Botani dan Morfologi Rosela
Menurut Morton (1987) rosela merupakan tanaman asli Afrika dan mulai menyebar secara luas ke negara-negara tropik dan subtropik seperti Amerika Tengah dan India Barat. Dalam taksonomi tumbuhan, rosela diklasifikasikan sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Malvaceales Famili : Malvaceae Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa L.
Rosela merupakan tanaman herba tahunan dengan tinggi mencapai 4.5 m. Batang membulat berwarna keseluruhan hijau, hijau dengan bercak merah atau seluruhnya merah. Kedudukan daun berseling dan terbagi dalam tiga atau lima lobi dengan tepi daun bergerigi. Daun yang panjang dan lebar biasanya terdapat pada rosela batang hijau atau hijau dengan bercak merah, sedangkan daun berukuran lebih kecil pada rosela batang merah. Tangkai daun berbulu serta berduri atau berduri saja dan terdapat kelenjar madu pada pangkal tulang daun (Loebis, 1970). Daun berwarna hijau dengan panjang 7.5-12.5 cm dan urat daun kemerahan dengan tangkai daun yang panjang atau pendek (Morton, 1987). Ahmad dan Vossen (2003) menambahkan bahwa rosela memiliki daun yang panjangnya mencapai 6-15 cm dan lebarnya 5-8 cm. Sementara tangkai daun berbentuk bulat, berwarna hijau, dengan panjang 4-7 cm.
Menurut Morton (1987) bunga rosela muncul dari ketiak daun dengan diameter mencapai 12.5 cm, berwarna kuning atau kekuningan dan berubah menjadi merah muda saat sore hari. Kaliks rosela berwarna merah, berdaging renyah namun mengandung banyak air dengan panjang 3.2-5.7 cm. Sastrahidayat dan Soemarno (1991) menambahkan bunga rosela merupakan bunga hermafrodit. Bentuk bunga soliter, aksiler, bercuping lima, berwarna hijau, merah atau
keputihan. Mahkota bunga berbentuk lonceng, berdaging, ujung membulat, gundul hingga berambut, berwarna kuning hingga kuning kemerahan pada bagian tengah dalam.
Menurut Arief (2008), walaupun merupakan kerabat dari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis), tanaman rosela tidak memiliki jenis yang banyak seperti kerabatnya. Berikut merupakan jenis rosela yang mulai dibudidayakan di Indonesia.
1. Rosela merah
Kaliks berwarna merah menyala, panjang dengan tangkai bunga kuat dan tidak mudah patah serta memiliki daun yang menjari. Kaliks yang sudah kering akan berwarna merah cerah dan memiliki aroma yang kuat. Rosela merah ini merupakan jenis yang sering dikonsumsi sebagai tanaman obat.
2. Rosela ungu
Ada yang menyebutnya burgundy, rosela Sudan, maupun rosela ungu. Kaliks berwarna merah gelap, agak bulat, berbulu lebih banyak dibanding yang merah, daun menjari tebal dan agak membulat, tangkai bunga mudah patah. Kaliks kering berwarna merah kehitaman, aromanya cukup kuat. Produksi rosela ungu lebih tinggi dibandingkan rosela merah.
Gambar 1. Pertanaman : a) Rosela Ungu, b) Rosela Merah
Gambar 2. Perbedaan Kaliks antara Rosela Putih, Merah, Ungu, dan Hitam (dari kiri ke kanan)
Buah rosela beruang lima, tiap ruang terdapat dua barisan biji. Buah muda diselaputi kulit tipis berwarna hijau serta berbulu halus. Buah berbentuk kapsul atau bulat telur, tiap buah berisi 30-40 biji. Bentuk biji seperti ginjal dengan panjang 4-4.5 mm. Biji berwarna hitam kelabu dengan banyak titik-titik kecil coklat kekuningan (Loebis, 1970).
