• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kri tik Eks tern

Dalam dokumen BAB II DESKRIPSI PRASASTI (Halaman 27-36)

KRITIK SUMBER

1.1 Kri tik Eks tern

Prasasti sebagai sal ah satu dat a ut am a dalam rekonst ruksi s ej arah tidak han ya berperan s ebagai unsur penunj ang dat a kontekstual, mel ainkan juga menghubungkan benda dengan kis ah sejarah (Sed yawati , 1994: 4) . Ol eh karena it u , di perlukan t ahapan khusus untuk menget ahui apakah s uat u prasast i l a yak dijadikan dat a s ej arah dengan menggunakan t ahapan kritik sumber. Tahap kriti k s umber merupakan metode pengol ahan dat a yang dil akukan untuk m enguji ot enti sitas dat a prim er, yait u pras as ti Mātaj i . Tahapan ini penting unt uk dilakukan karena bertujuan untuk m enget ahui dan m enguji keasli an pras asti Mātaji sehingga bisa dianggap layak atau tidak untuk dijadikan sebagai dat a s ej arah. M etode kri tik teks yang di gunakan dibagi menj adi 2 macam, ya itu kriti k ekst ern dan kri tik i nt ern.

1.1 Kri tik Eks tern

Tahapan kritik ekst ern m eliputi pros es penguji an berdas arkan dat a fi sik prasasti berupa unsur m at eri (bentuk dan bahan), pal eografi (jenis aks ara dan bahas a), dan lokas i keberadaan pras asti (t ermasuk lokasi penemuan dan t empat pen yi m panan) yang nanti n ya akan membant u penentuan kronol ogi pras ast i dan m embuktikan bahwa dat a ini memang di buat pad a zam ann ya. Hal i ni perl u dil akukan mengingat kriti k eks tern dil akukan m en yangkut mas al ah keas lian ( otentisit as ) pras asti yang di lakukan unt uk menghindari ketidaks es uai an anakronis me data dengan jam ann ya. Dengan tahapan kriti k teks ini akan di ketahui apakah prasasti Māt aji la yak untuk dij adikan dat a sej arah Indonesi a Kuna.

Universitas Indonesia andesi t80 karena teksturn ya yang kuat dan ti dak mudah hancur, s ehi ngga pras asti it u dapat bertahan l ama dan dapat di baca m eski pun ada juga diketahui kapan pras asti itu dikel uarkan/ dipahatkan karena seorang raj a mengel uarkan pras asti dengan ciri khusus yang berbeda dengan raj a

80 Batuan andesit merupakan batu-batuan keras yang berasal dari gunung berapi dan biasanya dipakai sebagai bahan bangunan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989: 35)

81 Variasi bentuk prasasti batu, diantaranya : 1. bentuk tiang batu

2. bentuk batu alam tidak beraturan dengan variasi permukaan tidak rata dan rata 3. bentuk lingga

4. bentuk blok dengan variasi berpuncak rata, kurawal, setengah lingkaran, dan lancip 5. bentuk wadah

6. bentuk arca

Prasasti j enis s tel e berpuncak l anci p m erupakan pras asti yang dengan pras asti lain yang s ej am an dapat dilihat pada t abel berikut:

Tabel 1

Universitas Indonesia

proses upacara at au serah terim a prasasti dari raj a kepada daerah yang menerim a pras asti itu , dan s aksi -s aksi yang hadir s aat penet apan pras asti .). P anj ang pendekn ya penuli san suat u pras asti t ergantung pada kebutuhan yang berkait an dengan m asal ah yang akan di angk at dal am pras asti , sehi ngga s emaki n panjang urai an suat u pras asti , maka sem akin ban yak i nform asi ya ng dapat diperol eh.

Pada pras ast i Māt aji, bi dang penulis an m eliputi 4 bagian permukaan, yait u bagi an depan (recto), bagian bel akang (verso), s ert a dua s isi s ampi ng kanan dan kiri . Dari bidang penulis an j uga dapat diketahui kapan prasasti it u dibuat, karena umum n ya m asing -m asi ng jam an mempun yai ci ri -ci ri bidang penuli s an yang berbeda -beda. Bidang penulis an pada pras asti abad ke -7 hingga abad ke -8 umumn ya meli puti Aks ara yang di pahatkan berjuml ah 35 bari s dengan ukuran yang bervarias i dengan panjang 1 -2.5 cm, l ebar 1 -1.5 cm, j arak ant ar aks ara kurang l ebi h 0.5 -1 cm, sert a j arak ant ar baris kurang l ebi h 2.5 cm . Prasasti Mātaji menggunakan aksara Jawa Kuna yang merupakan kel anj ut an aks ara m asa Ai rlangga dengan ciri-ci ri bentuk das ar pers egi , tegak dan ti dak l agi condong ke arah kanan, s ert a masih m enggunakan kuncir pada bagi an s udut kanan / ki ri at as aksara t ertentu82.

4.1.2 Uns ur Pal eogr afis

Pal eografi83 adal ah penget ahuan mengenai tulisan -tulis an kuna (Kamus Is til ah Arkeologi . 1978:118) . Defini si l ain , pal eografi merupakan st udi ya ng mem pel aj ari jeni s, bentuk, dan perkembangan tulisan / aks ara kuna yang dituliskan , baik di atas bahan -bahan yang lunak / l entur -s epert i kai n, kulit ka yu, dan lont ar m aupun di at as bahan yang keras seperti batu, logam, ka yu, dan tanah li at (Pras odjo, 1992: 48)

82 Seringkali ada ketidakkonsistensi pada penulisan aksara yang sama, karena ditemukan ada yang menggunakan kuncir dan ada yang tidak.

