Kromatografi gas digunakan untuk memisahkan komponen campuran kimia dalam suatu bahan, berdasarkan perbedaan polaritas campuran. Fase gerak akan membawa campuran sampel menuju kolom. Campuran dalam fase gerak akan berinteraksi dengan fase diam. Setiap komponen yang terdapat dalam campuran berinteraksi dengan kecepatan yang berbeda dimana interaksi komponen dengan fase diam dengan waktu yang paling cepat akan keluar pertama dari kolom dan yang paling lambat akan keluar paling akhir (Eaton, 1989). Kromatografi gas merupakan metode
yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen (Gritter, 1991).
Pada sistem GC-MS ini, yang berfungsi sebagai detektor adalah spektrometer massa itu sendiri yang terdiri dari sistem analisis dan sistem ionisasi, dimana Electron Impact Ionization (EI) adalah metode ionisasi yang umum digunakan (Agusta, 2000).
Spektrometer mampu menganalisis cuplikan yang jumlahnya sangat kecil dan menghasilkan data yang berguna mengenai struktur dan identitas senyawa organik. Jika eluen dari kromatografi gas diarahkan ke spektrometer massa, maka informasi mengenai struktur untuk masing-masing puncak pada kromatogram dapat diperoleh. Karena laju aliran yang rendah dan ukuran cuplikan yang kecil, cara ini paling mudah diterapkan pada kolom kromatografi gas kapiler. Cuplikan disuntikkan kedalam kromatografi gas dan terkromatografi sehingga semua komponennya terpisah. Spektrum massa diukur secara otomatis pada selang waktu tertentu atau pada maksimum atau tengah-tengah puncak ketika keluar dari kolom. Kemudian data disimpan didalam komputer, dan daripadanya dapat diperoleh hasil kromatogram disertai integrasi semua puncak.
Disamping itu, kita dapat memperoleh spektrum massa masing-masing komponen.
Spektrum ini dapat dipakai identifikasi senyawa yang pernah diketahui dan sebagai sumber informasi struktur dan bobot molekul senyawa baru (Gritter, 1991).
Peningkatan penggunaan GC-MS banyak digunakan yang dihubungkan dengan komputer dimana dapat merakam dan menyimpan data dari sebuah analisis akan berkembang pada pemisah yang lebih efisien. Karena komputer dapat deprogram untuk mencari spektra library yang langka, membuat identifikasi dan menunjukkan analisis dari campuran gas tersebut (Willett, 1987).
2.6 Bakteri
Bakteri merupakan uniseluler, pada umumnya tidak berklorofil, ada beberapa yang fotosintetik dan produksi aseksualnya secara pembelahan dan bakteri mempunyai ukuran sel kecil dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop.
Bakteri pada umumnya mempunyai ukuran sel 0,5-1,0 µm, dan terdiri dari tiga bentuk dasar yaitu bentuk bulat atau kokus, bentuk batang atau bacillus, dan bentuk spiral (Dwidjoseputro, 1985). Untuk melihat bakteri dengan jelas, tubuhnya perlu diisi dengan zat warna, pewarna ini disebut pengecatan bakteri (Irianto, 2006).
Ada kalanya suatu bakteri perlu diwarnai dua kali. Setelah zat warna yang pertama (ungu) terserap, maka bakteri dicuci dengan alkohol, kemudian ditumpangi dengan zat warna berlainan, yaitu dengan zat warna merah. Zat warna tambahan terhapus, sehingga yang Nampak adalah zat asli (ungu). Dalam hal ini bakteri disebut gram positif. Jika zat warna tambahan merah yang bertahan sehingga zat warna asli tidak tampak, dalam hal ini bakteri disebut gram negatif. Beberapa bakteri gram positif dan bakteri gram negatif yang penting diketahui dapat menyebabkan kerusakan pangan dan keracunan pangan (Irianto, 2006).
2.6.1 Bakteri Gram Positif
Yaitu memiliki struktur dinding sel yang tebal (15-80µm) dan berlapis tunggal dengan komposisi dinding sel terdiri atas lipid, peptidoglikan. Kandungan lipid pada bakteri gram positif antara 1-4%. Dinding sel terdiri dari lapisan tunggal peptidoglikan yang mencapai lebih dari 50% berat kering sel bakteri. Bakteri gram positif rentan terhadap gangguan fisik (Pelzcar, 1986).