Gambar 3. Bagian Generatif Rosela : a) Bunga, b) Kaliks dan Buah, c) Biji
Budidaya Rosela
Rosela paling baik dibudidayakan pada daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian mencapai 900 m dpl dengan curah hujan sekitar 182 mm/bulan selama musim tanam (Morton, 1987). Rosela tumbuh pada berbagai tipe tanah yang mempunyai tekstur dan drainase yang baik. Tanaman ini toleran pada tanah dengan kemasaman tinggi dan kadar garam yang cukup, tetapi tidak toleran dengan hilangnya air (Ahmad dan Vossen, 2003). Menurut Maryani dan Kristiana (2008) tanaman rosela dapat diusahakan di segala macam tanah, tetapi paling cocok pada tanah yang subur dan gembur.
Selama pertumbuhan, rosela tidak tahan terhadap genangan air. Curah hujan yang dibutuhkan hanya berkisar 800-1670 mm/5 bulan atau 180 mm/bulan. Tanaman rosela dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 23-28°C di siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kerdil). Musim yang ideal untuk berbunga dan berbuah pada waktu musim kemarau yaitu sekitar bulan Mei-September. Mardiah et al. (2009) menambahkan tanaman rosela toleran terhadap tanah masam dan agak alkalin, tetapi tidak cocok ditanam di tanah salin atau
berkadar garam tinggi. Kemasaman tanah (pH) optimum untuk rosela adalah 5.5-7 dan masih dapat toleran pada pH 4.5-8.5.
Rosela umumnya diperbanyak dari biji dan dapat ditumbuhkan dari stek batang, namun perbanyakan dengan biji lebih mudah dan praktis (Morton, 1987; Sastrahidayat dan Soemarno, 1991; Ahmad dan Vossen, 2003; Mardiah et al., 2009). Sistem perakaran tanaman yang berasal dari biji memiliki akar tunggang yang dalam sehingga lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan tanaman asal stek, sedangkan perbanyakan dengan stek batang menghasilkan tanaman yang lebih pendek dengan produksi kaliks yang rendah (Mardiah et al., 2009)
Jarak tanam untuk produksi kaliks rosela ialah 120 cm x 90 cm (Sastrahidayat dan Soemarno, 1991). Ahmad dan Vossen (2003) menambahkan bahwa jarak tanam untuk produksi daun maupun kaliks rosela ialah 60 cm x 100 cm dan 120 cm x 90 cm. Menurut Mardiah et al. (2009) jarak tanam rosela yang cocok untuk di Bogor adalah 100 cm x 100 cm atau 100 cm x 150 cm. Jarak tanam yang lebih rapat menyebabkan kondisi lahan menjadi lembab sehingga memicu perkembangan penyakit.
Dinas Pertanian Jawa Timur (2005) merekomendasikan dosis pemupukan 300 kg urea/ha, 150 kg TSP/ha, dan 150 KCl/ha. Pupuk urea diaplikasikan dua kali pada 3 MST dan 7-8 MST sebanyak 30-40 g/tanaman, kemudian dilakukan pemanenan sejak umur tiga minggu setelah berbunga dan dapat dipanen terus menerus dalam jangka waktu 3 bulan sebelum akhirnya diganti bibit baru. Mardiah et al. (2009) menambahkan pemupukan dapat menggunakan pupuk hijau (Mimosa invisa) yang dibenamkan pada saat pengolahan tanah, kemudian diikuti dengan pupuk buatan sebanyak 80 kg N/ha, 36-54 kg P2O5/ha, dan 75-100 kg K2O/ha.
Kandungan Bahan Bioaktif dan Kegunaan
Rosela merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak kandungan bahan bioaktif. Kandungan bahan bioaktif tersebut memiliki khasiat sebagai diuretic (peluruh air seni), choleretic (merangsang keluarnya empedu),
dengan cara menurunkan kekentalan darah sehingga kerja jantung memompa darah semakin ringan dan merangsang gerak peristaltik usus (Morton, 1987).
