• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

2. Analisis Univariat

Sumber: Data Primer

Gambar 16. Visualisasi hasil amplifikasi PCR pada penderita malaria Falciparum sampel 33 – 43

Pada gambar 16 di dapatkan hasil Setelah dilakukan pemotongan dengan enzim restriksi Apo1 dimana polimorfisme gen Pfmdr1 codon 86 86Y yaitu mutan type ( dua pita DNA sebesar 239 bp dan 179 bp) pada sampel 33 dan polimorfisme gen Pfmdr1 codon N86 yaitul wild type ( terbentuk pita DNA tunggal berukuran 418 bp) pada sampel no 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42 dan 43.

a. Distribusi Karakteristik Penderita Menurut Tempat (Desa).

Lokasi penularan malaria perlu di ketahui dalam rangka mempermudah di dalam usaha pencegahan dan pemberantasan nyamuk anopheles sebagai vector penyebab malaria.

Tabel 5.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Tempat (Desa) di Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Desa N %

Aimasi Desay Lismaungu Matoa Prafi Muulia Udapi Hilir Waseki

9 5 4 3 5 12

5

20.9 11.6 9.3 7.0 11.6 27.9 11.6

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 5 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak berada di Desa Udapi Hilir sebesar 27,9 % dan paling sedikit berada di Desa Matoa sebesar 7,0 %.

b. Distribusi Karakteristik Responden Menurut Golongan Umur Pengertian umur adalah usia responden yang terhitung sejak lahir hingga ulang tahun terakhir . Distribusi responden menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Golongan Umur di Wilayah Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Umur N %

0 - 5 tahun 6 – 12 tahun 13 – 18 tahun > 18 tahun

7 5 6 25

16,3 11,6 14,0 58,1

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 6 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak berada pada kelompok umur > 18 tahun sebesar 58,1 % dan kelompok umur paling sedikit berada pada kelompok umur 6 - 12 tahun sebesar 11,6 % .

c. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin ( Gender ) adalah merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin laki-laki atau perempuan ( perbedaan biologis ). Distribusi responden menurut jenis kelamin di wilayah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel 7.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Jenis Kelamin di Wilayah Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Jenis Kelamin N %

Laki-laki Perempuan

30 13

69,8 30,2

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 7 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada jenis kelamin laki – laki sebesar 69,8 % dan persentase responden terkecil berada pada jenis kelamin perempuan sebesar 30,2 %.

d. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No.20 tahun 2003). Distribusi responden berdasarkan pendidikan di wilayah Distrik Prafi dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 8.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Pendidikan di Wilayah Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Pendidikan N %

Belum Sekolah SD

SMP SMA Sarjana

7 5 6 24

1

16.3 11.6 14.0 55.8 2.3

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 8 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada tingkat pendidikan SMA sebesar 55,8 % dan persentase responden paling sedikit pada tingkat pendidikan Sarjana sebesar 2,3 %.

e. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarga seseorang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Distribusi responden menurut Pekerjaan di wilyah Distrik Prafi dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 9.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Pekerjaan di Wilayah Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Pekerjaan N %

Petani

Pekebun Sawit Pedagang PNS Pelajar Tidak Ada

13 8 2 1 11

7

30,2 20,9 4.7 2.3 25.6 16.3

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 9 menjelaskan bahwa distribusi responden paling bayakr berada pada jenis pekejaan sebagai petani sebesar 30,2 % serta yang paling sedikitl berada pada jenis pekerjaan sebagai PNS sebesar 2,3 % .

f. Distribusi Karakteristik Responden Menurut Suku

Distrik Prafi berada diluar kota manokwari, di pegunungan arfak dan dataran prafi .Daerah ini dibuka pada tahun 1981 untuk Satuan Pemukiman (SP) atau lebih dikenal Daerah transmigrasi yang berasal dari pulau jawa dan NTT. Suku besar di pegunungan Arfak terdiri dari empat suku, yaitu Hatam, Meyakh, Sough dan Moley yang hampir sama kebudayaannya namun memiliki bahasa yang berbeda. Di Distrik Prafi, suku Meyakh menghuni bagian timur atau wilayah Distrik Warmare dan Prafi, mereka sering disebut

orang “Arfak Asli”. Distribusi responden berdasarkan Suku di wilyah Distrik Prafi dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 10.

Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Suku di Wilayah Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Tahun 2016

Suku N %

Papua Non Papua

15 28

34,9 65,1

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 10 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak berada pada suku Non Papua sebesar 65, 1 % serta yang paling sedikitl berada pada suku Papua sebesar 34,9 % .

g. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Malaria falciparum Kejadian malaria adalah ditemukannya parasit malaria ( Plasmodium ) dalam tubuh seseorang berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Distribusi responden berdasarkan kejadian malaria di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel. 11

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Infeksi Malaria (Infeksi Tunggal dan Infeksi Campuran) di Distrik Prafi Kabupaten

Manokwari Tahun 2016

Malaria Falciparum N %

Infeksi Tunggal Infeksi Mixed

39 4

90,7 9,3

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 11 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak penderita malaria dengan infeksi tunggal sebesar 90,7 % serta paling sedikit pada penderita infeksi Mix sebesar 9,3 % .

h. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari.

Kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari adalah kebiasaan seseorang sering beraktifitas diluar rumah (alam terbuka) setelah matahari terbenam hingga larut malam. Distribusi responden berdasarkanKebiasaan berada di luar rumah pada malam hari di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel 12.

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel aktivitas berada di luar rumah pada malam hari di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No

Kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari

n %

1 Ya 26 60.5

2 Tidak 17 39.5

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 12 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang beraktivitas di luar rumah pada malam hari sebesar 60,5 % dan persentase responden paling sedikit berada pada responden yang tidak suka berada di luar rumah pada malam hari sebesar 39,5 %.

i. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Kelambu Penggunaan kelambu adalah cara untuk menghindari kontak atau gigitan dari nyamuk anopheles pada saat tidur dengan menggunakan kelambu baik yang memakai insektisida atau yang tidak memakai insektisida (Kelambu nyamuk biasa). Distribusi responden berdasarkan penggunaan kelambu di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel 13.

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Kelambu di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Pemakaian Kelambu N %

1 Tidak 10 23,3

2 Ya 33 76,7

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 13 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang memakai kelambu sebesar 76,7 % dan persentase responden paling sedikit berada pada responden yang tidak memakai kelambu sebesar 23,3 %.

j. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Obat Anti Nyamuk

Pemakaian obat anti nyamuk adalah cara untuk menghindari kontak atau gigitan dari nyamuk anopheles pada saat malam hari dengan menggunakan obat anti nyamuk baik yang berupa obat anti nyamuk bakar, semprot, elektrik atau repellent. Distribusi responden berdasarkan penggunaan obat anti nyamuk di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel. 14

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Obat Anti Nyamuk di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Pemakaian Obat Anti Nyamuk n %

1 Tidak 33 76,7

2 Ya 10 23,3

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 14 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang tidak memakai obat anti nyamuk sebesar 76,7 % dan persentase responden paling sedikit berada pada responden yang memakai obat anti nyamuk sebesar 23,3 %.

k. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Plapon Yang dimaksud Plafon rumah adalah langit langit rumah yang berfungsi menutup bagian atas dalam rumah sehingga nyamuk tidak dapat masuk kedalam rumah. Distribusi responden berdasarkan variabel pemakaian plapon di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel. 15

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Plafon di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

No Pemakaian Plafon n %

1 Tidak 32 74,4

2 Ya 11 25,6

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 15 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang tidak memakai Plapon dengan persentase serbesar 74,4 % dan persentase paling sedikit pada responden yang memakai Plapon sebesar 25,6 %.

l. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Kasa Yang dimaksud dengan Kasa adalah alat berupa kain atau kawat yang dipasang pada ventilasi pintu atau jendela yang berfungsi untuk menghindari nyamuk agar tidak dapat masuk kedalam ruangan / rumah. Berikut tabel Distribusi Responden berdasarkan variabel Pemakaian Kasa di wilayah Distrik Prafi tahun 2016 :

Tabel. 16

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Pemakaian Kasa di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

No Pemakaian Kasa N %

1 Tidak 30 69,8

2 Ya 13 30,2

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 16 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang tidak memakai kasa dengan presentase sebesar 69,8

% dan persentase responden yang paling sedikit pada responden yang memakai kasa sebesar 30,2 %.

m. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel jenis Dinding Rumah Jenis dinding rumah merupakan salah satu faktor risiko dimana dapat memudahkan nyamuk untuk masuk sehingga memungkinkan kontak antara penghuni rumah dengan nyamuk. Distribusi responden berdasarkan Jenis dinding rumah di wilyah Distrik Prafi dapat di lihat sebagai berikut :

Tabel. 17

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Jenis Dinding Rumah di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

No Jenis Dinding Rumah n %

1 Berisiko 29 67,4

2 Tidak Berisiko 14 32,6

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 17 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada jenis dinding rumah yang berisiko dengan persentase sebesar 67,4 % dan persentase paling sedikit pada responden dengan jenis dinding rumah yang tidak berisiko sebesar 32,6 %.

n. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Lingkungan Sekitar Rumah

Kejadian penyakit bukanlah disebabkan oleh satu faktor saja melainkan karena adanya beberapa faktor (Multi Causa). Ketiga komponen tersebut saling mendukung di dalam kejadian penyakit malaria. Pada daerah endemis malaria, faktor host dan lingkungan sangat besar pengaruhnya didalam kejadian malaria. Berikut tabel Distribusi Responden berdasarkan variabel Lingkungan sekitar rumah di wilayah Distrik Prafi tahun 2016 :

Tabel. 18

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel

Lingkungan Sekitar Rumah di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Lingkungan Sekitar Rumah n %

1 Berisiko 20 46,5

2 Tidak Berisiko 23 53,5

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 18 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang lingkungan sekitar rumahnya tidak berisiko dengan presentase sebesar 53,5 % dan responden yang paling sedikit pada lingkungan sekitar rumahnya berisiko dengan presentase sebesar 46,5 %.

o. Distribusi Responden berdasarkan Swamedikasi

Menurut World Health Organization (WHO) swamedikasi diartikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat, termasuk pengobatan herbal dan tradisional, oleh individu untuk merawat diri sendiri dari penyakit atau gejala penyakit (WHO, 1998). Berikut tabel Distribusi Responden berdasarkan variabel Swamedikasi di wilayah Distrik Prafi tahun 2016 :

Tabel. 19

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Swamedikasi di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Swamedikasi n %

1 Ya 22 51,2

2 Tidak 21 48,8

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 19 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang melakukan Swamedikasi presentase sebesar 51,2 % dibanding responden yang tidak melakukan swamedikasi dengan presentase sebesar 48,8 %.

p. Distribusi Responden berdasarkan Kepatuhan Minum Obat

Kepatuhan (adherence) adalah suatu bentuk perilaku yang timbul akibat adanya interaksi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga pasien mengerti rencana dengan segala konsekwensinya dan menyetujui rencana tersebut serta melaksanakannya (Kemenkes RI, 2011). Berikut tabel Distribusi Responden berdasarkan variabel Kepatuhan Minum Obat di wilayah Distrik Prafi tahun 2016 :

Tabel. 20

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel

Kepatuhan Minum Obat di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Kepatuhan Minum Obat n %

1 Tidak 27 62,8

2 Ya 16 37,2

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 20 menjelaskan bahwa distribusi responden paling banyak pada responden yang tidak patuh minum obat dengan presentase sebesar 62,8 % dibanding responden yang patuh minum obat dengan presentase sebesar 37,2 %.

