BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori dan Konsep
2. Kualitas pelayanan publik
Menurut Afandi (2018:43) pelayanan publik pada hakikatnya adalah pemberian layanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban aparatur Negara sebagai abdi masyarakat. Pelayanan publik yang diberikan diharapkan dari hari ke hari semakin berkualitas.
Selain itu, Sinambela dkk (2017:5) pelayanan publik diartikan, sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Laksana (2017:85) yang dimaksud dengan pelayanan merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Secara umum, penyediaan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap penyelenggara Negara. Didalam buku Mukarom dan Laksana (2016:221) Goetsch dan Davis kualitas pelayanan sebagai satu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
Menurut Hetereigonity dalam Mukarom dan Laksana (2017:68-69) untuk mengukur kualitas layanan yang diharapkan oleh pelanggan, perlu diketahui kriteria (dimensi) yang dipakai oleh pelanggan dalam menilai pelayanan tersebut, dimana ke–5 dimensi kualitas layanan tersebut adalah:
a. Tangibily, yaitu penampilan fisik, peralatan, personil, dan materi komunikasi.
b. Realibility, yaitu kemampuan untuk memberikan layanan yang menjanjikan secara akurat, tepat waktu dan dapat dipercaya.
c. Responsiveness, yaitu kemauan untuk membantu pelanggan dengan memberikan layanan yang baik dan cepat.
d. Empathy, yaitu berusaha untuk mengetahui dan mengerti kebutuhan pelanggan secara individual.
e. Assurance, yaitu pengetahuan dan keramah tamahan personil dan kemampuan personil untuk dapat dipercaya dan diyakini.
Upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah meningkatkan kualitas pelayanan publik yang dicirikaan sebagai berikut yaitu :
a. Pelaksanaan pelayanan yang semakin mudah b. Cepat
c. Prosedur tidak berbelit-belit.
Strategi lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah dengan mengubah peran dan posisi organisasi publik dalam memberikan layanan publik. Dari yang suka mengatur dan memerintah berubah menjadi suka melayani, dari suka menggunakan pendekatan kekuasaan berubah menjadi suka menolong dan dialogis.
Afandi (2018:43) menyatakan bahwa dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, perlu diperhatikan komponen – komponen pelayanan yaitu sebagai berikut :
a. Prosedur Pelayanan
Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.
b. Waktu Penyelesaian
Waktu penyelesaian ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian termasuk pengaduan.
c. Biaya Pelayanan
Biaya pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian layanan.
d. Produk Pelayanan
Produk pelayanan, hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
e. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana harus disediakan secara memadai oleh penyelenggara pelayanan publik.
f. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan
Kompetensi petugas pemberi pelayanan, harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan.
Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pengguna jasa, penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asaz pelayan sebagai berikut: (Keputusan MENPAN No. 63 Tahun 2004).
a. Tranpransi Bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti;
b. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisien dan efektifitas;
d. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat
e. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan status ekonomi.
f.
Keseimbangan Hak Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak 3. Konsep ResponsivitasResponsivitas merupakan salah satu kriteria dalam mengukur kinerja organisasi pelayanan public. Responsivitas atau daya tanggap adalah kemampuan organisasi untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menyusun prioritas kebutuhan, dan mengembangkannya dalam berbagai program pelayanan. Responsivitas mengukur daya tanggap
organisasi terhadap harapan, keinginan, dan aspirasi, serta tuntutan warga pengguna layanan. (Agus Dwiyanto 2006:148). Sedangkan menurut Zeithaml, Parasuraman & Berry dalam Agus Dwiyanto 2006:145, Responsivitas adalah kerelaan untuk menolong pengguna layanan dan menyelenggarakan pelayanan secra ikhlas. Responsivitas adalah kemampuan birokrasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat responsivitas disini merujuk pada keselarasan antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat (Tangklisan,2005:177).
Sedangkan menurut Fitzsimmons dalam Sedarmayanti (2004: 90), salah satu dimensi untuk menentukan kualitas pelayanan adalah responsiviness /responsivitas. Responsivitas adalah kesadaran atau keinginan untuk membantu konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat. Responsivitas sebagai salah satu indikator pelayanan berkaitan dengan daya tanggap aparatur terhadap kebutuhan masyarakat yang membutuhkan pelayanan sebagaimana diatur didalam perundang-undangan.