83 Paleografi berasal dari bahasa latin, yaitu palaeo yang berarti tua, dan graphien yang berarti tulisan.

Jadi, palaeography berarti ilmu mengenai tulisan-tulisan kuno

Kaj ian pal eografis di gunakan mengingat ban yak pras ast i yang paleografis prasasti Mātaji dimaksudkan untuk mengkaji bentuk dan ga ya penulis an aks ara yang di gunakan pada prasasti M ātaji , mengingat men yem pit dan pada baris -baris akhir berhimpit an (tunpang ti ndih) sat u sam a l ain sehi ngga seringkal i sukar dibedakan antara aksara induk

84 Fragmen adalah bagian prasasti yang telah pecah menjadi bagian-bagian kecil akibat patah atau sebab-sebab lainnya.

85 Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari mengenai pertulisan dan prasasti (Tim Penyusun Kamus

Universitas Indonesia menulis prasasti Mātaji tidak memiliki keterampilan yang cukup.

Aks ara yang di gunakan di prasasti Māt aji dapat dibeda kan dal am

87 Lihat keterangan pada catatan kaki nomor 16

88 Kuncir adalah guratan kecil yang ditorehkan pada bagian ujung atas aksara, baik bagian ujung kanan maupun ujung kiri. Contoh kuncir pada aksara ka ( )

89 Lihat keterangan pada catatan kaki nomor 98

ňa ( ), ńa ( ), ņa ( ), śa ( ), dha ( ), ha ( ), la ( ), ca ( ), ba ( ), bha ( ), dan j a ( ).

Pada tabel berikut dapat dili hat perbandingan aksara yang digunakan oleh prasasti Mātaji dan prasasti lain yang sejaman.

Tabel 2

Universitas Indonesia

Seri ngkali , citral ekha melakukan kesalahan dal am pem berian kuncir pada aksara t ertentu. S atu aksara yang s am a seringkali ditulis kan berbeda: berkuncir pada sal ah sat u sisi prasasti dan ti dak diberi kan kunci r pada bagi an pras ast i yang lain. Dibawah ini, tabel contoh ketidakkons i s tens i citralekha dal am pemberi an kuncir:

Tabel 3

Contoh k etidakkonsistensi d alam p emb erian kun ci r

Aks ara Kal imat 1 Kal imat 2 tertentu, citralekha j uga s eringkal i m el akukan kes al ahan dal am menuli s kat a-kata tert ent u. Di bawah i ni m erupakan daft ar kes alahan citr alekha dal am m enulis kat a -kat a dal am prasasti Māt aji :

Tab el 4

Contoh k etidakkons istensi d alam p enuli san kata

1. Penul is an kat a

Mātaji matāji Mātaji

Seringkali pada prasasti Mātaji d ijumpai ketidakkonsistensi citralekha dalam m enulis aks ara, mi sal nya pada aksara ra ( ), na ( ), śa ( ), sa ( ), ta ( ), ma ( ), dan j a ( ). Di bawah i ni merupakan tabel keti dakkonsist ens i citral ekha dalam m enul is aks ara :

Tabel 5

90 Awal katanya adalah ron tal atau dalam bahasa Indonesia berarti daun pohon tal. Lontar merupakan hasil dari perendaman daun pohon tal sehingga menjadi lunak dan lebih tahan lama. Pada masa dahulu fungsi lontar adalah seperti kertas pada masa sekarang, yaitu sebagai media penulisan.

Bentuknya seperti bilah tipis bambu yang dirangkai dengan semacam tali sehingga membentuk

Universitas Indonesia

berbah an keras (bat u at au logam) untuk kemudi an dis impan d i daerah yang bers angkut an .

Sebagaim ana t elah diuraikan sebel umn ya , perint ah at au anugerah raj a l ebih dahulu di tuliskan pad a bahan lunak s eperti l ontar sebelum dituliskan pada bahan keras seperti batu at au l ogam. P ada m asa dahulu, pras asti s eringkali dibuat s alinan ( copy) lebi h dari satu. P ras asti i nduk bias an ya dipahatkan pada batu dan dilet akkan di daerah yang bers angkut an s ert a berfungsi sebagai maklum at bagi rak yat daerah it u, sedangkan s alinannya dipahat kan pada bahan l ogam (mis aln ya tembaga). Boechari (1977a: 5) m engat akan bahwa l uas kekuasaan seorang raj a ant ara l ain dapat diket ahui berdasarkan letak pras asti yang diterbi tkann ya. Terutam a apabila pras asti itu masih i ns itu91 dan men yebut “wanua i tpi siring ”, m aka dapat diket ahui luas daerah kekuasaan raj a ya ng m enerbitkan pras asti itu. Pras ast i Māt aji dipahatkan pada batu yang beruku ran cukup bes ar, s ehi ngga bila pras asti ini tel ah bergeser, pasti tidak akan t erl al u j auh dari l okasi as aln ya.

Tipe aksara yang digunakan dalam prasasti Mātaji merupakan tipe aksara yang mirip dengan masa Airlangga. Pada prasasti Mātaji, aks ara dituli skan t egak dengan ga ya yang lebih s ederhana dari pada tipe aks ara Ai rl angga. Ti pe i ni kemudian banyak di gunakan dal am pras asti yang dikeluarkan s es udah m asa Jitêndra.

Dalam dokumen BAB II DESKRIPSI PRASASTI (Halaman 27-36)

Dokumen terkait