q. Distribusi Polimorfime Gen Pfmdr1 N86Y pada Penderita Malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Gen Pfmdr1 adalah terjadinya mutasi pada Parasit P.falciparum dan berdampak terjadinya resistensi terhadap lebih dari satu jenis obat anti malaria. Berikut tabel Distribusi Polimorfime Gen Pfmdr1 N86Y pada Penderita malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016:

Tabel. 21

Distribusi Polimorfime Gen Pfmdr1 N86Y pada Penderita Malaria di di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

No Polimorfisme Gen Pfmdr1 n %

1 N86 35 81,4

2 86Y 8 18,6

Jumlah 43 100

Sumber : Data Primer

Dari tabel 19 menjelaskan bahwa dari 43 responden yang menderita malaria, dengan pemeriksaan PCR di dapatkan bahwa telah terjadi polimorfisme gen Pfmdr1 dan terbanyak pada N86 (Wild Type) dengan persentase sebesar 81,4 % dan 86Y (Mutan Type) dengan persentase sebesar 18,6 %.

r. Distribusi Karateristik Penderita Malaria yang mengalami mutasi gen Pfmdr1 di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

Dari 43 sampel penderita malaria P.falciparum didapatkan ada 8 sampel yang mengalami mutasi pada gen Pfmdr1. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik pemeriksaan PCR –RFLP. Berikut distribusi karakteristik 8 sampel penderita malaria yang mengalami mutasi gen Pfmdr1 :

Tabel. 22

Distribusi Karakteristik 8 sampel penderita malaria yang mengalami Mutasi Gen Pfmdr1 di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Karateristik Responden Total

6 9 11 14 18 23 31 33 Umur

0 – 5 tahun 6 – 12 tahun 13 – 18 tahun

> 18 tahun 1 1

1 1

1 1

1 1

1 2 5 Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

1

1 1 1

1 1

1

1 4

4 Pendidikan

Belum Sekolah SD

SMP SMA

PT 1

1

1 1 1 1 1

1

1 1 5 1 Pekerjaan

Petani Pekebun Pedagang PNS Pelajar Tidak ada

1 1

1

1

1 1

1 1

3 1 1 3

Suku Papua Non Papua

1 1

1 1

1 1 1

1 4

4 Infeksi Malaria

Mixed

Tunggal 1 1 1 1 1 1 1

1 1

7

Dari tabel 22 menjelaskan bahwa dari 8 penderita yang mengalami mutasi gen Pfmdr1, distribusi berdasarkan karakteristik umur lebih banyak

terjadi pada golongan umur > 18 tahun ( 5 orang ) dan paling sedikit pada golongan umur 6 – 12 tahun ( 1 orang ). Distribusi berdasarkan karakteristik jenis kelamin antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk terjadi mutasi gen Pfmdr1 ( 4 orang ). Distribusi berdasarkan karakteristik pendidikan lebih banyak terjadi pada penderita yang ber pendidikan SMA ( 5 orang ). Distribusi berdasarkan karakteristik pekerjaan lebih banyak terjadi pada penderita yang memiliki pekerjaan sebagai petani ( 3 orang ) dan sebagai pelajar ( 3 orang ). Distribusi berdasarkan karakteristik suku antara suku asli papua dan non papua memiliki peluang yang sama terkena mutasi gen Pfmdr1 ( 4 orang ). Distribusi berdasarkan infeksi parasit malaria lebih banyak mutasi terjadi pada infeksi tunggal ( 7 orang ) dari pada infeksi mix ( 1 orang ).

s. Distribusi 8 responden yang mengalami mutasi gen Pfmdr1 berdasarkan Variabel penelitian di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

Ada 8 responden yang mengalami mutasi pada gen Pfmdr1 dari 43 sampel yang diperiksa dengan menggunakan tehnik pemeriksaan PCR – RFLP. Berikut distribusi 8 responden penderita malaria yang mengalami mutasi gen Pfmdr1 berdasarkan variabel penelitian:

Tabel. 23

Distribusi 8 responden yang mengalami mutasi gen Pfmdr1 berdasarkan Variabel penelitian di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016.

