• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL

4.4 Analisis Finansial

4.4.2 Kriteria analisis usaha

1) Rasio imbangan penerimaan dan biaya (R/C)

R/C merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total

biaya. Setiap pelaku usaha selalu mengharapkan keuntungan dari kegiatanusaha yang dilakukan, begitupun dengan nelayan. Rasio imbang penerimaan dan biaya digunakan untuk mengetahui seberapa besar biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha sehingga dapat memberikan sejumlah

keuntungan dari penerimaan yang diperoleh. Analisis R/C merupakan

perbandingan antara nilai penerimaan per tahun dengan biaya yang telah

dikeluarkan setiap tahun. Analisis R/C juga dapat digunakan untuk menilai

efisiensi biaya yang telah dikeluarkan (Djamin 1984).

Analisis R/C dilakukan untuk melihat berapa penerimaan yang diperoleh

dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan pada unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan.

Hasil analisis unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan

bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan diperoleh nilai R/C sebesar 1,37 dan

1,56 yang artinya setiap satu rupiah total biaya yang dikeluarkan untuk usaha akan menghasilkan total penerimaan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,56 atau memberikan keuntungan sebesar Rp 0,13 dan Rp 0,15 (Lampiran 16 dan Lampiran 20).

Analisis imbangan penerimaan dan biaya merupakan perbandingan antara besarnya penerimaan dengan total biaya. Pada usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan

ini diperoleh nilai R/C>1, sehingga dapat diartikan usaha tersebut mendapatkan

keuntungan(Lampiran 10 dan Lampiran 24).

ROI bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh

dalam setiap rupiah investasi yang ditanamkan. ROI dari unit usaha

penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan sebesar 137% dan 106%. Hal ini berarti bahwa setiap seratus rupiah yang diinvestasikan akan memberikan keuntungan sebesar Rp 1,37 dan Rp 1,06 (Lampiran 10 dan Lampiran 24).

3) Payback period (PP)

PP dalam studi kelayakan usaha berfungsi untuk mengetahui berapa

lama usaha yang diusahakan dapat mengembalikan investasi. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah usaha, semakin baik usaha tersebut karena semakin lancar perputaran modal.

Analisis PP digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang

dibutuhkan untuk menutupi modal investasi dalam hitungan tahun atau bulan, jika seluruh pendapatan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menutupi modal investasi (Umar 2003).

PP dari unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat

dan bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan adalah 0,7 tahun dan 0,9 tahun. Hal ini berarti waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian biaya investasi yang telah dikeluarkan akan kembali dengan keuntungan sebesar Rp 50.346.901,93 dan Rp 102.660.752,97 per tahun dalam waktu 0,7 tahun dan 0,9 tahun (Lampiran 10 dan Lampiran 24).

4.4.3 Analisis kriteria investasi

Analisis kriteria investasi digunakan untuk membuat keputusan suatu kegiatan bisa atau tidak untuk dijalankan serta menilai dan mengevaluasi kegiatan tersebut. Perhitungan analisis kriteria investasi tersebut menggunakan beberapa asumsi dasar untuk membatasi permasalahan yang ada. Asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Analisis yang dilakukan merupakan usaha baru yang akan dikembangkan terhadap unit usaha yang ada dengan umur kegiatan ditentukan 8 tahun, karena umur teknis untuk investasi kapal baru adalah 8 tahun. Investasi yang telah dihitung dengan penyesuaian IHK yang berlaku di Kabupaten Bangka Selatan untuk komoditas ikan segar, sehingga menunjukkan nilai saat penelitian;

2) Tahun pertama proyek dimulai tahun 2009 dengan penilaian investasi dinilai pada tahun tersebut, penggantian investasi berikutnya menggunakan barang baru dan harga baru;

3) Sumber modal yang digunakan adalah modal sendiri; 4) Populasi ikan berada di daerah penangkapan ikan karang;

5) Hasil tangkapan yang masuk ke dalam perhitungan adalah jenis ikan karang ekonomis;

6) Jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat jumlah dalam setahun 56 trip atau selama 8 bulan dan jumlah trip unit penangkapan dengan alat tangkap bubu jaring dalam setahun 52 trip 7 bulan 3 minggu. 7) Harga ikan hasil tangkapan merupakan harga yang diperoleh dari hasil

wawancara dengan nelayan bubu kawat dan bubu jaring setempat dan harga ikan per satuan hasil tangkapan adalah konstan;

