerincing di antara nyanyian dalam tarian adat yang selalu meriah dan ceria‖ (Ajidarma, 2016: 115, 116).

Proses pembayangan tokoh aku kemudian menimbulkan pertanyaan ontologis apakah identitas aku dan Salazar akan mundur ke belakang sebagai bagian dai bangsa suatu tanah air (Timor Timur)? atau dibiarkan begitu saja menjadi bagian dari bangsa semesta yang berdiaspora antara ke Barcelona atau Lisabon? Tetapi hal itu tampaknya menjadi hal yang membingungkan ketika dihadapkan pada suatu konsep nasionalisme etnis yang mencita-citakan kemerdekaan, di satu sisi tokoh aku tidak menginginkan Barcelona dan Lisabon tetapi aku lebih menginginkan tanah air hal itu terlihat dari sikap tokoh aku yang merasa terasing di Barcelona dan sekaligus menolak Lisabon sebagai kota tempat tinggal sementara di sisi lain tokoh aku membayangkan tanah air sebagai tempat tinggal yang sah bagi komunitas bangsanya (Salazar dan aku), namun semuanya itu bertentangan dengan pandangan hidupnya yang menolak cita-cita kemerdekaan Salazar dan lebih baik memilih hidup sebagai manusia kosmopolitanis. Oleh sebab itu seperti yang dikatan Budiawan (1998: 212) dan Marshall Clark (via McRae, 2002: 55) bahwa sikap Ajidarma melalui cerpen ―Salazar‖ sebenarnya paradoks, di satu sisi Ajidarma bersimpati terhadap korban insiden Timor Timur tetapi di lain sisi Ajidarma tidak mendukung cita-cita kemerdekaan bangsa Timor Timur.

228

Garis besar

Dokumen terkait