Sementara itu, Siagian (2000) dalam pembahasannya mengenai teori pengembangan organisasi mengindikasikan bahwa responsivitas menyangkut kemampuan aparatur dalam menghadapi dan mengatisipasi aspirasi biru, perkembangan bari, tuntutan baru dan, dan pengetahuan
baru. Birokrasi harus merespon secara cepat agar tidak tertinggal dalam menjalankan tugas dan fungsinya (Sugandi, 2011: 124). Menurut Hassel Nogi S. Tangkilisan (2005: 177), Responsivitas menunjukan pada keselarasan antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan masyarakat. Responsivitas dimasukan dalam salah satu indikator kinerja, karena responsivitas secara langsung menggambarkan kemampuan organisasi publik dalam menjalankan misi dan tujuannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Responsivitas yang rendah ditunjukan dengan ketidakselarasan antara pelayanan dan kebutuhan masyarakat. Menurut Esman dalam DR.
CHAIZI NASUCHA, 2004: 122 upaya untuk meperbaiki kinerja birokrasi Negara salah satunya dalah responsivitas. Responsivitas adalah kesedian untuk membantu klien dengan memberikan pelayanan seperti yang diinginkan para klien. Keinginan para klien berkaitan dengan masalah waktu, akses, dan komunikasi antara pembeli layanan dengan klien.
Dari beberapa pengertian mengenai Responsivitas maka responsivitas dapat digambarkan ialah suatu daya tanggap aparatur terhadap kebutuhan masyarakat di mana pemerintah atau aparatur tersebut dapat dikatakan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat apabila kebutuhan masyarakat tersebut dapat diidentifikasikan oleh para pembuat kebijakan dengan pengetahuan yang tepat dan dapat menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.
4. Responsivitas Pelayanan Publik
Dalam operasionalnya, Dwiyanto (2008: 63) responsivitas pelayanan publik dijabarkan menjadi beberapa indikator :
a. Ada atau tidaknya keluhan dari pengguna jasa selama setahun terakhir.
b. Sikap aparat birokrasi dalam merespon keluhan dari pengguna jasa.
c. Penggunaan keluhan dari pengguna jasa sebagai refrensi bagi perbaikan penyelenggara pelayanan pada masa akan mendatang.
d. Berbagai tindakan aparat birokrasi untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pengguna jasa
e. Penempatan pengguna jasa oleh aparat birokrasi dalam sistem pelayanan yang berlaku.
5. Indikator Responsivitas
Menurut Blanchard yang dikutip oleh Supriyono (Jurnal Administrasi Negara, 2001:20) mengemukakan bahwa responsivitas atau daya tanggap adalah istilah popular digunakan dalam lingkup organisasi bisnis, dan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membantu pelanggan dalam memberikan jasa pelayanan dengan cepat. Responsivitas juga harus dimiliki oleh pemerintah dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Indikator responsivitas dalam pelayanan menurut Maruti (2013) yaitu,
a. terdapat tidaknya keluhan dari pengguna jasa;
b. sikap aparat birokrat dalam merespon keluhan dari pengguna jasa;
c. penggunaan keluhan dari pengguna jasa sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan pelayanan di masa mendatang;
d. berbagai tindakan aparat birokrat untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pengguna jasa
e. penempatan pengguna jasa oleh aparat birokrasi dalam sistem pelayanan yang berlaku
Sementara itu Zeithml dkk dalam Hardiansyah (2011: 46) menjelaskan beberapa indikator responsivitas sebagai berikut :
a. Merespon setiap pelanggan/pemohon yang ingin mendapatkan pelayanan.
b. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cepat.
c. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan tepat.
d. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cermat.
e. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan waktu yang tepat. 6.
Semua keluhan pelanggan direspon oleh petugas.
Sedangkan responsivitas menurut Tangkilisan (2005) dapat diukur melalui indikator berikut :
a. Akses b. Kesopanan c. Komunikasi
Zeithaml, dkk dalam Rismawati, dkk (2015) menjelaskan secara rinci dan menyebutkan bahwa responsivitas termasuk ke dalam salah satu
dimensi kualitas pelayanan publik, dimana dalam responsivitas sendiri terdiri dari atas beberapa indikator, yaitu
a. Kemampuan Merespon Masyarakat b. Kecepatan Melayani
c. Ketepatan Melayani d. Kecermata melayani e. Ketepatan waktu melayani
f. Kemampuan menanggapi keluhan 6. Konsep Bantuan Langsung Tunai (BLT)
Salah satu program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan atau memajukan kesejahteraan umum adalah dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Bantuan langsung tunai (BLT) mulai terlaksana melalui Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2005 , tentang “Pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai Kepada Rumah Tangga Miskin” dan Instruksi Presiden Republik Indonesia No.3 Tahun 2008, tentang “ pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai untuk rumah tangga sasaran”. Tujuan yang diharapkan melalui kebijakan program ini adalah dapat menjawab persoalan kemiskinan di Indonesia, sebagai akibat dari segenap perubahan yang telah terjadi, baik secara nasional maupun global.Sebagai suatu program dan kebijakan nasional, program BLT mempunyai latar belakang pelaksanaan yang sistimatis, baik secara deskriptif analisis kondisional maupun deskriptif operasional perundang-undangan (Departemen Sosial, 2008).