8) Biaya perawatan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini disebabkan kapal, mesin dan alat tangkap meningkat 5% per tahun proyek;

9) Discount factor pada tahun 2009 didasarkan pada tingkat suku bunga 15% per tahun yang berlaku pada Bank Sumsel Babel Cabang Bangka Selatan; 10) Biaya operasional yang digunakan sepanjang umur proyek dianggap tetap. 11) Kebutuhan solar dan minyak tanah meningkat 5% per tahun proyek. Hal ini

disebabkan oleh umur teknis semakin, tua sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah; dan

12) Kebutuhan oli meningkat 5% per tahun proyek, hal ini disebabkan oleh umur teknis mesin semakin tua, sehingga kebutuhan bahan bakar semakin bertambah.

Analisis kriteria investasi usaha perikanan bubu dasar dengan material

kawat dan jaring di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari Net Present Value

(NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR). 1) Net Present Value (NPV)

Suatu usaha layak untuk dilanjutkan jika nilai NPV adalah selisih antara

benefit (pendapatan) dengan cost (pengeluaran) yang telah di present valuekan

lebih dari nol. Dalam metode ini discount rate yang digunakan adalah sebesar 12

% sesuai dengan tingkat bunga bank rata-rata yang berlaku saat ini.

Nilai NPV pada unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu

132.093.915,15 yang berarti bahwa usaha penangkapan ikan dengan alat

tangkap bubu kawat dan bubu jaring akan memperoleh net benefit sebesar Rp

314.926.267,14 dan Rp 132.093.915,15 selama umur proyek (10 tahun) pada

discount rate sebesar 15 % per tahun, apabila dinilai sekarang (Lampiran 11 dan Lampiran 15).

Nilai NPV bubu jaring lebih besar dari nilai NPV bubu kawat dikarenakan

jumlah aliran kas pada net cash flow yang merupakan selisih total inflow

(pendapatan) dengan total outflow (investasi dan biaya total) yang besar. Hal ini

disebabkan oleh biaya total unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu jaring lebih kecil dibandingkan dengan bubu kawat, sehingga berpengaruh

pada nilai NPV nya.

Pada usaha perikanan bubu dasar dengan terbuat dari kawat dan jaring,

maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak

untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat

dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat

dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.

2) Internal Rate of Return (IRR)

Perhitungan IRR dilakukan dengan cara mencari discount rate yang dapat

menyamakan antara present value dari aliran kas dengan present value dari

investasi (initial investment). Jika perhitungan IRR dari discount rate dikatakan

usaha tersebut feasible (layak) dijalankan, bila sama dengan discount rate

berarti pulang pokok dan di bawah discount rate usaha tersebut tidak feasible.

Nilai IRR dari unit usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan

bubu jaring di Kabupaten Bangka Selatan layak diusahakan sebab nilai IRR-nya

memiliki nilai yang lebih tinggi dari nilai discount rate (15%) yaitu sebesar 148%

dan 114%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha tersebut akan memberikan manfaat baik internal dari nilai investasi yang ditanamkan untuk usaha penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring sebesar 148% dan 114% tiap tahunnya selama umur proyek (Lampiran 11 dan Lampiran 15).

Usaha penangkapan alat tangkap bubu jaring lebih layak diusahakan

karena memiliki nilai IRR yang lebih besar dibandingkan dengan nilai IRR jaring.

Hal ini disebabkan oleh besarnya NPV dan discount rate yang digunakan untuk

3) Net B/C

Net B/C unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat

dan bubu jaring yaitu sebesar 4,16 dan 4,25 (net B/C>1), artinya selama tahun

proyek pada tingkat discount rate 15% per tahun setiap satu rupiah biaya yang

dikeluarkan akan memberikan benefit bersih sebesar Rp 4,16 dan Rp 4,25,

sehingga dapat dikatakan usaha tersebut layak untuk dikembangkan (Lampiran

11 dan Lampiran 15). NetB/C tidak menggambarkan besarnya keuntungan tetapi

menggambarkan skala penerimaan atas biaya dan modal.