Karateristik Responden Total

6 9 11 14 18 23 31 33 Aktifitas di luar Rumah

pada Malam Hari Ya

Tidak

1 1

1 1 1 1 1

1

6 2 Pemakaian Kelambu

Tidak Ya

1

1 1 1 1

1

1 1

2 6 Pemakaian OAN

Tidak

Ya 1

1 1 1 1

1

1 1 6

2 Pemakaian Plapon

Tidak Ya

1 1 1 1 1

1 1

1 6

2 Pemakaian Kasa

Tidak Ya

1 1 1 1 1

1 1

1

6 2 Jenis Dinding Rumah

Berisiko

Tidak Berisiko 1

1 1 1 1

1 1

1

5 3 Lingkungan rumah

Berisiko

Tidak Berisiko 1

1 1

1 1 1 1

1 3

5 Swamedikasi

Ya Tidak

1 1 1 1 1 1 1

1

7 1 Kepatuhan Minum Obat

Tidak Ya

1 1

1 1 1 1 1

1

6 2

Dari tabel 23 menjelaskan bahwa dari 8 penderita yang mengalami mutasi gen Pfmdr1, lebih banyak terjadi pada responden yang beraktifitas di luar rumah pada malam hari ( 6 orang ). Untuk variabel pemakaian kelambu, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang memakai kelambu ( 6 orang ). Untuk variabel pemakaian obat anti nyamuk, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai obat anti nyamuk ( 6 orang ). Untuk variabel pemakaian plapon rumah, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai plapon dalam rumah ( 6 orang ). Untuk variabel pemakaian kasa pada ventilasi, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai kasa pada ventilasi ( 6 orang ). Untuk variabel jenis dinding rumah, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang jenis dinding rumahnya berisiko ( 5 orang ). Untuk variabel lingkungan sekitar rumah, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang lingkungan sekitar rumahnya tidak berisiko ( 5 orang ). Untuk variabel swamedikasi, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang melakukan swamedikasi ( 7 orang ). Untuk variabel kepatuhan minum obat, mutasi gen Pfmdr1 lebih banyak terjadi pada responden yang tidak patuh minum obat ( 6 orang ).

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara masing-masing variabel. untuk melihat besarnya independen dengan dependen penelitian (kejadian malaria). Analisis dilakukan dengan menggunakan chi Square Test untuk melihat besarnya nilai X2 hitung dari masing-masing variabel independen bila dihubungkan dengan variabel dependen. Hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut :

a. Hubungan Aktifitas diluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria.

Kebiasaan berada diluar rumah pada malam hari merupakan salah satu faktor risiko untuk terkena penyakit malaria. Hal ini disebabkan karena beberapa sifat dari nyamuk anopheles yaitu menggigit pada malam hari dan bersifat eksofagik yaitu menggigit diluar rumah. Hubungan aktivitas diluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 24.

Hubungan Aktivitas berada diluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi Tahun 2016

Aktivitas

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,019

Ya 0 0 26 60,5 26 60,5

Tidak 4 9,3 13 30,2 17 39,5

j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang mempunyai aktivitas di luar rumah pada malam hari yaitu sebesar 60,5 % dari pada penderita yang tidak mempunyai aktivitas di luar rumah pada malam hari. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,019 ( p < 0,05 ) yang artinya ada hubungan aktivitas di luar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria Tropica.

b. Hubungan Pemakaian Kelambu dengan kejadian malaria.