Pada kaliks rosela terkandung 51% antosianin dan 24% antioksidan (Tsai
et al., 2002). Rosela mengandung saponin dan flavonoid (berupa asam klorogenat, asam kafeat, asam kumarat, asam p-dihidroksi benzoat dan asam vanilat) (Merken et al., 2001). Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenolik (Harborne, 1983). Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan antara lain sebagai pengatur tumbuh, penghambat kinerja mikroba, dan antivirus. Kegunaan dari flavonoid bagi kesehatan diantaranya adalah aktivitas antioksidan, kemampuan mengikat asam, stimulasi dari sistem imun, pencegahan nitrasi tirosin, antialergi, antibakterial, dan antikarsinogenik (Merken et al., 2001).
Rosela memiliki bermacam-macam khasiat untuk kesehatan. Hasil uji praklinik menemukan bahwa rosela memiliki khasiat sebagai bahan antiseptik, penambah stamina, dan agen astringen. Tanaman ini juga banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti batuk, lesu, demam, tekanan perasaan, gusi berdarah (scurvy) dan mencegah penyakit hati (Dalimartha, 2001). Kaliks rosela banyak digunakan untuk pembuatan jus, saos, sirup dan juga sebagai bahan pewarna pada makanan (Maryani dan Kristiana, 2008).
Antosianin
Antosianin merupakan pewarna paling penting dan paling luas dalam tumbuhan yang memberikan hampir semua warna merah jambu, merah, lembayung muda, ungu dan biru pada kelopak bunga, daun dan buah pada tumbuhan tingkat tinggi. Semua antosianin memiliki struktur dasar satu gugus aromatik yaitu sianidin dan turunannya dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil melalui metilisasi atau glikosilasi (Harborne, 1983). Fungsi antosianin pada tanaman adalah dalam hal resistensi terhadap penyakit (Salisbury dan Ross, 1995).
Menurut Vickery dan Vickery (1981), antosianin pada rosela berada dalam bentuk glikosida yang terdiri dari pelargonidin, sianidin, peonidin, delphinidin, petunidin dan malvidin. Mardiah et al. (2009) menambahkan antosianin pada
rosela berada dalam bentuk glikosida yang terdiri dari cyanidin-3-sambubioside,
delphinidin-3-glucose, dan delphinidin-3-sambubioside.
Gambar 4. Rumus Bangun Antosianin
Antosianin merupakan bagian dari flavonoid yang terbentuk melalui lintasan sikimat. Flavonoid terikat pada sel epidermis dan terhimpun pada vakuola tengah walaupun disintetis di luar vakuola (Salisbury dan Ross, 1995). Noh dan Spalding (1998) menambahkan antosianin merupakan produk metabolisme sekunder yang dibentuk dari asam amino phenylalanine melalui lintasan sikimat di sitoplasma dan ditimbun dalam vakuola sel parenkim dewasa. PAL (Phenylalanine Ammonia Lyase) merupakan enzim kunci dalam metabolisme, aktivitasnya meningkat seiring dengan umur daun dan berhubungan dengan proses penuaan. Lintasan pembentukan antosianin disajikan pada Gambar 5.
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar dan terdapat dalam semua tumbuhan hijau kecuali alga. Secara struktur flavonoid merupakan turunan dari flavon dan biasanya terdiri dari beberapa bagian. Telah ada sepuluh kelompok flavonoid yang dikenali. Flavonoid pada umumnya dapat larut dalam air. Flavonoid terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk akar, daun, kayu, kulit, tepung sari, nektar, bunga, buah buni, dan biji (Harbone, 1987). Flavonols dalam rosela terdiri dari gossypetin, hibiscetine, dan quercetia (Mardiah et al., 2009)
Menurut Sudiatso (2001), antosianin merupakan pigmen bermutu, larut dalam air, berwarna jingga, merah, dan biru yang tergabung dalam kelompok besar pigmen flavonoid. Antosianin terdapat dalam buah dan sayuran, dan biasanya terdiri dari kombinasi beberapa pigmen (4-6 pigmen). Pigmen ini stabil dalam lingkungan masam, oleh karena itu sebaiknya disimpan dalam medium masam.
