• Tidak ada hasil yang ditemukan

N

ovember 2020. Karliansyah terkejut ketika dia menemukan fakta bahwa kualitas air Sungai Ciliwung sebelum Pintu Air Manggarai yang tercemar berat sekarang sudah memenuhi baku mutu air kelas dua.

Hasil evaluasi dan analisis terakhir Ditjen PPKL pada November 2020 terhadap kualitas air Sungai Ciliwung yang dilakukan di laboratorium terakreditasi, hampir semuanya memenuhi baku mutu di kelas badan sungai masing-masing.

“Ini luar biasa. Kemajuan Ciliwung pesat sekali. Air sungai dari Masjid At Tawun Bogor, Katulampa, Kedung Halang, Pondok Rajeg di Kabupaten Bogor, dan Jembatan Panus Depok sudah memenuhi baku mutu air kelas dua,” papar Karliansyah. Sementara segmen Kelapa Dua Srengseng Sawah, Pintu Air Manggarai sampai outlet pompa Danau Pluit masih dalam status tercemar sedang.

Sungai Ciliwung adalah sungai strategis di Indonesia dan ikon Ibu Kota Jakarta. Memiliki panjang 119 kilometer, dari hulu di Kabupaten Bogor dan berujung di Teluk Jakarta, Sungai Ciliwung menjadi pusat kehidupan masyarakat sekitar, dari sumber air baku, irigasi, hingga aktivitas wisata.

Upaya perbaikan kualitas Sungai Ciliwung telah banyak dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan maupun komunitas yang dilakukan secara bersama melalui berbagai kegiatan seperti restorasi sungai melalui ekoriparian, bersih sampah, sekolah sungai, dan patroli sungai. Kualitas air yang membaik mendukung konservasi ekosistem sungai.

Gerakan komunitas di sekitar Sungai Ciliwung mulai aktif pada 1989 atas insiasi Gubernur Jakarta saat itu. Pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, Dana Mitra Lingkungan dan lembaga swadaya

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

2 8 0 2 8 1

sTaTus MuTu sunGai CiliWunG Tahun 2015-2020 LOKAL201520162017201820192020 Sebelum Masjid Atta'awunCemar ringanCemar ringanCemar ringanCemar ringanCemar ringanMemenuhi KatulampaCemar ringanCemar sedangCemar sedangCemar sedangCemar sedangMemenuhi Kedung HalangCemar ringanCemar sedangCemar ringanCemar sedangCemar sedangMemenuhi Pondok RajegCemar ringanCemar sedangCemar ringanCemar sedangCemar ringanMemenuhi Jembatan PanusCemar ringanCemar sedangCemar sedangCemar sedangCemar ringanMemenuhi Kelapa Dua Srengseng SawahCemar ringanCemar sedangCemar sedangCemar sedangCemar beratCemar sedang Sebelum Pintu Air ManggaraiCemar sedangCemar sedangCemar sedangCemar beratCemar beratCemar sedang Outlet Pompa Danau PluitCemar sedangCemar beratCemar beratCemar beratCemar beratCemar berat

masyarakat mencetuskan Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) untuk memperhatikan sungai-sungai di Jakarta, terutama Sungai Ciliwung.

Gerakan Ciliwung Bersih adalah pembina dan cikal bakal dari komunitas-komunitas yang lahir di sepanjang Ciliwung. Sampai saat ini, lebih dari 31 komunitas dari hulu sampai hilir yang aktif berkoordinasi dalam memperbaiki lingkungan Sungai Ciliwung secara bertahap. Di antaranya Mat Peci, Gema Bersuci, Yayasan Sahabat Ciliwung Depok, dan Komunitas Peduli Ciliwung.

Karliansyah melihat peran komunitas dalam menyelamatkan Ciliwung sangat besar. Penemuan dua kura-kura bulus pada 11 November 2011 misalnya, menunjukkan masih ada ekosistem endemik Ciliwung yang perlu dilestarikan kehidupannya. Tanggal penemuan kura-kura bulus itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Ciliwung. Perbaikan kualitas air Sungai Ciliwung dibuktikan dengan munculnya biota yang sebelumnya tidak ada, seperti lobster, udang dan ikan gabus.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar (kedua dari kanan) didampingi Dirjen PPKL M.R. Karliansyah (kiri) dalam acara Bebersih Sungai Ciliwung.

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

2 8 2 2 8 3

Anggota komunitas berfoto bersama tangkapan ikan di Sungai Ciliwung.

“Penemuan biota dampak nyata dari upaya dan usaha yang sungguh-sungguh, tidak kenal lelah, tanpa henti, bergerak bersama para aktivis Ciliwung yang sudah lebih dari 30 tahun ini. Wajar jika kita semua wajib memberikan penghargaan kepada seluruh komunitas yang telah memberikan sumbangsih terhadap perbaikan kualitas Sungai Ciliwung ini. Penghargaan ini diharapkan dapat mendorong kinerja komunitas menjadi lebih baik lagi”, kata Karliansyah pada peringatan Hari Ciliwung 11 November 2020.

Dalam pelibatan komunitas, sejak 2018 KLHK melalui Direktorat Jenderal PPKL membentuk Patroli Sungai yang anggotanya terdiri dari berbagai komunitas dan warga sekitar. Patroli Sungai bertugas mengidentifikasi dan menginventarisasi masalah di sepanjang sungai, di antaranya persoalan sampah dan limbah, dan secara rutin membersihkan sungai dan mengedukasi warga. Komunitas menerima APD dan perahu karet untuk mendukung kegiatan operasi Patroli Sungai Ciliwung.

