• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA

4.8 Kota memiliki Fasilitas yang mendukung

Claude Fischer mengatakan bahwa kota-kota itu merupakan tempat-tempat yang subur dimana terdapat sub kultur yang berbeda-beda dan sehat dapat berkembang baik dengan fasilitas yang lebih memadai dari pada desa. Oleh karena itu akan timbul kemudian kelompok-kelompok dengan latar belakang yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula yang akibatnya akan timbul persaingan, perlawanan dan saling menganggap kebudayaannya yang benar.

Dengan hal ini peneliti membuktikan bahwa munculnya berbagai jenis komunitas seperti komunitas motor, komunitas anak punk atau sebagainya hanya terjadi di perkotaan, hal ini dikarenakan kota memberikan fasilitas serta memberikan kebebasan untuk masyarakatnya mengeksplor diri berdasarkan kemampuan masing-masing dan pemerintah kota memfasilitasi dengan baik dengan ketentuan dan peraturan yang telah mereka tetapkan. Hal ini terbukti dari

89 Kami memang memiliki hobi bermotor, tetapi kak bisa lihat tentu hobi bermotor para anak muda itu hanya ada di kota lah kak, kalau di pedesaan mah dianggap hal yang tabu dan akan dikucilkan, kalau di kota memang udah hal biasa dan bahkan ada tempat-tempat khusus untuk kami nongkrong gitu (Sari Putri).

Banyak lah kak komunitas atau kelompok di kota, gak Cuma komunitas motor aja, ada anak punk ada komunitas hijabers ada yang lainnya. Ya kalau menurut aku ya kak, karena kota yang memberikan kebebasan buat kita para anak muda untuk berekspresi kak sesuai minat kita kak, kakak bisa lihat sendiri banyak tempat-tempat tertentu di kota ini udah memang kayak dijadikan tempat untuk kita melakukan kegiatan yang kita minati ( Imek, 21 tahun).

Pada dasarnya kota yang memberikan fasilitas untuk munculnya berbagai jenis kelompok sosial di tengah-tengah masyarakat urban yang memiliki latar belakang yang heterogen. Tentu dalam hal ini peneliti tidak akan menilai bahwa ini menjadi dampak negatif yang dihadirkan oleh banyaknya masyarakat yang urbanisasi ke kota, tentu ini menjadi hal yang postif karena peneliti melihat potensi yang terus berkembang di perkotaan.

Hal diatas senada dengan Louis Wirth (1938) dalam (cities and communities: 493), dengan bertolak dari hasil penelitiannya dan definisinya tentang kota yang kualitatif, melihat kehidupan kota, dan mengemukakan bahwa :

“Kebanyakan hubungan orang-orang kota digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu saja seperti tujuan komunitas atau kelompoknya. Dan orang kota memiliki semacam emansipasi atau kebebasan untuk menghindar dari pengawasan oleh kelompok kecil atas keinginan dan emosinya”.

Dengan penelitian Louis Wirth dan penelitian yang dilakukan penulis juga tentang komunitas di perkotaan terjadi persamaan bahwa memang secara benar kota memberikan daya tarik masyarakat untuk urbanisasi dan memberikan fasilitas untuk munculnya kelompok-kelompok sosial ditengah masyarakat.

90 Gambar 4.6

Kegiatan ini dilakukan komunitas PLATBK di parkiran bandara polonia, mereka melakukan kegiatan ini bersama komunitas-komunitas lain dan seizin pemerintah kota. Dalam hal ini izin mereka peroleh dari pihak yang berwajib, tentu hal ini juga sesuai peraturan yang mereka sepakati. Hal ini juga dibuktikan dengan wawancara peneliti dengan imek selaku ketua PLATBK.