Gambar 5. Lintasan Pembetukan Antosianin (Noh dan Spalding, 1998). Enzim yang terlibat adalah PAL (Phenylalanine Ammonia Lyase); CHS (Chalcone synthase); CHI (Chalcone Isomerase);
F3H (Flavanone-3-hydroxylase); DR (Dihydroflavonol 4-reductase).
Penelitian oleh Katsube et al. (2003) menyatakan bahwa antosianin khususnya delphinidin yang diekstrak dari bilberry mampu menghambat pertumbuhan sel kanker darah (leukemia). Zhang et al. (2005) menambahkan bahwa antosianin mampu menghambat pertumbuhan sel kanker di antaranya sel kanker perut, usus besar, kanker payudara, dan kanker paru-paru.
Pemupukan
Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor lingkungan yang baik (Sutedjo, 1994). Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004), pupuk adalah bahan yang diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak langsung, guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya, sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman. Pemupukan artinya pemberian pupuk kepada tanaman ataupun kepada tanah dan substrat lainnya. Nasih (2006)
menambahkan bahwa yang dimaksud pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.
Dosis, cara, dan waktu aplikasi yang tepat disertai pengolahan tanah yang baik dapat membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara yang diperlukan tanaman. Pupuk yang akan diberikan sebaiknya harus sesuai dosis agar dapat menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman (Supandi, 1988). Leiwakabessy (1992) menambahkan bahwa aplikasi pemupukan tidak selamanya memberikan hasil yang efektif karena dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain takaran, cara dan waktu pemberian. Menurut Marschner (1995) bahwa studi tentang hara tanaman telah menunjukkan bahwa mineral tertentu bersifat esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan diklasifikasikan sebagai unsur hara makro maupun mikro tergantung pada jumlahnya di dalam jaringan tanaman.
Pemupukan pada rosela umumnya dilakukan secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar unsur hara bagi tanaman tetap tersedia dan untuk mendapatkan kaliks yang besar. Pupuk yang diperlukan adalah pupuk kandang, urea dan NPK. Pupuk kandang diberikan sebelum tanah diolah dosisnya 10 ton/ha. Pupuk lanjutan diberikan 2 kali yakni pada umur 2-3 minggu dan 1.5 bulan setelah tanam. Pupuk susulan pertama menggunakan urea 20-30 g/lubang tanam dan yang kedua pupuk NPK 30-50 g/lubang tanam (Maryani dan Kristiana, 2008).
Peranan Fosfor bagi Tanaman
Fosfor (P) berperan menyediakan nutrisi untuk perkembangan akar, penegakan, pendewasaan, dan reproduksi tanaman (Beard, 1973). Suseno (1974) menambahkan bahwa fosfor dalam tanaman mempunyai peranan dalam mengatur banyak reaksi enzimatik. Kekurangan unsur P pada umumnya akan menghambat reaksi-reaksi sintesis dalam tanaman. Fosfor berguna sebagai penyusun asam nukleat dan komponen utama inti sel, pemacu pertumbuhan dan pembentukan akar awal, membuat tanaman tegar, serta merangsang pembungaan dan membantu pembentukan biji.
Fosfor diserap oleh tanaman hampir seluruhnya dalam bentuk ion hidrogen dan fosfor, yaitu H+ dan PO42-. Fosfor di dalam tanaman tidak direduksikan dalam sel menjadi bentuk yang berada pada tingkat oksidasi lebih rendah
sebagaimana halnya dengan nitrat dan sulfat. Ketersediaan P di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh pH tanah, kadar Al, Fe serta Mn terlarut, tersedianya kalsium (Ca), jumlah dan tingkat dekomposisi bahan organik serta jenis dan populasi mikroorganisme tanah (Soepardi, 1983).