Bantuan Langsung Tunai dapat dipahami sebagai pemberian sejumlah uang (dana tunai) kepada masyarakat miskin setelah pemerintah menaikkan harga BBM dengan mengurangi subsidi BBM yang kemudian selisih subsidi tersebut diberikan kepada masyarakat miskin (Nurhamlin&Marini, 2015). Dalam implementasinya, Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain adalah sosialisasi kebijakan,penentuan sasaran penerima program serta koordinasi dalam pelaksanaan.Apabila aspek-aspek tersebut dapat dilaksanakan dengan baik,diharapkan dapat mencapai indikator keberhasilan pelaksanaan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yaitu:
tepat waktu dan tepat mutu.
Bantuan Langsung Tunai adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat miskin dalam bentuk uang tunai untuk membantu mereka menghadapi kesulitan ekonomi di tengah Pandemi COVID-19. Bantuan Langsung Tunai adalah merupakan salah satu dari beberapa model skema perlindungan sosial yang berabasis bantuan sosial.
Edi Suharto dalam bukunya yang berjudul “Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia” menjelaskan bahwa Bantuan Langsung Tunai merupakan skema pengaman sosial yang diberikan kepada kelompok-kelompok yang rentan menyusul adanya dampak-dampak negatif jangka pendek akibat diterapkannya suatu kebijakan Merespon kerantanan akibat kebijakan yang diambil, Indonesia memiliki beragam bentuk perlindungan sosial. Perlindungan sosial yang dimaksudkan di sini adalah segala bentuk
kebijakan dan intervensi publik yang dilakukan untuk merespon beragam resiko, kerentanan dan kesengsaraan, baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial, terutama yang dialami oleh mereka yang hidup dalam kemiskinan yang diakibatkan oleh pandemi ini. Dalam merespon kerentanan itu pemerintah menyelenggarakan Program Bantuan Langsung Tunai.
Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa disalurkan berdasarkan ketentuan bagi keluarga penerima manfaat dan alokasi dana yang disalurkan. Berikut ketentuan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa menurut ashari dalam Rahayuningsih :
a. Pemerintah Desa wajib menganggarkan dan melaksanakan kegiatan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa:
1) Kepala Desa menetapkan peraturan kepala Desa mengenai penetapan jumlah KPM (Keluarga Penerima Manfaat), tidak terdapat penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa, jika tidak terdapat calon KPM BLT Dana Desa yang memenuhi kriteria 2) Melaporkan realisasi penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana
Desa
b. Kriteria KPM (Keluarga Penerima Manfaat) Dalam penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa paling sedikit memenuhi kriteri 1) Keluarga miskin atau tidak mampu yang berdomisili di Desa
bersangkutan
2) Tidak term asuk penerima PKH (Program Keluarga Harapan), KartuSembako, Kartu Pra Kerja, Bansos Tunai, dan Program Bansos Pemerintah lainnya.
3) Penetapan calon penerima Bantuan Langsung Tunai mempertimbangkan DTKS (Data Terpadu Kementerian Sosial) dari Kemensos.
c. Besaran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa bagi KPM (Keluarga Penerima Manfaat) pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020
1) Setiap KPM menerima besaran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Rp. 600.000 untuk tiga bulan (April, Mei, Juni)
2) Setiap KPM menerima besaran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Rp. 300.000 untuk bulan selanjutnya (Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember)
d. Mekanisme dan Alur Pendataan Calon Penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa yaitu Desa dapat menentukan calon penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa. Namun, harus memenuhi kriteria yang ditetapkan, melaksanakan pendataan secara transparan dan adil, serta dapat dipertanggungjawabkan. Desa dapat menggunakan data dari DTKS (Data Terpadu Kementerian Sosial) sebagai referensi bagi yang menerima bantuan PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), Pra Kerja dan Bantuan Sosial lainnya.
C. Kerangka pikir
Penelitian ini dilakukan di Kantor desa Taeng untuk mengetahui “ Responsivitas Aparat Desa Dalam Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa” bagaimana responsivitas aparat Desa dalam penyaluran bantuan BLT” yang dimana dalam penyaluran bantuan blt masyarakat harus mempunyai surat vaksin namun kebanyaknya masyarakat yang menerimah bantua ini adalah lansia yang belum di vaksin.