Kalau soal tempat, itu kami selalu mendapat izin dari pihak pemerintah kota kak, selagi kami tidak merusak fasilitas umum juga tidak berbuat hal-hal anarkis maka pihak pemerintah kota memberikan izin, contohnya parkiran polonia inilah kan kak, tentu fungsinya sekarang sangat tidak ada maka dari pada rusak banget tanpa ada perawatan maka kami memanfaatkannya untuk kegiatan yang baik agar juga tidak dilupakan begitu aja polonia ini oleh masyarakat Kota Medan, tentu aku rasa hal ini justru lebih positif kan kak, masih banyak lagi kak tempat- tempat di kota ini gak cuma di Medan aku rasa di kota lainnya pun begitu memberikan sarana untuk kami berekspresi (imek 21 tahun).

Kalau aku ya kak, gak cuma tempat aja kota ini memberikan fasilitas tetapi dari cara masyarakatnya menanggapi banyaknya timbul komunitas itu juga salah satu fasilitas kak, coba kakak lihat kalau kita di desa pasti kalau ada kelompok yang aneh udah ditanggapi aneh juga sama masyarakatnya tentu ini aku rasa karena pendidikan itu kak, karena orang kota pendidikannya kan lebih baik dari orang desa (Bimbie 20 tahun).

91 Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dikategorikan kota memiliki fasilitas yang mendukung yang dibedakan dalam dua hal yakni fisik dan non-fisik antara lain:

1. Kota Memiliki Fasilitas dalam Hal Fisik a. Tempat atau Lokasi

Dalam hal ini kota memberikan tempat-tempat untuk para komunitas untuk berekspresi sesuai minatnya agar dapat tersalurkan dengan baik tanpa merusak fasilitas umum. Di antara tempat-tempat tersebut di Kota Medan adalah seperti Parkiran Polonia, Parkiran Mesjid Raya, Taman Kota Medan dan lainnya.

b. Alat

Dalam hal ini yang dimaksud alat adalah sesuatu yang dapat dijadikan modal untuk komunitas itu berekspresi, misal kalau komunitas motor tentu alatnya adalah berbagai jenis motor dari jaman dulu sampai yang terbaru. Maka tentu alat- alat tersebut akan diperoleh di kota bukan di desa.

2. Kota Memfasilitasi dalam Hal Non-Fisik

Ketika para komunitas berbuat sesuatu hal yang baru dan cenderung aneh, maka masyarakat kota tidak akan memberikan sesuatu hal yang buruk kepada mereka seperti diusir, hanya di desa lah hal-hal ini bisa terjadi.

a. Pendidikan atau Pengetahuan yang tinggi

Kota menawarkan pendidikan dan pengetahuan yang tinggi dengan banyaknya fasilitas fisik seperti kampus dan sekolah-sekolah dalam tingkat yang

92 lebih tinggi yang tidak ada di desa, tentu dengan hal ini menciptakan individu- individu yang berpengetahuan tinggi sehingga mereka menuntut akan kebebasan dalam menyalurkan hobi serta minat mereka.

Hal ini terbukti dalam kaum perempuan bahwa banyaknya di kota para perempuan yang cerdas dan berpengetahuan tinggi membuat para kaum perempuan meminta untuk disejajarkan dengan para kaum laki-laki dalam hal menyalurkan hobi dan minat mereka. Oleh karena itu muncul lah komunitas motor perempuan PLATBK menjadi yang pertama di Kota Medan dikarenakan banyaknya para perempuan yang memiliki hobi bermotor juga.

Berdasarkan hal-hal yang dijelaskan maka menurut hasil penelitian peneliti bahwa kota memang memberikan fasilitas untuk hadirnya komunitas atau kelompok sosial di tengah masyarakat kota sesuai dengan kategori masing-masing berdasarkan latar belakang tertentu yang menurut mereka itu yang dapat menguatkan satu dengan yang lain antar anggota. Tentu hal ini tidak jarang akan menimbulkan adanya kecemburuan sosial dikalangan komunitas itu sendiri.

4.9 Bentuk Penerapan Postmodernisme dalam Kehidupan PLATBK

Dokumen terkait