Fosfor merupakan unsur hara kedua setelah nitrogen (N) yang mutlak diperlukan oleh tanaman. Keperluan P kadang-kadang lebih kritis daripada N pada tanah-tanah tertentu. Nitrogen dapat ditambah oleh mikroba dari udara, tetapi unsur P hanya berasal dari batuan. Tanpa kecukupan P, berbagai proses di dalam tanaman dapat terhambat sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak berlangsung optimal (Balitpa, 1991).
Fosfor banyak ditemukan dalam bagian tumbuhan yang memiliki aktivitas fisiologi yang besar. Kekurangan fosfor menyebabkan pembentukan tunas berkurang, penundaan pembentukan kanopi yang menyebabkan gulma tumbuh lebih cepat, mengurangi panjang tangkai, daun tumbuh berdekatan, dan muncul warna hijau-ungu pada daun yang kelebihan residu. Fosfor di dalam tanah dapat menimbulkan masalah karena dapat mengganggu penyerapan unsur hara (Gardner
et al., 1991).
Kekurangan fosfor dapat menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap unsur lain. Efek yang dapat terlihat dari kekurangan unsur P adalah daun bawah berwarna hijau gelap, pinggiran daun berwarna ungu dan ujung daun menjadi layu atau mati (Suseno, 1974). Menurut Soepardi (1983) bahwa gejala awal kekurangan fosfor tampak pada daun tua. Pertumbuhan tanaman menjadi lambat, daun kecil, warna keunguan karena akumulasi pigmen antosianin, tepi daun cokelat hangus, daun cepat rontok yang dimulai dengan daun tertua, serta seluruh tanaman tampak kerdil. Leiwakabessy dan Sutandi (2004) menambahkan bahwa kekurangan fosfor menyebabkan perakaran tidak berkembang dengan baik, pertumbuhan tanaman terhambat, dan daun tua cepat rontok karena fosfor dalam tanaman bersifat mobil dan bergerak dari daun tua ke daun muda.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan mulai Februari-Agustus 2009 dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga, Bogor. Areal penelitian bertopografi datar dengan jenis tanah Latosol, curah hujan rata-rata 1500-3000 mm/tahun, dan ketinggian tempat 250 m dpl.
Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah, Bogor dan uji kandungan antosianin tanaman dilakukan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB, Dramaga.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih rosela dari dua aksesi, yaitu rosela merah dan rosela ungu. Pupuk tunggal (urea, SP-18, dan KCl), pupuk kandang kambing, dan kapur tanah. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan budidaya pertanian, meteran, hand tally counter, timbangan, oven, spektrofotometer dan alat tulis.
Metode
Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Petak utama adalah aksesi rosela : rosela merah dan rosela ungu. Anak petaknya adalah dosis pupuk fosfor (dalam bentuk SP-18) yaitu : 0, 18, 36, dan 54 kg P2O5/ha.
Hasil kombinasi perlakuan dengan ulangan terdapat 24 satuan percobaan. Luas tiap petak percobaan adalah 20 m2, kemudian dikalikan dengan banyaknya satuan percobaan sehingga luas total adalah 480 m2. Denah petak percobaan dapat dilihat pada Gambar 6.
Model rancangan linier yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yijk =μ + Ui + Vj+ εij + Dk + (VD)jk+ εijk
Keterangan :
Yijk = nilai pengamatan pada ulangan ke-i, faktor aksesi taraf ke-j, dan faktor dosis pupuk taraf ke-k.
µ = nilai rataan umum.
Ui = Pengaruh ulangan ke-i (i:1,2,3).
Vj = Pengaruh faktor aksesi ke-j (j:1,2).
εij = Pengaruh galat untuk petak utama aksesi ke-j pada kelompok ke-i
Dk = Pengaruh dosis pupuk ke-k (k:0,1,2,3).