Contoh dari bakteri gram positif :
1. Staphylococcus aureus
Gambar 2.2 Bakteri Staphylococcus aureus
Klasifikasi Staphylococcus aureus menurut Jawetz, dkk. (2005) adalah : Kingdom : Procaryota
Staphylococcus aureus adalah bakteri berbentuk kokus berukuran garis tengah sekitar 1 µm yang pada pewarnaan bersifat gram positif; jika dilihat dibawah mikroskop berbentuk seperti kelompok anggur. Staphylococci tidak aktif bergerak (nonmotil), tidak membentuk spora, dan bersifat katalase positif. Bakteri ini tahan panas sampai setinggi 50°C, kadar garam yang tinggi, dan tahan kekeringan. Koloni staphylococci berukuran besar dengan garis tengah 6-8 mm, dan berwarna bening. Banyak strain koloni bakteri ini membentuk pigmen yang berwarna kuning gading atau jingga. S. aureus tersebar luas di alam da nada yang hidup sebagai flora normal pada manusia yang terdapat di aksila, daerah inguinal dan perineal, dan lubang hidung (nares) bagian anterior. Sekitar 25-30%
manusia membawa S. aureus di dalam rongga hidung dan kulit (Soedarto, 2015).
Staphylococcus aureus adalah penyebab infeksi piogenik kulit, furunkel, karbunkel, esteomielitis, arthritis septik, infeksi luka, abses, pneumonia, empierna, endocarditis, pericarditis, meningitis, dan penyakit yang diperantarai toksin, termasuk keracunan makanan, sindrom kulit terbakar dan sindrom syok toksik (TSS) (Wahab, 2009).
2.6.2 Bakteri Gram Negatif
Yaitu memiliki struktur dinding sel berlapis tiga dengan ketebalan 10-15µm.
Komposisi dinding sel terdiri atas lipid dan peptidoglikan yang berada dalam lapisan dengan jumlah sekitar 10% berat kering. Kandungan lipid pada bakteri gram negatif cukup tinggi yaitu 11-22%. Bakteri ini umumnya kurang rentan terhadap penisilin dan gangguan fisik. Selain itu, dinding sel bakteri gram negatif lebih tipis dari pada bakteri gram positif (Pelzcar, 1986).
Contoh bakteri gram negatif : 1. Escherichia coli
Gambar 2.3 Bakteri Escherichia coli
Klasifikasi Escherichia coli menurut Jawetz, dkk. (2005) adalah :
Escherichia coli terdapat secara normal dalam alat-alat pencernaan manusia dan hewan. Bakteri ini adalah gram negatif, bergerak, berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob dan termasuk golongan Enterobacteriaceae (Buckle, 2009). Escherichia coli berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. E. coli termasuk kedalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat organik yang dibutuhkannya.
Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energy, dan mineral. Didalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Ganiswarna, 1995).
Suatu serotipe tertentu bersifat enteropathogenic dan dikenal sebagai penyebab diare pada bayi. Beberapa galur lainnya juga sebagai penyebab diare pada orang dewasa.
Organisme ini berada di dapur dan tempat-tempat persiapan bahan pangan melalui bahan baku dan selanjutnya masuk ke makanan yang telah dimasak melalui tangan, permukaan alat-alat, tempat-tempat masakan dan peralatan lain (Buckle, 2009).
Adapun perbedaan relatif sifat bakteri gram positif dan bakteri gram negatif dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.3 Perbedaan Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif
Gram Positif Gram Negatif
1. Mengandung Mg ribonukleat 1. Tidak mengandung Mg ribonukleat 2. Sangat sensitif terhadap zat warna
trifenilmetan
2. Kurang sensitif terhadap zat warna trifenilmetan
3. Sensitif terhadap penisilin 3. Sensitif terhadap streptomysin 4. Tahan basa, tidak larut dalam KOH
1 %
4. Sensitif terhadap basa, larut dalam KOH 1 %
5. Kisaran isoelektrik pH 2,5-4 5. Kisaran isoelektrik pH 4,5-5,5 6. Biasanya berbentuk Coccus atau
batang pembentuk spora kecuali Lactobacillus & Cyanobacterium
6. Biasanya berbentuk batang non spora kecuali Neisseria
7. Dapat bersifat tahan asam 7. Tidak tahan asam
(Novel, 2010)