Tidak memakai kelambu pada saat tidur malam merupakan salah satu faktor risiko untuk terkena penyakit malaria. Hal ini disebabkan karena selain

bersifat eksofagik (menggigit diluar rumah) nyamuk anopheles juga bersifat endofagik yaitu menggigit didalam rumah.

Hubungan Penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 25.

Hubungan Pemakaian Kelambu dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Pemakaian Kelambu

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,558

Tidak 0 0 10 23,3 10 23,3

Ya 4 9,3 29 67,4 33 76,7

j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang memakai kelambu yaitu sebesar 76,7 % dari pada penderita yang memakai kelambu.

Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p

= 0,558 ( p > 0,05 ) yang artinya tidak ada hubungan Pemakaian kelambu dengan kejadian malaria Tropica.

c. Hubungan Penggunaan Obat Anti Nyamuk dengan kejadian malaria.

Tidak menggunakan obat anti nyamuk pada saat tidur malam merupakan salah satu faktor risiko untuk terkena penyakit malaria. Hal ini disebabkan karena selain bersifat eksofagik (menggigit diluar rumah) nyamuk anopheles juga bersifat endofagik yaitu menggigit didalam rumah. Hubungan Penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 26.

Hubungan Pemakaian Obat anti Nyamuk dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Pemakaian Obat Anti Nyamuk

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,558

Tidak 4 9,3 29 67,4 33 76,7

Ya 0 0,0 10 23,3 10 23,3

j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai obat anti nyamuk yaitu sebesar 76,7 % dari pada penderita yang memakai Obat Anti Nyamuk. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji

Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,558 ( p > 0,05 ) yang artinya tidak ada hubungan Pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian malaria Tropica.

d. Hubungan Pemakaian Plapon dengan kejadian malaria.

Salah satu cara untuk menghindari masuknya nyamuk kedalam rumah atau ruangan tertentu adalah dengan pemakain langit-langit rumah atau Plapon. Hubungan pemakaian Plapon dalam rumah dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 27.

Hubungan Pemakaian Plapon dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Pemakaian Plapon

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,045

Berisiko 1 2,3 31 72,1 32 74,4

Tidak Berisiko 3 7,0 8 18,6 11 25,6 j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai Plapon dalam rumah yaitu sebesar 74,4 % dari pada penderita yang memakai Plapon. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers

Exact test di peroleh nilai p = 0,045 ( p < 0,05 ) yang artinya ada hubungan Pemakaian Plapon dalam rumah dengan kejadian malaria Tropica.

e. Hubungan Pemakaian Kasa pada Ventilasi dengan kejadian malaria.

Salah satu cara untuk menghindari masuknya nyamuk kedalam rumah atau ruangan tertentu adalah dengan pemakaian kasa pada ventilasi udara.

Hubungan pemakaian kasa pada ventilasi dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 28.

Hubungan Pemakaian Kasa pada ventilasi dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi tahun 2016

Pemakaian Kasa Pada Ventilasi

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,006

Berisiko 0 0,0 30 69,8 30 69,8

Tidak Berisiko 4 9,3 9 20,9 13 30,2 j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang tidak memakai kasa pada ventilasi yaitu sebesar 69,8 % dari pada penderita yang

memakai kasa. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,006 ( p < 0,05 ) yang artinya ada hubungan Pemakaian Kasa dengan kejadian malaria Tropica.

f. Hubungan Jenis Dinding Rumah dengan kejadian malaria.

Kondisi rumah yang sifatnya terbuka merupakan salah satu faktor risiko untuk terkena penyakit malaria. Adanya sifat dari nyamuk anopheles yaitu bersifat endofagik (menggigit di dalam rumah) sehingga dengan kondisi rumah yang terbuka tentunya akan memudahkan nyamuk anopheles masuk kedalam rumah. Hubungan Kondisi rumah dengan kejadian malaria dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 29.

Hubungan Jenis Dinding Rumah dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi Tahun 2016.