(VD)jk = Pengaruh interaksi antara aksesi ke-j dan pupuk ke-k
εijk = Pengaruh galat untuk anak petak karena pengaruh
faktor aksesi ke-j dan faktor pupuk ke-k pada kelompok ke-i. Untuk mengetahui pengaruh dari seluruh perlakuan digunakan uji analisis ragam, apabila terdapat F hitung > F tabel terhadap parameter yang diamati maka akan diuji lanjut dengan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. V1D2 V1D3 V2D2 V2D0 V2D1 V2D0 V2D1 V1D1 V1D0 V2D1 V1D1 V1D3 V2D0 V2D2 V2D3 V1D1 V1D2 V1D0 V2D3 V1D0 V1D2 V1D3 V2D3 V2D2 U I U II U III
Gambar 6. Denah Rancangan Percobaan Keterangan :
V1 : Aksesi Rosela Merah V2 : Aksesi Rosela Ungu
D0 : Dosis pupuk fosfor : 0 kg P2O5/ha D1 : Dosis pupuk fosfor : 18 kg P2O5/ha D2 : Dosis pupuk fosfor : 36 kg P2O5/ha D3 : Dosis pupuk fosfor : 54 kg P2O5/ha
Pelaksanaan Penelitian Persiapan Benih
Bahan tanaman kedua aksesi rosela adalah benih yang didapat dari pemasok rosela di daerah Malang. Sebelum disemai, benih rosela direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu benih dipilih yang bagus dengan ciri benih utuh dan tenggelam di dasar air.
Persiapan Lahan
Sebelum penanaman dilakukan persiapan tanam dengan pembersihan gulma, pemberian kapur tanah (1 ton/ha) saat 3 minggu sebelum penanaman, pemberian pupuk kandang dan pembuatan guludan pada lahan. Pengolahan tanah dilakukan dua kali dengan menggunakan cangkul. Lahan dibuat petakan-petakan kecil berukuran 5 m x 4 m sebanyak 24 petakan.
Penanaman
Penanaman benih dilakukan secara langsung ke lahan yang telah diolah. Benih ditanam dengan jarak 1 m x 1 m sebanyak 3-4 benih per lubang dan diharapkan terdapat satu rosela dalam satu lubang sehingga penjarangan dapat dilakukan jika tanaman yang tumbuh dalam satu lubang tidak seperti yang diharapkan.
Pemupukan
Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang kambing sebanyak 15 ton/ha. Pemberian pupuk dasar dilakukan saat persiapan lahan (2 minggu sebelum penanaman). Pada saat 2 MST (Minggu Setelah Tanam) diberikan pupuk urea, KCl dan pupuk fosfor (dalam bentuk SP-18). Dosis urea yang digunakan sebanyak 400 kg/ha, namun hanya diaplikasikan setengahnya pada penanaman (200 kg/ha), KCl yang diberikan sebanyak 200 kg/ha (Arief, 2008), dan SP-18 diaplikasikan dengan dosis yang berbeda sebagai perlakuan yaitu 0, 18, 36 dan 54 kg P2O5/ha. Sisa pupuk urea diaplikasikan saat 8 MST.
Pemeliharaan
Kegiatan-kegiatan dalam pemeliharaan tanaman meliputi: 1) Penjarangan tanaman yang dilakukan saat tanaman berusia 1 MST (Minggu Setelah Tanam) untuk mempertahankan populasi, 2) Pembumbunan dilakukan pada setiap pengamatan agar tanaman tidak rebah, 3) Penyiangan gulma dilakukan jika lahan terdapat tumbuhan pengganggu, 4) Pemberantasan hama dan penyakit tanaman dilakukan jika terlihat adanya serangan.