Relawan Patroli Sungai menjadi satgas yang menjadi bagian dalam program pengawasan dan pengendalian beban pencemaran (Program Kali Bersih/Prokasih). Tim Patroli Sungai terdiri dari petugas Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, personel TNI atau Babinsa atau anggota Koramil, Komunitas Peduli Ciliwung, anggota Satpol PP, dan para relawan. Tim Patroli Sungai bertugas memetakan wilayah sumber pencemar, membersihkan sampah dan limbah, mengedukasi sekaligus mengawasi warga bantaran sungai agar ikut menjaga lingkungan sungai.

Hasil pemantauan dilaporkan dengan cara memasukkan foto, penjelasan kegiatan, dan lokasi ke aplikasi secara online untuk terus dipantau perkembangan dan keberhasilannya. Laporan pantauan Tim Patroli Sungai yang diunggah ke aplikasi daring tersebut membuat KLHK menerima laporan secara cepat dan tepat.

Aplikasi yang dinamakan Patroli Pengawasan Pembuangan Limbah di Sungai ini berfungsi mengawal pembuangan limbah di sungai secara langsung. Masyarakat umum dan relawan Patroli Sungai (komunitas) dapat mengunggah laporan itu secara langsung, dan dipantau KLHK. Melalui aplikasi ini, peran aktif masyarakat atau

PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn

2 8 4 2 8 5

relawan lebih efektif, cepat, dan tepat sehingga pencemaran di sungai lebih terkendali.

Data tersebut digunakan untuk memberikan solusi dan tindak lanjut atas kondisi di lapangan. Tim Patroli Sungai dibekali pengetahuan melalui bimbingan teknis mengenai cara menghitung volume timbulan sampah dan pengelolaannya, susur sungai, perhitungan debit air limbah, pengambilan sampel air dan limbah, serta pemetaan sosial.

Gerakan komunitas merupakan modal sosial yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas air sungai. Bersama Pemprov DKI Jakarta, KLHK, Kementerian PUPR, dan lembaga lainnya, komunitas bahu-membahu memperbaiki dan mempertahankan kualitas sungai. Melihat modal sosial yang dimiliki komunitas Ciliwung dan mereplikasi pola program yang sudah dilakukan, Karliansyah yakin Ciliwung yang bersih dan indah akan segera terwujud.

Komunitas Peduli Ciliwung Bogor melalui Patroli Sungai melakukan aksi bersih-bersih Ciliwung setiap hari Sabtu, sambil memetakan sampah dan mengedukasi masyarakat lewat pendampingan. Komunitas Ciliwung Depok dan Mat Peci juga melakukan hal serupa.

Yayasan Sahabat Ciliwung juga melakukan Patroli Sungai Ciliwung sepanjang 29 kilometer di wilayah Kota Depok, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor di hulu serta berbatasan dengan wilayah DKI Jakarta di hilir. Mereka mencatat titik-titik sampah dan limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Setelah itu, tim menemui warga bantaran sungai atau pelaku pembuang sampah dan limbah, mengedukasi lingkungan agar mereka lebih peduli menangani sampah dan limbah.

Tim Patroli Sungai dibekali dengan keahlian Search and Rescue (SAR) untuk mempersiapkan relawan yang tangguh di lokasi bencana, baik di sungai maupun darat. Selain menerima dana dari pemerintah, komunitas juga mendapat pemasukan dari usaha di bidang wisata air (Arung Edukasi Ciliwung). Tim ini sejak

2015 melaksanakan program pembinaan berwawasan lingkungan berkonsep Patroli Sungai Ciliwung dan Green to School ke 70 sekolah dari tingkat SD, SMP, sampai SMA di Kota Depok.

Karliansyah berharap program Patroli Sungai tidak hanya dilaksanakan di sepanjang Sungai Ciliwung, tetapi juga dicontoh untuk sungai-sungai lainnya di seluruh Indonesia. “Sangat penting menumbuhkembangkan kesadaran tentang manfaat dan pentingnya sungai yang memiliki kualitas air serta lingkungan bersih dan sehat bagi keberlanjutan kehidupan,” kata Karliansyah.

Di daerah lain, peran komunitas masyarakat juga sangat besar dalam upaya pemulihan lingkungan. Karliansyah memberi contoh Sungai Temi di Lumajang, Jawa Timur. Sebelumnya, sungai yang tidak terlalu panjang ini merupakan tempat pembuangan sampah dan tinja, tetapi kini sudah asri, cantik penuh warna-warni bunga bougenville di kanan-kiri.

Komunitas masyarakat memanfaatkan sungai ini sebagai tempat budidaya ikan nila, ikan mas, dan ikan gurame. Rumah-rumah warga setempat kini menghadap ke sungai, tidak membelakangi sungai.

Di Klaten, Jawa Tengah, peran komunitas juga sangat besar.

Salah satunya memanfaatkan saluran irigasi untuk budidaya ikan sekaligus menjadi lokasi wisata. Di Bandung juga sama.

Karliansyah meyakini keterlibatan masyarakat akan mem-percepat pemulihan sungai dan danau. “Jika masyarakat memahami sungai adalah sumber penghidupan, upaya pemulihan bisa dilaku kan lebih cepat dan tidak membutuhkan biaya relatif besar,” katanya.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, sampai tahun 2019 Indeks Kualitas Air atau IKA sebagian besar sungai di Indonesia masih rendah. Nilai IKA tahun 2019 adalah 52,61. Ini menunjukkan pencemaran air masih terjadi, di antaranya adalah akibat pembuangan sampah, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3) berupa limbah rumah tangga hingga limbah cair industri. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas air setiap tahun dengan strategi pengendalian pencemaran air, yaitu pencegahan, penanggulangan, dan pengendalian.



2 8 6 M.R. KaRliansyah: 30 TAhun Menekuni PengenDAliAn PenceMARAn PeMulihAn keRuSAkAn lingkungAn 2 8 7