Jenis Dinding Rumah

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,008

Berisiko 0 0 29 67,4 29 67,4

Tidak Berisiko 4 9,3 10 23,3 14 32,6 j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang memiliki

jenis dinding rumah berisiko yaitu sebesar 67,4 % dari pada responden yang memiliki jenis dinding rumah tidak berisiko. Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,008 ( p < 0,05 ) yang artinya ada hubungan jenis dinding rumah dengan kejadian malaria Tropica.

g. Hubungan Lingkungan sekitar rumah dengan kejadian malaria.

Adanya Breeding Place di sekitar rumah merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya malaria seperti daerah sawah, rawa, kolam, kebun dan semak-semak.

Tabel 30.

Hubungan Lingkungan sekitar Rumah dengan kejadian malaria di Wilayah Distrik Prafi Tahun 2016.

Lingkungan Sekitar Rumah

Kejadian Malaria Tropika

n %

Nilai p Infeksi

Mixed

Infeksi Tunggal

N % N %

0,323

Berisiko 3 7,0 17 39,5 20 46,5

Tidak Berisiko 1 2,3 22 51,2 23 53,5 j u m l a h 4 9,3 39 90,7 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, jumlah penderita malaria tropica lebih banyak terjadi pada responden yang Lingkungan sekitar rumahnya tidak berisiko yaitu sebesar 53,5 % dari pada

responden yang lingkungan sekitar rumahnya berisiko . Hasil uji statistic

dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,323 ( p > 0,05 ) yang artinya tidak ada hubungan Lingkungan sekitar rumah

dengan rumah dengan kejadian malaria Tropica.

h. Hubungan Swamedikasi dengan Polimorfisme Gen Pfmdr1 N86Y Menurunnya sensitifitas dapat timbul akibat pengobatan yang terus menerus dan tidak adekuat, sehingga terjadi mutasi parasit, di samping itu juga diduga dibawa dari daerah yang resisten (Emil A, 2004 dalam Santoso SS, 1992).

Tabel 31.

Hubungan Swamedikasi dengan Polimorfisme Gen Pfmdr1 N86Y di Wilayah Distrik Prafi Tahun 2016.

Swamedikasi

Polimorfisme Gen Pfmdr1

n %

Nilai p

86Y N86

N % N %

0,046

Ya 7 16,3 15 34,9 22 51,2

Tidak 1 2,3 20 46,5 21 48,8

j u m l a h 8 18,6 35 81,4 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, Polimorfisme gen Pfmdr1 N86Y lebih banyak terjadi pada penderita malaria yang melakukan swamedikasi (51,2 %) di banding penderita malaria yang tidak

melakukan swamedikasi (48,8 %). Hasil uji statistic dengan menggunakan uji Fishers Exact test di peroleh nilai p = 0,046 ( p < 0,05 ) yang artinya ada hubungan antara Swamedikasi dengan Polimorfisme Gen Pfmdr1.

i. Hubungan Kepatuhan minum Obat dengan Polimorfisme Gen Pfmdr1 N86Y

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kecepatan terjadinya resistensi.

Faktor tersebut adalah pertama faktor operasional misalnya dosis subterapik, kepatuhan inang yang kurang, kedua faktor farmakologik dan ketiga adalah faktor transmisi malaria, termasuk intensitas, drug pressure dan respon imun inang (Simamora, 2013).

Tabel 32.

Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Polimorfisme Gen Pfmdr1 N86Y di Wilayah Distrik Prafi Tahun 2016.

Kepatuhan Minum Obat

Polimorfisme Gen Pfmdr1

n %

Nilai p

N86 86Y

N % N %

0,688

Tidak 21 48,8 6 14,0 27 62,8

Ya 14 32,6 2 4,6 16 37,2

j u m l a h 35 81,4 8 18,6 43 100 Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 43 responden, Polimorfisme gen Pfmdr1 N86Y lebih banyak terjadi pada penderita yang tidak patuh

Dokumen terkait