Pada usaha perikanan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring,

maka nilai dari kriteria investasi (NPV>0, net B/C>1 dan IRR>interest rate) layak

untuk dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sobari et al. (2006), jika dilihat

dari kriteria investasi NPV>0, net B/C>1 dan IRR>internal rate, maka dapat

dikatakan bahwa usaha tersebut layak memenuhi persyaratan dan masih layak untuk dikembangkan.

4) Analisis sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat pengaruh apa yang akan

terjadi akibat perubahan nilai input atau perubahan nilai output yang akan

berdampak pada akhir perhitungan. Dalam penelitian ini faktor yang dianalisis adalah perubahan harga solar sebagai komponen variabel terbesar yaitu untuk kebutuhan solar pada bubu kawat sebesar 65,4 % sedangkan untuk bubu jaring sebesar 160,5% dari total biaya variabel. Metode yang digunakan adalah

switching value. Komponen tersebut merupakan komponen variabel utama yang dianggap peka dalam proses penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring.

Berdasarkan metode switching value diperoleh nilai untuk kenaikan harga

solar pada bubu kawat dan bubu jaring sebesar 65,4% dan 160,5% menyebabkan usaha penangkapan menjadi tidak layak untuk dijalankan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa apabila terjadi perubahan harga solar, maka nilai kriteria investasi juga akan mengalami perubahan.

Nilai kriteria investasi setelah dilakukan analisis sensitivitas pada usaha penangkapan dengan bubu kawat dan bubu jaring dapat dilihat pada Tabel 28 dan 29 dan untuk perhitungan secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 12 dan 16.

Pada Tabel 9 dapat dilihat perhitungan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga solar pada bubu kawat sebesar 65,4% dari harga solar Rp

5.000,00 menjadi Rp 8.270,00 pada unit penangkapan dengan bubu kawat

menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah negatif. Hal ini

menunjukkan usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dijalankan dan

dikembangkan. Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu

0.999. Berarti usaha ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga tidak layak untuk

dilanjutkan. Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 14,8% merupakan nilai dibawah

tingkat suku bunga yang berlaku, yaitu 15% berarti usaha ini mengalami kerugian. Berdasarkan dari hasil perhitungan tersebut, maka usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dikembangkan apabila terdapat kenaikan harga solar 65,4%.

Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga solar pada bubu jaring sebesar 160,5% menjadikan harga solar yang semula seharga Rp 5.000,00 berubah menjadi Rp 13.025,00, sedangkan unit penangkapan

dengan bubu jaring menunjukkan bahwa nilai NPV yang diperoleh adalah negatif.

Hal ini menunjukkan usaha penangkapan bubu jaring tidak layak untuk dijalankan

dan dikembangkan. Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu

0.999. Berarti usaha ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga tidak layak untuk dilanjutkan.

Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 14,99% merupakan nilai dibawah

tingkat suku bunga yang berlaku, yaitu 15% berarti usaha ini mengalami kerugian. Berdasarkan dari hasil perhitungan tersebut, maka usaha penangkapan bubu kawat tidak layak untuk dikembangkan apabila terdapat kenaikan harga solar 160,5%.

Tabel 9 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 65,4% pada bubu kawat

No. Kriteria Investasi Sebelum kenaikan harga solar Sesudah kenaikan harga solar (65,4%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (43.927) 132.137.841,98 2. Net B/C 4,16 0,999 3,16 3. IRR (%) 148% 14,8% 1,33%

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Hasil perbandingan sebelum dan sesudah perubahan kenaikan harga

solar menyebabkan nilai NPV, Net B/C dan IRR ikut berubah. Perubahan nilai

NPV sebesar Rp 132.137.841,98 dari Rp 132.093.915,15 setelah mengalami

diperoleh pada akhir tahun proyek yang dihitung berdasarkan nilai saat ini mengalami penurunan sebesar Rp 132.137.841,98.

Net B/C sebesar 0,99 menunjukkan bahwa manfaat bersih dalam usaha ini berkurang sebesar Rp 0,99 dari biaya yang dikeluarkan oleh nelayan bubu kawat. Nilai IRR menjadi 14,8% menyebabkan keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan dengan bubu kawat tersebut berkurang sebesar 1,33% dari investasi yang ditanamkan nelayan setelah terjadinya kenaikan harga solar.

Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 160,5% pada unit penangkapan bubu jaring. Harga solar sebelum terjadi kenaikan sebesar Rp 5.000,00 menjadi Rp 13.025,00. Hal ini menyebabkan nilai

NPV negatif (Tabel 10). Berarti usaha penangkapan dengan bubu jaring di

Kabupaten Bangka Selatan juga tidak layak untuk dijalankan dan dikembangkan.

Net B/C yang dihasilkan dalam analisis kurang dari 1, yaitu 0,999. Berarti usaha ini tidak memberi manfaat bersih, sehingga akan mengalami kerugian.

Tabel 10 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat kenaikan harga solar sebesar 160,5% pada bubu jaring

No. Kriteria Investasi Sebelum kenaikan harga solar Sesudah kenaikan harga solar (160,5%) Perubahan 1. NPV (Rp) 314.926.267,14 (62.800) 314.989.067 2. Net B/C 4,25 0,999 3,25 3. IRR (%) 114% 14,99% 0,99%

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Nilai IRR yang dihasilkan, yaitu 14,99% sama atau dibawah tingkat suku

bunga 15% yang berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini mengalami kerugian dan tidak layak dikembangkan apabila kenaikan harga solar mencapai 160,5%.

Hasil perbandingan sebelum dan sesudah kenaikan harga solar

menyebabkan nilai NPV, Net B/C dan IRR mengalami perubahan. Nilai NPV

berkurang sebesar Rp 314.989.067 dari Rp 314.926.267,14 menjadi Rp (62.800)

setelah kenaikan harga solar, menunjukkan bahwa net benefit yang akan

diperoleh pada akhir tahun proyek yang dihitung berdasarkan nilai saat ini

mengalami penurunan sebesar Rp 314.989.067. Net B/C berkurang sebesar 3,25

yang menunjukkan bahwa manfaat bersih dalam usaha ini berkurang sebesar Rp 3,25 dari biaya yang dikeluarkan oleh nelayan dengan alat tangkap bubu kawat.

Nilai IRR yang berkurang sebesar 0,99% menyebabkan keuntungan yang

diperoleh dari usaha penangkapan bubu jaring tersebut menurun sebesar 0,99% dari investasi yang ditanamkan nelayan setelah terjadi kenaikan harga solar.

Pada penurunan harga ikan pada unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu kawat sebesar 29,5% dari Rp 54.250 per kg menjadi Rp 38.246,25 per kg dan unit usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap bubu

jaring sebesar 25,82% dari harga rata-rata Rp 54.250 per kg menjadi Rp 40.242,65 per kg usaha menjadi tidak layak (Lampiran 13 dan Lampiran 17). Nilai

kriteria investasi sebagai akibat penurunan harga ikan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat penurunan harga ikan sebesar 29,5% pada bubu kawat

No. Kriteria Investasi Sebelum penurunan harga ikan Sesudah penurunan harga ikan (29,5%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (110.205) 132.204.121 2. Net B/C 4,16 0,99 3,11 3. IRR (%) 148% 0,166673929 1,32

Sumber : Data diolah dari data primer, November-Desember 2009.

Nilai NPV pada alat tangkap bubu jaring sesudah penurunan harga ikan

sebesar 25,82% yaitu sebesar Rp (45.896). Hal ini berarti bahwa apabila terjadi penurunan harga ikan pada usaha penangkapan dengan alat tangkap bubu kawat dan bubu jaring sebesar 25,82%, maka manfaat sekarang yang akan

diterima adalah sebesar Rp Rp (45.896). Nilai net B/C pada alat tangkap bubu

jaring sebesar 0,99 sedangkan nilai IRR yaitu sebesar 12,57% (Tabel 12).

Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan dengan bubu dengan adanya penurunan harga ikan tidak layak untuk dikembangkan.

Hal ini dikarenakan nilai NPV<0, net B/C<1 dan IRR< tingkat suku bunga yang

berlaku 15%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usaha tersebut mengalami sensitif apabila penurunan harga ikan hingga mencapai 25,82%. Tabel 12 Perbandingan nilai kriteria investasi akibat penurunan harga ikan

sebesar 25,82% pada bubu jaring

No. Kriteria Investasi Sebelum penurunan harga ikan Sesudah penurunan harga ikan (25,82%) Perubahan 1. NPV (Rp) 132.093.915,15 (45.896) 314.972.163 2. Net B/C 4,16 0,9995 3,08 3. IRR (%) 148% 12,57% 1,01

Dokumen terkait