Pemanenan
Pemanenan dilakukan saat tanaman berumur 14 MST. Panen dilakukan secara berkala setiap 2 minggu selama empat kali berturut-turut. Hasil panen dipisahkan antara kaliks dan buah kemudian masing-masing ditimbang bobot basah dan bobot keringnya. Selain itu, diamati pula kadar antosianin yang terkandung dalam kaliks rosela dengan bantuan spektrofotometer dengan metode Sims dan Gamon (2002).
Pengamatan
Pengamatan meliputi pengamatan pertumbuhan vegetatif, generatif, korelasi dan interaksi antara pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Analisis tanah dilakukan sebelum dan sesudah penelitian yang digunakan sebagai data penunjang. Pertumbuhan vegetatif diamati setiap 2 minggu mulai dari 5 MST.
Pertumbuhan vegetatif yang diamati yaitu: 1. Tinggi per tanaman.
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang utama terdapat kulit kayu hingga titik tumbuh batang utama tanaman.
2. Jumlah cabang primer per tanaman.
Jumlah cabang primer dihitung dari cabang yang muncul dari batang utama pada tiap tanaman.
3. Jumlah cabang sekunder per tanaman.
Jumlah cabang sekunder dihitung dari cabang yang muncul dari cabang primer pada tiap tanaman.
4. Jumlah buku per tanaman.
Jumlah buku dihitung dari banyaknya buku yang ada di batang utama, cabang primer dan cabang sekunder pada tiap tanaman.
5. Jumlah daun per tanaman.
Jumlah daun yang telah membuka sempurna dari keseluruhan daun pada tiap tanaman dari setiap perlakuan. Jumlah daun dihitung menggunakan hand tally counter.
6. Luas per daun.
Luas per daun ditentukan dengan metode gravimetri. Perhitungan dilakukan di akhir penelitian dengan merata-ratakan luas tiga daun yang berbentuk menjari dan membuka sempurna pada setiap tanaman.
7. Bobot basah dan bobot kering tajuk serta akar per tanaman.
Bobot kering diukur setelah tajuk maupun akar per tanaman dikeringkan menggunakan oven bersuhu 105oC selama 2 hari.
8. Bobot basah dan bobot kering tajuk per petak.
Bobot basah dan bobot kering tajuk per petak dihitung dari setiap petak saat panen terakhir dengan luas per petak 20 m2
9. Rasio bobot kering tajuk dan kaliks per tanaman.
Pertumbuhan generatif diamati sejak tanaman mulai berbunga 75 % yaitu saat 14 MST. Pertumbuhan generatif yang diamati yaitu :
1. Jumlah kaliks per tanaman.
Jumlah kaliks dihitung dari keseluruhan kaliks yang dapat dipanen pada tiap tanaman saat panen mulai umur 14 MST kemudian berselang selama 2 minggu.
2. Bobot basah dan bobot kering kaliks per tanaman.
Bobot basah dan bobot kering kaliks dihitung dari jumlah kaliks pada tiap tanaman saat panen. Bobot kering kaliks diukur setelah kaliks dipisahkan dari buahnya, lalu dioven pada suhu 80oC selama 3 hari. 3. Bobot basah dan bobot kering kaliks per petak.
Kaliks per petak dihitung dengan menjumlahkan bobot basah dan bobot kering kaliks tiap tanaman pada satu petak (20 m2) .
4. Bobot basah dan bobot kering buah per tanaman.
Bobot basah dan bobot kering buah dihitung dari jumlah buah segar yang telah dipisahkan dari kaliks pada tiap tanaman saat panen.
5. Bobot basah dan bobot kering per kaliks atau per buah.
Bobot basah dan bobot kering per kaliks atau per buah dihitung dari bobot basah dan bobot kering kaliks atau buah per tanaman dibagi jumlah kaliks atau jumlah buah per tanaman.
6. Kandungan antosianin per kaliks.
Kandungan antosianin yang terkandung pada kaliks diukur dengan spektrofotometer. Kaliks yang diambil berasal dari buku ke-5 dari