Penelitian ini tentang “ Responsivitas aparat Desa dalam penyaluran bantuan langsung tunai(BLT) ysng di analisis berdasarkan indikator Zeithaml, dkk dalam Rismawati, dkk (2015) :
1. Kemampuan Merespon Masyarakat 2. Kecepatan Melayani
3. Ketepatan Melayani 4. Kecermata melayani 5. Ketepatan waktu melayani
6. Kemampuan menanggapi keluhan
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah Responsivitas aparat Desa dalam penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) di Desa Taeng yaitu bagaimana Responsivitas pemerintah Desa dalam menanggapi masalah yang ada di masyarakat Desa Taeng, salah satu permasalah yang ada di masyarakat dan memerlukan tanggap pemerintah Desa yaitu dalam penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) yang dimana di salah satu syarat untuk menerimah
Responsivitas Aparat Desa dalam penyaluran bantuan langsung tunai di Desa Taeng
Responsivitas pemerintah desa dalam melakukan pelayanan dalam penyaluran
BLT
1. Kemampuan Merespon Masyarakat
2. Kecepatan Melayani 3. Ketepatan Melayani 4. Kecermatan melayani 5. Ketepatan waktu melayani
6. Kemampuan menanggapi keluhan Zeithaml, dkk dalam Rismawati, dkk
(2015)
bantuan blt ini masyarakat harus memiliki surat vaksin, namun banyak masyarakat yang masih belum vaksin ataupun enggan untuk di vaksin.
E. Deskripsi Fokus Penelitian
Adapun sub-sub fokus dari fokus penelitian “Responsivitas Aparat Desa Dalam Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa”, adalah :
1. Kemampuan Merespon Masyarakat
Setiap masyarakat memiliki karakter yang berbeda-beda, maka dari itu sebagai aparat desa dalam penyaluran nantuan langsung tunai harus
mengetahuim bagaimana agar dapat
bersikap dan berkomunikasi dengan baik dan sopan terhadap masyarakat yang ada di Desa Taeng kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.
2. Kecepatan Melayani
Pelayanan yang cepat dimaksudkan dengan meliputi kesigapan dan ketulusan apparat desa dalam menjawab pertanyaan atau permintaan dari masyarakat.
3. Ketepatan Melayani
Pelayanan dengan tepat yaitu dalam melayani jangan sampai terjadi kesalahan baik dalam hal pekerjaan maupun pembicaraan, dalam artian ini pelayanan yang diberikan oleh petugas harus sesuai dengan keinginan masyarakat.
4. Kecermatan Melayani Kecermatan
Dalam memberikan pelayanan perlu diperhatikan supaya tidak terjadi kesalahan yang bisa merugikan masyarakat. Pelayanan dengan cermat yaitu petugas selalu fokus dan sungguh-sungguh dalam melakukan penyampaian pelayanan serta dalam melayani kebutuhan masyarakat.
5. Ketepatan waktu pelayanan
Maksud dari pelayanan dengan waktu yang tepat yaitu petugas dalam melayani masyarakat diharapkan pelaksanaan pelayanannya dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
6. Kemampuan Menaggapi Keluhan
Setiap pimpinan unit penyelenggara pelayanan publik wajib dalam menyelesaikan setiap laporan atau pengaduan maupun keluhan masyarakat mengenai ketidakpuasan dalam pemberian pelayanan sesuai dengan kewenangannya. Hal ini dilakukan agar supaya pelanggan dapat
33 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi
Waktu penelitian yang dibutuhkan pada penelitian ini kurang lebih selama 2 (dua) bulan 17 Februari – Maret 2022. Lokasi penelitian ini berada di kantor Desa Taeng karena peneliti melihat bagaimana reponsivitas pelayanan aparat Desa dalam penyalur BLT di kantor Desa Taeng
B. Jenis Dan Tipe Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan alasan karena penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif.
Penelitian kualitatif bisa dipahami sebagai prosedur riset yang memanfaatkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa, dinamika sosial, sikap kepercayaan, dan persepsi seseorang atau kelompok terhadap sesuatu. Maka, proses penelitian kualitatif dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang dikumpulkan dalam riset.
Adapun jenis penelitian ini adalah deskriptif untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai masalah yang diteliti berdasarkan penggalaman yang telah dialami informan. Masalah yang terkait peran pemerintah daerah dalam responsivitas pelayan penyaluran bantuan BLT di Desa Taeng
C. Informan
Informan penelitian ini akan diwawancarai untuk mendapatkan jawaban berkaitan dengan Responsivitas Pelayanan Aparat Desa Dalam Penyaluran Bantuan Langsung Tunai di desa Taeng, adapun informan dalam penelitian berjumlah orang, yaitu sebagai berikut:
Informan Jumlah
Sekrtaris Desa Taeng 1
Staf 1
Masyrakat Desa Taeng Penerima BLT 3
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan:
1. Observasi
Observasi dapat diartikan sebagai salah satu teknik pengumpulan data yang sifatnya lebih spesifik dibanding teknik lainnya.
Melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian secara berulang terhadap suatu objek pengamatan pada tempat yang sama ataupun berbeda. Observasi difokuskan pada pengamatan langsung
terhadap responsivitas pelayanan aparat Desa dalam penyaluran bantuan langsung tunai
2. Wawancara
Wawancara yaitu pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Pada penelitian ini, penulis akan melakukan wawancara kepada pemerintah dan beberapa masyarakat Di Desa Taeng yaitu Sekretaris Desa Taeng, Staf kantor Desa Taeng, dan juga masyarakat Desa Taeng Penerima BLT 3. Dokumentasi
Dokumentasi suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan proses mencari dan menyusun data yang di kumpulkan sehingga data tersebut dapat ditemukan kesimpulan dan dijadikan sebagai bahan informasi yang dapat dipahami diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan teknik analisis data kualitatif bersifat induktif yaitu data yang diperoleh yang dikembangkan melalui pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh, aktivitas tersebut berupa reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan, dilakukan terhadap berbagai jenis dan bentuk data yang ditemukan dilapangan lalu di catat.
2. Reduksi Data
Data identifikasi satuan yaitu bagaian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan focus dan masalah penelitian, kemudian memberikan kode pada setiap satuan agar dapat ditelusuri dari mana sumber data sehingga peneliti dapat menarik kesimpualanaya, proses reduksi dapat dilakuakan dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian dipilih dan dikelompokan berdasarkan kemiripan.
3. Penyajian Data
Penyajian data pengumpulan informasi terusan yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Dalam hal ini data yang sudah dikatagorikan berikutnya diorganisasikan sebagai bahan kajian data. Kemudian secara keseluruhanaya sebagai gambarkan dan sebagai penentu dari aspek yang diteliti.
4. Vertivikasi Data
Langkah selanjtnya yang sangatlah penting adalah vertifikasi data atau kesimpulan. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagaian dari suatu kegiatan dari selama kongfigurasi yang utuh
F. Teknik Pengabsahan Data
Teknik pengabsahan data memuat teknik untuk pengabsahan data penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal) , transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektifitas). Teknik lainnya dengan berbagai uji tetap diperbolehkan selama memiliki referensi yang jelas.
38
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab IV ini peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan terkait judul Responsivitas Aparat Desa Dalam Penyaluran Bantuan Langusung Tunai Di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Peneliti juga akan memaparkan Profil lokasi penelitiannya. Pada bab IV ini peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan terkait judul Responsivitas Aparat Desa Dalam Penyaluran Bantuan Langusung Tunai Di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Peneliti juga akan memaparkan Profil lokasi penelitiannya.
A. Deskripsi Objek Peneltian 1. Letak Geografis Desa Taeng
Pada awalnya Desa Taeng merupakan sebuah dusun dalam wilayah Desa Bontoala yang terletak di sebelah utara berbatas dengan sungai Je’neberang. Pada saat itu Desa Bontoala adalah sebuah desa yang cukup luas, walaupun telah mengalami beberapa pemekaran. Dusun Taeng pada saat itu merupakan pusat pemerintahan Desa karena kantor desa berada di dusun Taeng.
Namun setelah kepemimpinan Abd. Rahim Alauddin Kr. Kulle berakhir dan dilanjutkan oleh Sangkala Dg. Ngawing sebagai Kepala Desa terpilih pada saat itu, maka pusat pemerintahan Desa Bontoala berpindah ke Bontomajannang, dengan membangun kantor Desa baru. Setelah
kepemimpinan Sangkala Dg. Ngawing berjalan beberapa tahun muncullah gagasan dari para tokoh pemuda dan tokoh masyarakat untuk membentuk Desa Tersendiri.
Setelah melalui beberapa proses maka pada tahun 1999 berdirilah sebuah desa baru dari hasil pemekaran Desa Bontoala dan disepakatilah Taeng sebagai nama Desa baru tersebut. Sebagai Kepala Desa Persiapan
Setelah melalui beberapa proses maka pada tahun 1999 berdirilah sebuah desa baru dari hasil pemekaran Desa Bontoala dan disepakatilah Taeng sebagai nama Desa baru tersebut. Sebagai Kepala Desa Persiapan